Santai

Menggagalkan Pernikahan Sahabat

IMG_20180328_114105_HDR.jpg

Foto korban.

 

1.

Akhirnya, membuka WordPress lagi. Lama tak bersua dengan mengomentari kiriman teman-teman, juga tidak mengirim tulisan. Saya merasa malas sekali berinteraksi dengan aplikasi bersimbol “W” di layar ponsel saya, entah kenapa. Sebenarnya sebagai seorang narablog, saya agak malu juga. Tapi mau bagaimana lagi?

Sudahlah. Hari ini saya ingin bercerita tentang bagaimana saya berusaha menggagalkan akad nikah teman saya di Lombok. Di dalamnya ada trik agar prosesi akad seseorang berjalan tidak lancar. Ceritanya lumayan seru buat dibagi. Cekidot!

 

2.

Saya punya dua sobat karib di Lombok, teman sepenempelan, selalu bersama-sama. Namanya Muammar ‘Beko’ dan Umam ‘Mbek’. Pertemanan kami abadi, dan sangat banyak konyolnya. Terlalu banyak kenangan.

Meski demikian, tidak pula selalu mulus. Pertengkaran terakhir (dan terpanjang) adalah antara saya dan Umam, ketika musim “aksi bela-bela” yang pertama. Dia begitu mengutuk Ahok, sampai di luar batas wajar menurut saya. Akhirnya saya menegurnya, dan kami berdebat, kemudian putus komunikasi. Kami tidak bertegur sapa selama dua tahun.

Unik, kan?

(apanya!)

IMG-20180329-WA0010.jpg

Saya memeluk Umam dari belakang, dan Beko menggamit lengan saya dari samping. Kami bukan homo.

Sampai akhirnya, tanggal 27 Maret kemarin, Umam menelepon saya. Suaranya lembut, ramah, dan seperti berusaha menahan bahagia. Saya tahu sejak detik pertama, kesumat itu sudah lama hilang. Hingga akhirnya, dia bilang begini: “Gang, saya mau nyampaiin kabar.”

Saya langsung menyahut santai dan yakin. “Kamu mau nikah, Mbek? Tahu saya.”

Di seberang, suara Umam terdengar kaget. “Tahu dari mana?”

Jadi, dua hari sebelumnya, saya bermimpi. Dalam mimpi itu, saya melihat pelaminan kosong. Waktu itu saya tidak tahu maksudnya apa, tapi telepon Umam siang ini membuat jelas artinya.

“Diberitahu ‘Datu’. Selamat ya bro, akhirnya menikah juga. Kapan akadnya?” Tanya saya. Saya harus menabung dan mengatur jadwal supaya bisa menghadiri akad nikahnya. Seorang sahabat harus datang waktu akad, bukan resepsi.

Tapi, dengan nada tanpa dosa Umam berkata: “Besok pagi.”

Saya kaget. “Sialan!”

Sudah lama kami bertiga membuat prediksi, bahwa yang akan menikah pertama kali itu adalah Umam, lalu Beko, lalu saya. Umam akan menikah lebih dulu, ya, saya sudah tahu, tapi tidak besok pagi juga, kan!?

 

3.

Singkat cerita (setelah ketinggalan pesawat sore itu—ya, itu menyedihkan), saya berangkat tanggal 28 Maret (esok paginya), penerbangan pertama. Di Bandara Lombok, saya dijemput Beko. Ternyata, Beko sudah pulang dari Dompu empat hari yang lalu, mengambil cuti, karena keinginan yang begitu tiba-tiba, tak tertahankan, dan tak ia mengerti. Rupanya itu pertanda batin sobatnya akan menikah. Ada-ada saja cara Tuhan memberi kabar.

Saya belum mandi, dan berencana mandi di rumah mempelai laki-laki saja. Saya sudah dianggap bagian dari keluarga di sana, jadi mandi di rumah Umam menjelang akad nikahnya bukanlah masalah.

