Santai

Arus Balik Saya Belakangan Ini

94a7e47dff400bac0f34b1653d9842d2

 

1.

Entah kapan saya mulai tertarik dengan dunia pemikiran. Mungkin sejak SD, lewat komik Detective Conan. Saya sadar betul pengaruh Conan pada kemampuan menalar saya—juga pengaruh buruk karena darinya saya mengembangkan bakat acting dan memanipulasi perilaku. 

Semasa pondok, saya berkenalan dengan wacana supra-rasional: dunia jin, dunia energi kehidupan; teori-teori konspirasi dan secret society: Yahudi, Freemason, Biarawan Sion, Illuminati, dll. Saya mengembangkan bakat bercerita—adik kelas jadi korbannya. Cara saya bercerita bisa memengaruhi psikis dan tindakan mereka, karena runut dan lebay (karena saya sampaikan serius, kesannya betulan). Padahal saya bicara tentang sebuah warung, tapi ia bisa terasa misterius, bersejarah, berbau rahasia, mengundang rasa penasaran, hormat, segan—dan takut karena mistis. Saya kemudian tahu, itu namanya mistifikasi.

Saya juga bertemu dengan pertanyaan-pertanyaan filsafat yang, bagi teman-teman lainnya terasa mengerikan dan berpotensi menyesatkan, tapi saya tertantang. Misalnya: apakah Allah bisa membuat Allah lain yang sama maha kuasanya? Kakak tingkat kurang ajar yang menyebarkan pertanyaan menggemparkan itu disidang para ustadz dan disuruh syahadat ulang.

 

2.

Ketika kuliah di Teknik dan giat di Aufklarung, saya giat memelajari filsafat. Menyenangkan menggali hikmah dari kisah Sokrates, atau berdebat di warung kopi karena pertanyaan: “Apakah pohon punya emosi?” dan pertanyaan itu membawa saya pada filsafat hasrat dari khazanah filsafat eksistensialisme. Saya dipusingkan perdebatan materialisme dan idealisme yang diwakili pertanyaan: “mana yang lebih dulu ada, ‘bawang’ atau ‘ide tentang bawang’?”

Pindah kuliah ke Fakultas Syari’ah dan giat di JIMM, saya mulai enggan tenggelam terlalu lama di filsafat dan mulai berkenalan dengan teori-teori sosial (terutama garis Marx, Neo-Marx, Mazhab Frankfurt, Postmodern, dan Postkolonialisme). Juga, wacana Islam transformatif (dari pemikir seperti Kuntowijoyo, Soedjatmoko, Moeslim Abdurrahman, Nurcholish Madjid, Hassan Hanafi, Ali Syari’ati, dll). Saya percaya amanah terbesar dari Rasulullah adalah pembebasan terhadap berbagai belenggu kemanusiaan, bukan sembahyang mengaji. Hal itu mendorong saya aktif membangun gerakan dan komunitas.

 

3.

Sebagian orang mungkin tidak terlalu suka bacaan teoritis. Saya pun (sekarang) begitu. Tapi manfaatnya sangat besar. Justru ketika saya sudah memahami berbagai episteme (bangunan pemikiran), saya jadi mudah menggumuli bacaan non-teoritis.

Saya mudah menemukan konteks, memetakan suatu bacaan masuk dalam wacana ini atau itu, dan tidak mudah tertarik atau terhasut suatu gagasan, karena setiap gagasan tidak lepas dari peta besar wacana, dan tiap wacana sebenarnya sudah punya lawannya sendiri-sendiri. Di sinilah semboyan “Tak setiap buku berkata benar” mulai terasa.

Ini memungkinkan saya menyentuh semua tema, bahkan hal-hal yang kedengarannya tabu. Intinya, saya bersyukur berkenalan dengan bacaan teoritis—dan bacaan semacam itu penting sekali, sepenting kita menemukan peta besar berbagai wacana. Dengan itu, yang awalnya buram menjadi terlihat jelas, yang serpihan (parsial) menjadi terpadu (universal).

