Santai

Pulang (1)

IMG_20180115_135734_HDR.jpg

Tuak Manis Lombok. Bukan Khamr.

Sabtu pagi, saat jalan raya sudah mulai ramai, dan saat sebagian besar mahasiswa di asrama belum bangun, saya bertolak dari asrama ke Terminal Arjosari. Saya hendak pulang ke Kota Mataram pakai kapal laut.

Dari arjosari saya naik Patas ke Bungurasih. Di perjalanan saya membaca buku I am My Own Home, karya seorang reporter feminis-liberal dari Jakarta. Karena pakai bahasa Inggris, saya harus membaca sambil melafalkannya. Bosan membaca, saya pakai headset dan mendengar lagu-lagu Coldplay, dan tertidur. Mungkin ngorok; peduli amat. Sesampai Bungurasih saya mengejar bus kota ke Pelabuhan Tanjung Perak. Sepanjang jalan membaca buku lagi.

Tiba di Perak, saya mencetak tiket yang sudah dibeli via online. Ngobrol dengan beberapa orang yang mengantri—menyenangkan bisa bertemu dengan yang lebih terbiasa berbincang daripada main hape. Setelah itu, saya menunggu pintu keberangkatan dibuka sambil mengisi perut di emperan. Selesai makan, saya baca buku lagi. Begitu masuk pintu keberangkatan, penumpang harus melepas tas untuk di-scan metal detector. Hanya metal detector untuk barang yang menyala, sedangkan untuk penumpang tidak. Tambah lagi tidak ada petugas yang berjaga. “Terus buat apa di-scan?” Celoteh saya keras, tanpa sengaja. Orang-orang menoleh. Saya cuek.

Masuk kapal, saya kira akan langsung berangkat dalam 1 atau 2 jam. Ternyata saya harus menunggu sekitar 4 jam—kira-kira dekat jam 5 sore. Saya memilih satu kursi di kabin umum, sendirian. Semua orang bersama rombongan.

Saya mengganti buku. Kali ini membaca Sapiens, karya Yuval Noah Harari. Buku ini banyak mengubah perspektif saya tentang manusia, dan membuat saya sempat merutuk, kenapa saya terlahir sebagai manusia dan bukan gajah saja. Gajah lebih cerdas dan lebih manusiawi dari manusia. Tapi sudahlah, sudah terlanjur. Saya membaca buku itu di berbagai tempat: kabin, musala, kantin, kabin lagi, buritan—di buritan, saya diusir awak kapal yang begitu khawatir saya jatuh ke laut.

Sempat saya duduk sebentar di tangga buntu atap kapal, menikmati gelap malam, lautan, dan bintang-bintang. Om Tulus menemani saya dengan Monokrom, Om Pasha menemani saya dengan Hakikat Cinta, dan lain-lain—perasaan saya melambung pada suatu ketika yang antara nyata dan khayal, larut di situ, membayangkan dan mengekspresikan hal-hal yang syahdu.

Saya memang merasa syahdu, tapi orang-orang yang lewat di bawah sana yang melihat saya mungkin berpikir saya gila. Saya cuek.

Setelah larut malam, saya sempat tidur di musala, tapi separuh tidur saya dibangunkan satpam. Katanya musala bukan tempat tidur, tapi tempat sembahyang. Sebenarnya saya ingin bilang tidurnya manusia adalah sembahyang, tapi dia pasti takkan percaya. Jadi saya pindah ke kabin, tidur di lantai, nyempil di sebelah tembok. Saya tidak menyewa kasur untuk berhemat. Tas sebagai bantal, jaket dobel, mantaplah rasanya.

Esok hari (Ahad), jam 2 siang, saya sampai di Pelabuhan Lembar. Ikhwan sudah menunggu di atas motor kecenya itu. Ia memang yang sukarela menjemput saya. Sepanjang jalan bertolak dari Lembar, kami ngobrol tentang tata ruang kota yang berubah. Kami mampir ke Kota Santri Kediri, dan makan nasi goreng di sebuah warung legendaris seberang Masjid Jami’. Ikhwan kemudian memberi laporan: yang disebut laporan adalah semua kondisi terkini rekan-rekan alumni sekolah dan rekan-rekan komunitas. Saya dapat banyak informasi baru.

Sebenarnya sore itu kami ingin langsung ke pantai, tapi tidak jadi. Setelah shalat ashar di Masjid Taman Sari, Belencong, kami melipir ke rumah saya, yang kosong karena Bapak dan Mamak sedang di Lombok Timur. Ba’da maghrib, kami ke Panti Asuhan, menengok Seno dan Darman, dua pembina panti yang menjadi kawan karib kami.

Dari panti, ditambah Darman dan seorang kawan lain, kami pergi menghadiri forum diskusi di warung kopi Repvblik Syruput. Ada seorang feminis bicara di sana tentang peran perempuan dalam upaya bina-damai. Setelah dari situ, saya dan Ikhwan mampir ke hotel Grand Madani Syari’ah untuk menemui Tara, kawan sekelas dulu, yang kebetulan ada kegiatan di situ. Tara bilang, dia sedang mendalami feminisme lebih dalam.

