Santai

Jodoh

Disney-Moana-Paper-Plates-8pk-600x600

To see Moana not as a figure, but as a character.

 

1.

Pasca berbincang dengan Darin via telepon beberapa waktu lalu, tentang hubungan laki-laki dan perempuan (dia menyindir-nyindir pula soal jodoh), aku tercenung. Darin menyinggung kriteria, dan bertanya, apakah kriteria perempuan idamanku sudah berubah atau masih sama. Sulit kujawab itu, tapi kali ini aku ingin menceritakannya. Mulai dari yang sifatnya fisik dulu.

Tidak banyak yang tahu, aku cenderung menyukai perempuan yang tidak berjilbab. Perempuan yang membiarkan rambutnya, mahkota pemberian Tuhan yang indah itu, tergerai dan dilihat orang. Entah rambutnya panjang, atau sebahu, atau dikepang, atau keriting, aku suka.

Wajar bila banyak yang tidak menyangka. Memang aneh seorang sarjana studi Islam suka perempuan tidak berjilbab. Tapi, tidak berjilbab bukan satu-satunya faktor yang kulihat. Pakaian adalah faktor selanjutnya: pakaian modis namun sopan, terutama bila longgar, tidak terlalu terbuka dan terlalu mencetak bentuk tubuh. Aku selalu suka. Mereka nampak anggun.

Faktor lain, tentu saja, adalah bentuk dan sorot mata. Aku hampir selalu bisa menangkap kesan tertentu dari bentuk dan sorot mata. Dari keduanya aku bisa tahu, manusia dengan karakter apa yang sedang kutatap. Rasa percaya dirinya, ketulusannya, ego gengsinya, keteduhan jiwanya, kejenakaannya, kelicikannya, dendam, cinta, dll. Mata tidak pernah berbohong, bukankah?

Di lingkunganku, yang dianugerahi kemampuan semacam itu bukan hanya aku. Pak Guru, Pak Prof., Bapakku, bibiku, kakekku, tanteku, kakak misanku, punya kemampuan yang sama. Memang tidak selalu benar kesan yang kudapat, tapi sering pula tepat. Bentuk atau sorot mata menyimpan pesona manusia dan keunikannya. Bening tidaknya jiwa diukur dari situ. Aku pun mudah takluk pada sebuah sorot mata. Tentu bukan melotot, maksudnya.

Beberapa waktu lalu ada anak Mataram yang bertanya, abang suka perempuan montok atau kurus? Kupikir, bentuk fisik rasanya tidak pernah masuk dalam list kriteriaku. Mungil atau bongsor, bila sorot matanya menawan hati, terserah. Aku malah lebih tertarik mengamati jenis suara perempuan. Cempreng-semangat, serak-menggoda, halus-menyentuh, atau berat-memukau. Dari jenis-jenis suara itu, aku sering mendapati kecenderungan psikologis yang berbeda-beda. Ada pula perempuan-perempuan yang suaranya khas: sekali didengar, sulit dilupakan.

Sama seperti wajah: ada jenis wajah yang aku tak bisa jelaskan, tapi sekali melihat, rasanya langsung lekat. Banyak yang lebih cantik dari jenis wajah itu, tapi kecantikan yang mereka miliki hanya merekalah yang punya.

 

2.

Baiklah, cukupkan yang sifatnya fisik. Sekarang bicara yang sifatnya non-fisik.

Aku kurang suka perempuan yang lebih peduli penampakannya daripada isi kepalanya. Apalagi, yang gaya bicaranya diatur supaya terkesan kekota-kotaan—sampai rasanya malah kampungan. Duh, rasanya aku ingin menabraknya dengan odong-odong dari belakang. Gadis Lombok yang baru-baru ini diundang di acara Uya Kuya mungkin bisa dijadikan contoh.

Aku juga kurang suka pada perempuan bermental kelas menengah nyinyir, yang komentar-komentarnya menyakiti hati rakyat, tidak memihak, membela status quo, mementingkan keamanan/kenyamanan pribadi. Kalau ngomong, gobloknya kelihatan, karena mereka berkomentar tanpa wawasan, tanpa perspektif kritis, tanpa keberpihakan, dan tanpa tahu duduk persoalan sebenarnya apa. Biasanya mereka juga sok cantik dan oportunis. Mereka kerapkali ‘idih’ dengan pekerjaan yang bikin tubuh mereka kotor.

Aku tidak pernah tahan bila kebetulan bertemu dengan tipe macam itu.

Di Madrasahku, ada dua guru dengan kepribadian yang kuat. Kak Eliyan dan Kak Dyah,  kumemanggilnya. Dua guru itu nampak biasa: kadang melankolis, kadang konyol, kadang rempong, tapi keduanya punya kesamaan karakter: independen, logis, berani mengemukakan pendapat, tegas, dan tidak mudah dipengaruhi. Mereka punya sikap terbuka dan pantang menyerah. Mereka juga punya sense kemanusiaan yang baik. Serupa dengan karakter Putri (Ayushita) dan Gista (Gista) di Sitkom ‘The East’. Karakter-karakter semacam itu memang mencuri hati.

