Santai

Sepuluh Februari

IMG_20180210_152522_HDR.jpg

Sepuluh Februari.
Ketika belajar sesuatu, manusia kerap jatuh. Itu wajar. Tapi manusia bisa bangkit lagi. Ia punya tangan dan kaki, dan digunakannya sedikit kekuatan untuk berdiri kembali. Istimewa bukan tentang selalu berhasil, tapi selalu berpayah-payah bangun dari sungkur.
Pagi itu, dia terjaga dari mimpi dengan perasaan yang baik. Pagi ditemukannya ramah. Jendela kamarnya menyilakan bukit-bukit dan awan-awan untuk dipandanginya. Lazimnya, pagi itu bisa menjadi hari yang spesial untuknya. Tapi ia telah dan sedang belajar untuk berbahagia dengan cara-cara yang sederhana dan sunyi saja.
Maka ia berterima kasih pada Tuhan atas segala yang telah ia cicipi. Berterima kasih pada mereka yang bersetia, atau pada mereka yang sebaliknya, semasa menghadapi tindak-tanduk dirinya yang menguji lapangnya dada. Semoga mereka yang bersetia tetap mendoakannya, dan yang sebaliknya mau memaafkannya.


Ia mengingat-ingat lagi saat dulu ia mulai belajar menyederhanakan rasa senangnya, ia merasa kesulitan. Bahkan hingga hari ini, dalam banyak situasi tak terduga karena terus berkembang dan menguji dirinya, ia tetap merasa kesulitan. Ia tetap sering terjatuh dan gagal, hanyut dalam aliran-aliran yang ia telah bertekad belajar untuk tidak lagi mendekam lama-lama di sana—aliran yang menyenangkan, aliran yang menyedihkan. Ia tetap kerap terlambat menikmati yang mampu ia lepaskan, bukan yang mampu ia miliki. Ia tetap merasa kesulitan meski telah lama mulai belajar.
Namun, pagi itu, ia merasa bahagia dan ringan hati, karena mampu menyederhanakan rasa senang. Tidak berharap apa-apa, dan telah berterima kasih pada pemilik segala. Ia senang diberkahi pemahaman bahwa angka yang bertambah hanyalah ilusi dari kecakapan manusia berhitung atas segala sesuatu—yang sebagian besarnya sebenarnya tidak perlu dihitung.
Ia membaca buku seperti biasa di pagi hari, berangkat kuliah mulai dengan berjalan kaki, sembari disapa padi-padi. Ia menuangkan pikirannya di memo barunya yang berwarna ungu, dan bercanda dengan teman-teman sekelasnya.
Namun, ia tidak kuasa menahan kekeh karena hal-hal istimewa ternyata diberikan Tuhan padanya cuma-cuma. Itulah rizki yang baik. Ucapan selamat dari segelintir manusia baik yang dikenalnya, yang ia berutang budi pada mereka, dan mereka mendoakan dirinya dengan tulus.
Tuhan juga telah memberinya sebuah hari yang tidak hujan sama sekali, yang cerah di menjelang sore sepanjang ia berjalan kaki kembali ke kos barunya. Biru sebiru-birunya, dan awan putih hanya kapas-kapas malu di sudut-sudut yang merunduk teduh padanya. Di satu ruas jalan yang sepi, disoraki oleh padi-padi yang mungil, ia merentangkan dua tangannya menyambut angin. Ia ingin jiwa yang tinggi, dengan kaki yang setia di bumi.
Sore itu, ia tak lupa mencoba berbahagia, dengan memberi hadiah pada dirinya sendiri. Es puter, seharga dua ribu lima ratus, dibelinya dari pak tua kelelahan berwajah ceria. Eskrimnya dikulum sampai tandas, rotinya dikunyah bersama sisa dingin yang tak ingin ia lawan.
Tuhan, semoga semua makhluk berbahagia.

Iklan
Standar

58 respons untuk ‘Sepuluh Februari

      • Hahaha…
        Gak pakai?!
        Jadi, dulu ditetaskan?! Atau di lepeh?! Atau muncul dari bambu?! Atau sodara timun mas?!
        Wooowww….
        Kenaliiinnn….
        Akuuu, Angel.
        Aku dulu mitosnya muncul dari pecahan biji karet, yg ditanam oleh nenek usia 899 tahun berambut emas, bermata berlian dan kulit sehalus sutra.

      • Aku lahir dari Batu Kali hitam Kak, yang seratus tahun sebelumnya dibuang oleh tukang bakso pemarah. Akhirnya aku juga jadi keras kepala dan tidak punya sifat-sifat baik tumbuhan ~ 😅

      • Tak apa adik sepupu..
        Setidaknya masih ada sifat sungai, yg diam-diam menghanyutkan, menenggelamkan, dan menghancurkan, yg diturunkan nenek moyang batu hitam di kepalamu.
        Jaga itu, jangan disia-siakan dengan belajar menanam sifat-sifat tumbuhan..
        👵

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s