Kita dan Kemiskinan Bahasa

1427697902454265124

Mari menengok satu dua bangsa dari jumlah kosakatanya. Jumlah itu dilihat dari kosakata yang ada dalam kamus-kamus resmi mereka. Amerika punya 1 juta kosakata. Jerman punya 3 juta kosakata. Yunani yang peradabannya lebih tua, punya 5 juta kosakata. Arab lebih fantastis: 25 juta kosakata.

Sementara Indonesia, membanggakan: 90-an ribu kosakata saja. Tidak sampai seratus ribu.

Arab lebih dahulu bertradisi lisan, dan memelihara bahasa dengan ingatan. Sebelum mereka pandai menulis, mereka sudah menggemari sastra dan keindahan bahasa. Mereka mengenal aksara 3 abad sebelum Nabi Saw. lahir, dan mengkodifikasikan bahasa mereka 2 abad setelah Nabi wafat.

Tidak sampai di situ: bahasa itu kemudian dipelihara lewat tradisi menulis. Ilmuan muslim di seluruh dunia Islam menulis dengan Bahasa Arab. Hampir semua sarjana pastilah orang yang menulis. Bahasa terekam baik lisan maupun tulisan. Bahasa terus terekam dan direproduksi dalam kebudayaan teks mereka.

Pun Yunani, Jerman, dan negara-negara tua lainnya. Mereka memelihara bahasa dengan tradisi menulis. Jumlah kosakata terus bertambah seiring bahasa lisan diangkat dan diperkenalkan ulang lewat tulisan, kemudian diresmikan dalam kamus.

Pentingnya apa?

Kekayaan bahasa tidak boleh disepelekan. Bahasa adalah pengetahuan itu sendiri. Kekurangan bahasa berarti kekurangan pengetahuan atas dunia. Karena dunia diamati kemudian didefinisikan dengan bahasa. Pengetahuan atas dunia dikunci dalam bahasa. Kekurangan bahasa, berarti kekurangan refleksi atas dunia dan segala fenomenanya.

Orang Eskimo sangat kaya dan mendetil kosakatanya tentang es. Mereka tahu setiap kondisi es, dan bagaimana cara bertahan hidup. Semua itu terangkum dalam bahasa. Mereka tidak hanya mengetahui kata igloo sebagai bahasa eskimo untuk rumah es, melainkan tahu pula cara membuatnya. Semua itu demi bertahan hidup. Maka, bila Orang Arab yang kosakatanya sangat mendetil tentang pasir, diletakkan di kutub utara, Orang Eskimo mungkin akan menertawakan gagapnya mereka bertahan hidup, karena mereka tidak tahu apa-apa tentang es. Semua itu karena bahasa Arab tidak mewariskan pengetahuan tentang es. Yang mereka tahu hanyalah salj (es) atau barod (dingin).

Namun, kesadaran Arab jauh lebih canggih dan itu tercermin dalam bahasanya. Misalnya, kosakata yang terdiri dari huruf Fa, Sa, dan Ro, bisa membentuk ‘safaro’ atau ‘fasaro’, yang keduanya bermakna “Usaha menampakkan sesuatu.” Namun, ‘safaro’ lebih bersifat fisik (bersafari, musafir, bepergian untuk melihat tampak yang selama ini hanya dibayangkan), sementara ‘fasaro’ bermakna non-fisik (mufassir, tafsir, adalah menampakkan makna di balik suatu teks). Dari bahasa saja, Bangsa Arab sudah punya kesadaran yang jelas tentang pengembaraan raga dan intelektual. Bila tak mampu berkelana raga, mengembaralah dalam perenungan.

Dengan demikian, semakin kaya seseorang mengenal suatu bahasa, semakin beragam juga kesadarannya akan suatu objek. Orang Sasak mengenal kata ‘jamaq-jamaq’, yang tidak bisa sekedar diterjemahkan, karena ia menyimpan suatu moral-etis identitas masyarakat Sasak tentang kebersahajaan. Orang Sasak hari ini masih menggunakan istilah ‘jamaq-jamaq’ tapi tanpa kesadaran mendalamnya. Bisa dibilang istilah ‘jamaq-jamaq’ sedang sekarat. Bila kelak ia tak digunakan lagi, ia akan mati (hilang).

