Santai

Fadel yang Sebenarnya

IMG_20171015_104509_HDR.jpg

Lokasi: Museum Brawijaya, Gerbong Maut.

 

Hai Fadel yang baik,

Apa kabar?

Saya bertanya-tanya tentang penempatan kerjamu, di belahan Indonesia bagian mana? Waktu kita bertemu 15 Oktober tahun lalu, kamu bilang masih belum ada kepastian. Semoga semua lancar ya, saya berdoa buat kamu.

Tulisan ini adalah balasan saya, kamu sudah bercerita tentang ketemuannya kita bareng Kunu (saya tidak pernah dengar kabar anak itu lagi; ingat waktu dia sedikit ogah turun ke dekat gerbong maut di museum? Katanya ada banyak jin di situ). Tapi, entah kenapa, saya ingin mencoba balas bercerita tidak dengan gaya bercerita, tapi bersurat. Kamu tahu kan, tren bersurat sudah lama mati.

Fadel yang baik,

Saya banyak tertawa membaca cerita kamu tentang hari itu, meskipun di agak penghujung saya sedikit sedih karena kamu menyinggung Obrolin. Kamu juga seharusnya terang-terangan bilang saya gemuk: tidak harus diperhalus dengan ‘berisi’.

Tapi kamu tahu? seorang dokter pernah tertawa melihat gelambir-gelambir di badan saya, dan dia berkata: “Dari tonjolan pundakmu, saya tahu badan kamu pernah atletis. Kenapa nggak dirawat lagi badannya?” Itu dokter luar biasa adil dan bijaksana.

Del, saya kepengin kurus. Saya memang kokoh, fisik saya kuat, tapi saya gemuk. Citra terakhir merusak dua citra sebelumnya. Jadi belakangan ini saya sedang mencari tempat nge-gym yang ada treadmill-nya. Semua itu untuk menghilangkan gelambir-gelambir tak seksi di badan saya.

Fadel yang baik,

Pertemuan kita memastikan dua kesan yang saya penasaran tentang kamu sebelumnya. Pertama, kamu memang setinggi tiang listrik. Sial. Saya jalan di sebelah kamu rasanya kayak sedang ditawan seorang Titan. Jalan sama Kunu saja sudah memalukan: Kunu tinggi juga, kan? Cuma saya yang pendek. Kedua, kamu tipikal yang mengundang berpikir. Yap! Kamu secara natural memang sosok jenaka (dari caramu bercerita di blog saja kelihatan). Tapi saya menangkap kesan berbeda.

Saya tilik-tilik, kamu punya sudut pandang dan ‘cara merasa’ yang unik atas banyak hal. Saya sulit menguraikan maksud saya, tapi, intinya begitu. Andai pertemuan kemarin sedikit lebih lama, saya yakin kita bakal ngobrolin hal-hal yang membuat saya banyak belajar darimu—dan saya akan banyak tersentak. Kejenakaanmu adalah halaman dari rumah kedewasaan.

Saya lebay ya? Kalau tak sesuai kenyataan, aminkan saja. Hehehe.

 

IMG_20171015_083808_HDR.jpg

Saya memang terobsesi memotret Del, dan saya akui gambar-gambar saya memang bagus.

 

Fadel yang baik,

Jadi, lewat surat ini, saya mau berbagi pikiran. Kemarin, saya sempat dicurhati seorang Kawan. Kawan itu pembaca buku saya, dan buku saya itu dikomentari oleh kenalannya. Buku saya, bagi kenalan Kawan saya itu, adalah sampah yang tidak seharusnya diterbitkan, karena tidak berbobot. Mendengar itu, Kawan saya sedih.

Saya bilang ke dia, bahwa di dunia kepenulisan, memang ada sekelompok orang yang berharap menemukan buku tentang hal-hal besar yang ditulis dengan cara-cara yang besar—tentu menurut standar wawasan dia. Bila tak sesuai harapan, pasti kecewa. Otaknya butuh hal-hal besar, dan kebetulan buku saya tidak memuaskannya. Itu wajar.

Kemudian, saya bilang ke dia: “Saya bahagia waktu nulis buku ini. Kamu bahagia nggak bacanya?” Kawan saya mengangguk.

Sekali lagi saya bilang ke dia: “Saya belajar banyak waktu menulis buku ini. Kamu belajar sesuatu nggak?” Kawan saya mengangguk, dan menambahkan, “banyak.”

Kami kemudian tersenyum. Hal-hal yang lebih penting, menurut saya, sudah didapat. Saya tidak tahu pendapatmu bagaimana. Tapi menurut saya, bila mengejar kualitas adalah suatu ‘keharusan’, berbahagia dalam perjalanan adalah sesuatu yang ‘seharusnya’. Tiap karya membidik hal-hal yang tidak sama dan kebetulan, saya menulis dengan satu kepentingan saja: berbagi cerita.

Menurutmu gimana?

