Santai

Aroma Karsa: Anugerah dan Hal-Hal Gaib

IMG_20180421_215426_HDR.jpg

1.

Aroma Karsa karya Mbak Dee Lestari sudah lama selesai kubaca. Tapi, baru kali ini ada tenaga untuk menuliskannya. Bukan review, bukan resensi, saya tidak pandai menulis itu. Saya hanya menceritakan perasaan dan perenungan saya ketika dan setelah membacanya. Sejujurnya, novel itu benar-benar candu, sehingga butuh agak lama buat saya, dan tidak mudah, untuk menulis setelah emosi diaduk-aduk olehnya.

Aroma Karsa bicara tentang “Manusia yang diberi anugerah”—dalam hal ini, indera penciuman yang sangat tajam. Jati Wesi dan Tanaya Suma punya kepekaan yang jauh di atas batas normal. Jati, misalnya, bisa menebak datangnya hujan badai karena perubahan bau di udara.

Jati Wesi belajar mengenali bau bangkai manusia hari per hari, terhitung sejak hari pertama manusia mati, hingga pembusukannya. Eksperimen itu memungkinkan untuk dilakukan karena Jati tinggal di Bantaran Kali, di dekat gunungan sampah TPS terakhir, tempat segala yang tak diperlukan dan tak diinginkan dibuang oleh manusia Jakarta, termasuk jabang bayi atau korban pembunuhan. Dengan itu, Jati bisa membantu polisi menemukan jasad seorang warga yang tertimbun belasan meter di gunungan sampah. Jati bisa membaui mayat itu.

2.

Aroma Karsa mengingatkan saya pada film Farfume: The Story of a Murderer. Tokoh utama dalam film itu, Jean-Baptiste, sama seperti Jati: dibesarkan di kawasan pasar kumuh pinggiran kota di dataran Prancis kuno. Hidung keduanya diperkuat, dilatih, dan dibiasakan untuk menemukan harum-haruman di tengah bebauan busuk. Mereka memperkaya ‘kosakata aroma’ dalam olfaktorium kepala mereka dengan terus menerus mengenali semua bau di sekitar mereka.

Mereka jenius dalam meramu wewangian, dan mendapatkan kesempatan untuk belajar meracik parfum. Keduanya sama-sama menciptakan parfum dengan pesona wangi yang sangat kuat (bahkan menyihir) dari aroma tubuh perempuan menawan. Bedanya, Jati Wesi menghirup aroma seluruh tubuh Tanaya Suma, perempuan yang dia cintai, dan menentukan racikan minyak esensialnya dari bahan lain. Sedangkan Jean-Baptiste, membunuh banyak perempuan untuk diekstrak wangi kulitnya menjadi minyak esensial.

Bisa dikatakan, mereka adalah himpunan kisah manusia yang dianugerahi. Ada keajaiban. Mereka spesial. Di dunia ini, orang seperti mereka benar-benar ada. Selain penciuman, ada yang spesial dalam pendengaran. Telinga mereka punya “titi nada mutlak”, peka pada suara. Bila kamu melempar batu ke tiang listrik, mereka bisa menentukan nada yang dihasilkan dari benturan batu dan tiang itu, apakah bernada D atau F minor. Telinga mereka bisa menangkap bunyi-bunyi terjauh atau tersembunyi, bisa mengenali degup jantung gugup, marah, khawatir, senang, dsb, hanya dengan berdiri satu atau dua meter dari lawan bicaranya.

3.

Kita menyebut orang-orang semacam itu spesial, karena kita tidak memiliki apa yang mereka miliki. Kita hanya memikirkan sisi spesialnya, tapi lupa bahwa setiap yang spesial menuntut resiko. Memang manusia mau enaknya saja. Bisa terbang, bisa teleportasi, tanpa berpikir semua keistimewaan itu punya akibat setimpal. Film Project Almanac contohnya: sekelompok anak muda menciptakan mesin waktu, bermain-main dengannya, dan menyebabkan kekacauan.

96eb542541bdd51f5f277892f828dafa.jpg

Saya merasa, Ahjumma ini cocok memerankan sosok Raras Prayagung.

