Berkomunitas di Dunia Maya

19113737_1999055266992515_1477374709552395875_n

 

1.

Berkomunitas, di komunitas mana pun itu, menuntut kebijaksanaan.

Memang hanya satu kata, kebijaksanaan, tapi satu kata ini kompleks sekali. Satu kata itu meliputi (a) kemampuan memahami kondisi personal lain, (b) kemampuan memahami kondisi orang banyak, dan (c) kemampuan memaklumi kekurangan gerakan.

Dalam berkomunitas, itulah makna kebijaksanaan. Tiga kemampuan itu merupakan kebutuhan mendasar. Sebenarnya, ada lagi kemampuan tambahan yang tidak kalah penting, yakni (d) inisiatif melengkapi kekurangan gerakan, bukan mengeluhkannya. Tapi berbeda dengan tiga kemampuan di atas, kemampuan terakhir ini tidak bisa dituntut ada dalam diri setiap anggota.

Tulisan ini tidak menulis solusi bagaimana agar ‘tidak malu dan aktif berkomentar di grup komunitas sementara chat bertumpuk’. Itu silakan jadi bahan diskusi, hehehe.

 

2.

Obrolin, sebagai sebuah komunitas bloger wordpress, baru berapalah usianya. Jumlah anggota yang kurang lebih seratusan orang itu pun tidak bisa dibilang banyak. Apalagi, dengan kegiatan yang berlangsung hanya di dunia maya.

Namun, di usianya yang tidak seberapa ini, dinamika yang dihadapi sudah banyak. Salah satu dinamika di awal-awal berdirinya Obrolin adalah menahan arus obrolan yang tidak membuat nyaman. Anggota datang dari lingkungan yang beragam; kadang tema yang bagi seorang anggota sensitif, tidak begitu bagi orang lain. Contohlah pembicaraan yang rada mesum, ada yang santai bercanda dengan itu, ada yang tidak.

Tapi di sinilah letak kebijaksanaan: mampukah kita memahami perbedaan yang ada sebelum bercanda? Mampukah kita bersabar dalam mengingatkan dan ketika diingatkan? Ketika misalnya kondisi yang menyebalkan itu tidak begitu prinsipil (sampai melanggar norma-norma tertentu), mampukah kita mengalah?

Bijak pula kalau kita memaklumi dan ikut tertawa, misalnya, dalam kasus Quree yang sedang spaneng dan mengirim puluhan voice note nyanyiannya dia. Bila ada yang menegur Quree karena alasan yang tepat (silakan meribut, tapi tidak di jam istirahat), itu bijak. Bila ada yang memaklumi dan mengalah dengan hanya me-mute notifikasi saat pembicaraan di grup dirasa terlalu ribut, itu juga bijak.

 

3.

Saya mendapati keluhan pula, bahwa materi di grup serius seringkali kurang berbobot. Saya tersenyum. Kalau mau, filsafat atau teori sosial atau tasawwuf atau sederet kajian isu aktual lainnya sudah masuk daftar tema. Tapi dalam komunitas bloger yang minat temanya beda-beda, dan kemampuan mencerna tema tertentu juga beda-beda, kita harus belajar merendah, dan melangkah bersama.

Sesekali bahas hal remeh, sesekali bahas yang rada serius. Ikutin saja, santai. Nanti menambal hal-hal ringan itu dengan komentar-komentar yang berbobot. Sebaiknya pandai-pandai membaur.

Keluhan lain adalah, yang aktif di grup kadangkala adalah orang yang tidak aktif ngeblog. Saya tidak terlalu memikirkan soal itu karena mungkin setiap orang punya jadwal memosting, atau, setiap orang masih berjuang untuk konsisten ngeblog (karena itulah mengamati pembicaraan menjadi penting, untuk mencomot inspirasi menulis dari sana, seremeh apapun itu). Saya juga tidak memerhatikan karena memang tidak semua blog anggota saya follow (kita harus mengakui bahwa men-follow blog adalah urusan selera, komunitas hanya menyediakan ruang menemukan blog sesuai selera).

