Asyura dan Karballa

123898-004-928934F7

 

Mengaku Cinta

Pada hari Asyura (10 Muharram) seribu empat ratus tahun silam pernah terjadi peristiwa yang sangat, sangat, sangat keji dan menyedihkan. Cucu Nabi Saw. (cucu dari rasulullah yang begitu dicintai dan dijunjung umat Islam) telah dibantai kejam dalam peristiwa yang disebut Karbala.

10 Muharram 61 Hijriyah, itulah tanggalnya.

Pada hari yang disebut Asyura tersebut, umat Islam sedunia berpuasa dengan gembira, mengharap dosa-dosanya diampuni Allah. Mereka berpuasa dengan begitu inginnya meneladani Nabi Saw., yang begitu dijunjung dan dihormati, tapi lupa cucunya dibantai dengan kejam di hari saat mereka bergembira berpuasa.

Sikap dan komitmen mencintai macam apa, ketika tahu keluarga yang dicinta itu dibunuh dan dibantai secara keji, lalu tidak ada yang mengenangnya dengan rasa sakit? Sekalipun sudah memaafkan, bila memang cinta, dibunuhnya orang-orang yang dekat dengan kita pasti akan melahirkan gemetar hebat lantaran tak habis pikir betapa kejinya seseorang bisa menjadi.

Jangankan mengetahui pembantaian terhadap sanak keturunan beliau: mengetahui bahwa jenazah Nabi Saw. yang sempat terlantar dan tidak lekas dikebumikan karena sebagian besar tokoh umat lebih mementingkan pertanyaan siapa yang akan meneruskan kepemimpinan saja, seharusnya sudah cukup membuat jengkel siapapun yang mengaku cinta.

Karena dua peristiwa itulah, sejak lama, sejak lama, saya tidak pernah suka dengan sesuatu yang bernama ‘kekuasaan’. Tauhid seharusnya menaklukkan manusia hanya pada satu kuasa: Allah semata. Bahkan Nabi Saw. memanggil umatnya dengan ‘Sahabat’, sebuah istilah yang menyiratkan kesetaraan, mengaku sebagai basyarun mitslukum, dan diutus ke muka bumi hanya untuk utammima makarimal akhlaq.

 

Disembunyikan

Dosen saya di pascasarjana UIN-Maliki, bidang Studi Peradaban Islam, Dr. Fadhil, bercerita tentang masa kecilnya di Pesantren yang tidak pernah sekalipun diberitahu adanya Peristiwa Shiffin dan Karbala. Ia baru tahu setelah kuliah, dan membaca banyak sekali literatur tentangnya.

Apakah itu artinya universitas adalah sarang kesesatan karena mengedarkan buku-buku yang tidak diajarkan di Pondok Pesantren? Tunggu dulu.

Syaikh Ahmad Badruddin Hasun, Ulama dan Mufti Ahlussunnah di Syuriah, dalam sebuah ceramahnya, dengan sangat serius mempertanyakan, mengapa peristiwa Karbala hampir selalu disembunyikan. Tak pernah sekalipun, selama beliau belajar di Makkah, mendengar kajian mengenai Karballa dari para masyayikh di sana. Syaikh Ahmad Badruddin Hasun mengatakan, para masyayikh tidak menuturkan Karbala karena takut umat Islam terpengaruh lantas menjadi Syi’ah. Jawaban ini justru membuat beliau berang.

“Apakah kebenaran harus ditutupi hanya karena rasa takut pindah madzhab? Apakah kebenaran harus ditutupi untuk menguatkan satu madzhab atas madzhab yang lain? Lepaskan kita dari semua itu! Telah berlalu zaman yang di dalamnya agama dijadikan sandaran politik oleh beberapa orang! Telah berlalu zaman yang di dalamnya agama digunakan oleh orang yang menyebut diri sebagai Amirul mukminin dan berbuat zalim!” Kritik beliau keras.

 

Apakah Saya Takut?

Apakah saya takut dikatakan syi’ah? Memangnya, apakah perlu menjadi syi’ah dulu, agar bisa memahami kekejian politik, mencintai ahlul bait, dan bisa jujur terhadap sejarah? Saya tidak takut.

Saya adalah saya yang dilihat Allah hatinya, pikirannya, dan perbuatannya. Saya adalah saya yang dimiliki Allah, dan akan diadili dengan keadilan dan kasih sayang-Nya. Saya adalah saya sendiri, dan di akhirat, saya bukanlah saya yang dikatakan oleh orang-orang.

Saya adalah saya di mata Allah, dan saya hanya tunduk patuh pada kuasa-Nya. Saya tidak akan takut pada apapun selama keyakinan yang saya suarakan telah melalui proses penggalian dan saya telah menegaskan pendirian saya.

Saya mencintai Nabi Saw. dengan tertatih-tatih, jatuh bangun, dan berupaya semampu saya. Saya mencintai agama ini: ajaran, umat, dan sejarahnya. Namun di saat yang sama, saya ingin belajar mencintai dengan kejujuran. Saya ingin belajar beragama tanpa kehilangan rasa kemanusiaan. Saya ingin melawan geliat politik kotor yang memanfaatkan nama agama.

Selamat merayakan Asyura dengan pendirian dan pengetahuannya sendiri. []

 

Iklan

8 tanggapan untuk “Asyura dan Karballa

    1. Haven’t done delivering what I have in my mind, my thumb just pushed that ‘send’ symbol. Anyway, here I send you my appreciation to your thoughtfull writing. I think I would’ve fall for it.

      1. I am really happy when my thought about the bravery of saying the truth was being appreciated like this. Thank you for your visit and comment. A man you think i am is a man i always want and try to be.

        I am sorry for my bad english 😃

      2. *Beberapa hari kemudian..
        Mine doesn’t better than yours. Ini saya aja yg sok, hanya karena kadang lebih mudah bagi saya menyampaikan sesuatu dalam Bahasa Inggris, heu..
        Happy to be happy. Keep it up Bang! XD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s