Umam tinggal di Desa Dasan Baru, Pringgarata, Lombok Tengah. Desa itu sangat Sasak, banyak kisah lucunya, banyak sejarahnya, subur alamnya, ramah warganya, dan terpisah dari desa-desa lain, dikelilingi sawah dan perkebunan. Sesampai di rumah Umam, jam 10.30, Umam seperti sudah menunggu. Ia masih mengenakan sarung dan kaos oblong. Rupanya baru selesai membantu begawe. Tradisi setempat, ketika akad, yang diselenggarakan hanya begawe becik (kecil). Di rumah Umam tidak dipasang terop atau apapun. Umam pun santai.

IMG_20180328_103443_HDR.jpg

Umam, masih santai, setengah jam menjelang akad.

IMG_20180328_104224_HDR.jpg

Gotong royong angkat dulang makanan ke masjid.

IMG_20180328_104244_HDR.jpg

Angkat dulang ~

Kami bersorak, rumah ribut. Ada acara berpelukan lama-lama. Luruh semua masalah di antara saya dan Umam. Wajahnya ceria. Saya sungkem padanya, karena dia sudah akan menikah, dan kami pantas menyebutnya tuaq (paman). Saya juga sungkem pada ibundanya, yang sudah sepuh tapi masih enerjik itu. Inaq Tuan, kami menyebut beliau.

Sesudah saya mandi, giliran Umam yang bersiap-siap. Pakaiannya akadnya nanti terlihat sederhana: sarung, kemeja putih, jas, dan songkok. Saya dan Beko diminta langsung menunggu di Masjid saja, karena akadnya akan dilaksanakan di sana.

Nah, di tengah perjalanan ke masjid, Beko berbisik: “Kamu mau ngerjain Umam nggak?”

“Dikerjain gimana?”

“Dibikin supaya akadnya ndak lancar.”

Saya menatap Beko lekat-lekat. “Serius? Bisa?”

Beko mengangguk kuat-kuat. “Bisa. Caranya …..”

Beko membisiki saya triknya, yang cukup mudah sebenarnya. Karena Beko masih berdarah abdi dalem kesultanan Bima, bergaul dengan para bergajul di komplek penjara Dompu, wajar saja bila si jangkung ini punya ilmu aneh. Dua kabupaten itu memang kental dengan ilmu-ilmu maghribi semacam itu. Beko berbisik, saya mangut-mangut, berdebar.

 

4.

Setelah menunggu beberapa saat, teras masjid sudah penuh dengan warga. Para sepuh duduk di barisan khusus, warga tua muda punya barisan sendiri. Prosesi akad nikah dilaksanakan di tengah. Umam adalah ketua pemuda desa, dan menikahi anak kepala dusun yang tidak lain adalah paman jauhnya. Warga kampung banyak yang hadir.

Setelah menunggu beberapa saat, Umam pun datang, dari gerbang masjid, bersama istrinya.

Screenshot_2018-03-28-11-52-11_com.miui.gallery~01~01.png

Umam tiba di masjid, bersama istri.

Screenshot_2018-03-28-11-50-31_com.miui.gallery.png

Umam sudah duduk di belakang meja akad.

IMG_20180328_113852_HDR_1522209060412.jpg

Barisan sepuh ~

Saya turun dari masjid, mengarahkan Umam supaya naik ke masjid dari sisi tempat kami duduk. Umam menurut, Beko tertawa licik. Segera setelah Umam naik ke masjid, Beko melaksanakan ilmunya, yang simpel itu:

  1. Sepasang sandal Umam dijejerkan rapi,
  2. Sebelah sandal Umam dibalik arahnya, saling membelakangi,
  3. Kemudian sandal yang telah dibalik arahnya itu, dibalik posisinya: dari yang menghadap atas, dibuat menghadap bawah.
  4. Selesai.

“Nggak pakai-pakai doa?” Tanya saya pada Beko.

“Bacakan shalawat saja.” Beko nyengir.

Gila, pakai shalawat buat urusan amoral begini.

“Ada yang lebih permanen, Gang!” Seru Beko lagi.

“Apa itu? Bagaimana?”

