Santai

Menulis Dengan Apa Adanya

IMG_20171020_120742_HDR.jpg

Gerimis di Atas Kertas dan Cakwe Sastri 🙂

1.

Buku saya, Gerimis di Atas Kertas, menerima tiga kritik yang paling sering disebut, lebih dari 5 kali, dimulai bahkan oleh editor sendiri.

Kritik pertama, bunyinya sederhana: “Kenapa semua ceritanya happy ending, dan semua tokoh utama akhirnya menikah?” Dan tiap kali menerima kritik itu, saya selalu membatin: “Memangnya kenapa?” Rupa-rupanya, ada yang tidak puas dengan happy ending semacam itu.

Mereka mungkin terbiasa membaca karya sastra yang melukiskan kepahitan hidup, dan manusia musti siap menghadapinya. Adalah perlu menjadi satir yang gusar, tak pernah puas, dan siap sinis pada kemapanan. Bahwa cinta harus berliku, sakit, dan kerap kali kandas. Tiga cerita dalam satu buku ujungnya bahagia semua, buat mereka kurang seru.

Tapi apa yang saya lihat di sekitar saya tidaklah seburuk itu. Saya justru melihat bahwa pernikahan adalah upaya merayakan cinta dengan cara yang baik. Saya melihat orang yang menikah ‘berani’ menantang ketakutan mereka sendiri tentang hidup yang sulit setelahnya. Pernikahan mereka tidak akan selalu lancar, jelas, tapi mereka selalu belajar. Apakah karena sudah selazim itu, maka pernikahan jadi tidak seru? Tapi, apa faedahnya melawan kelaziman dengan motif semacam itu?

Kritik kedua bunyinya lebih penting: “Kenapa konflik dalam cerita ini tidak cetar membahana?” Maka, saya selalu otomotis membatin: “Memangnya setiap orang selalu punya babak-konflik yang cetar membahana dalam hidupnya?”

Kebanyakan kita tidak punya cerita hidup yang cetar membahana: seru, rapi, dan memuaskan penyimak. Saya takut, yang terjadi ketika kita tidak memiliki kisah seru adalah, “Kita ‘berlari’ ke ruang-ruang fiksi dan memuaskan ketidak-punyaan kita di sana.” Sehingga lama-lama, kita menganggap bahwa hidup harus sefiksi itu, dan karya fiksi harus pula sefiksi itu.

Semua cerita butuh konflik, dan saya pun menyediakan konflik (yang editor pun bahkan baper dengan itu), tapi memang rupanya tidak terlalu tajam dan intensitasnya kurang tinggi. Itu kritik berharga, dan saya belajar lagi mengemas konflik. Tapi, saya tetap merasa, intensitas konflik bukanlah unsur utama dalam karya fiksi.

IMG_20171004_202805_HDR.jpg

2.

Saya punya orientasi menulis yang berbeda. Buat saya, tulisan fiksi adalah pengamatan dan perenungan kita atas hidup. Saya melihat kehidupan sebagai sebuah surga cerita dan teladan. Tinggal kita mengamati, menyimpulkan, dan menyajikan.

Orientasi saya menulis hanyalah untuk ‘menceritakan’ kekayaan budaya dan sejarah masyarakat Lombok, karenanya, meskipun konfliknya tidak tajam, orang menikmati karya saya karena di dalamnya ada pengetahuan baru tentang keunikan manusia dan masyarakat. Saya juga selalu menyertakan dinamika kemanusiaan, karena latar belakang saya di kampus dulu tidak bisa dipisahkan dengan yang semacam itu.

Saya belajar dari Andrea Hirata yang sebenarnya bisa menulis dengan teknik ini-itu dalam sastra, tapi memilih untuk tidak menggunakan semuanya, melainkan menulis “Sebagaimana orang Melayu bercerita.” Buat saya, pilihan Andrea adalah ‘pemurnian’ atas proses kepenulisan. Mendalami teknik dan teori ini itu adalah wajib, ya, tapi kita harus merdeka dari semuanya. Gunakan sesuai keperluan, atau ciptakan yang baru. Ini yang disebut “Sastra eksperimental”.

