Serius

Sekolah Perjumpaan

nongkrong-c90d90a854540e21ce1e978d5522699c_420x280

I

Di tulisan sebelumnya, sebagai usaha merawat kejiwaan, saya menyebut “Perjumpaan” sebagai kata kuncinya. Sebagai suatu tirakat utama. Perjumpaan yang bagaimana?

Perjumpaan adalah hal yang biasa kita lakukan, tapi bila dilakukan secara sadar, perjumpaan akan menjadi lebih istimewa, dan lebih punya kekuatan. Maka di warung-warung kopi, pada teman-teman saya, saya perkenalkanlah istilah “Sekolah Perjumpaan”.

Sekolah Perjumpaan adalah nama yang digaungkan oleh sekawanan anak muda di Lombok, terutama yang berada di lingkaran Abah H. Husni Mu’adz, dosen kondang di UIN-Mataram. Abah Husni mungkin penggagas pertama Sekolah Perjumpaan, untuk menyebut budaya “duduk santai bersama di suatu tempat (biasanya di rumah salah seorang kawan) dan ngobrol apa saja yang menghibur dan bermanfaat”. Di rumahnya, Abah Husni pun menggelar Sekolah Perjumpaan untuk anak muda, membincang ragam tema. Bisa dilihat di situs mereka ini.

Tentu saja, penggambaran saya terhadap Sekolah Perjumpaan di atas mungkin berbeda jauh dengan apa yang dilakukan oleh Abah Husni. Saya sendiri, karena berada di Malang terlalu lama, tidak sempat mengikuti Sekolah Perjumpaan manapun. Namun, saya mencoba mengamati dan menafsirkan publikasi teman-teman saya yang terlibat dalam Sekolah Perjumpaan. Bila penggambarannya tak tepat, mudah-mudahan tafsir saya melengkapinya.

 

II

Masyarakat Sasak adalah peminum kopi sejak zaman kuno, namun mereka menegak minuman hitam itu di rumah. Ruang sosial mereka bukan di warung kopi, melainkan di rumah, atau istilahnya, “di gubuk sendiri” (gubuk tidak melulu berarti rumah, melainkan kampung, desa, dll). Ini memungkinkan mereka mendapatkan hiburan tanpa melupakan silaturrahim, tetap saling mengetahui kondisi terkini.

Bila mereka hendak ngopi, mereka akan saling mencari ke rumah, karena di rumah pasti ada kopi. Dengan itu mereka bisa bersenang-senang sekaligus bertukar sapa dengan keluarga si kawan (orang tua, istri-anak). Masyarakat Sasak tahu bahwa kopi adalah minuman sosial, namun konsep warung kopi seperti agak tidak menggambarkan tradisi kekeluargaan gubuk Sasak.

Nah, Sekolah Perjumpaan memanfaatkan tradisi kekeluargaan tua itu. Perjumpaan biasa kemudian disegarkan menjadi “Sekolah Perjumpaan”, yakni perjumpaan yang dilakukan secara sadar untuk saling asah-asih-asuh, dengan suasana dan obrolan santai-positif. Sekolah Perjumpaan mendorong muda-mudi berkumpul di gubuk mereka, atau mengunjungi perkumpulan di gubuk lain.

Tujuan besarnya adalah persatuan dan pembangunan sumber daya manusia, yang pada gilirannya, akan membangun Lombok dimulai dari gubug sendiri. Dalam istilah Abah Husni, meriri gubug, merapikan desa kita sendiri, dimulai dari anak muda.

 

III

Di Malang, Sekolah Perjumpaan itu saya kembangkan secara berbeda karena konteks yang tak sama. Yang didorong dari Sekolah Perjumpaan di Malang adalah (aktivis) mahasiswa, dengan warung kopi sebagai ruang sosialnya. Dan, pertama-tama ia tidak sebagai ‘sekolah’, melainkan ‘tirakat’, yang sifatnya nafsi-nafsi.

Tirakat Perjumpaan artinya mendorong diri agar giat berjumpa, bersehadap, dan menjalin kelekatan dengan manusia di sekitar kita. Rajin bertukar temu, bertukar sapa, bertukar senyum, bertukar cerita, dan bertukar doa. Tirakat Perjumpaan mendorong kita memutus sekat-sekat, melumer kebekuan, dan “merajut keintiman” (silat al-rahim) antar sesama manusia—keintiman yang telah dikoyak oleh konsekuensi-konsekuensi logis globalisasi dan industrialisasi.

