Serius

B. Indonesia atau B. Arab: Mulia Mana?

Bahasa-Indonesia-Bhasa-Persatuan

I

Kira-kira seminggu yang lalu, di warung kopi, aku mendengar meja sebelah—isinya teman-temanku juga—berdebat tentang mana yang lebih tepat, penulisan “Insya Allah” atau “In Shaa Allah”. Kebetulan aku sedang membaca pencerahan dari twitternya Uda Ivan Lanin tentang perkara yang sama.

Alih-tulis huruf syin dalam bahasa Inggris memang menggunakan huruf ‘sh’, maka tertulislah “In Shaa Allah”. Bahasa Inggris juga lebih peka pada unsur kalimat bahasa Arab, sehingga memisahkan antara In, Shaa, dan Allah (secara literal tulisannya memang in [jika] sya’a [menghendaki] Allah [Allah], jika Allah menghendaki).

Namun, alih-tulis huruf syin dalam bahasa Indonesia menggunakan huruf ‘sy’, maka tertulislah “Insya Allah”. Terlebih, bahasa Indonesia tidak peka pada unsur kalimat bahasa Arab, dan cenderung menggabungkan bunyi alif-lam dalam setiap penulisan (misalnya, dengan menulis ‘abdus somad, yang secara literal sebenarnya harus ditulis ‘abd [hamba] al-somad [tempat meminta segala sesuatu]).

Manakah yang benar? Keduanya benar, tapi penting untuk tidak meniru penulisan tanpa tahu kaidahnya. Sering terjadi kasus seperti ini: meskipun dalam bahasa Arab tak ada kaidah tentang huruf besar dan kecil, tapi orang-orang berusaha meletakkan sentimen keagungan pada huruf bahasa Indonesia, sehingga justru menyalahi kaidah. Misalnya dengan menulis “insyaAllah”, yang padahal bila hendak digabung, seharusnya ditulis “insyaallah”. Lagipula, menggunakan kata In Shaa Allah namun masih menulis syukron (terima kasih, seharusnya ditulis shukran), tentu lucu sekali kelihatannya.

Uda Ivan Lanin menegaskan untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Baik artinya berbicara sesuai konteks, benar artinya berbicara sesuai kaidah. Bila saya berkomunikasi dalam bahasa-tulis Indonesia, seyogiyanya saya berusaha menggunakan kaidah bahasa Indonesia. Pedoman transliterasi itu sudah ada. Ini cara terbaik memelihara bahasa Indonesia, meski sembari tertatih belajar terus.

 

II

Perdebatan meja sebelah itu berlanjut dengan ngototnya salah seorang dari mereka bahwa bahasa paling mulia di dunia adalah bahasa Arab. Bahkan Allah berbahasa Arab nantinya di surga, begitu katanya.

Benarkah? Saya rasa itu keterlaluan, mengecilkan keagungan wicara Tuhan hanya dalam lisan Arab. Bahkan dalam berdoa, Tuhan meminta manusia mendekat sendiri dengan caranya (baca: bahasa) sendiri. Maka bila ada kesan bahwa Tuhan hanya memihak satu kelompok manusia saja, saya tegas mengatakan bahwa bukan Tuhannya yang keliru, melainkan manusia yang keliru menerjemahkan maksud.

Lantas, lebih agung mana, bahasa Arab atau bahasa Indonesia?

Tidak ada yang agung.

Hanya bahasa Allah yang agung, dan bahasa Allah adalah bahasa isyarat maha jujur, benar, penuh kasih. Bahasa Allah ‘jantung kebaikan’ dan ‘inti kebenaran’, yang isyaratnya hanya bisa diterima oleh hati welas kasih dan ego yang merendah, bukan bahasa sapiens yang bisa diotak-atik gramatikanya untuk menipu, meninggikan diri, dan menghina orang.

Bahasa Arab menjadi agung justru karena al-Qur’an diturunkan, dan al-Qur’an sendiri, meski menggunakan bahasa Arab, menampilkan suatu kesusastraan yang tidak pernah didengar bangsa Arab sebelumnya. Karena itu ia disebut mukjizat. Namun, keagungan tertinggi al-Qur’an adalah kebenarannya. Bila saya ditanya, apakah bahasa al-Qur’an? Saya mengatakan, bahasa kebenaran yang diturunkan dalam bahasa manusia, yakni bahasa Arab.

Karena itulah, kepentingan tertinggi untuk mempelajari bahasa Arab adalah semata untuk menggali al-Qur’an, hanya itu, baik level lafdzhiyyah hingga maknawiyah. Benar bahwa ia bisa dijadikan bahasa pemersatu umat Islam sedunia, sekaligus identitas ideologis. Ia juga bersejarah karena pernah menjadi bahasa pengantar kemanjuan peradaban moderen. Tapi saya tidak ingin menggunakan dalih itu untuk membandingkan kemuliaan bahasa Arab dan bahasa-bahasa lain.

Dengan membuang kemungkinan adanya maksud politis di balik penyakralan bahasa Arab (yang akan meninggikan derajat bangsa pengguna bahasa itu), masih tetap merupakan hal riskan bila bahasa Arab difigurkan sebagai ‘entitas yang berdiri sendiri dengan segala kemuliaan dan kebesarannya’, karena figur semacam itu mengundang keangkuhan.

