Diari Puasa: Al-Qur’an Pun Bercerita

15306563_963686117066155_3033480365453869056_n
Syahria Tara Dhiya’ulia. Temanku.

‘Diari Puasa’ adalah postingan-postingan yang akan saya terbitkan setiap malam, sampai malam lebaran. Cerita-cerita yang tidak jelas apakah hendak melucu atau mengajak berpikir. Tidak jelas pula apakah nyata atau imaji semata. Apapun itu, menulis adalah ibadah dengan dua pahala. Menulis kata, kita dapatkan satu, dan memberi inspirasi, kita dapatkan dua.

***

 

Menjadi Pencerita

Tadi pagi Tara, teman sekelas saya selama 4 tahun kuliah di Fakultas Agama Islam UMM, bercerita bahwa belakangan ini dia mendadak menjadi tukang cerita di sebuah sekolah milik Muhammadiyah. Kadang dia bercerita ke murid-murid, kadang malah bercerita ke ibu-ibu guru.

Terakhir, Tara nyeletuk, “Ndak jelas banget ya pekerjaanku.”

Wah, Tara, kamu salah besar.

Jadi, Tara adalah bagian dari keluarga besar ES-TELER; nama angkatan yang tergabung di Kelas B Syari’ah 2011. Berbeda dengan kelas sebelah yang elitis-hedonis, kelas B lebih katrok, ndeso, ketinggalan jaman; tapi kekompakannya terbangun dalam akademik. Urusan wacana ke-Syari’ah-an, kami unggul. Berbeda dengan kelas sebelah yang sering meminta maaf berjama’ah pada dosen yang sakit hati, kelas B tidak pernah punya masalah dengan dosen manapun.

Kelas B terbiasa berbahagia dengan cara-cara sederhana. Anak perempuannya sering masak di kos, dan para lelaki membawa kertas nasi. Mereka menggelar acara prasmanan mendadak dalam kelas. Pernah seorang dosen bergabung, ikut prasmanan, jongkok di lantai.

Bahkan nama ES-TELER lahir dari suatu kejadian yang mulia, yakni dianugerahinya Bahri, anggota kami, sebagai Mahasiswa Baru terbaik. Uang penghargaan itu digunakannya untuk mentraktir kami semua es-teler di pojok lapangan belakang kampus. Sayangnya saat itu saya sedang puasa, jadi saya mengutuk Bahri dalam hati karena tidak koordinasi dulu tidak bisa mencicipi. Tapi, itulah asal muasal ES-TELER.

Manusianya unik-unik: ada Yuni of Alor, yang uang sakunya setiap bulan hanya 200.000 rupiah, dan dia bisa bertahan hidup lebih dari cukup, berprestasi pula; ada Mi’rajun of Bondowoso, pecinta fishing yang kocak dan pemikiran-pemikirannya brilian; ada Zulkarnaen of Aceh, yang alunan Qur’annya merdu sekali; ada Khusnul Khuluq of Bojonegoro, yang dulunya bersikap sangat dingin dan perlahan menjadi pribadi yang hangat; ada Vian of Ponorogo yang bijaksana; ada Kumaliah of Blitar, si ketua kelas abadi lantaran begitu rajin dan baik hatinya dititipi absen; dan masih banyak lagi.

Sementara Tara, adalah gadis yang cerewetnya minta ampun, menempuh dua kuliah sekaligus (Syari’ah dan Hukum), dan tegar. Dulu, saat Tara ditinggal Sang Ayah, kami sekelas berbela sungkawa ke rumahnya di pesisir pantai utara, Paciran, Lamongan. Tara gadis sederhana dari keluarga yang jauh dari kata kaya, tapi ia menyambut kami dengan sesungging senyum yang tidak pudar meski baru saja kehilangan tulang punggungnya.

 

Seni Bercerita

Bercerita, baik verbal maupun tulisan, sama sekali tidak mudah. Tara yang (meski bercanda) merasa ‘kegiatan bercerita’ sebagai kegiatan yang gaje, buat saya, mesti diluruskan. Saya sendiri selalu ingin punya kemampuan bercerita yang hebat. Alasannya ada beberapa.

Alasan pertama, ‘seni bercerita’ bukanlah seni yang gampang.

