Santai

Mengakali Orang

gettyimages-538948070

Michael Moore

I

Sepanjang sejarah saya nge-kos, mungkin saya adalah ‘hantu’ bagi penghuni kos lain yang punya niat nakal. Saya tidak gampang diakali.

Pernah antara 2013-2014, saya nge-kos di Jetis, di sebuah kos sederhana. Pada mulanya damai, tapi kemudian kedamaian terusik. Beberapa penghuni kos senior mencoba mengakali aturan sumbangan bayar listrik dan air. Saya tahu mereka membawa properti lebih: setrika, televisi, penanak nasi dan air elektrik, dan lain-lain. Saya tidak punya semua itu.

Pembagian tanggung-jawab sumbangan seharusnya adil: mereka membayar 50.000, saya membayar 20.000, tapi mereka hendak meratakannya: semua orang membayar 35.000, dengan alasan ini itu yang dibuat-buat. Artinya, saya harus nombok 15.000, dan mereka berkurang tanggung-jawab 15.000.

Kan, kampret.

Saya menolak tegas, dan penagihnya selalu saya bikin repot. Saya (yang tak suka basa-basi) terus menerus mempertanyakan. Katanya aturan itu sudah disepakati, tapi kesepakatan dibuat tanpa melibatkan seluruh penghuni kos. Nama bapak kos dibawa-bawa, dan setelah saya konfirmasi, beliau tidak terlibat.

Para ‘elit penguasa kos’ itu, yakni penghuni sepuh, ‘mendudukkan’ saya, mengajak bicara. Saya ladeni, dengan syarat, semua penghuni hadir. Dalam pertemuan itu, sebelum sempat mereka berargumen, saya melabrak dengan banyak sekali data yang menyudutkan (Saya memang terbiasa melakukan ini: diam, tapi mengamati, mengumpulkan data, sehingga pada suatu jika saya disudutkan, saya bisa menghajar balik habis-habisan).

Akhirnya, pembayaran tetap 20.000 buat saya, dan 50.000 buat mereka.

Ini bukan soal duit: bagaimanapun duit 35.000 sebulan bukanlah jumlah yang terlalu besar. Tapi di sana ada kemungkaran: kelompok kecil yang mencoba mengakali kelompok lain. Mereka masih muda dan berani mengakali. Bagaimana ketika besok mereka menduduki posisi strategis di masyarakat? Kalau sejak dini mereka tidak diberi sinyal, bahwa kejahatan pasti akan ada yang melawan, apa jadinya?

Seperti kata Mas Reza Nufa: “Kebanyakan orang berani menjadi momok bagi yang inferior. Sedikit yang berani menjadi momok bagi yang superior.” Ya, seperti Nabi Musa yang berani menjadi momok bagi Fir’aun, saat Fir’aun hanya berani menjadi momok bagi rakyatnya.

Bila menjadi momok bagi kebodohan dan pembodohan kolektif (baca: kemungkaran) memang diperlukan, saya bersedia.

 

II

Saya dengan senang hati merekomendasikan pada teman-teman sekalian, nama Michael Moore untuk ditonton film-filmnya. Buat saya, Michael Moore adalah ‘momok’ bagi peradaban kapitalis dan negara penyembah pasar bebas; negara yang tidak lagi melayani rakyatnya, namun menindas.

Michael Moore adalah seorang yang humoris-sarkas dalam mengekspresikan kepedulian sekaligus kejijikannya pada Amerika. Pria gendut-gondrong ini membongkar praktek penghisapan industri atas kaum pekerja, kebohongan dan kejahatan di balik manisnya janji-janji perusahaan asuransi kesehatan, dan betapa bobroknya kebanyakan sistem pendidikan di dunia.

Dengan film-film dokumenternya, Michael Moore membiarkan data berbicara. Ia menampung aspirasi banyak rakyat Amerika serta kenyataan-kenyataan mengerikan yang tidak dibicarakan media mainstream. Menegaskan pemihakan pada rakyat tidak membuatnya lupa cover both side: Michael Moore nekat mewawancarai lawan, mengorek motif dan modus. Tidak jarang ia diusir paksa kala meliput.

Tapi jelas, Michael Moore hendak membongkar akal-akalan orang yang merasa superior dengan segala aksesnya akan penguasaan, yang berusaha menghisap, membodohi, membohongi, orang-orang yang mereka anggap inferior.

Menonton film-fim Michael Moore membuat saya bersyukur masih tinggal di Indonesia yang sebegini mudahnya untuk hidup. Pemerintah kita tidak terlalu menindas, tapi dalam banyak aspek masih harus terus dilawan.

Di Indonesia, film-film bernada sama seperti Michael Moore diproduksi oleh Watchdoc, tentu dengan Bang Dandhy Laksono yang pernah berkeliling meliput persoalan-persoalan rakyat dalam “Ekspedisi Indonesia Biru”, juga beberapa dokumenter politik di negeri ini. Cari saja di youtube, gratis download, banyak.

Untuk memperluas referensi, bisa juga dicari dengan kata kunci tertentu, seperti dokumenter Orde Baru, dokumenter pembunuhan Munir, dan lain sebagainya. Bagi yang tidak doyan baca buku, nonton film-film pilihan adalah salah satu cara menambah wawasan dan sudut pandang. []

Iklan
Standar

29 respons untuk ‘Mengakali Orang

  1. Yg sy suka dg bro Ical slh satunya adlh cara ia memandang suatu isu atau menyoroti suatu isu atau ap pun yg dia amati atau prihatinkan, sllu ada pesan menyentak dan inspiratif. Ditulis dg grammar yg cermat dan narasi yg santai tp cerdas menyentak (gak ada typo jg; kali ni) membuat pembca merasa bhwa Ical adalah tipikal pendobrak yg tak blh diremehkan.

    Lihat sja ceritanya di atas, ia memang oknum yg tak gampang untuk diakalin.

    Tks utk rekom Michael Moore nya ya, langsung tak kepoin ni.

    Smngat trus bro Ical dlm mmbri warna dan inspirasi bg kita semua.

  2. “Saya tahu mereka membawa properti lebih: setrika, televisi, penanak nasi dan air elektrik, dan lain-lain. Saya tidak punya semua itu.”

    Iya. Abang hanya perlu punya harga diri. 😅

    Moore 📝

    Hidup momok! (😅)

  3. Saya juga termasuk orang yang gak mudah dikibulin sih. Hehehe.
    Karena pada dasarnya emang kritis, jadi kalo ngerasa ada yang salah atau gak bener, saya pasti komplain 😅

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s