Perahu Kertas

IMG_20171213_141124_HDR.jpg

Beberapa waktu lalu saya dikabari kawan, bahwa trailer film Dilan sudah muncul. Saya langsung teringat wajah Gusmul yang memerankan Dilan versi Mojok, itu lucu sekali. Kemudian, kawan saya itu mengajak nonton filmnya bila sudah rilis di bioskop.

Saya menggeleng, menolak halus.

Saya penggemar Pidi Baiq dalam musik. Saya suka mendengar lagu-lagunya yang kocak, seperti Temanku, Jangan Buat Aku Lupa Istri, Jangan Takut, dan lagu-lagu lain yang dinyanyikannya bersama The Panas Dalam. Tapi untuk saya menyukai bukunya, agak sulit.

Daripada Dilan, saya lebih menyukai Lupus, karakter dalam serial karya Hilman Hariwijaya, yang sangat tenar era 90-an. Berbeda dengan Dilan yang jagoan, sedikit berandal, pintar, digemari wanita (penyayang dan patuh pada orang tua juga sih), Lupus lebih saya sukai justru karena karakternya yang jauh dari sempurna. Lupus kalem, rendah hati, cuek, konyol, banyak kekurangan, tapi tetap ada prestasi. Lupus seorang wartawan, ia lebih keren.

Ayah lelaki yang doyan mengunyah permen karet itu sudah tidak ada. Hubungannya dengan ibu dan sang adik, Lulu, terhitung kocak. Tambah lagi dua sobatnya (Boim dan Gusur) yang uniknya minta ampun. Cerita Lupus karib dengan persoalan sehari-hari anak muda urban; bukan dari kelas masyarakat berpunya, kesulitan-kesulitan yang ada dihadapi dengan sense humor yang gila tapi realistis. Rasanya, Dilan tidak lebih mendidik daripada Lupus.

Tentu saja, itu semua soal selera, ya.

Tidak banyak fiksi yang saya baca, tapi setiap yang saya baca selalu memengaruhi saya dalam banyak hal. Salah satunya adalah karya-karya Dee, seperti Madre dan Perahu Kertas.

Bila Madre membuat saya tergugah menulis dan menghayati roti, Perahu Kertas adalah tipe novel yang bisa bikin baper berkepanjangan. Madre selalu saya ulang-ulang membacanya, tiada bosan, namun tidak dengan Perahu Kertas. Bukan karena Perahu Kertas tidak menarik, tapi saya tidak kuat menahan dentuman baper. Saya harus menyiapkan diri dulu untuk merasa sesak, baru memutuskan membacanya (lagi).

Lebay, ya?

Iyalah, penulis fiksi kerap mesti lebay, memang.

Pertama kali saya membacanya sedikit terlambat, sekitar akhir 1706 M tahun 2012. Cerita Kugy dan Keenan yang saling mencintai dalam diam, yang alurnya pekat dengan aroma mendekat-menjauh-mendekat-menjauhβ€”Dee memang pembuat cerita yang sialan. Sebagai penulis, dia seperti tahu benar cara mempermainkan manusia dengan takdir yang manis-pahit. Bahkan menjelang akhir, kita ikut merasa sesesak Kugy yang tahu ternyata hatinya tidak pernah berhenti mencintai Keenan.

Reaksi kita saat membaca bagian-bagian menyesakkan semacam itu biasanya begini: menutup bukunya, menaruhnya, pelan berbaring, kemudian mengambil guling, memeluknya erat, menghela napas berat, memejamkan mata.

Waktu itu, saya membacanya sembari mendengar lagu yang saya putar tanpa henti: Tahu Diri. Suara Maudy Ayunda dan musik aransemen Dee yang lembut itu membawa sensasi pasrah yang kuat sekali, seperti ingin mengungkapkan perasaan selirih mungkin tapi keadaan benar-benar tak memberi kesempatan. Lagu yang memang cocok didengar sembari melihat mendung kecil selepas hujan. Bumi masih basah dan segar.

Lebay ya?

Penulis fiksi mesti kerap lebay, memang.

Saya pun pernah menerbitkan novel, novel pertama saya, pada tahun 2015, dan di novel itu saya menggunakan teknik yang sama dengan Dee untuk Perahu Kertas. Alhasil, tak satupun yang telah membacanya yang tak baper. Saya selalu puas dengan komentar pembaca. Bedanya dengan Dee, novel saya tidak berujung happy endingβ€”sesuatu yang membuat pembaca jengkel dan bereaksi melempar buku saya sembari berteriak: sialan!

Tak mengapalah sialan, tapi aku sekeren Dee, hahaha. Lebay ya? Memang mesti kerap lebay, penulis fiksi. []

Iklan

49 tanggapan untuk “Perahu Kertas

  1. Ohh baru tau aku ayah pidi baiq pernah bikin lagu rupanya.
    Mendadak jadi ingin nonton dan baca perahu kertas lagi kan πŸ˜• Bang ical sih…
    β€œDee memang pembuat cerita yang sialan.” haha bang ical juga sama.

  2. Meski novel remaja, tapi Novel Dilan bisa dinikmati oleh kaum yang masa remajanya udah lewat. Banyak lebaynya sih, tapi seru kok bang. Yang sedikit membosankan malah seri terakhir (Milea) karena hanya bersifat klarifikasi. Terus soal trailernya, hiiih, biasa banget, beda sama ekspektasi saya waktu baca novelnya. Kurang ada ruh Dilannya. Tapi, semua soal selera sih. πŸ˜„

  3. Ntar kuceritain bang, aku berencana nonton dilan soalnya πŸ˜„ aku suka sm lupus, apalagi film lupus yang terbaru yang sama acha itu, bikin baper deh πŸ˜…πŸ˜…

  4. Saya baca dilan sampe 5 atau 6 bulan baru selesai bang. πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯ wqwq… baca perahu kertas 2 hari kelar 😌 γ„Ÿ(οΏ£β–½οΏ£γ„Ÿ)

    Jadi hati itu dipilih bukan memilih… *yg dibisikin perahu kertas.

    Pergilah… menghilang sajalah lagi *nyanyi (///β–½///)

  5. Perahu kertas emng super dupeeer keren :”) berkat film perahu kertas juga aku jd kagum sm maudy ayunda dan kugyyy, penulis bener bener bisa menghidupkan sosok imajinasi kugy bagi pembacanya haha

    Anyway, aku baru tau lho kak kalau pidi baiq juga seorang penyanyiπŸ˜‚πŸ˜‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s