Fadel yang baik,

Sepertinya surat saya harus sampai di sini. Saya mau bobok dulu. Kamu jangan lupa mandi tiap pagi, ya. Jangan lupa makan biar makin tinggi.

Salam teman blogermu,

Ical. []

Iklan
Standar

60 respons untuk ‘Fadel yang Sebenarnya

  1. berbahagia dalam perjalanan adalah sesuatu yang ‘seharusnya’. Setuju bang. 🤗🤗🤗
    Bang olahraga dong… atau sumbangin ke aku yg kurang daging ini.

    Buat fadel : ikut nimbrung juga bole kan? >>>>

    Kalau Tulus nyanyi : jabat tanganku panggil aku gajah, kau temanku kau doakan aku punya otak cerdas…

    Nah kamu bs nyanyi : jabat tanganku panggil aku tiang listrik, kau temanku kau doakan aku, hidup tanpa aku dunia pasti gelap.

    *ahahaha

  2. Iya fadel tinggi beudh bang, makanya aku suka klo jalan disamping fadel hahaha soalnya aku cuma sebahu dia berasa kyk tokoh utama dikomik komik, cowoknya tinggi ceweknya pendek wkwkk 😂
    Dan aku jga suka tangannya fadel, jarinya panjang dan ramping. Kalau fadel lg bicara di dpn kelas biasanya dia gerakkin tgnnya juga, nah aku suka bgt merhatiin tgnnya hahahaa😂😂 ampe skg pun masih suka ngeliatin tgnnya fadel klo ketemu😂😂

    Dan fadel salah satu temanku yg paling rasional, mempertimbangkan plus minus dlm setiap keputusan. Dia salah satu sosok yg kukagumi dikelas.
    (Semoga bulu hidung fadel ga terbang saat membaca ini 😅😅)
    Tp kurasa ada yg berbeda sih fadel dulu dan skg (yaelah curhat abaikan) 😁😁

    Aku sih lebih seneng bang ical yang bulet, soalnya lucu menggemaskan hahaha.😁😁
    Tp iya workout aja bang, aku khawatir bg ical kena obesitas.

    Eh fadel dulu ga sekurus skg loh bang, dulu dia kyk bang ical tetapi krna dia tinggi jdi ga keliatan bulet, kesannya malah besar.
    Jadi semangaats bang! semangat proporsional!

    *aku gak suka penggunaan kata kurus, kurus jga ga indah& ga sehat dimataku, aku gunakan kata proporsional aja, soalnya gamungkin kugunakan kata langsing utk bang ical 😅

  3. Kapan ya terakhir kali dapat surat bahaha
    Yak. Makasih buat Bang Ical karena menuliskan ini. Secara pribadi sangat senang membacanya. Toh amat jarang bisa tau impresi dari orang lain. Moga bisa jadi diri yang lebih baik lagi setelah membacanya

    Btw:
    1. Kunu tinggi, tapi kalian sama tinggi alias sepantaran. Dan nggak ada yang setinggi tiang listrik atau titan di antara kita bertiga -_-
    2. Belum bilang kalau Gerimis di Atas Kertas sudah dilahap sejak lama. Abaikan perkataan orang itu. Tiap buku, tiap hal, punya baik-buruknya. Belum lagi kalau bicara soal selera. Bang Ical pasti yang paling mengerti hal ini. Syukur menikmati saat menulisnya
    3. Karena membaca buku itu juga, jadi tau walaupun Bang Ical enggan membahas nikah-nikahan, hasrat untuk mencinta seseorang dan rindu akan romansa dengan perempuan sangat besar. Moga kurus! Moga nikah! Moga cepet kurus dan cepet nikah!

  4. Kok si Fadel gitu…hahah…kok disuruh mkan biar mkin …. wah…wah….ini utk mnggenapi judul postingan ini, blas dendam krn dikatain berisi, ap Apa, bro Ical? Haha…twist yg keren (klau blh dibilang bgtu), wkwk…

    Btw, klau urusan body, kyaknya kita gak jauh beda dech ya…tp aku ykin BB ku lbih darimu, 😂
    Ah, udah ah komennya, kok sy nglantur, 😄

  5. Halo Kak Ical, salam kenal ya, saya anggota baru Obrolin. Daaaan kebetulan temen sekolahnya Qure dan Fadel 🤣
    Saya lagi belajar nulis di blog nih kak, dan baru aja follow blog-nya Kak Ical. Mohon turunan ilmunya ya Kak 🙏🏻😆

      • (Saya panggilnya Bang Ical aja ya hahaha) Bang Ical boleh panggil saya Rima atau Fida hehe, kebetulan Fidayani nama tengah.

        Saya tahu komunitas ini kebetulan dari Fadel dan Qure yg encourage saya buat nulis blog dan dengan senang hati invite saya ke Obrolin. Terima kasih, Bang sudah berkenan follow balik 🙏🏻

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s