Santai

Pulang (2)

IMG_20180125_174059_HDR.jpg

Bookshop di Bandara Internasional Lombok. Selalu menyenangkan ada di sini, terlebih bukunya bagus-bagus. Tapi itu, mahal-mahal.

Akhirnya, aku pulang ke Malang. Aku selalu menyebut ‘pulang’ ketika kembali ke Malang, karena buatku, Malang telah menjadi kota kedua. Kenangannya ruah berlimpah. Waktu liburan sudah cukup (13 – 25 Januari), saatnya pulang.

Sebenarnya, pulangku kemarin tidak bisa sepenuhnya disebut liburan. Aku tidak banyak jalan-jalan—hanya sekali saja sempat ke pantai. Biasanya aku menyempatkan diri main kano saat senja di Pantai Malimbo, atau bermalam di Pantai Meninting. Aku tidak bisa menikmati pijat Sasak. Aku tidak bisa berenang ke kolam Suranadi, atau bersantai di Sesaot. Aku juga batal ke rumah Pak Saehan untuk wawancara sejarah beladirinya. Aku bahkan tidak sempat ke Gramedia.

Tapi, yah, sudahlah.

Rabu malam seminggu yang lalu, aku menyempatkan diri berkumpul di pesisir Pantai Ampenan, bersama pengurus baru Komunitas Djendela, dan berbagi pengalaman mengurus komunitas. Kamis pagi, aku memindahkan semua koleksi bukuku (8 kardus besar) dari Perpustakaan Djendela ke rumah. Ebong berbaik hati menyupiri mobilnya mengangkut semua buku itu. Sebenarnya, banyak buku penting yang hilang, tapi apa boleh buat. List yang hilang sudah kubuat, dan kuminta pengurus baru mencarinya. Maghribnya, aku bersama sobat Djendela mampir ke rumah Titin dan menengok bayi mungilnya. Titin lebih bersahaja setelah menikah. Pernikahan, dan seorang manusia baru di tengah dua pasangan, mampu mengubah banyak hal.

Selepas isya, aku beranjak ke rumah Pak Guru di Sandik untuk mengaji. Lama aku di sana, hingga menjelang subuh. Pukul 12, rumah Pak Guru masih ramai oleh murid-murid yang lain. Dari obrolan itu, aku tahu Pak Guru hendak pindah rumah ke Lombok Utara (itu artinya, untuk pergi mengaji, jarak yang harus kutempuh semakin jauh (dan rawan). Setelah sepi, barulah Pak Guru berwejang. Aku banyak ditegurnya, terutama tentang ketidakmampuan.

Esok Jum’at, aku shalat jum’at di Masjid Penimbung, yang zikir tahlilnya selepas shalat begitu syahdu dan meledak-ledak. Setelahnya, aku mampir ke Madrasah. Murid-muridku yang kelas 2 dan 3 MTs. menyambutku euforia. Tapi aku tidak bisa lama di sana, karena entah kenapa tiba-tiba aku kena tiwang (bentol tebal-merah-membentuk peta di sekujur tubuh). Badanku panas. Aku tidur sampai malam.

Pukul 10 malam, aku terbangun, dan tiba-tiba ingin jalan kaki ke luar. Mengenakan jaket, aku berjalan kaki membawa rambutan ke Belencong, ke rumah kakak misan. Jaraknya lumayan jauh, sekitar 15 kilo. Keringat keluar banyak, suhu badanku menurun. Aku berjalan ditemani lagu ‘Monokrom’ dari Tulus. Ritme lagu itu pas dengan ritme langkah kakiku sendiri.

Sabtu siang, ada rapat strategis bersama kru Djendela.co. Kian lama konsep kian mantap, dan jalan kian terang. Menjelang maghrib, rapat bubar, dan aku mampir ke Perpustakaan Teman Baca, komunitas sahabatku, Om Dedi. Ia sedang menyampul buku saat aku datang. Kami ngobrol banyak. Pukul 7.30, kami berdua berangkat ke Taman Budaya NTB, untuk menonton konser Frau.

