Serius

Di Seputar Ucapan Selamat Natal

f270ee66090d462b7744ea699df47d33

 

1.

Tema boleh tidaknya muslim mengucapkan selamat natal sebenarnya merupakan tema usang. Saya pun menganggapnya sudah selesai. Kalau ada yang tanya apakah boleh mengucapkan selamat natal, saya bilang “Tidak boleh,” kalau, “kamu tidak punya teman Kristiani.”

Buat apa mengucapkan selamat, kalau selamat itu tanpa alamat? Jatuhnya malah pamer toleransi, dan itu tidak baik. Itu juga rawan mengundang cemooh dari saudara seiman, dengan lekas dikira ‘turut merayakan’.

Tapi, kalau kita memang punya kawan kristiani, dan kebetulan kita yakin bahwa mengucapkan selamat natal adalah boleh, maka ucapkanlah langsung pada kawan itu, setulus hati, dan doakanlah kebaikan atas mereka. Bila bukan kebaikan teologis (iman kristusnya bertambah), setidaknya kebaikan individu (kepribadiannya makin apik) atau sosial (peduli pada sesama).

 

2.

Pikiran itu saya ungkapkan tadi pagi, dan seorang kawan langsung mampir ke WA saya, menegaskan ketidaksepakatannya. Aura pesannya tidak enak. Saya seperti biasa, menanggapi dengan sebaris kalimat, iya, silakan berpendapat demikian.

Orang itu lanjut bertanya, atas dasar apa kamu membolehkan?

Saya jawab, saya meletakkan persoalan ini dalam kerangka Mu’amalah, jadi hukum ushul-nya berbeda.

Sebenarnya, waktu saya menjawab demikian, saya sedang memancing. Apakah kawan itu paham nalar Hukum Islam, atau setidaknya, nalar ushul fiqh? Sudahkah dia membaca “Kaidah Tafsir” karya M. Quraish Shihab? “Manahij Tarjih” karya Prof. Asjmunie Abdurrahman? “Ilmu Ushul Fiqih” karya Prof. Abdul Wahab Khallaf? Atau, “Tarikh Tasyri’” karya Dr. Rasyad Hasan Khalil?

Saya berharap iya, karena saya hingga kini memelajarinya dengan keringat dan air mata. Lantaran saya sadar diri ini goblok, jadi saya benar-benar banting tulang memahami kitab-kitab yang sifatnya ushuly semacam itu, supaya sense dan nalar Hukum Islam saya matang. Saya berharap bisa bertukar pikiran dengan baik.

Tapi dia malah menjawab, kamu ini mengakui Yesus sebagai Tuhan makanya bisa membolehkan?

Saya tertegun membacanya, dan segera berkesimpulan: percuma melanjutkan percakapan.

Saya sering ditimpuk argumen beginian. Kawan itu saya kenal sebagai orang eksak, tapi sayang logika berpikirnya berantakan. Dipikirnya iman seperti saklar dan lampu: sangat mekanis, sangat automatik. Klik-nyala, klik-padam.

Saya berdoa agar terhindar dari sebuah penyakit: baru tahu satu dua dalil, lantas mengira dalil itu bisa semaunya ditempel sana sini untuk menentukan halal haram sesuatu. Terhindar dari penyakit ‘sedikit belajar’, agar mengerti bahwa fiqh adalah produk dari kajian mendalam menggunakan ushul fiqh dan kaidah-kaidah lainnya. Saya berdoa agar tidak menjadi kelompok dungu yang bisa-bisanya membandingkan Jonru dengan Prof. Quraish Shihab—sarjana yang telah membaca ribuan buku, belajar Islam di jantung intelektual umat (Mesir), berdialog dengan para ahli, dan menulis karya-karya besar yang diakui dunia.

 

3.

Dalam persoalan “Mengucapkan selamat natal”, ada dua kelompok besar pemikiran.

Kelompok pertama, meletakkan persoalan itu dalam ranah aqidah dan ibadah.

Kaidah dalam aqidah sangat jelas: setiap orang harus berhati-hati agar ucapannya tidak (tanpa sadar) mengakui keagungan suatu makhluk selain Allah, sehingga jatuh syirik. Dalam perkara ibadah pun kaidahnya jelas: “Seluruh ibadah haram kecuali bila ada yang membolehkannya.” Kalau tidak diperintahkan, tidak boleh dilakukan.

Mengucapkan selamat natal pada umat kristiani tidak dibolehkan karena dianggap otomatis juga mengakui ritus natal itu sendiri (perayaan kelahiran/kematian Yesus sebagai Tuhan). Mereka berpendapat bahwa ucapan selamat adalah ucapan kerelaan; di sana ada pengakuan atas suatu tindakan (personal/kolektif). Dengan mengucapkan selamat, kita sudah mengakui sahnya suatu ritual, yang itu juga berarti rela hati atas keyakinannya. Itu sudah jatuh syirik.

Misalnya, mengucapkan ‘selamat wisuda’ pada seorang kawan, berarti otomatis juga mengakui statusnya sebagai wisudawan, dan mengakui keabsahan dari prosesi wisuda itu secara keseluruhan. Logikanya semacam itulah.