Saya yang belajar seni bercerita lewat tulisan saja sudah setengah mati, dan tidak kunjung pandai (lihat saja cara saya menceritakan ES-TELER, menyedihkan). Lebih susah lagi ketika belajar seni bercerita secara verbal. 

Dalam seni cerita verbal, saya bukan hanya harus memeras otak mencari materi yang unik nan berbobot, tapi harus cepat memilih diksi yang tepat, menimbang suasana hati pendengar, mempertahankan ketertarikan, dll.

Gestur tubuh dan mimik wajah saya harus memikat (oke, perlu ditekankan bahwa tidak harus berotot dan tamvan untuk ‘memikat’; gendut jelek juga bisa berlatih agar gesturnya memikat). Intonasi harus terkendali. Inti teori retorika memang hanya empat: komunikator, materi, media, dan komunikan; tapi nyatanya bercerita tidak pernah semudah itu. Saya seringkali gagal.

Alasan kedua, saya yakin, bercerita adalah cara terbaik menyalurkan pemahaman luhur atas hidup ini.

Dengan bercerita, suatu gagasan bisa lebih mudah masuk, karena ide langsung menemukan konteksnya. Konteks yang disajikan juga bisa beragam, tergantung durasi waktu berceritanya. Permainan imajinasi juga menyehatkan manusia secara emosional.

Al-Qur’an bahkan banyak menyampaikan nilai-nilai tertentu, secara tersirat, lewat kisah-kisah. Dalam hal ini, bisa dikatakan bahwa “Allah suka bercerita”.

Misalnya, seorang mufassir muda Amerika kenamaan, Nouman Ali Khan, mengemukakan pendapatnya tentang kebolehan perempuan dalam bekerja mencari nafkah lewat kisah Nabi Musa yang menolong dua anak perempuan Nabi Syu’aib, yang banyak diceritakan dalam al-Qur’an. Nouman Ali Khan mengupasnya dengan apik sekali dalam sebuah video.

Banyak cerita dalam al-Qur’an yang Allah tidak menunjukkan hikmahnya secara langsung. Allah menggunakan unsur-unsur dalam cerita: tokoh-tokoh beserta wataknya, inti alur cerita, dan sebuah pertanyaan retoris di ujung: “Tidakkah kamu berpikir?”

Dengan pola demikian, kita belajar membangun dan bergumul dengan konteks, sebelum bikin kesimpulan. Hikmah juga akan selalu baru, meski ceritanya semakin klasik. Kita hanya perlu ‘menafsir ulang’ tokoh dan konteks cerita.

Misalnya, di era modern ini, siapa yang sedang memerankan Fir’aun sesungguhnya? Apakah kita harus berperan sebagai Nabi Musa, yang dengan berani memeringatkan penguasa saat mereka sedang zalim-zalimnya? Apakah kita butuh peran seorang ‘komunikator ulung’ seperti Nabi Harun yang fasih lisannya?

Semacam itulah.

So, Tara, kamu jangan remehkan peranmu. Meski kegiatan itu iseng saja, jangan dijalankan sambil lalu. Lakukan yang terbaik! []

Iklan

47 tanggapan untuk “Diari Puasa: Al-Qur’an Pun Bercerita

  1. Yap, bercerita itu emang gak gampang, perlu seni, sprti Anda bilang, aplgi bercerita secara lisan/verbal itu.

    Punya skill bercerita yg baik, menurut saya, itu tampak keren. Dan saya rasa bro Ical memiliki itu. Liat saja gaya Anda menuangkan ide, sangat retoris.

    I do agree too that God is a good story teller.

  2. Orang yang bisa bercerita itu keren, terlebih apa yang diceritakan menyampaikan kebaikan.

    “Mbk Tara kamu keren 👏👏👏”

    (*mana mbk Tara..)

  3. Saya nggak pernah pandai bercerita karena saya bermasalah dengan cara bicara yang cepet dan rapet kayak petasan rentengan. Karena itu saya nulis, itu pun tak pandai hehe…

    Jadi dulu penghuni kampus yang ada kolamnya gede itu? Sering juga keluyuran ke sana. Duluuu… Sebelum pak Harto lengser hehe…

  4. Kadang saya iri + kagum sama orang cerewet. Mereka bisa bercerita dengan bebas tanpa takut ceritanya absurd atau membosankan. Kalau ada mereka, tak ada lagi kata sunyi. Dan biasanya orang cerewet itu ngangenin😊

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s