Santai

Menang

IMG_20180129_144043_HDR.jpg

I

Kemarin, di penghujung Januari, saya bersyukur banyak karena memenangi lomba menulis esai tentang kertas, yang diselenggarakan secara nasional oleh Qureta. Meski bukan juara pertama, saya masih senang karena mampu menyisihkan 700-an naskah lain, dan berdiri di peringkat kedua. Padahal tulisan itu sedikit bermaksud melegalkan ganja—Tuhan, dan naskah itu juara.

Duitnya yang lumayan banyak itu saya belikan buku tafsir al-Mishbah, karya Prof. Quraish Shihab, lengkap lima belas jilid, seharga tiga juta kurang dikit. Kemudian, satu juta lebih dikit saya belanjakan banyak sekali buku-buku penting yang harus dikoleksi. Sisanya yang tidak banyak lagi itu, saya tabung—tapi tidak tahu untuk apa. Untuk menikah? Em …. sepertinya sih ti …

Kemenangan itu memberi saya pengalaman ke Jakarta untuk ketigakalinya. Saya menginap di sebuah hotel di dekat Tugu Tani. Malam harinya saya berjalan kaki sendirian ke Bundaran HI. Sempat hampir nyasar, tapi saya menemukan bundaran yang dikelilingi hotel-hotel besar itu. Puas sekali. Pagi harinya, saya mengunjungi perpustakaan nasional dan tiba di sana hanya untuk ternganga lebar: perpustakaan itu punya lift! Seumur-umur saya baru melihat ada perpustakan yang pakai lift!

Sumpah, kagok. Saya membuat kartu anggota yang selesainya sangat cepat, dan berjalan-jalan mengunjungi ruang-ruang koleksi langka. Saya akhirnya terdampar di ruang koleksi umum dan membaca buku Wawasan al-Qur’an setelah mengamati Monas yang berada tepat di seberang perpustakaan. Melihat Monas, saya teringat kunjungan kedua saya ke Jakarta pada 2016. Setelah berlatih menulis bersama Pak Cik Andrea, saya diajak kawan melihat Monas dan sembahyang di Masjid Istiqlal.

IMG-20180129-WA0009.jpg

II

Saat ini saya sedang ikutan lagi lomba Qureta yang lain, bertemakan sikap terhadap fenomena radikalisme, intoleransi, dan kekerasan. Saya menyerahkan dua tulisan (semua tulisan saya di media lain bisa diakses di page Karya Lain). Bila kemarin nazar saya jelas, yakni ingin membeli buku tafsir ulama yang saya kagumi, sekarang nazar saya lebih jelas lagi: hadiahnya ingin saya hibahkan untuk komunitas saya, Komunitas Djendela.

Pertama, untuk biaya pembuatan website dan modal awal operasionalnya. Situsweb djendela.co terpisah dari komunitas; sejak mula ia diniatkan menjadi industri media bertujuan-profit, untuk mendukung pendanaan gerakan literasi di komunitas. Jadi saya harus serius mengelolanya sebagai bisnis saya sendiri. Konten harus kualitas nomer satu, manajemen harus seprofesional perusahaan media besar lainnya. Saya sebagai pengelola harus berhibah lebih banyak dan lebih dahulu sebelum orang lain berhibah untuk situsweb kami.

Kedua, untuk operasional Perpustakaan kami yang baru. Kemarin, Perpustakaan sempat pindah ke rumah Alung, tapi karena Alung menikah, Perpustakaan tidak boleh ‘meriuhkan’ rumah tangganya. Maka Perpustakaan insyaallah akan dipindahkan ke Kab. Lombok Barat, di Desa Belencong, yang masyarakatnya antusias menyambut ide berdirinya taman baca di lingkungan itu. Tapi rumah yang akan ditempati Perpustakaan masih harus direnovasi agar lebih layak.

Maka lewat tulisan ini saya juga mengajak teman-teman sekalian untuk berdonasi pada Perpustakaan Djendela, membantu mendirikan Taman Baca. Tidak harus berbentuk uang: buku bacaan yang baik (non-pelajaran), meja dan kursi bekas, tikar atau karpet, dan lain sebagainya, Perpustakaan masih membutuhkan. Bantulah para Pustakawan yang mendahulukan ‘patungan’ sebelum menggalang dana atau kekuatan. Nah, untuk keperluan itu, silakan menghubungi saya di nomer WA: 087865686577 atau email bennrosyid@gmail.com.

