Ikhtilafnya Umat Itu …

Berbeda Tidak Harus Bermusuhan

 

Tulisan ini adalah catatan kecil saya, di kuliah perdana MK Studi Ilmu Hadits. Dosennya bernama Pak Dr. H. Nasrullah, Mth. I. Beliau masih muda dan jenaka, kulitnya hitam seperti saya. Tapi mungkin itu karena beliau lama studi di timur tengah, sementara kulit hitam saya karena terlalu banyak main di antah-barantah. Umpama kumbang raja dan kumbang kampung.

(Memangnya ada jenis kumbang macam itu?)

Dalam kelas perdana yang isinya orientasi pembelajaran itu, terjadi sedikit diskusi. Pak Nasrullah menjelaskan, hadits palsu yang matannya memuat kebenaran, bisa saja diamalkan (selama ditegaskan itu bukan berasal dari Nabi Saw.). Kalimat man akala sabi’a (siapa yang makan, kenyang) bukanlah hadits, tapi memuat kebenaran.

Namun, ada hadits palsu yang matannya pun tidak memuat kebenaran. Pak Nasrullah memberi satu contoh: Ikhtilafu ummati rohmah (perbedaan di antara umatku merupakan rahmat). Kenyataannya, menurut Pak Nasrullah, tidak ada ikhtilaf yang tidak berujung pada celaka. Serentetan konflik terkenal disebutkan beliau, dari perseteruan NU-Muhammadiyah sekian lama, tragedi Shiffin dan Karballa, hingga tragedi Myanmar. Maka redaksi hadits palsu itu sepatutnyalah diganti dengan ikhtilafu ummah fitnah.

Saya punya pemikiran berbeda, tapi saya kurang pandai dalam bahasa verbal, dan selama ini lebih nyaman menyampaikan gagasan secara tertulis. Nah, catatan ini bukan kajian serius, hanya siloka sederhana, karena saya memaksakan diri membuat tulisan ini saat saya mengantuk dan lapar.

 

Perbedaan Sebagai Rahmat

Berbeda itu sunnatullah. Sulit saya mengatakan perbedaan itu fitnah, karena saya nantinya harus menikah dengan manusia yang jenis kelaminnya berbeda dengan saya (oke, lupakan). Maksudnya, bila berbeda itu sunnatullah, maka ‘keberagaman’ juga merupakan kondisi pasti kehidupan. Manusia, di tengah keberagaman itu, harus bagaimana? Kita bisa mengajukan tahapan-tahapan ‘bagaimana’ itu.

Pertama, perbedaan dalam bahasa dan warna kulit diturunkan Allah sebagai tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui (ar-Rum: 22). Semakin banyak tahu, semakin jelas tanda-tanda itu. Untuk menjadi semakin banyak tahu, haruslah semakin banyak belajar. Apa yang dipelajari? Merujuk ayat yang sama, ‘bahasa-bahasa dan warna kulit’, yang bila tidak dijiwai secara tekstual, akan menunjukkan pada kita realitas yang luas.

‘Bahasa’, bukan hanya tentang kegiatan verbal, melainkan geliat pemikiran, khazanah pengetahuan dan keyakinan, baik secara sederhana (apakah suatu masyarakat memilih makan nasi atau sagu) maupun kompleks (apakah sekelompok orang yakin jenazah harus dikubur atau dibakar). Bahasa hanyalah alat ekspresinya. Bahasa adalah simbol perkembangan peradaban yang dihasilkan manusia. Berbeda dengan ‘warna kulit’, ia dipahami sebagai bawaan lahiriah yang tidak boleh dihina, memang ditetapkan Allah secara langsung.

Maka sebutlah ragam perbedaan yang mungkin dimaksudkan sebagai ‘bahasa’ itu: selera sehari-hari, minat ilmu, minat kebudayaan, keyakinan terhadap suatu paham dalam sebuah agama, keyakinan pada suatu agama tertentu, pilihan politik, pilihan gerakan sosial, yang di luar fitrah ‘warna kulit’ dan dipengaruhi lingkungan tempat seseorang tumbuh. 

Terhadap seluruh keragaman itu, kita diminta untuk saling mengenal dan menghormati (al-Hujurat: 13), dan kata kunci mengenal dan menghormati ini, secara etis sangat kuat, dan lagi ayat ketiga belas ini diakhiri dengan pesan yang secara etis pula menyentak: “Hanya Allah yang paling tahu, siapa yang paling bertakwa di antara manusia.”

Kedua, tuntunan menyikapi perbedaan/keragaman. Al-Qur’an mengajarkan untuk mengembalikan suatu urusan pada tuntunan Allah dan Rasul (an-Nisa’: 59); tentu saja dengan kemampuan kontekstualisasi. Kedua, bertukar pemahaman dengan cara yang baik (an-Nahl: 125), yang mengutamakan semangat persatuan/perdamaian (Ali Imran: 64), bukan saling menjatuhkan, merendahkan, dan meminggirkan (al-Hujurat: 11).