Kemarin Darin bertanya, apakah aku keberatan kalau tahu pasanganku tidak suka baca buku, tidak bisa memasak, tidak bisa mengaji, dll? Atau, takut gelap, takut kucing, konyol, manja dalam hal-hal tertentu? Terus terang, aku tidak pernah menanggapnya sebuah masalah. Buatku, itu hal-hal yang sekunder saja. Bisa jadi karena memang bawaan yang harus dihormati (sebagai keunikan seseorang); bisa jadi karena belum terbiasa sehingga hanya perlu dibiasakan (belajar, berlatih); bisa jadi pula memang bukan merupakan minat yang bersangkutan, sehingga tidak boleh dipaksakan.

Tapi yang ada baiknya diupayakan adalah karakter-karakter unik tadi: pejuang, bersahaja, humanis, merdeka, bertanggung-jawab, berani, dan rasional. Juga, selama perempuan itu tidak punya riwayat ‘pernah menjadi lelaki’, tentu tidak masalah. Oh, tapi kalau dia cantik banget, yah, masih kupertimbangkan lah.

 

3.

Tapi, lupakanlah semua kriteria itu.

Percayalah: 80% kriteria yang kita ciptakan tidak akan berguna saat kita dilanda cinta. Cinta, Kawan, takkan kautahu mampirnya kapan dan pada siapa. Kadang cinta datang dengan menyalahi/membelakangi/merusak semua kriteria yang kamu buat.

Ada sebuah teori yang bernama: ‘klik’. Teori ini sederhana bunyinya: cinta hadir bukan karena kriteria, melainkan karena di hatimu sudah ada bunyi ‘klik’.

Ya, ‘klik’! Suatu bunyi yang tidak bisa kamu lawan. Jatuh cinta kemudian menjadi seharfiah maksudnya: ketika ‘klik’ itu datang, kamu akan jatuh, dan kamu ingin terus-menerus berada dalam jatuh itu. Kamu takkan mau tahu, apakah hatimu ‘klik’ pada orang yang sesuai kritriamu atau tidak, kamu tak mau tahu—kamu sudah jatuh, dan kamu cinta.

Temanku, Manto, seorang intelek yang dulu bersumpah menikahi hanya perempuan intelek saja. Tapi kemarin ia menikahi perempuan yang kukenal lugu, polos, boros, dan tidak suka baca buku. Jauh panggang dari api. Manto jatuh cinta pada mata perempuan itu yang berbinar karena mencintai dapur dan memasak. Masakannya enak sekali, kata Manto—ia bercerita dengan nada menyerah-tapi-senang. Saat menyajikan makanan, nampak benar aura keibuan perempuan itu. Aura kesetiaan. Manto bercerita, ia pelan-pelan mengajak istrinya rajin membaca. Sekarang, perempuan itu suka baca kisah-kisah Chiken Soup.

Berdasarkan ajaran ‘klik’, aku belajar untuk tidak memasang kriteria apapun. Toh, aku takkan mungkin jatuh cinta pada perempuan yang karakternya tidak kusukai, seperti yang kujelaskan sebelumnya. Ketidaksukaan yang merupakan bawaan sejak kecil.

‘Klik’ memang kelihatan tidak tertentu kedatangannya, tapi ia juga tidak datang sembarangan. ‘Klik’ datang dengan sebuah pra-kondisi dan dalam kasusku, ketidaksukaan pada yang berbau gengsi-goblok adalah pra-kondisinya. ‘Klik’ takkan menabrak pra-kondisiku, karena ‘klik’ menambatkan hati kita pada seseorang dengan kelebihan yang harus kita syukuri, dan kekurangan yang mesti kita pugari, sesuai dengan batas kemampuan kita. ‘Klik’ tidak datang pada sesuatu yang tidak bisa kita tanggung.

Lantas, pernahkah aku dihantam ‘klik’? Pernah. Tapi usahlah bicara masa lalu.

 

4.

Yang jelas, ya, aku memang perhatian pada sikap hidup manusia. Aku mengagumi perempuan dengan tekad kuat, dengan keberanian menghadapi hal-hal sulit, yang mau belajar menambal kekurangan-kekurangannya. Aku mengagumi perempuan yang bersahaja, dan penyayang.

Di atas itu, aku mengagumi mereka yang berani menjadi diri mereka sendiri, sekonyol apapun mereka, dan mereka membiarkan diri mereka mengalir dalam perubahan yang Tuhan inginkan seiring waktu berjalan. Aku mengagumi yang semacam itu. Namun tentu saja, mengagumi tidak selalu melahirkan ‘klik’.

Jodohku menunggu ‘klik’. Aku tidak akan pernah memaksakan diri. Bila klik belum datang, artinya Tuhan masih menitahku untuk merayakan kebebasan dengan berkarya dan mengabdi. Dengan kata lain: jomblo keren. []

Iklan
Standar

46 respons untuk ‘Jodoh

  1. Sepakat soal teori klik. The power of klik mmg dahsyat hahaha 😅😅

    Tp soal jodoh ada teori lain. #eaa sok”an bikin teori.
    Yaitu teori mau, mau klik ama siapa?
    Karena jodoh adalah takdir yang dpt diusahakan.

  2. Wah bang…
    Saya juga suka seseorang entah kenapa dari matanya. Tidak tahu bagimana, ada definisi yang disampaikan lewat mata yaa..

    Dan tulisan abang, seperti biasa bikin saya larut dan tertegun. Hhe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s