 

4.

Belakangan ini, saya suka membaca buku-buku yang menguatkan saya sebagai manusia.

Saya pikir, inilah arus balik. Saya merasa telah disibukkan menjelajah ruang-ruang yang bukan tentang saya sebagai manusia. Pengetahuan-pengetahuan yang saya kapitalisasi justru membuat saya jauh dari memahami diri saya sendiri, dan lingkungan saya. Kontemplasi seharusnya diarahkan pada perubahan diri, ke jenjang yang lebih hakiki.

Saya ingin kembali ke semboyan lama komunitas saya di rumah: “Bapakku adalah kebenaran, dan Ibuku adalah kebijaksanaan.” Kebenaran itu tentang pengetahuan, sementara kebijaksanaan itu tentang ‘sikap hidup’. Saya (dan banyak orang, saya yakin) telah giat menumpuk ilmu, tapi tidak melatih ‘sikap hidup’ yang ideal. Saya tidak ingin seperti itu.

Maka saya kembali membaca tulisan Gandhi. Pemikirannya yang mendalam tentang ‘satyagraha’ dan ‘ahimsa’ saya hayati, dan saya coba bereksperimen dengan itu dalam keseharian saya. Banyak gagalnya, pasti, tapi saya senang karena telah berbuat.

Saya juga mulai mengoleksi esai-esai Pramoedya Ananta Toer (dulu saya membaca tanpa minat mengoleksinya). Tulisan Pramoedya Ananta Toer tidak hanya menggugah rasa kemanusiaan, melainkan memberi kita kekuatan untuk hidup. Tulisan semacam itu saya senangi.

Saya buka lagi esai-esai Cak Nun, dan novel-novel Andrea Hirata. Semua mengajarkan tentang sikap hidup. Umumnya, tulisan-tulisan semacam itu kita dapatkan dari pemikir-pemikir Indonesia yang ditempa oleh zaman di belakang era 1970-an. Hatta, Soekarno, Goenawan Mohamad, Rosihan Anwar, intelektual-intelektual komunis, dan masih banyak lagi.

 

5.

Saya merasa mendapatkan jawaban atas pertanyaan tertinggi dalam dunia kepenulisan saya: “Tulisan seperti apakah yang harus saya tulis?” Ini bukan tentang gaya menulis, genre tulisan, dan sebagainya. Ini tentang sumbangsih apa yang ingin kita berikan pada pembaca. Banyak tulisan sastra yang menawarkan kontemplasi serba seksi, tapi jawaban itu akhirnya datang:

“Saya ingin tulisan saya menguatkan semangat hidup orang lain, dan meneguhkan sikap hidup mereka. Sikap hidup yang menolak dikalahkan diri sendiri, dan menolak mengalahkan orang lain. Sikap hidup yang saling asah, saling asih, saling asuh. Sikap hidup yang berbuat karena peduli, dan peduli karena tahu caranya mencintai manusia seluruhnya. Sikap hidup yang nirgengsi dan nirpamrih.” []

Iklan
Standar

24 respons untuk ‘Arus Balik Saya Belakangan Ini

  1. Yang kutipan terakhir itu, dekat dengan ucapan cak nun. Semoga kita tetap menjadi manusia yang utuh, bukan robot, materialis, atau empiris. Oiya btw, kapan hari saya WA, cuma diread saja, apa ganti nomer? Atau sibuk sekali sepertinya abangku yang satu ini.