Apakah Jati Wesi dalam Aroma Karsa itu hidup normal? Tidak. Hidungnya kuat dan ia menjadi tokoh utama karena terlatih dengan keras kehidupan di Bantaran Kali. Ia ditindas oleh raja preman di sana. Tanaya Suma lebih tersiksa lagi: sejak kecil ia sering harus mual dan muntah-muntah saking tajamnya bebauan yang membelesak di hidungnya. Ada kesakitan yang harus mereka hadapi, sebelum mereka dikagumi.

Mereka yang memiliki telinga “titi nada mutlak” di masa kecilnya merasakan bising yang lebih dari rata-rata manusia normal. Mereka yang kerap mendapati bayangan tentang masa depan, harus menderita karena mengetahui hal-hal yang lebih baik tidak ketahui. Kaum indigo bukan saja bisa melihat isi gaib, tapi beresiko diganggu oleh mereka yang tak kasat mata itu. Aku yang bukan indigo pun, sekarang, saat sedang menulis ini, merasa terganggu karena sejak tadi dipanggil-panggil sesuatu (seseorang?) di balik plafon.

Menurut saya, manusia memang kecanduan akan sesuatu yang luar biasa, sehingga mereka tidak menyadari, bahwa sisi biasa mereka sebagai manusia sudah sangat luar biasa. Jauhkan angan tentang kemampuan super: bisa bernapas pun merupakan keajaiban.

Andai manusia bisa mendengar bagaimana bunyi tulang mereka berderak ketika tumbuh, di masa pertumbuhan janin hingga dewasa. Bagaimana suara darah mengalir di bawah kulit mereka, dan sel-sel otak mereka menari menunggu dilatih. Bagaimana gumpalan energi bekerja di setiap senti organ fisik mereka, terhubung dengan energi di luar diri mereka. Semua itu, bila bisa disaksikan, adalah sebuah keajaiban. Mungkin karena itu manusia wajib senantiasa bersyukur.

4.

Mbak Dee Lestari menunjukkan riset cemerlang tentang farfum dan dimensi olfaktorium. Beliau kursus di Perancis bagaimana meramu parfum. Menulis memang membutuhkan modal intelektual yang tidak murah, dan itu dibayar Mbak Dee sepadan dengan karya yang begitu apik. Diksinya sangat kaya: saya mesti berkali-kali melingkari dengan pensil kosakata asing dan mengeceknya di KBBI. Anehnya, kekayaan diksi itu tidak mengganggu pembaca.

Penggambaran sangat hidup dan detail, dari Bantaran Kali, pindah ke pabrik dan kantor Kemara, ke kediaman Raras Prayagung, lalu ke Desa Dwarapala Gunung Lawu. Menurut saya, agak kedodoran di episode Jati belajar ke Prancis, agak terburu-buru. Juga, adegan-adegan kilas balik ke masa lalu Jati dan Suma beberapa kali di menjelang akhir. Agak terburu-buru, sehingga saya kurang menikmati. Hanya saja, alurnya bisa saya tangkap.

Misteri. Itu kata kunci yang saya senangi dari Mbak Dee Lestari. Mbak Dee pandai mencomot tema sederhana (kopi, roti, lukisan), tapi mengangkatnya dengan cara yang cerkas, membuatnya terasa istimewa dan penuh sisi misteri yang mengagumkan. Madre, misalnya bercerita hanya tentang adonan biang. Namun rentang sejarah 70 tahun dengan kait kelindan asmara antar-etnis dan orang-orang tua yang enerjik, Madre menjadi spesial.

Saya selalu suka karya fiksi semacam itu.

 

5.

Dalam novel ini, ada babak petualangan Jati Wesi, Tanaya Suma, dan Raras Prayagung menaiki Gunung Lawu, mencari Puspa Karsa. Mereka bersentuhan dengan sebuah desa gaib, tersembunyi, tak kasat mata, bernama Dwarapala, dihuni oleh manusia-manusia Nusantara dari peradaban kuno, yang masih memegang kebudayaannya, dan masih dekat dengan energi spiritual yang bertaburan di alam, yang memungkinkan mereka hidup dengan kekuatan yang tidak mungkin dipercayai manusia modern.

