Serius

Nasib Warung Kupi Mahasiswa

Kong-Djie-001-800x600

Adalah tahun 2009, tahun ketika saya menjadi mahasiswa baru dan bergabung di Aufklarung. Tahun itu (hingga rentang 2012), saya masih hidup di warung kopi dan giat berdebat. Tahun itu, di warung kopi, angkatan saya yang ingusan masih menemukan para kakanda dan ayunda duduk membaca buku yang judulnya terasa asing.

Bila kami melipir ke dekat mereka, kami akan basa-basi bertanya judul buku dan tentang apa buku itu bercerita. Mereka menjelaskannya singkat-singkat, hanya inti-inti sejauh yang mereka dapat. Dari keterangan pendek itu, kami biasanya akan mendebat—sebenarnya, kami hanya berusaha mempraktekkan pelajaran berpikir kritis yang dibelesakkan ke kepala kami sejak awal bergabung di Aufklarung. Kami melawan ‘wawasan plus logika’ dengan ‘logika minus wawasan’.

Satu dua dialog, mereka bisa dengan sabar menjelaskan. Dua tiga, atmosfer sudah serius. Akhirnya mereka menyodorkan buku mereka pada kami untuk kami baca. “Kalian cobalah temukan sendiri jawabannya terus kita debatkan.” Kebanyakan kami yang tidak suka membaca buku cengengesan mengelak, tapi kemudian menelan ludah. Ekspresi wajah para kakanda dan ayunda itu tetap datar, dengan sorot mata yang benar-benar tidak main-main.

Potret-keramaian-di-salah-satu-sudut-warung-kopi-©-Ichsan-Maulana

“Mau jadi apa kamu, berdebat tanpa wawasan? Kumpulan kambing yang bisanya cuma ngembek? Mending kambing: gimana kalau kumpulan anjing pecundang yang bisanya gonggong doang?”

Itu kalimat-kalimat panjang-menusuk. Mereka tak suka kami menjadi pengacau: yang nakal tanpa wawasan dan keberanian. Memang dengan ganasnya warung kopi itulah kami dibesarkan. Beberapa dari kami mengembangkan metode sinisme yang sama dalam mengkader, beberapa lainnya bereksperimen dengan pendekatan yang lebih lembut: nuansa demokratis, dalam meneruskan tradisi Aufklarung itu. Demokratis memang lamban, tapi, sekali seseorang menemukan kesadaran, kesadaran itu akan mapan.

Sekarang, sudah tahun 2018. Sampai 2017 lalu, warung kopi (masih) sudah berubah. Menemukan seseorang membaca buku di warung kopi atau debat berapi-api adalah langka. Nasib warung kopi mahasiswa—agent of change dan agent of control itu—jatuh di tangan uno, remi, gosip, dan candaan mesum. Itu masih mending, karena pada dasarnya warung kopi memang tempat bergembira sama-sama, tapi tiliklah yang paling populer: smartphone. Nasib warung kopi mahasiswa adalah melihat mahasiswa berhimpun di satu meja tapi tidak saling tatap.

Di SKALA Coffee & Tea

Dalam ngopi-ngopi saya bersama adik-adik Mataram, saya sering cerewet meminta mereka mengumpulkan ponsel di sebuah tas dan sepenuhnya ngobrol. Saya melontarkan pertanyaan-pertanyaan aneh yang memicu kegusaran dan perdebatan panjang. Pertanyaan itu memecah tempat duduk menjadi dua bagian: saya sendiri melawan mereka. Saya bawa buku yang saya akan minta mereka mencari jawabannya di sana. Saya izinkan satu ponsel saja beredar, untuk mencari referensi di google.

Dengan begitu, kopi dan warung kopi benar-benar menjadi social drink dan melting pot. Sesuai visi Orda Mataram didirikan: jangan sampai anak-anak Mataram yang berhimpun di Orda pulang ke Mataram dengan kehampaan, tidak tahu harus berpikir apa kecuali mengurus perut dan kelamin. Seperti kata Buya Hamka, “Kalau cuma hidup, monyet di hutan juga hidup. Kalau cuma bekerja, kerbau di sawah juga bekerja.” Saya menambahkan, “Kalau cuma berpasangan/kawin/dapat jodoh, homo erectus juga bisa—dan mereka punah.”

Menurut saya, nilai keberadaan seorang manusia salah duanya adalah: (a) intelektualisme, dan (b) cinta yang universal. Keduanya mengantar manusia menjadi manusia yang merdeka, independen, berbudaya, berwelas asih, dan menghadirkan kedamaian.

Ah, ya.

Usahlah terlalu memikirkan koar-koar di atas, ya.

Saya hanya ingin bilang, selamat memasuki tahun masehi yang baru. Resolusi saya di 2018 sederhana: ingin menerbitkan buku lagi, ingin kurus (lagi), mendapatkan beasiswa penelitian tesis, dan berjihad supaya hidup lebih bersahaja dari sebelumnya. Amin. Semoga semua makhluk berbahagia. []

DSC_0028

Digelapkan supaya tidak kelihatan gemuk.

Iklan
Standar

44 respons untuk ‘Nasib Warung Kupi Mahasiswa

  1. Sebagai mahasiswa saya pernah diajak nongkrong di warung kopi untuk diskusi, tapi masalah politik kampus. Bukannya tak suka tapi kadang datang sejak jam 8, buka pembicaraan jam 10. Selama tenggang waktu tersebut diisi dengan basa basi dan smartphone, membosankan sekali. Akhirnya saya ga pernah lagi gabung dan dikeluarkan dari grup, haha.
    Nasib anak rumahan yang hanya keluar kalau ada hal penting saja.

  2. Coba warung kopinya ada menu beverages dari kami, akan beda ceritanya. Coz, kesehatan akan dibahas plus bisnis bukan cuma berdebat 😁😁
    Bang Ical klo mau ngurangi berat badan, mau ga tak ksih tipsnya? 😊

  3. Ping-balik: Sekolah Perjumpaan | A.S. Rosyid

  4. Saya juga merasa begitu bang. Awal saya masuk kuliah di tahun 2013, masih sering diajak diskusi di warkop oleh senior. Saat ini di Medan, warkop kebanyakan jadi tempat main dam batu dan numpang wifi mahasiswa untuk main game di hp.

      • Siap bang. Memang masih dalam proses uji coba metode yang baru ini bang. Karna metode senioritas pun sudah mulai gak laku lagi diterapkan. Hehehe

      • Persuasi dialektis dan pendekatan kesadaran sedang jadi tren.

        Hanya saja, di era ini, kebanyakan orang serba ingin dilembut-lembutkan sementara di saat bersamaan memunggungi komitmen dan konsistensi.

        Hal itu menjadi tantangan menyebalkan.

      • Itu dia bang. Militansi dan progress mahasisea pun turun merosot. Belajar bukan atas dasar kesadaran, tapi lebih pada perasaan subjektif. Istilahnya “gak enak sama abang itu kalau gak ikut diskusi.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s