Menjaga Politisi

buta-politik

 

Tulisan pendek ini bukan teori politik. Siapalah saya, harus tahu segala hal. Bagi yang suka emasnya menara gading pengetahuan, ada baiknya minggat dari tulisan ini sebelum kecewa. Pengetahuan saya yang jongkok tidak akan mampu memuaskan dahaga.

 

1.

Saya percaya, anak muda tidak seharusnya buta politik. Benci boleh, politik memang lumpur kotor-berduri yang bercampur dengan bekas muntahan basa-basi sepanjang sejarah. Busuk, memualkan, memuakkan. Politik telah dihiasi oleh warna hitam: kemunafikan, senyum manis beracun, kata-kata santun yang menipu. Kebohongan di mana-manaโ€”tentu, bagi mereka yang melihat pelbagai kejadian dengan perspektif yang tak melulu lugu. Tapi tidak seharusnya anak muda buta politik, karena dari politiklah semua dirancang.

Harga-harga barang: bahan-bahan makanan dapur; tarif listrik, air, dan transportasi; uang kesehatan dan pendidikan, pajak dan harga buku, tarif mengirim buku ke daerah-daerah, uang kos-kosan yang katanya naik sesuai inflasi, dll.

Pembangunan: sarana transportasi, fasilitas kesehatan dan pendidikan, taman bermain, perpustakaan, ruang edukasi, rusaknya ruang edukasi karena entertainment yang berlebihan, hilangnya ruang terbuka hijau, dieksploitasinya sumber daya alam, dll.

Sistem: pemilu yang jujur, celah sempit dan beresiko untuk melakukan korupsi, lahan pekerjaan yang adil dan tidak nepotis, ruang untuk mengajukan kritik atas sistem yang dijamin perlindungannya, upah minimum suatu daerah, dll.

Semuanya ditentukan proses politik.

 

2.

Kita perlu politisi.

Namun, selama ini politisi tidak pernah disiapkan dengan baik.

Kebanyakan fenomena yang saya temukan adalah: anak muda yang gelisah akan perekonomiannya di masa depan, yang karen gelisah itu ia kemudian banting setir menjadi politisi, karena politik adalah lahan mendulang uang bermodalkan cuma basa-basi dan sedikit rasa percaya diri. Omonganmu ngawur tak jadi apa, kata Rendra menggambarkan politisi, yang penting yakin.

Sedikit saja politisi yang memersiapkan dirinya menjadi politisi. Mereka memang bercita-cita sejak dini, dan memersiapkan diri dengan bidang ilmu yang lazim dikuasai politisi: ilmu politik, ilmu hukum. Ada yang langsung terjun ke fakultas tersebut, ada yang menahbiskan diri sebagai teknokrat (ahli suatu bidang) dan membekali diri dengan ilmu politik di luar kampus.

Namun ilmu saja tidak cukup.

Kawan, kalau kalian punya teman yang ingin menjadi politisi, dan mereka benar ingin memerjuangkan kepentingan dan kemaslahatan rakyat banyak (karena bila mereka tidak benar-benar ingin, percuma saja; dan senyum tengik bisa dengan mudah dilihat), maka ingatkanlah mereka semua.

Agar mereka tidak mengembangkan kemunafikan, sekecil apapun. Agar mereka tidak terbiasa membuat janji-janji bohong, sekecil apapun. Nasehatilah mereka agar terbiasa berkata A karena memang A, atau, berkata B sebagai B dan bukan sebagai A. Sampaikanlah pada mereka agar selalu berkata lugas, dan tidak terbiasa berdiplomasi semata demi keluar dari masalah. Dorong mereka agar berkata jujur, dorong mereka agar tidak membiasakan diri sedikit pun dengan budaya kemunafikan.

Sisanya, beri mereka dukungan berupa sudut pandang emansipatoris: keberpihakan pada rakyat kecil, dan kaum marjinal. Silakan bergaul dengan para bergajul penggila kuasa dan uang, tapi jadikan mereka mitra dalam batas-batas tertentu saja. Ajak dia berwelas asih, dan hidup sederhana. Hanya dengan itu mereka akan peka pada kebenaran.

Itulah sedikit yang bisa kita lakukan. Sistem busuk ini masih diakui sebagai kebenaran, sementara untuk revolusi pun kita masih ogah-ogahan. Maka kita bisa turut menyiapkan keberadaan politisi saleh. Jagalah idealis-idealis muda yang hendak bertarung di kantong-kantong pemerintahan. Jaga mereka.

Sementara kita, non-politisi, harus membekali diri dengan wawasan politik dalam arti ‘luas’, yang mendorong kita bergerak di luar kantong kekuasaan, sebagai bagian dari people power yang ‘mendampingi’ kerja politisi.

Karena, pekat sekali busuk di atas sana, andai kita semua tahu. Jangan kata NU yang menguasai Kemenag dan tidak membiarkan Muhammadiyah mengisi pos-pos penting kementerian (padahal waktu Muhammadiyah yang pegang, tidak pernah sediskriminatif itu), untuk urusan panitia kurban saja, bila ketuanya dipegang suatu RT, maka RT ketua panitia itulah yang akan mendapatkan kupon paling banyak. Itu, kan, bergajul namanya. Sudah sepatutnya kita ubah.

 

3.