Apa tujuan kita menulis? Sastrawan menulis untuk memelihara kualitas kesusastraan, tapi saya bukan sastrawan. Saya hanyalah manusia yang suka mengamati dan menceritakan apa yang saya lihat. Selama alurnya tidak cuma memikat namun juga memudahkan pembaca memahami cerita, diksinya kaya tapi tidak membuat pening kepala, dan ada kebaikan yang bisa didulang dari sana, bagi saya, sebuah tulisan sudah layak diberi apresiasi tinggi.

 

3.

Kritik ketiga adalah kritik yang sejak dulu saya coba hapus tapi tetap sulit. Bunyinya begini: “Mengapa semua tokoh terasa sempurna?”

IMG_20170910_163013_HDR.jpg

Silakan 🙂

Saya selalu tertawa mendengarnya. Jawabannya sederhana: mungkin karena saya sempat gandrung dengan Tere Liye. Tokoh-tokoh Tere Liye, kan, memang serba sempurna. Belakangan, ketika saya banyak belajar dari Pak Cik Andrea, saya mencoba menulis dari sisi logis kehidupan, dan tokoh cerita justru punya kans untuk memberi inspirasi karena mereka tidak sempurna.

Meskipun dalam cerita-cerita itu, saya menampilkan ‘aib’ para tokoh di menjelang akhir tulisan, seakan berkata, “Mereka tidak sesempurna yang kamu kira”, tetap saja sisi istimewa itu tidak berubah. Hanya saja, saya sudah berhasil menampilkan ‘kesempurnaan jenis lain’. Apa yang saya maksud dengan jenis lain itu? Yah, silakan membaca karya saya , hahaha.

Pada intinya, saya hanya berharap dan memotivasi, agar kita tidak takut menulis. Jangan takut keliru, jangan takut dengan penilaian orang lain yang ‘merasa tahu banyak teori ini itu’. Murnikan proses kita menulis, menulislah sesuai keperluan kita menulis. Tapi, jangan juga menggunakan alasan itu untuk malas belajar dan sedikit membaca. Bila ingin menjadi penulis, selain berlatih, yang harus dilakukan adalah banyak belajar dan banyak membaca. []

*tulisan ini sebagai materi diskusi menulis di WAG “Prosatujuh”, 15 April 2018.

Iklan
Standar

46 respons untuk ‘Menulis Dengan Apa Adanya

  1. Wah semangat bang Ical tetaplah berkarya. Klo menurut saya mendengar kritik bukan berarti harus menjadi seperti yg di inginkan si pengkritik. 👍👍👍

    Mohon doanya agar saya bisa melahirkan sebuah karya. Hehehe

  2. Sy gak bnyak tahu atau mmperdlm ttg karya2 fiksi aplgi mmbri kritik yg memadai. Klau selevel Ical sy rasa tentu sdh bnyak pnglman, jd wjar sampai bs menerbitkan novel sprti itu.

    Yah, kritik yg dtng trhdap buku Anda itupun sy kira wjar sj, krn pmbca punya konsep atau sudut pandang yg beragam. Itu smua jg dipengaruhi oleh pnglman2 hidup msing2 atau karya2 sastra terdahulu yg pmbca bca. Bagi sbgian org, memang konflik atau ending yg tdk variatif bs sj terkesan membosankan.

    • Benar, Bang. Saya sebenarnya sedang ‘belajar mempertemukan diri’ dengan karya fiksi populer dan sastra. Saya berusaha membuat rasa yang pas. Karena itulah kritik jadi berguna, tapi tidak selalunya bisa dituruti 😃

    • Heh, Hilma??? Hilma ngeblog??? Hahahahahaha 😂

      Abang tantang kamu yaa: kalau blog kamu bisa terisi 20 tulisan, abang follow blog kamu, dan abang perkenalkan ke semua orang 😁

  3. Ping-balik: [Book Review] Gerimis di Atas Kertas | Once Upon A Word

  4. Wah, jadi penasaran sama bukunya bang Ical ini.

    Pada intinya, saya hanya berharap dan memotivasi, agar kita tidak takut menulis. Jangan takut keliru, jangan takut dengan penilaian orang lain yang ‘merasa tahu banyak teori ini itu’. Murnikan proses kita menulis, menulislah sesuai keperluan kita menulis. Tapi, jangan juga menggunakan alasan itu untuk malas belajar dan sedikit membaca. Bila ingin menjadi penulis, selain berlatih, yang harus dilakukan adalah banyak belajar dan banyak membaca. []

    Dan terima kasih untuk paragraf terakhir ini bang, memotivasi saya dalam menulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s