 

4.

Tapi, sejak mula saya selalu katakan: hakekat interaksi bloger ya di blog, bukan di media sosial lain. Saya sudah menyampaikan kekhawatiran itu pada Hendra sejak mula komunitas ini diinisiasi: takutnya dengan ada WA aktifitas di WP jadi terhambat. Tapi, kami percaya manfaat komunitas ini lebih besar, dan silaturrahmi, masya Allah, bernilai sekali pahalanya.

Saya ingin kita semua kembali pada makna kebijaksanaan dalam berkomunitas. Kembali memungut yang baik-baik dari suatu perkumpulan. Lebih-lebih, kalau mental kita bukan berharap mendapatkan sesuatu, tapi berharap bisa berbagi sesuatu.

Tapi jangankan keluar dari grup karena suatu alasan yang baik; untuk keluar dari komunitas pun, tidak ada yang melarang. Sah, silakan. Tapi pamitlah, supaya hati sama-sama senang. Tunjukkan pada komunitas kekurangannya di mana, supaya komunitas bisa memikirkan perbaikannya.

Salam, Ical.

Pesuruhnya Obrolin. []

Iklan

95 tanggapan untuk “Berkomunitas di Dunia Maya

  1. Terkadang memaklumi sifat, sikap, candaan, tergantung juga dengan kondisi fisik dan psikis masing masing masing. Saat santai dan tenang, kita bisa dengan mudah memaklumi segala hal. Tapi saat tubuh sudah dititik lelah, rindu berserakan tak tentu arah, kesibukan berkejaran seperti tak akan pernah selesai. Keisengan yang awalnya terasa manispun bisa menjadi sangat mengesalkan.

  2. Komunitas bloger wp itu masih terlalu luas dan umum, jadi ya seperti itu masalahnya, kalau sudah khusus biasanya kuat, misal komunitas bloger sastra wp, semua senang sastra, jadi pas rembugan sastra semua enak saja. Lihat saja komunitas khusus semacam komunitas gay, mereka bisa kuat walau dari berbagai latar belakang.

  3. ✍ materi di grup serius seringkali kurang berbobot

    ✍ minat temanya berbeda-beda, dan kemampuan mencerna tema tertentunya juga beda-beda, kita harus belajar merendah, dan melangkah bersama.

    poin no 3, akan direnungkan oleh tim edukasi.,

  4. Cie cie bang ical. Suatu saat kita akan ketemu lagi di tingkat pemikiran yg berbeda, situasi yg lebih tepat, menyenangkan, dan tentu saja di lingkupi kebermanfaatan yg lebih dari sebelumnya. Obrolin bukan tujuan, ia adalah jalan. Salam saling mengingatkan πŸ™‚

  5. Iya setuju bang, setiap orang itu memang memiliki tingkat kecerdasan yang beda beda. Jadi nggabisa kalo langsung di cekok.i materi materi tingkat tinggi. Mereka juga perlu obrolan obrolan ringan dulu untuk menuju ke obrolan yang tidak ringan lagi. Setiap orang kan memang beda dalam menyerap suatu ilmu yg dipelajarinya. Ada yang dijelaskan sekali saja sudah pinter, ada yg dijelas beberapa kali baru nyantol, tp ada juga yang dijelaskan beberpa kali tp masih ga nyantol nyantol. Jadi, sarannya tolong bagi orang yang menurutnya sudah pinter. Tolong bimbing orang orang yang masi belum pinter tp ingin belajar pinter. Bimbing dengan cara baik dan benar serta dengan kesabaran πŸ˜ƒ

      1. Terus kalo ada yang bilang ” ahh masuk komunitas itu kok ga ada manfaatnya ya? Aku leave aja deh” . Sebenernya, kalo menurutku sih kalo dicerna lagi, dari kebanyakan orang yang bilang begitu. Pasti masih ada manfaat yang bisa diambil walaupun sedikit. Manfaatnya ya kita harus bisa mengambil manfaat dari ketidakbermanfaatan itu sendiri πŸ˜€.