IMG_20180421_220305_HDR.jpg

Saya bertanya-tanya: apakah Mbak Dee merisetnya? Di mana? Mbak Dee menggunakan wacana lazim tentang misteri Gunung Lawu. Misalnya, klaim bahwa Lawu merupakan gunung tertua, atau kepercayaan bahwa burung jalak merupakan jelmaan penghuni Lawu yang kerap menunjukkan jalan bagi pendaki yang tersesat. Tapi oleh Mbak Dee mitos itu diberi arti baru: pendaki bukan ditunjukkan jalan, namun ‘sengaja dialihkan’ agar tidak menemukan desa tak kasat mata itu.

Ketika Mbak Dee meriset dan menulis, apakah Mbak Dee percaya desa semacam itu ada? Terlepas dari itu, cerita tentang desa tak kasat mata yang tersembunyi dan masih berbudaya kuno bukanlah cerita asing. Hampir di setiap daerah punya cerita tentang itu. Saya sendiri mempercayainya.

Di Lombok Utara, ada kawasan hutan yang dipercaya sebagai lokasi desa tak kasat mata itu. Namanya Desa Besari. Desa yang sama saja dengan desa-desa lain di Lombok, hanya saja tak kasat mata, dan masih tradisional. Ada masjidnya, ada pasarnya (entah sistem tukar barangnya bagaimana), dan terkadang dari kawasan itu terdengar suara seperti banyak orang berbincang padahal tidak ada orang, atau bau masakan.

Desa itu ‘disembunyikan’ Allah pada masa penjajahan Kerajaan Karangasem, Bali, agar warganya tidak dizalimi. Warga Desa Besari sendiri yang meminta. Suatu waktu yang tidak bisa ditentukan, beberapa orang dari Desa Besari terlihat berkeliling dan menjual barang-barang kerajinan tangan yang dikerjakan dengan teknik kuno Sasak (tikar, tas jinjing, tenun). Bahkan, bibi saya punya tikar yang dibeli dari salah seorang penduduknya. Bibi saya bisa menjelaskan perbedaan pola anyaman tikar yang biasa dibuat orang Sasak 50 tahun terakhir ini, dengan yang dibuat oleh warga Desa Besari.

Saat hari raya, beberapa warga di kampung-kampung sekitar kedatangan tamu yang mengaku masih saudara. Mereka berasal dari Desa Besari, dan mampir sebentar untuk bersilaturrahmi. Mereka di sana sebentar saja. Tidak makan, tidak pula minum.

Ada seorang ustadz muda, imam mushalla dari Desa Kerta, di sebelah Desa Besari. Ia pernah memimpin salat subuh di sebuah masjid yang tumben dilihatnya. Setelah salat subuh, ia sempat ngobrol dengan jama’ah yang berbahasa Sasak halus. Setelah turun dari masjid, seluruhnya tiba-tiba lenyap dan berubah menjadi kebun. Ia lari tunggang langgang. []

Iklan
Standar

35 respons untuk ‘Aroma Karsa: Anugerah dan Hal-Hal Gaib

  1. Merasa ada beberapa typo di tulisan blog ini. Tapi tidak mengurangi kenikmatan membaca seperti biasanya..

    Desa tak kasat mata ya,
    Percaya, tapi mungkin hanya mereka yang dianugerahi juga berjiwa petualang yang bisa menemukannya ya 😂

  2. Oom tentang desa tak kasat mata itu, menuntunku pada serial Avengers, tepatnya di desa Wakanda.

    Tapi sih aku malah jadi pingin baca Aroma Karsa, walo udah dispoilerin sama dirimu. Wkwkwkw kampret beut sih bilang ndak pande merepiew tapi ngasih sopiler 🔘🔘

    • Jangan-jangan Wakanda itu kecamatan, yang di Aromakarsa itu kelurahan Bang 😅😅

      Lha justru karena ndak pande merepiu makanya ngasih sepoler 😅😅😅

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s