Merdeka: Pengantar

Kata-Mutiara-Persahabatan
Merasa Merdeka

 

Kalau teman-teman belajar filsafat, hampir pasti akan bertemu dengan tiga istilah ini: ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Mudahnya: ontologi adalah pertanyaan mengenai hakikat sesuatu; epistimologi adalah pertanyaan bagaimana cara menggapai hakikat sesuatu itu; dan aksiologi, adalah pertanyaan tentang, apa yang harus kita lakukan dengan hakikat sesuatu itu.

Dalam memaknai kemerdekaan, tiga pertanyaan penting itu juga harus diajukan.

  1. Apa, hakikat kemerdekaan?
  2. Bagaimana, kemerdekaan didapatkan?
  3. Untuk apa, sebuah kemerdekaan digunakan?

Sebelum kita berburu quotes di Internet untuk dipajang lagi di Internet; sebelum kita menulis ucapan apapun di dunia maya mengenai kemerdekaan; sebelum kita berhura-hura atas nikmat Tuhan tanggal 17 Agustus 72 tahun silam itu; ada baiknya kita merenung sejenak memikirkan tiga pertanyaan di atas.

Saya akan membuat tiga postingan, sampai tanggal 17 Agustus nanti. Isinya, mengurai tiga pertanyaan di atas. Tidak ada yang lebih nikmat, selain menelusuri sendiri ruang-ruang terdalam di pikiran dan kehidupan kita, dan menemukan sesuatu yang berharga untuk dibagikan.

 

***

Saya selalu terngiang didikan mentor saya, untuk ‘merasa malu’ bersuka-cita atas kemerdekaan, sementara di sekitar kita masih banyak yang harus terpaksa hidup dalam ketidak-layakan yang—andai teman-teman banyak mengamati—sangat bikin dada sesak. Kehidupan yang sulit membuat seseorang menjadi sabar dan baik hati.

Meski anggaplah, di negeri ini mereka berjumlah tidak lebih dari 5%, saya dididik untuk tetap memelihara malu. Faktanya, jumlah mereka masih lebih dari 30%.

Tentu saja, ‘merasa malu’ tidak boleh membuat kita absen bersuka cita. Berbaur dengan masyarakat merayakan kemerdekaan adalah suatu keharusan, suatu upaya mengekspresikan rasa syukur. Tapi ‘merasa malu’ adalah cara yang paling lugas untuk tetap awas dengan realitas sosial, dan bersemangat melakukan sesuatu tuk memperbaiki apa yang mesti dan bisa diperbaiki.

 Yang tidak diinginkan mentor saya adalah, kita merayakan kemerdekaan dengan kekosongan. Slogan belaka tanpa kesadaran, tentang apa sih sebenarnya yang telah terjadi di masa lalu. Tentang bagaimana anak bangsa di masa silam melepaskan banyak hal dalam hidup mereka, untuk mengembalikan kehormatan dan menjunjung harkat semua orang—bukan dirinya sendiri, sekali lagi: semua orang.

Jangan sebut keringat, tenaga, darah, dan nyawa—jangan sebut kalau cuma sekedar untuk disebut. Lagipula, itu jawaban atas pertanyaan apa yang mereka korbankan, bukan pertanyaan bagaimana mereka mengorbakannya.

 

***

Ngomong-ngomong soal perayaan kemerdekaan, ada dua tokoh di novel Pak Cik Andrea (Cinta di dalam Gelas) yang tingkahnya lucu waktu kemerdekaan. Merekalah Kamhar, Paman si Ikal, dan Koh A Fung, tetangga Kamhar. Kamhar adalah juragan warung kupi, sementara Koh A Fung punya toko kelontong di seberang warung kupi Kamhar.

Setiap tanggal 17 Agustus, mereka berdua selalu berlomba tinggi-tinggian dan dulu-duluan mengerek Bendera Merah Putih. Meski Ketua Karmun Sang Kepala Kampung Legendaris sudah memberi pengumuman bahwa bendera sebaiknya dierek serempak tanggal 10 Agustus, Koh A Fung sudah mengerek bendera sejak tangga 1 Agustus.

Sementara Kamhar juga mengerek bendera pada tanggal 1, tapi di Bulan Juli.

Betapa mesra (dan konyol!) persaingan dua etnis itu.

Sepertinya cuma ada di Belitong. []

Iklan

28 tanggapan untuk “Merdeka: Pengantar

  1. Ulasan yg menohok, halus, dan reflektif. Klau gak gitu mah bkn Ical namanya. Untuk membacanya diperlukan kesabaran, dan rendah hati agar tak terjebak pd tohokan2nya.

    Intinya sy stuju. Stuju bhwa hkikat mrdeka itu bkn skdar slogan kosong tanpa kesadaran. Tp benarkah bkal ada yg bnar2 sdar? Bukankah arti sadar itu sendiri pun bisa subjektif..

    1. Subjektifitas adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari, Abang. Tapi subjektifitas pun lahir dari sebuah usaha menyadari.

      Yang kemudian akan membedakannya adalah, kedalaman perenungan masing-masing subjektifitas tersebut. Pasti terlihat kok, dari argumen yang dibangun, referensi yang dilihat, dll.

      Yang disebut tidak sadar adalah, ketika dia tidak subjektif, tidak pula objektif. Alias, tidak merenung sama sekali 😂

  2. Salam kenal bang … Ane slama ini silent reader, namun tak kuasa menahan rasa utk bersuara tatkala melihat artikel ini, sungguh bermakna bagi penerus bangsa …
    Merdeka

      1. Hhe … Maklum bang zona ptivate 😊, salam di sini aja udah cukup kok … Keep spirit ngeblog bang & pertahankeun gaya tulisan abang yg apa ada’y, bukan karena ada apa’y, Mengalir gitu aja mmbuat reader terhanyut dengan akur tulisan anda … Good Job 👍

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s