Kenapa mendadak banyak feminis lalu lalang dalam hidup saya sekarang? Saya secara pribadi lebih menghormati ‘perempuan sosialis’ daripada ‘perempuan feminis’, tapi itu tak perlu dipersoalkan. Saya sendiri punya konsep tentang perempuan dari sudut pandang magis-purba yang usianya sudah ribuan tahun sebelum masehi. Sebuah konsep yang membuat saya melihat perempuan sebagai makhluk spiritual.

Mistis-mistis sedap gitu.

Esok paginya (Senin), saya sempat ngobrol banyak sama Bapak, sampai jam 10 pagi. Setelah bapak pergi ke kantor, saya pergi ke rumah Gita, ponakan saya, dan mengajaknya menemui Ibu Guru Lilik, Kepala Sekolah SDN 3 Gunung Sari. Ibu Guru Lilik ingin bertukar pikiran tentang perpustakaan. Saya pikir perpus sekolah, tapi ternyata taman baca di desa sebelah. Di sana ada seorang guru yang ingin mengajak para remaja membuat taman baca. Saya diajaknya ke sana, dan ngobrol panjang.

Saya jelaskan pada Pak Guru Jauhar, si empunya ide, bahwa pengalaman saya baru hanya di ranah ‘literasi urban’, bukan ‘literasi desa’. Meski elemen dasar manajemen perpustakaan tetap hanya tiga (koleksi buku, tata ruang, dan kegiatan), namun antara perpustakaan urban dan desa berbeda dalam praktek dan perawatan gerakan. Saya menawarkan mengajak mereka berkenalan dengan sebuah gerakan literasi desa yang sukses besar membangun taman baca di Kekait. Rencananya Rabu sore ba’da ashar. Saya langsung menelepon ketuanya dan diiyakan.

Sepulang dari Gunung Sari, saya sempatkan ke Kekait untuk membeli tuak manis segar. Minuman itu berkhasiat banyak bagi kesehatan, dan tidak memabukkan. Sorenya, saya, Darman, dan Ikhwan bertamu ke rumah Seno, untuk melihat bayinya. Saya langsung diminta menggendong Dahlan, bayi botak itu, dan saya tersanjung karena telah dianggap sebagai seorang ‘paman’. Saya memandang bayi yang bergelung nyaman di lengan gemuk saya. Aura spiritual bayi amat kuat, dan saya suka.

Setelah sempat tertahan karena hujan, akhirnya saya dan Darman pamit, melipir ke Warung Kupi Kota Tua di Kota Ampenan. Di sana, Ebong dan Bram sudah menunggu. Mereka ingin bertukar pikiran tentang ‘spiritualitas Sasak’. Saya menyampaikan sebatas yang saya pahami saja, tentang tauhid dan kebudayaan. Salah satu yang mereka tanyakan adalah tentang ‘ngaji dalem’. Saya berusaha menjelaskan hati-hati, supaya tidak salah paham.

IMG_20180117_012358_HDR.jpg

Setelah ngopi, saya mengantar Darman pulang ke Panti, dan saya sendiri meluncur ke markas Pratama Pictures (produsen film-film Lombok) di Kekalek, yang kantornya bersebadan dengan kantor AJI (Aliansi Jurnalis Independen). Di sana, Ikhwan dan Ikin sudah menunggu. Kami membahas serius pematangan konsep djendela.co. Ikhwan mengantuk dan tertidur karena sudah larut (jam 1.30 malam). Saya dan Ikin menyusul kemudian (jam 2.30).

Paginya (Selasa), saya makan Pecel Seruni bareng Ikhwan, dan lanjut membahas pematangan konsep djendela.co. Kami serius dan berkomitmen, yakin media ini bisa menjadi korporasi idealis yang tujuan utamanya adalah mengabdi di jalan literasi dan memberi penghidupan bagi anggota komunitas yang membutuhkan. Setelah dirasa cukup, kami berpisah. Saya pulang, dia pulang.

Sesampai rumah, saya bantu Bapak kerja bakti memerbaiki beberapa unit kos. Saya jadi tukang amatir. Itu berlangsung sampai siang, disela bobo siang sejenak, kemudian kerja lagi. Jam 5 sore, saya dan Bapak pergi ke Desa Guntur Macan, menemui Pak Udin dan Papuq Tapa, serta mencari kerai (tabir bambu) yang harganya terlalu mahal dan akhirnya kami tidak jadi membeli. Sepanjang jalan Bapak banyak bicara tentang persoalan agraria dan nasib guru daerah.

Malamnya, ba’da maghrib, saya, Mamak, dan Bapak ngobrol di ruang keluarga. Saya bercerita tentang kuliah saya. Ba’da isya’, saya dan Mamak tiduran di kasur, dan saya mendengarkan beliau tentang berhasilnya salah satu keluarga jauh kami menjodohkan anak-anaknya. Saya diam saja, tahu maksud pembicaraannya, tapi tidak meladeni.

Insya Allah Yayat, adik saya, yang duluan memberi cucu. Saya belakangan saja. []

Iklan
Standar

22 respons untuk ‘Pulang (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s