“Bawa setengah batok kelapa ke lokasi proses akad, dudukin. Akad itu ndak akan lancar sebelum kamu bangun dari duduk!” Beko bercerita dengan mata berbinar-binar. Setan sudah mengambil alih jiwanya. Rupanya dia sakit hati didahului menikah oleh Umam.

IMG_20180328_121817_HDR.jpg

Sandal sudah dibalik setengahnya!

IMG_20180328_120706_HDR.jpg

Akad dimulai!

Dan benar saja! Ketika prosesi akad dimulai, aura aneh tiba-tiba menguar. Akad berbahasa Sasak itu keliru dilafalkan bahkan oleh mertua Umam sendiri. Pihak wali salah mengucap akad sampai empat kali. Tiba kemudian giliran Umam, yang langsung salah sejak kata paling pertama. Warga yang hadir ribut, senang, menyoraki prosesi yang keliru-keliru itu.  Umam keliru hingga tiga kali. Proses itu saya rekam dan sudah diposting di instagram saya.

Saya melirik Beko, yang tertawa puas. Hentikan ini.

Beko angkat tangan. Baiklah. Dia turun dari masjid, mengembalikan posisi sandal seperti semula. Akad dimulai lagi, dan lancar!

“Sah!” Warga bersorak. “Alhamdulillah!” Umam semringah, menatap mata istrinya gembira. Tatapan itu berbunyi kira-kira begini: setelah ini, kita akan rajin beribadah.

Saya tidak percaya trik itu ternyata bisa berhasil. Mulanya saya menyangka itu kebetulan, tapi ternyata tidak. Saya mengonfirmasi trik serupa pada banyak teman. Di kampung-kampung tertentu, setiap kali ada prosesi akad, bahkan ada pemuda yang bertugas menjaga sandal mempelai pria supaya tidak dijahili. Siapa tahu ada mantan yang masih sakit hati, kan?

Beko gila, pikirku. Besok, kalau dia menikah, saya akan mengerjai dia. Dan, ketika saya menikah, saya akan bawa sandal saya ke meja akad.

Screenshot_2018-03-28-12-00-46_com.miui.gallery.png

Wajah puas setelah usil.

5.

Kami masih bisa tertawa-tawa sampai tadi, namun tawa itu tersumpal ketika Umam mulai menyetor hapalan 30 ayat surat al-Baqarah yang disyaratkan istrinya. Umam mentartil al-Qur’an, dengan menyayat hati.

Umam adalah yatim sejak tahun 2014. Ayahnya meninggal tak lama setelah ayah Beko meninggal. Tahun itu, saya mendapati 7 sahabat saya kehilangan ayahnya. Meski Umam anak bungsu yang tidak terlalu harus menjadi tulang punggung keluarga seperti Beko yang sulung (kakak-kakak Umam ada banyak, dan semuanya sudah mapan dalam ekonomi), saya tahu Umam perih kehilangan ayahnya. Ia berusaha membanggakan almarhum.

Maka ketika membaca al-Qur’an, Umam bertahan menahan gugu, dan ia tak mampu.

Umam menangis. Satu dua kali, pembacaan al-Qur’an itu berhenti. Hanya ada suara isak, napas sesak, tapi ia berusaha bertahan. Warga senyap tanpa kata. Bahkan Beko mengusap matanya yang mulai berlinang. Umam mungkin sedang mengenang orang yang paling ia inginkan kehadirannya ketika akad.

Selesai prosesi itu, Umam dan istrinya berkeliling, menyalami para sepuh, kemudian ibunya. Dipeluknya Inaq Tuan sangat lama, keduanya bersimbah air mata. Berikut kakak-kakaknya, sungkem begitu lama. Berikut warga lain. Berikut kami. Kami berpelukan. Kami haru.

“Rajin-rajin ibadah, Mam.” Kata Beko. Umam tertawa.

 

6.

Umam menikah dengan muridnya sendiri, sewaktu ia mengajar di Aliyah. Istrinya itu sekarang mengambil jurusan Tafsir Hadits di UIN-Mataram, semester empat. Umam tergelak lucu ketika bercerita: “Setelah akad, istri saya sudah ditunggu teman-teman kuliahnya di rumah, harus segera mengerjakan tugas kelompok.” Ia juga ‘mengambil’ istrinya dengan cara melaiq, semacam menculik, dan kejadiannya konyol, akan saya ceritakan kapan-kapan. 