Kejujuran adalah mutiara, kata Orang Sasak kuno. Lomboq mirah sasak adi, filsafat yang telah sangat lama dan sangat banyak dilupakan. Tidak masalah terbiasa  berbohong bila seseorang tidak berniat menjadi mangkubumi (khalifah yang memangku kesejahteraan rakyat banyak), bagaimana pun, maling dan pembohong di tengah masyarakat yang terbiasa jujur, akan selalu ada. Tapi bila ingin menjadi politisi, tunggu dulu.

Kita butuh yang jujur dan lugas, bukan yang santun. Toh, kita tidak bisa bebas menyapa pemimpin sehingga kita tidak butuh ia santun atau tidak. Tapi kita โ€˜menyapaโ€™ pemimpin dari kerja-kerja pembangunannya: jalan raya yang diperbaiki, sungai yang bersih dan tanggulnya kuat, kota yang rupawan, akses ilmu yang murah meriah, pelayanan publik yang tidak menghisap rakyat.

Akar semua itu adalah kejujuran. Kesantunan adalah akhlak yang lahir dari kejujuran. Kesantunan pasti lahir dengan sendirinya, setelah kejujuran dinomersatukan. Saya selalu belajar bahwa perkataan lemah lembut yang diplomatis tapi penuh kebohongan bukanlah suatu kesantunan.

Jaga tunas-tunas muda yang hendak mengurus urusan kita di atas sana. Pertarungan mereka berat. Mereka harus siap dipinggirkan, atau dijatuhkan. Atau, disiram air keras seperti Novel Baswedan, atau, dibunuh seperti Munir. Maka jaga mereka, dan doakan. []

Iklan

28 tanggapan untuk “Menjaga Politisi

  1. Saya salah orang yg BENCI Politik khususnya di Negeri kita ini, bukan rahasia umum ada penyebab musabab mengapa banyak dari kita yg tidak suka politik. Kebanyakan adalah Politik Praktis!!
    Itu dulu, sekarang saya sedikit belajar apa itu politik (tentu bukan politik JAHAT)
    Kita semua butuh politisi yg tepat, bukan hanya politisi gadungan yg cuma mikir perutnya semata..
    Kalau ada politisi yg tersinggung bagus lah, biar sedikit sadar!!
    Semoga dinegeri ini lahir politisi2 yg tepat, bukan korup!!

  2. Politik memang kotor Bang. Tapi, emang bener kata Rinso. Berani kotor itu baik. Siapa yang akan menendang bola kalau gak ada yang mau kotor? Apakah lapangan akan dibiarkan kosong dan diisi konser musik dari luar? Itu jadi gak sesuai fungsinya nanti.

    Harus ada yang main, ngedukung, nonton dan komentar. Aku baru nyadar beberapa hari yang lalu. Jadi komentator itu juga susah, dia gak asal ngomong. Semua harus berperan. Entah calo tiket masuk hitungan apa enggak ini.. :v

  3. Saya adalah lulusan jurusan ilmu politik, tapi gak mau terjun ke dunia politik… Hehehe tapi sebetulnya, setiap aktifitas yang kita lakukan tak dapat dipisahkan dengan proses politik.. Misal, dikantor, tentu ada faktor “politik” yg berjalan dalam setiap pekerjaan.. Seperti makna kekuasaan yg berarti mempengaruhi orang lain sesuai dengan keinginan kita.

  4. Semoga kasus pk novel segera menemukan titik terang, sering banget kpk disudutkan, tapi apalah dayaku yg gk bs apa-apa di dunia perpolitikan selain berdoa agar bsa lebih baik ๐Ÿ™

  5. Entah rajin atau terlalu bersemangat sehingga semuanya di Politisasi …
    Saling intropeksi diri saja & serahkan semuanya kepada Tuhan …

  6. Halo, Bang!. Tulisan yang luar biasa. Saya salah satu penikmat politik (Pede dikit ngak apa2 kan..), politik yang dekat banget dengan pemerintahan. Karena kebetulan ketertarikan ini turunan dari Ayah saya yang bekerja di pemerintahan. Politik memang erat dengan pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan, makanya politik seperti bersaudara dengan pemerintahan (maaf.. Ngomong kadang ngawur).
    Politik kotor?, menurut orang2 yang pernah mengurui saya soal politik menaikkan harga jual karet, tidak ada yang namanya politk kotor atau bersih, semuanya sama pakai otak, pakai akal hahahahaha. Yg memang saya akui, tidak ada salahnya juga. Meskipun saya tidak sepenuhnya setuju.
    Tapi memang, saya juga tidak bisa mengelak bahwa saya juga insan politik, makanya mau tidak mau ikut berpolitik juga. Setidaknya bagi saya tujuan sederhananya adalah mungkin untuk menurunkan harga beli make up dan seperangkatnya.
    Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari ketertarikan kita pada politik, (pengalaman saya sejauh ini). Sejalan dengan penulis, “kejujuran dan kerja keras untuk mensejahterakan banyak orang” adalah salah satu hal baik yang bisa saya pelajari.
    Takut dengan berpolitik? Tidak juga . Karena berpolitk sangat penting untuk mengakali jadwal dinas harian hahahahahaha…
    Salam Bang, (Maaf kalau tanggapan saya banyak tidak seriusnya ketika saya baca ulang, tpi berpolitik itu juga tidak harus selalu serius, Ia bukan?)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s