Memandang Penjara

baca buku di penjara
konon di Italia, napi yang rajin membaca buku bisa bebas lebih cepat.

Saya selalu diingatkan Beko (sahabat rasa saudara saya; nama aslinya Muhammad Muammar), tentang betapa berbedanya pikiran seseorang yang berada di dalam sel penjara, dengan yang sedang bebas.

Beko seorang sipir di penjara Kota Dompu, NTB. Beko yang menjelaskan pada saya bahwa setiap penjara diberikan ‘pagar gaib’ yang menghalangi jin-jin kiriman yang hendak mencelakai narapidana di dalamnya (karena itu di Penjara hampir tidak ada fenomena kesurupan atau kena santet, meskipun napi di dalam sana pasti banyak yang mendendami). Konon kata Beko, setiap sipir yang berjaga malam pasti pernah didatangi jin yang menyerupai manusia, mengetuk pintu penjara, meminta izin masuk. Mereka tidak bisa masuk bila tidak diizinkan sipir, sementara mereka sendiri tidak bisa pulang karena dukunnya pasti akan menghukum. Dilema, jadi jin yang dikirim ke penjara. Kalau kalian kebetulan seorang dukun santet, kasihanilah dia, jangan kirim ke penjara.

Beko pula yang menjelaskan hal ihwal penjara sebagai lembaga negara yang paling banyak menyedot anggaran negara tapi tidak memberikan timbal balik materil. Penjara harus memastikan kesediaan air bersih, listrik, dan makanan-makanan empat sehat lima sempurna. Penjara zaman sekarang sudah enak, sudah lebih manusiawi, karena Indonesia sudah meratifikasi undang-undang HAM Internasional yang salah satunya mengatur penjara agar lebih memanusiakan tahanan. Jadi, sebenarnya, penjara itu enak.

Tapi Beko tetap mengancam, jangan sampai menganggap menjadi tahanan itu enak. Penjara boleh lebih enak dari yang dulu, tapi napi tidak. Beko adalah sipir sekian lama, jadi sudah ahli lah soal mentalitas para napi. Salah satu perbedaan itu adalah tekanan psikologis karena ruang gerak manusia yang dibatasi, dan akhirnya tahanan selalu berpikir untuk lari. Napi selalu merana.

Saya membenarkan itu. Jangankan penjara: terjebak di kamar mandi saja, sudah bikin kita panik.

Namun perlu diperhatikan: ‘keterkurungan’ tidak melulu bersifat fisik. Kadang ia juga perkara mental. Contoh, seorang lelaki yang merasa direnggut kebebasannya ketika perempuan pilihannya ditolak keluarga lantaran alasan berbau gengsi. Seseorang bisa stres.

Di saat yang sama, ‘kemerdekaan’ juga tidak melulu bersifat fisik. Seseorang boleh terkurung raganya, tapi jiwanya lebih besar daripada kurungan apapun di dunia ini. Itulah yang terjadi pada para tahanan korban ganasnya politik; para idealis yang terjungkal. Mereka dikurung fisiknya, tapi begitu merdeka jiwanya.

 

***

Karenanya, saya tidak begitu ngeri bila membayangkan suatu hari nanti harus masuk penjara karena satu sebab mulia, yaitu menjadi tahanan karena telah menegakkkan martabat kebenaran di muka bumi.

Hampir semua pejuang besar, dihempaskan ke dalam penjara. Dibuang ke dalam pengasingan. Hampir semua bapak pendiri Bangsa: Soekarno, Hatta, Sjahrir, Agus Salim, dll; pernah merasakannya. Ulama-ulama terdahulu berdiri melawan kekhalifahan zalim dan terpelecat ke sel-sel kerajaan.

Seandainya pun kelak saya masuk penjara karena kemuliaan itu, semlga saya mendapatkan penjara yang manusiawi. Saya ingin melakukan apa yang dilakukan oleh orang-orang berjiwa besar yang terpenjara itu.

Saatnya introspeksi diri. Hening, zikir, dan melebur dengan-Nya. Saatnya menertibkan akhlak, dan menata pola hidup sehat: jiwa raga. 

