Santai

Perjumpaan

X-cara-mengatasi-momen-canggung-pas-lagi-nongkrong-eros

I.

Belakangan ini, setelah diceramahi Zaki di warung kopi, saya menjalani tirakat-tirakat yang sulit tapi mau tidak mau harus dijalani, semata agar jasmani dan rohani saya tetap sehat. Zaki, waktu menceramahi saya, tak menuduh saya tak sehat, tapi saya mengerti kekhawatirannya bila salah satu dari kami tumbang.

“Perjuangan masih panjang. Masa mau tumbang waktu muda?” Katanya.

Siap, kamerad.

 

II

Maka demi kesehatan jasmani, saya menjalani sedikitnya 4 tirakat.

Pertama, minum.

Saya harus minum air putih, minimal 8 gelas perhari. Selama ini saya selalu kekurangan air putih, dan kerap lupa memaksa diri meminum air putih. Saya lebih banyak minum teh dingin daripada air putih. “Pagi hari sebelum masuk makanan ke perut, kamu minum dulu, dua gelas.”

Siap, kamerad.

Kedua, ngepleng.

Yap, ini olahraga kecil tapi berat. Saya harus berada dalam posisi push up, hanya saja tidak turun naik, dan tidak bertumpu pada telapak tangan melainkan pada siku dan tulang tangan. Bertahan 20 – 60 detik. Kata Zaki, ngepleng bisa membentuk seluruh organ tubuh, bila rajin dilatih. “Bila perlu setiap selesai shalat, langsung ngepleng.”

Siap, kamerad.

Ketiga, berjalan.

Tirakat berjalan kaki ini murni inisiatif saya sendiri. Saya terbiasa berjalan jauh; dulu pernah saya berjalan dari kawasan Gadang ke kawasan Landungsari—cari sendirilah informasi jaraknya. Itu jauh sekali. Ke kampus, ke warung kopi, ke kos kawan, saya biasa jalan kaki, meski harus menempuh 3 – 4 kilometer.

Saya tidak bisa berlari; sepuluh meter saja saya sudah kalah napas. Tapi ketahanan fisik saya untuk berjalan jauh berani saya adu. Sepanjang berjalan, inspirasi menulis itu datang, dan renungan jadi lebih intens. Saya mengamati banyak dan berceloteh banyak (dalam pikiran). Saya berdialog dengan diri sendiri.

Selebihnya, saya memikirkan mata saya yang kok-ya-mulai-rabun-gitu-atau-otot-matanya-lelah. Saya tidak ingin memakai kacamata, maka mata harus saya rawat. Saya meminimalkan interaksi mata dengan layar telepon pintar; menyegarkan mata dengan melihat yang jauh-jauh dan hijau-hijau di kejauhan Panderman.

 

III

Tirakat selanjutnya bertujuan untuk tetap menjaga nalar tajam, sistematis, logis, dan bertumpu pada data. Saya menggunakan seluruh waktu kosong, kadang ketika berjalan kaki, untuk membaca buku. Saya sering menyimpan ponsel di kos, lalu berjalan kaki ke warung kopi, duduk di sana sendirian, membaca buku, sampai larut malam.

Saya meningkatkan jam baca, tapi tidak bisa melampaui jam baca Mas Hasnan (ini blognya). Abang saya yang sedang kuliah di Australia itu punya jam baca 7 jam sehari, duduk di Menzies Library dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore, atau terlewat sampai jam 7, dan bila belum selesai, dilanjutkan di rumah sampai jam 11 atau jam 12 malam. Dia harus membaca 8 – 15 essential reading per mata kuliah, yang satuannya bisa sepanjang 400 – 500 halaman (di luar bacaan penunjang yang lebih banyak).

“Kalau tidak membaca, tidak paham diskusi di kelas. Kalau tidak paham, tidak bisa membuat esai. Kalau tidak membuat esai, tidak bisa submit mengukuti ujian tulis 3 jam.” Katanya. Betapa gila! Tapi saya akui, sejak dulu dia gila. Waktu masih sarjana, saya ingat, banyak calon doktor berkonsultasi soal sisi teoritis disertasi mereka padanya.

Selebihnya, saya ‘membangun debat’ bersama teman-teman sekelas. Berdebat membantu mengasah nalar. Entah itu di kelas (sampai dosen pusing), atau di warung kopi kampus (sampai pelayan pusing), kami berdebat. Debat haruslah mempertarungkan wawasan dan pandangan luas. Tapi terkadang, debat kita jadi debat kusir juga akhirnya.

 

IV

Tirakat ketiga adalah tirakat rohani. Maksudnya bukan spiritual; ini tentang bagaimana saya merawat kejiwaan saya sebagai manusia. Tirakat ketiga ini saya lakukan dengan satu cara saja: “Perjumpaan”.

Ya, Perjumpaan.

Perjumpaan adalah hal yang biasa kita lakukan, tapi bila dilakukan secara sadar, perjumpaan akan menjadi lebih istimewa, dan lebih punya kekuatan. Maka di warung-warung kopi, pada teman-teman saya, saya perkenalkanlah istilah “Sekolah Perjumpaan”.

Apa itu? Saya akan menjelaskannya di tulisan sebelah. Sampai jumpa. []

Iklan
Standar

15 respons untuk ‘Perjumpaan

  1. Ping-balik: Sekolah Perjumpaan | A.S. Rosyid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s