IMG_20180120_142833_HDR.jpg

Rapat strategis Djendela.co di Kedai Giyong.

Kak Lani dari Frau! Akhirnya bisa kulihat secara langsung. Kakak manis yang pintar main piano sambil bernyanyi itu tepat di depanku. Jauh-jauh hari aku sudah memesan tiket eksklusif, di bangku terdepan. Kak Lani mengenalkan album keempatnya, Tembus Pandang, berisi lagu-lagu menarik yang merespon lukisan seorang perupa yang bisa dicari di Instagram dengan akun @RestuIbu. Aku dibuai tiga arah oleh Kak Lani: wajah manis, suara merdu, dan jemari lentik di atas kibot. Oh, betapa nganunya …

Minggu pagi, aku pergi ke Pantai Meninting. Pantai itu sudah rusak karena bencana alam dua tahun lalu, dan semakin rusak karena ulah manusia. Kugunakan waktu untuk berbaring di pasir dan tiduran. Melihat laut, melihat langit, lalu terpejam. Senin siang, saya ke bioskop dan menonton film The Commuter bersama Ikhwan. Penjual tiketnya menyebalkan; uang saya tidak diterima hanya karena berminyak. Tapi film bagus yang dibintangi Liam Neeson (salah satu aktor favorit saya) menghapus rasa sebal dengan cepat. Maghribnya, hingga jauh pukul 11 malam, aku kumpul lagi bersama pengurus Djendela, dengan agenda yang kurang lebih sama seperti kemarin.

Rabu (dua hari yang lalu), aku sekeluarga pulang ke Lombok Timur. Mampir di Rarang, mencoba rumah makan legendarisnya. Di sana, aku melihat foto Guru Isah, seorang sufi legendaris dari Tanah Lombok. Isah artinya betah, nyaman, dan tenteram. Memang karomah terbesar Guru Isah adalah kehadirannya yang selalu menentramkan siapa saja. Mendekat pada beliau, bahkan sebelum curhat, ketenangan sudah didapat.

IMG_20180124_180541_HDR.jpg

Guru Isah.

Bila saya boleh memilih kekuatan super, saya pun tak ingin punya kemampuan bisa menghilang, atau teleportasi, atau terbang, atau telekinetik, dll. Aku hanya ingin punya aura yang menentramkan. Aura yang lembut, yang bahkan bisa membuat penjahat lupa dengan misi jahatnya, karena bila berdekatan denganku, ia akan bahagia. Aku yakin, bila kita ingin melawan depresinya umat manusia, yang melahirkan segala macam kejahatan dan kekerasan, satu-satunya cara adalah dengan menghadirkan kebahagiaan sebanyak mungkin.

Kamis siang, aku dan Mamak berbelanja baju, dan aku kesulitan menemukan baju bagus. Sebenarnya ada banyak baju bagus, tapi baju bagus yang sesuai ukuran badanku jarang ada. Sore harinya, aku diantar ke Bandara. Aku pulang ke Malang dengan Pesawat Citylink, duduk di pinggir jendela. Aku menyaksikan awan gelap dan petir yang menyambar-nyambar. []

NB:

Minggu malam, Insya Allah aku akan terbang ke Jakarta. Naskah esai yang kuikutkan dalam lomba esai Qureta itu masuk 11 naskah terbaik, dan aku menjadi finalis. Aku diundang ke Jakarta, dipesankan tiket pulang pergi. Aku di Jakarta sejak Minggu malam hingga Senin malam. Pagi hari aku tidak ada kegiatan, dan bingung ingin ke mana. Inginnya sih berburu buku, tapi, yang murah di mana? Kalau tidak murah, batinku tertekan.

Iklan
Standar

17 thoughts on “Pulang (2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s