Manusia Yang Telah Selesai

munir

 

Untuk memeringati Munir, tulisan ini jelas sudah terlambat sehari. Munir mati diracun di udara pada 7 September 2004. Munir mati muda, usianya 38 tahun ketika ia ‘disingkirkan’ rezim ekonomi-politik yang ‘terganggu’ karena segala macam usahanya menegakkan kebenaran, hukum, dan HAM di Indonesia.

Selain sebagai advokat yang merupakan ‘kesatria hukum’, saya mengenang Munir sebagai manusia yang telah selesai. Apa maksudnya?

Munir sudah tidak meletakkan kehormatan hidupnya pada hal-hal yang membuat seseorang menjadi takut, kemudian pengecut, kemudian abai terhadap tanggung-jawab sosial. Uang mengalir deras untuk Munir, tapi selalu dialihkan untuk keperluan gerakan, sementara ia sendiri menggunakan motor butut ke mana-mana. Dengan jaket kumal seperti tukang ojek, dan helm kusam hadiah dari dealer motor bututnya itu, ia beranjak dari satu tempat ke tempat lain untuk mengedukasi dan mengorganisir rakyat. Hidupnya untuk melayani orang lain, bukan melayani diri sendiri. Ia adalah seorang Gandhi versi muslim.

Manusia yang telah selesai, tidak bisa diancam dan ditawar-tawar. Biasanya, rezim korup selalu membungkam orang-orang yang kritis dengan cara mengancam keselamatan hidup yang bersangkutan dan orang-orang di sekitarnya, sekaligus menawari mereka berbagai macam kemudahan hidup—uang, terutama. Janganlah naif menganggap cara-cara seperti ini hanya ada di film-film; bergaulmu kurang luas.

Tapi Munir tidak mempan dengan cara klasik itu. Diancam ia tidak takut, ditawari ia tidak silau. Sosok kurus kecil yang sangat tajam mengamati penyelewengan-penyelewengan hukum itu sudah paripurna. Munirlah yang menggenggam hidup, bukan hidup yang mengendalikan Munir. Ikhlas sudah di luar raga, hanya Tuhan yang boleh ditakuti, dan kebenaran harus ditegakkan. Hanya dengan demikian, kain kafan nantinya bisa dibanggakan di mata Tuhan, sebagai kain kafannya muslim yang menolak takut selain pada Allah.

Maka Munir dibunuh.

Demikian tulisan ini saya persembahkan sebelum shalat Jum’at. Seharusnya shalat membuat seseorang menjadi berani, dan menjadi manusia yang telah selesai, karena shalat yang benar adalah shalat yang bernapaskan inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi robbil ‘alamin.

Saya tidak akan menulis tentang siapa Munir, apa yang telah dia lakukan sehingga rezim kuasa menakutinya, bagaimana ia dibunuh, bagaimana negara setengah hati mengusut kasusnya, dan bagaimana solidaritas telah membela dan menjadikannya sebagai ikon penegakan kebenaran, hukum, dan HAM.

Silakan baca sendiri banyak referensinya, dan bila malas membaca, banyak video dokumenter tentang kehidupannya. “Kiri Hijau Kanan Merah”, “Bunga Dibakar”, “Tuti Koto: a Brave Woman”, “Garuda Deadly Upgrade”, dan “His Story”, adalah sebagian film dokumenter yang bisa disebut.

Bila malas juga menonton, mungkin keyakinan hidup orang-orang seperti Munir bisa didengarkan dalam lagu Efek Rumah Kaca yang berjudul “Udara”. Munir dikenang band muda dalam lagu yang begitu menggetarkan. []

Iklan

26 tanggapan untuk “Manusia Yang Telah Selesai

  1. Munir org Malang kan ya bang? Baru tau kemarin pas baca ttg munir. Kadang persoalan politik atau hukum kerasa lebih mengenaskan dari pada masalah kejiwaan. That’s why aku benci hal2 ttg politik.

    1. Iya, orang Batu, alumni UB 😃

      Benci boleh, tapi anak muda ndak boleh buta politik (dalam arti luas dan esensial). Semua peri-kehidupan kita, harga-harga kebutuhan rakyat, semua dari proses politik.

      Bila ingin bertarung membetulkan yang tidak betul, dan membela rakyat, harus melek politik.

      Lagipula, itu adalah tanggung jawab pemuda-pemudi 😃😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s