        Iya bang, semoga semua makhluk bisa berbahagia, aminn πŸ˜ƒ

  6. Materinya kurang berbobot.

    Yaudah situ aja jd pemateri, wkwkkwkwk.

    Kalo untuk kelas menurut wa udah bagus kok.. Kan memang dasar2nya dulu dijelaskan.. Lagian kalo memang sudah tau anggap saja penguatan, mungkin aja ada satu dua yang baru disadari.

    Mungkin yg sering dianggap kurang penting itu diskusi ya. Tapi ini juga lucu. Namanya diskusi, menampung ide. Pasti ada tanggapan yang menarik dan di luar pikiran kita.
    Diskusi juga melatih kita utk memberi pendapat. Dari banyak manfaat yg ada masa ga bisa liat manfaatnya, hanya kekurangannya aja. πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

    *trus wawa ngomong apa..

  7. Karena aku jarang nyimak group jadi gak ngeh ada apa hahaha, tapi tulisan ini aku setuju sih dibawa santai dan bijaksana aja semuanya. Untuk urusan materi, aku pun asik2 aja sih bang siapapun pemateri dan apapun isinya. Ikutin alur aja~~

    Udah ah, gak cocok panjang2 komen tentang group, aku cuma numpang duduk kok disana wkwk. Wassalam.

  8. Menurutku materi di obrolan serius udah cukup kok, emang gak harus hal-hal berbobot terus yang dibahas. Pikiran perlu rileks.
    Btw saya sebenarnya jarang ikut obrolan di grup si. Karena kesibukan di dunia nyata dan media sosial lain. Hhhhee

  9. Tema di grup serius kurang berbobot :” hehehe padahal kadang yang aktiv bersuara juga itu itu saja. Hehehe. Balik lagi ke poin pemakluman :”

    Semangaaat terus abang ical dalam membimbing kita kita huhihihi

  10. Waah pohonnya mulai tumbuh. Mulai ada angin yg mengganggu. Sama seperti tanaman menumbuhkan memang sulit, tapi lebih sulit lagi menjaganya tetap tumbuh. Dibawa santai aja ketua, jangan sering-sering ditegur nanti pada baper atau malah salah paham. Fokus ke aktifitas aja, yg mau pergi dan datang silahkan. Pintu jangan ditutup. Ini media belajar jadi gak usah terlalu mencemaskan rekan-rekan yg lupa pamit atau seperti tidak ikut berpatisipasi ada waktunya mereka bergabung.
    Haduh malah jadi kepanjangan yaaa…
    Gak papa lah. Aq harus memanjat ratusan chat untuk tahu asal mula tulisan ini. Jadi kata-kataku ini masih sebandinglah dengan jerih payah ku ya Bg Ical.

    ‘Iya’ bilang!!!
    πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

      1. Padahal aq mau usul buka kelas tambahan loh ket…
        Tapi gak jadilah.
        Kalo hari minggu aq sering g bisa ikut.
        Aq sering ibadah jam 7 malam. Jadi sering terlambat masuk kelas
        Kamu ga kasihan liat aku telat terus?!

      2. Hah cepat kali bilang cocok!!!
        Curiga aku, kelas ini seperti modus-an media untuk tau pribadi anggota yg lg kam beter2 yaaaa….
        Hahahaha…
        Kamuuuu….
        Tercyduq….

      3. Hahahhaaaa….
        Jangaaaaannnnnn….
        Nanti kau jadi belalang sembah!!!
        Sudah terlali banyak yg jadi korban ketuaaaa….
        😁😁😁😁😁

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s