Santai

Cokelat Pertama dan Titik Balik

IMG-20111124-02279.jpg

Tebak saya yang mana?

Foto yang saya tunjukkan kali ini, diambil pada tahun 2011, di Kota Malang. Waktu itu, saya menjadi mahasiswa baru (lagi) di UMM. Setiap mahasiswa baru wajib mengikuti P2KK, yaitu pelatihan kepribadian dan kepemimpinan yang diselenggarakan selama seminggu, ‘dipenjara’ di Rusunawa belakang kampus. Bergilir; karena setiap minggu ada 200 mahasiswa yang diasramakan.

Jadi, selama seminggu penuh pelatihan kami semua fokus belajar dan berteman. Suasananya riang. No phone, no camera. Hanya mentor dan asisten mentor yang boleh membawa ponsel dan kamera. Saya terdaftar kelas Al-Ghazali. Mahasiswanya lintas jurusan: Hukum Islam, Hukum, Sosiologi, Ekonomi, Kedokteran, Psikologi, Pendidikan, dll.

Kawan-kawan saya gokil. Kami adalah kelas yang banyak gilanya. Kami menang lomba cipta yel-yel, yang dipertandingkan antar kelas. Waktu itu saya menggubah lirik lagu ‘Kangen’-nya Dewa 19. Lirik yang saya bikin adalah lirik yang bisa menghubungkan semua kenangan selama seminggu kebersamaan antara mahasiswa baru dan mentor. Yel-yel itu menang dan banyak mentor yang haru biru. Hampir semua orang menangis. Yel-yel itu fenomenal. Saya puas ketika apa yang saya gubah menjadi sebuah masterpiece. Saya senang.

Nah, di pelatihan itu, ada hal lain juga yang membuat saya senang.

Saya, untuk pertama kalinya, mendapatkan cokelat bertuliskan ‘your secret admirer’.

HAHAHAHAHAHAHAHAHA. Sumpah, bulu hidung saya beterbangan.

Seorang mahasiswi Ekonomi menggamit tangan saya, di suatu diskusi kelas yang sedang ramai-ramainya. Saya diseretnya ke pojok kelas. Lalu, saya diberi cokelat itu. Matanya berkedip, senyumnya lebar, sembari berucap: “Hayooo, abang ada yang ngefans lhoo!”

Usut punya usut, ternyata yang mengirimi saya cokelat adalah mahasiswi Kedokteran. Adhe, namanya. Dia manis dan lugu, lekas gugup, tapi ceria. Adhe anak keluarga berada di Pacitan. Hatinya baik. Ia tidak dominan di kelas, tapi selalu siap membantu. Adhe adalah mutiara yang senang menyembunyikan diri, memandang saya dari sisi lain.

Sehari menjelang berakhirnya pelatihan, semua orang akhirnya tahu saya telah dikirimi cokelat, dan mereka juga tahu siapa pengirimnya. Semua orang menggoda saya dan Adhe. Ada yang tega bertanya: apa yang Adhe sukai dari laki item yang suka mikir rada nyeleneh? Saya serius juga bertanya hal yang sama, waktu itu. Entah apa yang dia kagumi dari saya. Mungkin karena hidung saya mancung?

HAHAHAHAHAHA. Saya sempat berpikir dia salah alamat.

Sayangnya, waktu itu, saya sedang berada dalam fase membenci perempuan lantaran satu kejadian di masa lalu. Saya secara naluriah, dalam fase tersebut, akan ‘menyakiti perempuan’ dengan seni romantik, sebagai semacam balas dendam atas peristiwa di masa lalu.

Syukurlah saya sudah ‘diselamatkan’ teman dari fase itu.

Syukurlah pula, waktu itu, Adhe tidak saya ladeni lebih jauh. Entah kenapa, Adhe tidak ingin saya jadikan objek balas dendam. Adhe gadis yang baik sejak pertama saya lihat, dan saya tidak ingin menyakitinya. Akhirnya, saya memutuskan menghindar. Melihat sikap saya yang ogah, Adhe memutuskan lebih jauh: menghilang. Ia tanpa kabar, tidak muncul di peredaran.

Saya melihatnya sekali lagi waktu pemulangan dari lokasi KKN, medio 2014. Ketika bus kelompok KKN saya tiba di kampus, dan saya turun, saya melihatnya menenteng koper. Nampaknya ia juga baru selesai KKN. Adhe masuk ke mobil. Sopirnya anak muda. Mungkin pacarnya. Waktu itu ada sesuatu yang berubah dari Adhe: sorot matanya. Ia tidak selugu dahulu. Ada yang berubah begitu jauh.

Saya tersenyum.

Setiap kita mengalami perubahan, tapi tidak setiap kita menemukan sebuah ‘titik balik’. ‘Titik balik’ adalah istilah saya untuk menyebut satu kondisi yang menyadarkan kita untuk berubah, meninggalkan kepribadian lama yang tidak baik, dan memulai kepribadian yang lebih baik. ‘Titik balik’ tidak membuat seseorang berubah sepenuhnya begitu dipertemukan. ‘Titik balik’ adalah suatu sentakan kesadaran, dan langkah awal berproses.

Saya telah menemukan titik balik saya sejak lama, dan kini merasa jauh lebih damai dari sebelumnya. Saya mengerti arti ‘tersesat’, sehingga usaha untuk ‘kembali’ menjadi terasa berharga buat saya. Semoga sorot mata Adhe waktu itu hanya perasaan saya saja. Semoga Adhe tetap semutiara dulu, sehingga ia tidak perlu bertemu dengan sebuah ‘titik balik’.

Iklan
Standar

34 respons untuk ‘Cokelat Pertama dan Titik Balik

  1. Andai si Adhe ttp semutiara dulu dan brtmu lg dgmu, tentu dlm keadaan ‘free’, sy jd penasaran, ap yg akan trjdi?

    Tp setidaknya, andai si Adhe baca tulisan ini, waw….

  2. Gampang! Tengah belakang, yang lagi senyum kelihatan gigi! Nah, sekarang minta coklatnya!
    Seandainya dibilang kalau ini tulisan penyesalan, pasti Bang Ical nggak akan setuju wkwk. Sayangnya ada vibe-vibe seperti itu, terhadap diri seorang gadis bernama Adhe. Merugi kau bang!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s