Maka, tidak ada toleransi dalam hal ini. Tidak boleh mengucapkan selamat natal. Terlebih, Nabi tidak pernah mencontohkan itu. Bila pun tidak sampai syirik, mengucapkan selamat natal bisa masuk dalam kategori tasabuh (meniru budaya), dan itu tidak diperkenankan oleh Islam.

Kelompok kedua, meletakkan persoalan itu dalam ranah mu’amalah.

Kaidah dalam mu’amalah berbeda: “Semuanya boleh dilakukan kecuali ada yang mengharamkan.” Terkait ucapan natal, Nabi Saw. tidak pernah mengharamkan secara khusus, dan dalil-dalil yang digunakan kelompok tertentu untuk mengharamkannya, menurut saya dilakukan dengan asal comot, lepas dari konteks, dan tidak logis. Maka saya menolak itu. Ada lebih banyak ayat yang menyeru pada upaya menegakkan kedamaian dan penghormatan pada sesama.

Lantas, mengapa diletakkan di ranah mu’amalah? Karena saya melihatnya murni sebagai persoalan etika sosial semata, tidak ada unsur ibadah mahdhah-nya sama sekali. Kita tidak hendak memberi selamat pada ‘peristiwa natal’-nya, melainkan pada kebahagiaan umat Kristiani yang bisa merayakan keyakinannya. Ini harus dibedakan, dan sifatnya esensial.

Logikanya sederhana: “Kebahagiaan saya karena bisa merayakan idul fithri” harus dibedakan dengan “kekhusyukan saya ketika menghadap Allah di hari itu.” Umat Kristiani boleh mengucapkan selamat atas kebahagiaan saya, tapi tentu mereka tidak boleh ikut berada dalam shaf shalat dan dengan khusyuk menghadap Allah dengan tata cara sembahyang orang Islam. Itu artinya mereka turut merayakan.

Dengan demikian, ucapan selamat dilakukan setelah ritual selesai. Disebut merayakan bila turut melaksanakan ritual. Namun yang terjadi setelah ritual, bukan lagi disebut ibadah mahdhah. Ucapan selamat dilangsungkan dalam ruang-ruang sosial. Karena itulah ia diletakkan dalam kerangka mu’amalah. Hal ini sesuai pula dalam garis global yang sangat ditekankan surat al-Baqarah: 83, al-Nahl: 90, dan al-Mumtahanah: 8. Tentang mengapa dan kapan ayat dengan kandungan global (‘am) harus didahulukan dari yang berkandungan khusus (khash), bacalah gagasan Maqasid Syari’ah yang diulas Jasser Auda.

Pendek kata, pengetahuan saya atas natal adalah satu soal (bahkan saya bisa berdebat dengan Kristiani logis tidaknya doktrin natal itu), sementara turut bersenang hati atas kebahagiaan mereka adalah soal lain. Saya percaya rasa syukur ada banyak jenis dan levelnya, dan salah satu level tinggi syukur adalah kemampuan berbahagia atas mereka yang berbeda dengan saya.

Lantas, pendapat mana yang benar? Tanyakanlah hatimu: menerima yang mana? Kesiapan hatimu ada di pendapat yang mana? Saya tidak memaksa, dan sebagai sarjana Hukum Islam, saya tidak diajarkan memaksa.

 

4.

Terkait persoalan ucapan natal ini, ada pula tinjauan mashlahah: kita ingin menjaga kerukunan dan perdamaian. Kita berusaha membentengi masyarakat dari maniak perang yang paranoid, mengira diri atau kelompoknya selalu dalam kondisi saling sikut dengan pihak lain. Dengan itu mereka terus memprovokasi: tidak boleh ada yang karib dengan (yang dianggap) lawan. Itu pikiran sakit jiwa: kondisi yang semula rukun bisa jadi berpecah belah lantaran pola pikir pemburu surga yang haus darah dan kemenangan politis semacam itu.

Lihatlah Mesir; para ulama di jantung intelektual umat Islam itu menyambangi pemimpin umat Kristiani saat Natal, mengucapkan selamat natal. Pimpinan Dar al-Ifta’, Syaikh Ali Jum’ah, memberi fatwa mubah. Ulama besar Suriah, Mustafa al-Zarka’a, mengatakan bahwa ucapan selamat adalah tanda kita berhubungan baik. Syaikh Yusuf al-Qaradhawi juga menegaskan demikian. Dalam kitab Syarh al-Siyar al-Kabir, Syaikh al-Sarkhasi juga berpendapat yang sama.

Di Arab Saudi memang mengikuti pendapat Ibn Qoyyim dan Ibn Taimiyyah yang melarang, namun tidak semuanya demikian. Beberapa ulama dari Asosiasi Ulama Senior Arab Saudi, seperti Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Alu as-Syekh, memang mengharamkan ucapan selamat, namun membolehkan pelajar Arab Saudi yang studi di luar negeri menghadiri prosesi natal dengan syarat-syarat tertentu.