  2. Saya suka bukunya Andrea Hirata Cal. Menertawakan kepahitan hidup,tapi penuh makna cara menulisnya. Kadang Andrea Hirata bikin saya tertawa ketika ada kejadian yang lucu di kampungnya. Semoga bukunya Ical bisa menguatkan semangat hidup oranglain,amin

  3. momo taro berkata:

    Bacaan jiwo ngungal rogo (///▽///)

    aamiin. Semoga keinginanmu bisa terlaksana bang. (ノ>ω<)ノ

    Kalau nonton drama korea gmna bang? *eh

  4. aura asmaradana berkata:

    Dari poin satu sampai lima, saya menemukan beberapa hal yang bikin angguk-angguk sambil berkata dalam hati, “Wah, ini sih gue.” Namun dalam versi yang sangat berbanding terbalik: lebih positif.

      • aura asmaradana berkata:

        1. Wacana supra-rasional versi saya: segitiga bermuda, wicca, sihir, tarot. Sepertinya kalau soal akting dan manipulasi perilaku, saya belajar itu juga–bedanya hanya siapa gurunya. Keuntungan dari pernah akting dan bersikap manipulatif adalah sampai sekarang saya bisa mengenali orang-orang yang sedang bohong dan menjilat. Hehe.
        2, 3, 4. Sejak belajar filsafat secara terstruktur di kampus dan (juga) menyukai eksistensialisme–kemudian terpengaruh pengalaman masa kecil, terutama–saya percaya bahwa pembebasan justru berasal dari kelemahan manusia, kompleksitasnya, dan ketidakmampuan manusia memahami sesamanya. Saya pikir, saya lebih menyukai bacaan-bacaan tentang realitas berbalut pesimisme (dari para filsuf eksistensialis). Itu karena saya percaya bahwa gelora humanisme bisa lebih tersampaikan lewat penerimaan manusia akan dirinya yang tidak sempurna dan susah dipahami.
        5. “Tulisan seperti apa yang harus saya tulis?” itu pertanyaan setiap orang yang menulis. Berat juga tanggung jawab sosial ini. Haha. Alih-alih menulis untuk membangkitkan semangat orang lain–terlebih untuk tulisan-tulisan yang sifatnya personal–saya lebih ingin orang lain paham bahwa ada sisi gelap dalam diri tiap saya; dalam diri tiap manusia, hidup itu berat, dan akan lebih mudah bagi manusia untuk mengakui yang gelap-gelap itu.

        Huh. Dasar pesimis.

      • Segitiga Bermuda, saya juga obrolin itu dulu sama teman-teman, dengan cerita seadanya 😃 Dan Kakak benar: kita gampang tahu siapa yang ngibul 😂

        Benar bahwa pembebasan berawal dari menyadari suatu kelemahan dalam diri, dan kebutuhan untuk menghadapi kompleksitas-kompleksitasnya. Tapi ….. Mengarahkan karya hanya pada pembongkaran-pembongkaran kelemahan dan sisi gelap itu, rasanya, seperti orang yang sudah jatuh ke dalam sumur lalu sepanjang hari hanya bergumam mengenai dinginnya di dalam sana—sementara kita ingin mendengar cerita tentang tekad dan cara untuk bebas.

        Tapi, aku sendiri lebih sering merasa pesimis 😅😅😅

      • aura asmaradana berkata:

        Ya itu enggak salah juga, sih. Hanya saja, yang sebisa mungkin sa hindari adalah mistifikasi kesuksesan dan kegemilangan dan semacamnya. Sebab yang kutangkap dari suara-suara motivator adalah reduksi terhadap Manusia. Ehehe.

        Kalau kamu, kaks, satu hal yang harus kamu hindari adalah: melewatkan beli novel saya. Hahahaha. Promosi di mana-mana.

      • Mungkin saya harus lebih banyak menuliskan prosesnya, dan kritik kesadarannya, supaya tidak terjebak dalam mistifikasi 😊

        Eh, kan masih belum terbit?

      • aura asmaradana berkata:

        Ditulis atau enggak, yang penting kita sadar–dengan cara masing-masing.

        Sudah buka pre-order. Terakhir pemesanan tanggal 10 Februari untuk dikirim sekitar tanggal 25 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s