Tentu saja kutipan dalil di atas masih kurang banyak dan sifatnya kulliyat (tidak spesifik). Tulisan ini juga hanya sedikit gumaman yang tidak mengutip referensi buku apapun, sehingga jauh dari syarat ilmiah (dibantai di sisi penggunaan istilah saja, mati kutu saya). Tapi, bila memang suatu perbedaan bisa menjadi rahmat, pastilah ia harus disikapi sesuai tuntunan al-Qur’an.

Dalam sejumlah riwayat pun, kita melihat sejumlah perbedaan yang ‘disenyumi’ oleh Nabi Saw., tak terkecuali yang favorit dikutip oleh peneliti maqasid kontemporer, Jasser Auda, tentang perginya beberapa sahabat ke pemukiman Bani Quraizhah dan berdebatnya mereka tentang waktu shalat, yang menjadi landasan beliau menyimpulkan akar kemunculan kaum tekstualis dan kontekstualis.

 

Perbedaan Sebagai Fitnah

Dialog aktor terkenal Morgan Freeman dalam film Lucy, menyimpulkan bahwa ‘bukan perkembangan pengetahuan yang menimbulkan kekacauan, melainkan ketidak-tahuan’. Senada dengan itu, perbedaan hanya akan menjadi fitnah ketika manusia tidak memahami tanda-tanda kebesaran Allah, dan tidak menyikapi perbedaan dengan tuntunan yang ada.

Saya percaya, di balik setiap tragedi konflik keyakinan dan keagamaan, bukanlah perbedaan yang menjadi faktor utamanya (karena kontra-argumen bagi gagasan bahwa perbedaan adalah fitrah). Konflik terjadi karena ‘kompleksitas proses hasut menghasut’. 

Ya, karena hasutan! Ada setan, dari jenis manusia, yang melakukan kerja-kerja yuwaswisu fi sudurinnas, terutama di era banjir bandang informasi seperti hari ini, kedangkalan intelektual yang menjadi watak mendasar media sosial, sangat memengaruhi kompleksitas proses hasut menghasut itu. Andai setiap orang mampu berpuasa, menahan diri dari nafsu akan kekuasaan, menahan diri dari liarnya mulut merepet sana-sini, Insya Allah benih konflik bisa mati sebelum bertumbuh.

Perbedaan disebut sebagai rahmat, dalam artian yang sangat elegan, seumpama Allah ingin bilang pada kita, bahwa “Dengan segala rupa perbedaan ini, kuberi kamu kesempatan/peluang untuk lebih mengenal, meneladani, dan menunjukkan ketakwaanmu pada-Ku, dengan menjadi sebestari al-Qur’an-Ku.”

Tapi bila pengertian rahmat kurang diterima, sedangkan sebagai fitnah juga rasanya kurang tepat, baiknya redaksi hadits palsu itu diganti saja: ikhtilaful ummah, fithrotun. Hahaha. Tapi buat apa juga mengganti redaksi hadits palsu. []

Iklan

27 tanggapan untuk “Ikhtilafnya Umat Itu …

  1. Bang Ical maaah, ngantuk-ngantuk plus laper bagus banget tulisannya apalagi kalau udah ga ngantuk, pehhh ~

    dan tentang perbedaan, *gatau ini nyambung sama tulisan bang ical atau ngga tapi pengen cerita* di Australia banyak orang beda-beda dari semua benua pasti ada lah. Dan Australia emang katanya negara yang paling bagus penerapan intercultural-nya. Kebanyakan orang ramah-ramah, dan aku ga pernah diliatin dengan aneh walau aku minoritas. Pernah aku coba pakai jilbab panjang mereka juga biasa – biasa aja tuh. Aku merasa di Australia, mereka lebih mentolerasi dan gak judgemental.

    * btw di paragraf terakhir ada dua kali sebagai

    1. Hahaha, laper lebih tajam pikiran 😅

      Di Australia kan pernah ada social experiment, tingginya penghargaan masyarakat terhadap perbedaan dan hak mengekspresikan keyakinan. Ada di youtube 😃

  2. Setuju sama artikel ini. Perbedaan bisa jadi rahmat, atau sebaliknya jadi fitnah atau bahkan musibah tergantung siapa yang menjalaninya. Kalau saya sih, lebih suka menjadikan perbedaan itu sebagai jalan buat cari ridhonya Allah. Jadi lebih banyak sabar sama istighfar kalau perbedaannya bikin kezel, jadi banyak syukur kalau menyamankan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s