Diari Puasa: Terang Bulan, Kebaikan, dan Kosong

Martabak 051

‘Diari Puasa’ adalah postingan-postingan yang akan saya terbitkan setiap malam, sampai malam lebaran. Cerita-cerita yang tidak jelas apakah hendak melucu atau mengajak berpikir. Tidak jelas pula apakah nyata atau imaji semata. Apapun itu, menulis adalah ibadah dengan dua pahala. Menulis kata, kita dapatkan satu, dan memberi inspirasi, kita dapatkan dua.

***

Malam ini, saya hampir saja tidak menulis Diari.

Untung, saya masih punya tenaga untuk menulis.

Lebay sekali, ya? Padahal, apa coba masalah saya. Di luar sana, orang-orang yang saya kenal sebagai seorang penulis, gigih sekali menulis minimal tiga puluh halaman sehari. Mereka menulis paper ilmiah, penelitian tertentu, cuap-cuap ringan, atau novel. Mereka gigih, meskipun kebanyakan motivasinya adalah uang, tapi tetap saja, gigih. Duduk berjam-jam dan hanya menulis, itu gigih.

Maka saya yang menulis dua halaman saja sudah lelah, apalah. Cuma abu gosok.

Malam ini saya sempat ke rumah sakit. Pak Tuan Haji Salman, om saya, diopname. Beliau tidak sadarkan diri. Agak lama saya di rumah sakit. Sejak sebelum jam sembilan, sampai jam sebelas. Baterai ponsel habis, ponsel pun mati. Saya pulang ke perpustakaan dengan sebuah kosong di dada.

 

***

Sejak kemarin saya merasa kosong. Seperti semua hal yang mampu membuat saya bersemangat, raib entah ke mana. Seperti semua pengetahuan yang saya punya, tidak berpijak, mengawang di kepala. Kosong; hampa; di dada. Sedikit yang bisa membuat saya sumringah, dan merasa hangat.

Dalam keadaan itu, saya mengajak Bunga, pergi jalan-jalan. Pukul sebelas malam, dengan mengendarai motor saya dan Bunga keliling Kota Mataram. Motor saya jalankan pelan saja, ke arah Cakranegara, lalu berputar ke kawasan Pagutan, berputar lagi, kembali ke jalan Sriwijaya, melintasi Mall Epicentrum, dan akhirnya mampir di sebuah warung mie ayam legendaris di kawasan Dodokan, Kekalik.

Bunga adalah gadis yang tidak bisa melihat tangan—tangan siapa pun—mampir di leher. Dia bisa menjadi sangat kegelian. Mudah mengalahkan Bunga, meski dari jarak jauh. Pastikan dia melihatmu, lalu kamu tinggal membelai lehermu sendiri. Tindakan ini sanggup membuat Bunga kejang-kejang, sesak napas, ingin marah tapi tak punya tenaga.

Bahkan dalam kasus yang sangat akut, saya cukup membelai benda-benda di sekitar saya: kusen pintu kah, gelas kah, lemari kah. Karena yang dilihat Bunga sudah bukan leher lagi, tapi gerakan tangan yang membelai itu. Pikirannya akan langsung menuju leher, dan dia kejang-kejang lagi.

Katanya, penyakit ‘anti-leher’ itu merupakan warisan Neneknya. “Di Kampung, saya dan teman-teman seangkatan sering mengeluh, kenapa papuq-baloq (generasi di atas ayah) mewariskan hal-hal yang sepele dan menyebalkan seperti ini,” keluhnya. Bunga bercerita, anggota keluarga yang kena penyakit ‘anti-leher’ itu bukan hanya dia. Ibunya juga, adiknya juga, pamannya juga, bibinya juga, sepupunya juga.

“Teman saya diwariskan jempol kaki yang kecil, kukunya kecil, tapi bentuk jempolnya sempurna bundar—sempurna!” Tambah Bunga. “Jadi, kalau di kampung, cukup dengan mengamati jempol kaki orang lain, teman saya itu bisa tahu orang itu termasuk keluarga besarnya atau tidak. Kalau jempolnya sama, bisa dipastikan dia adalah keturunan Hajjah Fulanah.” Selorohnya.

Saya tertawa, ngakak—tapi dengan perasaan yang kosong.

Saya sedang kosong.

 

***

Waktu pulang, kami membeli kue Terang Bulan. Unik, penjualnya memakai kaos yang di punggungnya tertulis kalimat: “Calon suami idaman adalah penjual martabak”. Saya tertawa—meski kosong. Saya minta secarik kertas buffalo milik si penjual itu, lalu saya tulis sebuah kalimat. Saya sarankan dia membuat kaos dengan kalimat itu. Si penjual tertawa. Kalimat itu berbunyi:

“Terus teranglah, seterang bulan.”

Saya senang melihatnya tertawa. 

Saya tahu, kebaikan hadir di tiap detik usia bumi. Seluruh penghuni alam semesta selalu saling berbuat baik, bahkan seorang pelacur pun tetap memberi makan anak-anaknya. Kebaikan yang senantiasa hidup itu harus dihargai setinggi-tingginya.

Dengan menyadari kebaikan-kebaikan itu, manusia senantiasa waras, dan tidak pernah mengecilkan peran dirinya (serta orang lain) di dalam kehidupan yang megah inj. Tidak ada lagi yang akan merasa rendah diri (dan merendahkan orang lain). Karena kebaikan, seluruhnya, dicintai dan diganjar oleh Tuhan.

Tapi, saya sedang kosong.

Kami—saya dan penjual itu—sama-sama tertawa.

Tapi dia tertawa bahagia, sementara saya tertawa kosong. []

Iklan

60 tanggapan untuk “Diari Puasa: Terang Bulan, Kebaikan, dan Kosong

  1. aku tau kekosongan itu dari mana? hahahaha😄😄
    mungkin karena masih single, hahahaha
    atau karena masih belum move on dari Raisa. 🤔🤔
    ah iya, karena Raisa.. 🤣🤣

      1. ………… Ini bloger perempuan kah?

        🙈🙈🙈🙈🙈🙈🙈🙈
        Maaf 😹😹😹😹😹😹

        Enak sih terang bulan ituuuu, menggoda 😂

  2. Hati-hati kesurupan bang kalo kosong, eh bang Ical kan berteman baik sama jin juga ya 😂😂😂
    Semoga lekas diisi tawanya bukan dengan kekosongan saja :’)
    Kreatif banget bang Ical ini bikin orang lain bahagia 😂

  3. Walaupun kosong, entah knp (mungkin WB, tp Anda kan gak percya), tapi berkat terang bulan dan jln2 bersama-sama si Bunga tetap juga jd ide tulisan, krn memang kebaikan itu tertebar dimanapun jg di muka bumi, entah bagaimanapun caranya.

    Ahh…aku juga sok tahu, aku juga abu gosok, 😇😇😇

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s