Sebagai seorang muslim, saya percaya manusia diciptakan dengan mekanisme fisik dan metafisik yang sempurna. Rumit dan panjang bila dijelaskan, namun jelasnya, manusia tidak terdiri dari fisik semata. Ada dimensi energi yang menguar dari manusia, dan dengan dimensi energi itu manusia terhubung satu sama lain. Ada alasan mengapa kedekatan emosional melahirkan firasat—seperti ibu ke anak dan sebaliknya—tapi itu hanya gejala permukaan.

Intinya adalah, semakin dimensi energi tiap manusia terhubung, semakin kuat pula manusia dibuatnya. Orang-orang desa, atau yang dibesarkan di masa silam, biasanya lebih sehat di usia tua karena yang terjaga bukan hanya keintiman dengan alam, tapi juga dengan manusia. Budaya teknologis perlahan meringkus semua keintiman itu.

Dulu, transaksi belanja di warung sayur memang butuh 30 detik, tapi ngerumpinya 9 menit 30 detik. Dengan hadirnya budaya teknologis, keintiman itu diringkus dengan alasan bisnis efektif-efisien. Di Alfamart dan Indomart, kita disuguhi senyum, salam, dan sapa buatan. Manusia berhadapan dengan manusia lain dengan kehampaan transaksional. Keintiman itu menguap sejadi-jadinya. Angkot menjadi bisu oleh penumpang yang matanya terpaku layar ponsel, saat di masa lampau penumpang angkot biasanya akan pura-pura menjatuhkan sesuatu supaya menjadi alasan memulai percakapan.

Singkat kata: Tirakat Perjumpaan, pertama-tama, adalah upaya pribadi untuk melawan ‘kebudayaan hampa dan terputusnya manusia’ itu. Sebuah upaya yang penting dan sulit, karena kita harus melawan diri kita sendiri: rasa malu (yang lebih terasa sebagai malas) untuk bersihadap sepenuhnya dengan manusia, dan membiasakannya.

 

III

Bila es batu keintiman itu berhasil dipecahkan, selanjutnya lancar: Tirakat Perjumpaan bisa dengan mudah menjadi “Sekolah Perjumpaan” bagi mahasiswa.

Mahasiswa, bagaimanapun juga, hampir seluruhnya merupakan ‘kelas menengah’; mereka bukan proletar dan menikmati privilege berupa banyaknya waktu luang karena tidak harus bekerja banting tulang dan pusing soal nasib perut hari esok. Aktivis mahasiswa hari ini juga sama kelas menengahnya meski mereka mengaku menyuarakan aspirasi proletar.

Alangkah memalukannya bila privilege itu mereka gunakan dengan ongkang-ongkang kaki di warung kopi tanpa produktivitas—minimal yang bermanfaat bagi diri mereka sendiri, bila mereka tidak punya ide tentang sosialisme (bahwa privilege adalah amanah rakyat banyak yang mereka harus bayar dengan memperjuangkan kepentingan mereka).

Mendatangi warung kopi dengan penampilan necis dan menghabiskan waktu 3 – 4 jam untuk main kartu, bergosip, dan saling sanjung capaian materil? Apakah tidak ada cara bersenang-senang yang lebih baik?

Untuk itulah Sekolah Perjumpaan perlu digulirkan: meminimalkan ketidakproduktifan kelas menengah terpelajar. Baru kemudian Sekolah Perjumpaan dimainkan dengan level yang lebih tinggi: obrolan intensif-tematik untuk penyadaran, atau, merencanakan suatu gerakan sosial.

Sekolah Perjumpaan bisa dimuculkan sebagai ‘tren baru’ yang segar. Warung kopi bagi mahasiswa adalah tempat bersantai, dan bersantai adalah sebuah keharusan, tapi mengerikan juga bila bersantai adalah yang utama sementara kebermanfaatan hanyalah selingan.

Ucapan Cak Nun saya sukai: “Tidur adalah sebuah konsekuensi dari lelah, mekanisme untuk beristirahat setelah berjuang, bukan sesuatu yang dijadwal rutin.” []

Iklan
Standar

3 respons untuk ‘Sekolah Perjumpaan

  1. Ping-balik: Perjumpaan | A.S. Rosyid

  2. O.. jd skolah perjumpaan itu smcam kumpul bareng tmn2 di komunitas llu diskusi sesuatu yg bermanfaat gitu ya, lbih terarah dan menitikberatkan pd prinsip kbrmanfaatan gitu ya. Gagasan yg menarik jika diterapkan di zaman now yg udah tergerus oleh screen culture ini.

    Tp di perjumpaan ini tentu adalah kumpulan org2 yg punya visi yg searah..

    Mantap bro Ical, sukses dg sgla tirakatnya ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s