Bahasa Indonesia punya sifat berbeda: ia tidak berdiri sendiri, melainkan penyatuan dari banyak sekali akar bahasa, baik lokal maupun internasional. Melayu, Jawa, Sunda, Bugis, Belanda, Portugis, Inggris, Cina, dll. Bagi mereka yang mengikuti serial Naruto, tentu paham perbedaan besar antara kekuatan Indra Otsutsuki (kekuatan kesendirian) dan Ashura Otsutsuki (kekuatan kebersamaan).

 

III

Dengan menulis ini saya terdengar seperti melakukan desakralisasi. Entahlah, tapi, Umar bin Khattab pernah melakukan hal rasional yang sama, ketika beliau berhaji dan hendak mencium Hajar Aswad. Beliau berkata: “Kamu hanyalah batu biasa. Seandainya bukan Allah dan Rasul-Nya yang menyuruhku menciummu, takkan mau kumenciummu.”

Umar memberi saya pijakan rasional, untuk berani memandang segala sesuatu sebagaimana adanya, sebelum memberinya tempat yang sakral. Kesakralan itu pun hanya boleh datang karena Allah dan Rasul-Nya, bukan karena alasan-alasan bikinan manusia.

Bahasa Arab dalam enam ribu enam ratus enam puluh enam ayat dalam al-Qur’an bisa jadi sakral. Bahasa Arab ‘yang ini’ memang tidak bisa dibandingkan dengan bahasa manapun di dunia, termasuk bahasa Indonesia. Namun bahasa Arab ‘yang itu’, yakni bahasa yang dibuat dan digunakan manusia Arab untuk berkomunikasi jauh sebelum turunnya al-Qur’an, tidak bisa disebut sakral, atau setidak-tidaknya, ia memiliki juga banyak kekurangan yang bisa dilengkapi oleh bahasa-bahasa lain di dunia, termasuk bahasa Indonesia.

Saya punya banyak identitas, yang menuntut saya memelajari dan memelihara banyak bahasa. Sebagai seorang muslim, saya mesti belajar bahasa Arab—dengan kepentingan tertinggi untuk memahami kitab suci saya, dan mendalami agama rahmat saya. Saya juga warga negara Indonesia, maka saya harus berbahasa Indonesia (lisan dan tulis) dengan baik dan benar. Saya juga anggota Suku Sasak, maka pada kawan sesama Sasak sendiri, saya harus mencoba berkomunikasi tetap menggunakan bahasa Sasak, dan pelan-pelan mengenalkan bahasa Sasak dengan cara melarutkannya dalam tulisan-tulisan saya.

Dengan uraian itu, saya telah mencoba memetakan penggunaan bahasa: pada siapa saya harus menggunakan bahasa apa. Saya tidak akan mencampuradukkannya, kecuali dalam rangka berlatih penguasaan bahasa lain, bukan demi meleburkan diri dalam identitas yang hybrid.

 

IV

Lagipula, sejak dulu saya berpikir bahwa saya lebih suka mendengarkan dan mempelajari bahasa-bahasa Nusantara dibandingkan bahasa asing. Lambat laun, saya semakin senang dengan bahasa-bahasa yang tersingkirkan oleh bahasa mainstream, dan peduli pada bahasa-bahasa kuno yang hampir punah. Kematian bahasa berarti kematian budaya, dan itu menyakitkan. Bukti-bukti keanekaragaman ciptaan Tuhan ‘terhilangkan’ oleh manusia.

Semakin ke sini, saya semakin perhatian pada bahasa-bahasa kemanusiaan. Misalnya, bahasa Kawan Tuli. Kenapa saya bernafsu memelajari bahasa bangsa lain, kemudian lupa memelajari bahasa universal Kawan Tuli yang banyak ada di sekitar kita? Tidak mengenal bahasa isyarat mereka adalah pintu kesulitan utama untuk memanusiakan mereka. Kerja-kerja komunitas, seperti Akartuli di Malang yang mengajarkan bahasa isyarat tangan, adalah kerja-kerja yang sangat menarik dan perlu disokong. []

Iklan
Standar

18 respons untuk ‘B. Indonesia atau B. Arab: Mulia Mana?

  1. Ulasan yg mndalam, rasional, dan lugas. Meskipun sllu terkait dan tdk bs lpas dr sudut pndang agama yg dianut, tp sy suka. Lgian wajar, krn Ical kan emang sarjana hukum Islam, 😀

    Iya jg ya, kita justru krap gak peduli dg bahasa para tuli, atau setidaknya menyokong grakan2 mmanusiakan mnusia itu.

  2. Saya termasuk orang yg sependapat dengan ulasan ini. Selain masalah bahasa apa atau bahasa mana yg paling agung. Karena bagiku bahasa apa pun itu sama saja fungsu utamanya adalah sebagai sarana komunikasi. Selain itu, saya malah tertuju pada penggalan kalimat mengenai umar bin khotob ketika menciun hajar aswad. Terlebih jaman sekarang banyak orang menyakralkan sesuatu hanya berdasarkan anggapan beberapa manusia. Seperti misalnya banyak orang yg berziarah ke tempat makam ulama, namun di bumbui ritual yg tidak sesuai tuntunan islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s