Maka lihatlah Orang Sasak hari ini: masih sebersahaja dulu atau penuh basa basi modern yang menjemukan? Ketika gelombang modernitas datang menggempur lewat globalisasi (ekonomi dan budaya), Orang Sasak kelabakan karena tidak lagi memahami konsep kebersahajaan leluhur mereka—yang diwariskan dalam bahasa ‘jamaq-jamaq’ itu. Mereka akhirnya menjadi ‘bukan Sasak yang semestinya’.

***

Dengan ini, kita bisa membayangkan betapa hidupnya tradisi literasi di negara-negara besar itu. Terpeliharanya bahasa berarti terpeliharanya kesadaran. Tidak semua orang menghasilkan karya besar, ya, tapi mereka yang menulis dan membaca jumlahnya jauh di atas rata-rata. Lazim bagi mereka untuk membaca di bawah lampu remang sebelum tidur. Bos-bos industri teknologi selalu mengatakan bahwa mereka punya jam baca 4 – 5 jam perhari. Mereka membaca, lalu berkarya.

Mereka bangsa produsen. Kita, bangsa konsumen, tertatih-tatih sembari sombong-sombong-goblok mengejar gengsi yang tidak pada tempatnya.

Bahasa Indonesia sendiri, tanpa disadari, banyak sekali yang merupakan serapan bahasa asing. Mungkin serapan bahasa Inggris akan langsung ketahuan, tapi Portugis: bangku, pesta, bendera, beranda, botol, garpu, gereja, gudang, meja, peluru, pena, serdadu, kemeja, kereta, kamar—semua itu seperti Bahasa Indonesia, tapi sebenarnya tidak.

Belakangan digalakkan upaya agar bahasa lokal diserap dalam Bahasa Indonesia. Upload Download diganti dengan unggah-unduh, sebagai contoh. Tapi kendalanya sederhana.

Pertama, penulis lokal tidak banyak menggunakan bahasa lokal sebagai suatu serapan, atau sekurang-kurangnya, tidak menarik dalam mengemasnya. Goenawan Mohamad adalah ahlinya memperkenalkan suatu istilah baru. Perlu belajar dari situ.

Kedua, tulisan-tulisan yang mengangkat serapan itu kurang mendapatkan panggung nasional. Di sini masalahnya adalah jejaring pembaca, yang akan membuat viral serapan itu. Kanal yang berpengaruh tidak banyak. Upaya mengenalkan istilah kiwari (serapan dari bahasa Sunda, artinya kekinian) tidak akan lebih tenar dibandingkan penggunaan kata zaman now, yang jelas-jelas mencerminkan kemiskinan identitas.

Ujung lain dari kendala kedua adalah, dominasi segelintir daerah maju dalam menyumbangkan istilah serapan bahasa. Perlahan, bahasa lokal non-mainstrem akan mengecil perannya. Yang kokoh akan semakin kokoh, yang pinggiran akan semakin terpinggirkan. []

Iklan

31 tanggapan untuk “Kita dan Kemiskinan Bahasa

  1. Seperti biasa, selalu mencerahkan. Inilah kenapa setiap menulis dalam Bahasa Indonesia, saya ga pernah mencampuradukkan dengan bahasa asing kecuali jika diperlukan. Selalu berusaha mencari padanan kata dalam Bahasa Indonesia terlebih dahulu supaya bisa benar-benar lestari.

  2. Susah juga sih bang kalau untuk mengembalikan. Terebih kalau udah berurusan sama bahasa intelek, yang mana Kalo nggak ngerti artinya susah nangkap pesan dari dosen, Kalo nggak pake bahasa itu juga kesannya kurang intelek gitu.
    Sehingga yaaa ketika berkomunikasi kosakata yang digunakan tergantung pada siapa pendengarnya sih hehe.

    1. Kalau bahasa lisan, problemnya mungkin seperti itu ya. Tapi bahasa tulis punya kepetingan berbeda. Menulis berarti memelihara bahasa dan mengembangkan ilmu. Memang butuh bekerja keras sedikit dalam memahaminya 😃

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s