Karena Bapak dan Mamak saya tidak sempat hadir waktu akad, tiga hari kemudian Umam membawa istrinya ke rumah saya, memperkenalkannya pada Bapak dan Mamak. Mamak semringah, dan saya merasakan sinyal bahaya. Sahabatmu yang paling kental itu sudah menikah. Kamu kapan? Kalian mandi bareng, tidur bareng, makan bareng, masa menikahnya tidak dekat-dekatan juga? Begitu kira-kira bunyi sinyal itu.

Saya sendiri pulang ke Lombok selama seminggu, mengurus perpustakaan bersama Ikhwan, Wahyu, dan Bang Yusron. Sempat ikut pelatihan parenting yang diadakan sembari berlibur di Gili Gede, bersama Madrasah Alam Sayang Ibu. Saya pulang beberapa hari sebelum acara begawe beleq (besar) atau resepsinya Umam. Saya merasa, menyaksikan teman saya akad, itu sudah sangat cukup.

Sangat cukup.

Suatu saat, saya akan jadi paman lagi, dan dengan itu saja saya sudah sangat bahagia. []

Iklan
Standar

56 respons untuk ‘Menggagalkan Pernikahan Sahabat

  1. Bisa gitu yah. Hahahaha
    Mungkin karena percaya akan hal itu, jadi bisa saja terjadi.
    Btw, setiap akad di lombok seperti itu yah bang.
    Dan terakhir, kapan nyusul? Hahahaha

    • ……….. Komentar ini sekilas seperti hendak bilang: “aku nangis kamu keduluan, semoga cepat nikah, Bang.” 😂

      Menyayat, Kak, andai Kak Ayumi di sini 😃

      • Hahaha, ya secara tidak langsung.
        Serius bang aku terharu aja bacanya, ya ampun.. iya andai aku di sana duduk dekatan sama kamu ya bang. Hahha

        Selamat menempuh hidup baru, buat kawan mu ya Bang. Dan kemudian kawanmu yang nomor dua aku doakan juga cepat menyusul, setelah itu kutunggu cerita bagianmu bang👌
        Amin.amin.amin

      • Nanti aku sampaikan salamnya Kakak buat dia, sekaligus doa kecil yang berharga itu 😄

        Emm …. Kisahku sepertinya akan jadi novel deh. Ahahaha.

  2. Saya baca sampai selesai…
    Menarik dan jahil!! 😂😂
    Teman lagi akad di usilin..terlalu..😁😁
    Semoga umam dan istri samawa..amin..
    Bang Ical insya Allah segera menyusul. Amin

  3. Wah …. heran saya ada trik seperti itu ya? seperti irrasional tapi kok bisa terjadi ya?
    Hmmm … Saat bang Ical nanti menikah dan membawa sandalnya ke dalam masjid, mungkin si Beko atau Umam ada trik lain lagi bang he he he

  4. Sudah curiga Beko dou mbojo dan itu abang ntika seromena ternyata haha.

    Poin ke 5 sudah mengalir air mata 😦

    Selamat bang Umam, kalau lahiran anak pertama pamerin sepuas2nya sama Ical tu

  5. Waw, kok bs terganggu gitu ya, ap mmang gara2 sandalnya dikerjain gitu? Hbat bnget klau bs gitu, wlau sprti gak msuk akal, hee…

    Trnyata si Beko yg gangguin pernikahan Umam, kirain td Ical. Ternyata bs jg klian ganggu tmn sendiri ya, haha…coba si Umam tahu ttg blog ini, kesel gak dia ya?😂

    Oya, judul postinganya pkai kta gagal berasa kurang pas sih, soalnya kan gak gagal nikahnya😀

  6. Ternyata ini cerita lengkapnya !

    Kak Ical jail benerr.. wkwkw
    😂😂😂😂
    Triknya mau saya praktekin ke mantan, eh tapi sayang dianya udah nikah :v

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s