Mudah-mudahan saya bisa menang lagi. Saya percaya, sekali seseorang bertekad, dan meminta bantuan terlebih dahulu pada Yang Maha Memberi, insyaallah akan dimudahkan. Bila saya tidak bisa menggondol hadiah, bantuan lain akan berbondong-bondong datang dari berbagai penjuru.

IMG_20180129_143846_HDR.jpg

Bersama Pak Luthfie Asyaukanie, direktur Qureta.

III

Baru-baru kemarin, saya hijrah ke Twitter. Ini akun saya, follow ya, hahaha.

Saya pindah mainan ke Twitter karena masih sepi—lantaran follower saya masih hanya beberapa biji. Jadi saya bisa berlatih ngoceh tanpa boleh berharap diapresiasi banyak orang seperti di Facebook (padahal siapa juga yang meladeni saya di Facebook, dasar gaya). Saya merelaksasi pikiran dengan mengoceh, menyederhanakan ide yang sedang saya tekuni atau saya tulis, menjadi barisan ocehan ringan. Aih, legalah saya.

Sudahi tentang Twitter,

Beberapa waktu lalu saya ditawari dan diajak untuk bergabung di PSI (Partai Solidaritas Indonesia). Partai baru yang saya selidiki, dan punya arah baru yang berbeda dari partai-partai feodal sebelumnya. Bila partai ini bisa bertahan seidealis yang mereka gaungkan, tentu akan sangat baik, dan saya mendukung gerakan politik semacam itu.

Namun, untuk bergabung, saya masih belum punya selera. Saya justru sedang belajar melepas keterikatan-keterikatan apapun. Kalaupun ada, saya ingin menekuni sedikit hal tapi dengan setekun-tekunnya. Tidak berada di jalur politik praktis bukan berarti tidak turut berpolitik.

Bagi saya, gerakan komunitas tak lain adalah gerakan politik, di ranahnya yang khas, yakni kerakyatan. Komunitas mengubah pertama-tama lewat penyadaran dan pendadaran manusia, bukan regulasi atau sistem. Saya lebih memilih cara ini.

Tentu, bila ada partai politik yang bersih, punya komitmen non-feodalistik, saya mendukung. Tapi sekali lagi tentu saja, dukungannya bukan dengan mekanisme politik praktis. Saya punya cara sendiri. Saya ingin menekuni jalan saya sendiri.

Tapi, saya sempat tertegun melihat simbol mawar lima kelopak di lambang PSI. Grace Natalie menegaskan, simbol mawar adalah simbol solidaritas internasional. Itu benar, tapi saya teringat kajian simbologi Dan Brown dalam novelnya The Da Vinci Code, tentang arti dari Rosslyn (roseline, garis mawar). []

Iklan
Standar

48 respons untuk ‘Menang

  1. Smoga Anda mnang lg, anda pnulis hbat, bro Ical.

    Niat2nya yg mulia utk komunitas jg smoga terwujud dg baik.

    Utk gabung k politik yg itu sbnrnya bgus skli, sy tahu arah politik prtai tsb, sngat idealis, smnjak Grace Natalie dan Tsamara itu viral d internet, sy ykin prtai ini bs mmgang prinsip mereka. Tp utk seorang Ical dg prtai tsb, entahlah, sy lihat blm pas aj nurut sy Anda gabung, dan alasan2 Anda itu sy stuju.. yap, dg cara Anda sendiri

  2. Selamat bang Ical dan semoga menang lagi dan lagi. Aamiin
    Saya tulus mendoakan bang Ical, terlebih hadiahnya diniatkan untuk kepentingan yang lebih mulia.
    Btw, saya bersyukur bang Ical belum gabung di Partai dan bahkan ikut berharap Bang Ical belum akan terjun ke politik praktis dalam waktu bbrp tahun ke depan ya… (Eh …siapa saya ya?) Maaf ya bang …

  3. Hafidh Frian berkata:

    Oo jadi ini tulisan yg dishare kemarin. Selamat brada. Dan belakangan aku jadi tau nama asli bang ical adalah A S Rosyid. Biar kutebak, ahmad sudirman rosyid. Ahmad baik, sudirman panglima perang, rosyid adalah pandai. Panglima perang yg pandai lagi baik. Silakan tegur saya kalau salah bang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s