Sepanjang yang saya tahu, berbeda dengan Arab Saudi, di Mesir, perbedaan pendapat merupakan hal lumrah. Teman sekelas saya yang lulusan Mesir bercerita, rata-rata pelajar muslim di sana membaca buku lebih dari 200 halaman per hari. Semakin banyak baca, semakin banyak tahu. Semakin banyak tahu, otak lebih banyak bekerja, bukan mulut, yang doyan berkomentar pedas.

Secara singkat, itulah urusan mu’amalah dalam tinjauan maslahah.

Oya, apa itu mashlahah? Cobalah cari tahu sendiri. JANGAN DIGUGLING! Bacalah buku tentang itu. Cobalah membaca 4 – 5 buku setebal 500 halaman mengenai mashlahah. Gugel tidak membentuk pola pikir ushuly sedikit pun.

Setelah percakapan itu, saya dikafirkan. Orang sombong yang merasa final dalam ilmu, lalu mengkafirkan lawan bicaranya, sudah tidak asing bagi saya. Tapi saya sudah berjanji untuk tidak berdebat. Lebih baik menulis sedikit pikiran, dan mendengar banyak musik. Misalnya, lagunya Christabel Annora feat. Iksan Skuter yang berjudul “Rindu itu Keras Kepala”. []

Iklan
Standar

44 respons untuk ‘Di Seputar Ucapan Selamat Natal

  1. Dibilang kafir bang? wkwkwk biarin ajalah.
    Btw aku di posisimu bang, kemarin aku sempat bingung juga karena banyak yang bilang haram haram haram ~ dan aku belum sempat cari tau. aku pun sebelumnya berkeyakinan tidak apalah kalau cuma mengucapkan.

    Jadi kemarin aku tidak mengucapkan di publik, tapi langsung japri temanku. Dan yeayyy aku bener 😌

  2. Dulu pas ngaji memang gg boleh kan mengucpkan selamat itu, tapi saya gg tahu knpa gg diperbolehkan. Trus pas saya ngajar, kebetulan semua guru harua ikut liqo kan mas nah itu masuk pendapat yg pertama.
    Tapi setiap natal hanya ada beberpa orang yang kmi sekluarga datangi, silahturohim tapi saya gg pernah mengucapkan hanya senyum ikut2 duduk sama keluarga hee. saya gg paham juga, mash suka mikir kalau masalah ini

  3. Waw, keren….saya pikir org sprti bro Ical inilah yg patut diteladani, krn ia bgtu memahami kyakinannya dan berpikiran luas. Tulisan ini, menurut saya, bagus skli dan menyejukkan. Anda memperjelas ttg alasan knp hal ini sllu diperdebatkan oleh sesama muslim slma, ternyata setidaknya krn 2 hal di atas, dan yg kedua itu sangat2 logis…sy merasa lebih senang mndapat ucapan natal dari org yg berada di argumen kedua ini ketimbang mereka yg cuma ikut2an, …

    Keren postingannya. I like it…👍

  4. Wah Bang Ical, ku pagi2 ilmunya dah nbah, haha. Aku termasuk yang suka mengucapkan selamat hari Natal pada semua teman dekat, langsung lewat komunikasi pribadi setiap tahun. Alasannya nggak ribet2 sih bang, cuma karena aku turut berbahagia melihat teman-temanku bahagia di hari besar mereka. Mereka juga nggak kalah bahagia dan excited tiap aku merayakan Lebaran 😄😄

    Dan sama seperti yang Bang Ical katakan, mengucapkan Selamat Hari Natal tak serta merta membuatku menjadi seorang Kristiani kan, hehe 😅😅

  5. “why do we only rest in peace? Why don’t we live in peace too.”

    Sama kaya mbak gadis, saya juga milih buat japri langsung teman nasrani ketimbang nulis di publik terus dicap pamer toleransi muehehe😳

  6. Mencerahkan bang, saya sebenarnya masih ragu antara mau ngucapin atau tidak, tetapi lewat ulasan bang Ical saya jadi punya pandangan.
    Jadikan ini sebatas peegaulan duniawi antar sesama manusia ya. Soal kaidah kan urusan pribadi kita ya.

    Makasih nih bang.

  7. bukuhariangadiskampung berkata:

    Aaah… bang terjawab sudah, pertanyaan-pertanyaanku mengenai natal ini, saya merasa “cocok” dengan ulasan bang ical ini.
    salam kenal bang 😊

  8. Saya sudah mengucapkan selamat Natal ke teman saya yang merayakan. Karena apa?karena mereka makhluk ciptaan Tuhan yang sudah menjadi bagian dari hidup saya. Sebagai sesama manusia saya dan dia pernah melalui saat suka dan duka. Dan tugas manusia adalah memanusiakan manusia.

  9. Wah, senang baca tulisan ini, jadi kepengen belajar lebih banyak. Mungkin akan dimulai dari nyari buku Quraish Shihab yang disebutkan, itu berat ga ya Mas? Saya sangat jarang baca buku agama soalnya

  10. Aduh ini sih lebih dari sekadar pencerahan :”) alasannya berbobot.
    Anyway, orang orang yg kaya gitu emng gausa diajak debat kak. Haha bikin dongkol sendirj dan menimbulkan perpecahan nanti yang ada haha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s