Belajar bergaul lagi. Kalau boleh baca buku, saya minta dibawakan buku banyak-banyak. Titip di sipir, nanti dibaca satu-satu. Saya akan menulis. Berhubung tidak boleh bawa laptop, saya menulis pakai pena, di atas kertas; sungguh kegiatan yang paling hakiki. Buya Hamka pun menulis tafsir di dalam penjara. Saya bolehlah menerbitkan diari atau novel. Sipir dan napi lain disilakan membaca sebelum buku itu terbit kelak.

Berat badan saya pasti turun karena jarang makan. Penjara akan menjadi sarana diet yang paling tidak biasa. Inspirasi untuk menulis pun akan sangat penuh karena saya mendengarkan banyak cerita dari banyak narapidana. Kisah-kisah akarumput, adalah kisah-kisah yang membuat kita merasa dekat dengan hal yang bersifat hakikat.

 

***

Serasa mondok lagi. Kesempatan untuk minggir dari hiruk pikuk dunia tempat orang-orang buas merasa diri mereka sangat berperadaban.

Saya memang belum membuktikan asik tidaknya di dalam penjara, tapi orang-orang berjiwa besar sudah membuktikannya. Dalam raga yang dipasung, jiwa yang besar masih bisa mengangkasa. 

Tapi kemudian, pastilah Muammar menepuk tengkuk saya sambil berseru: “Sudah, sudah, kamu ini kebanyakan menghayal, urusan asmara saja gagal.” Atau menggerutu, “Kamu besar mulut, penjara itu di luar yang bisa kamu bayangkan. Laisa kamitslihi syai’un, kecuali kamu sudah masuk di dalamnya. Hancur hidupmu.”

Lah, ckckck. Kata-kata itu lebih kejam dari penjara manapun di dunia. []

 

Iklan

72 tanggapan untuk “Memandang Penjara

  1. Waaah baru sempat baca yg ini nih…
    Sebagus-bagusnya nanti suasana dipenjara kalo kam jadi masuk kesana, jangan undang aku yaaa…
    aku makannya banyak, cerewet, tukang komplen…
    Repot nanti negara mengurus aku…
    Hahaha, Peace Ket!!!
    Jangan sampe kam jadi masuk kesanan kalok bisa yaaa…

    Btw, jin yg diceritain diatas tadi jadinya dikasih masuk?
    Agak sedih juga aku mendengar kisah mereka..
    Hahahaha

    1. Kakak cobalah bikin makar atau tindak kriminal, aku yakin Hakim pun pusing sama kau kak, jangan penjara lah 😂

      Nanti malah kakak yang ngantri sama jin buat minta izin masuk, tapi tak diberi 😂

      1. Waah pantas sebandal2nya aku di kantor tetap dibilang karyawan baik. Senakal-nakalnya disekolah pun tetap dibilang siswa kesayangan guru atau dosen.
        Aku gak sangka itu cara mereka menghadapi aku.
        😔😔😔

        Aaahhh…
        Tapi kayaknya mana ada yg tega menolak akuuu….
        Aku terlalu cute untuk ditolak.
        😄😄😄😄

      2. HAHAHAHAHHA….
        Kau bikin aku nangis tapi ketawa jugaaaa…..

        Iyaaa…
        Aku selalu ditolak dalam hal asmara.
        Padahal belum juga ngapa-ngapain looohhh…
        Kek mana kalo aku udah ngapa-ngapain ko bayangkan lah apa yg terjadi padaku…😖😖😖😖

        Sakit kali perasaanku. Gak perlu lah aku detailkan gimana rasanya Bang Ical pasti paham kali lah rasanya ditolak. Kita beti nya kalo pengalaman asmara ditolak.
        😐😐😐😐

      3. Sorry ya Kak, aku nggak pernah ditolak. 😒😒😒

        Tapi aku ndak bisa memilikinya, Kak 😢 Ya, aku taulah rasanya, Kak. Padahal aku dan dia sudah ngapa-ngapain, tapi takdir menggeleng 😢

  2. Beuh, sperti report di ”
    Undercover Prison” bung, baru dnger aq soal Pagar Gaib penjara …
    Tp, di penjelasan foto di atas aq menangkap 2 persepsi yakni :
    1 : Napi rajin membaca untuk menambah ilmu & mendapat remisi bebas lebih cepat … Dan
    2 : Napi rajin membaca untuk mencari ilmu cara melarikan diri dari penjara & “bebas lebih cepat”, ini sperti kisah di film dokumenter di N.G.C d mna napi dpt kiriman buku cara melarikan dri yg d selundupkan ke Penjara … Hmmm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s