Serius

Mengapa Saya Ber-Muhammadiyah

kh-dahlan

KH. Ahmad Dahlan

1.

Sebentar lagi Ramadhan tiba, sedangkan hasrat saya menulis masih belum pulih. Mungkin saya takkan membuat “Diary Puasa” di blog seperti tahun lalu, meski saya punya ide harus menulis apa. Tapi hasrat saya masih belum tertolong. Mungkin saya hanya akan merevisi naskah novel yang telah selesai dua tahun lalu itu—takkan mudah. Setelah Ramadhan, saya ingin memperjuangkan naskah itu untuk penerbit.

2.

Mengapa saya tidak menjadi NU, NW, atau menjadi netral saja. Kemarin, teman kos saya (yang NU tulen dan baru lulus pesantren) mempertanyakan pilihan saya itu.

Imej Muhammadiyah di sebagian besar warga akar rumput masih tipikal: kaku, menolak tradisi, dan menyimpang dari masyarakat—pendek kata, sesat. Di Madura bahkan berkembang lelucon: penduduk Madura terdiri dari 99% Islam dan 1% Muhammadiyah.

Banyak buku tentang Muhammadiyah, sehingga catatan ini tidak berpanjang lebar menjelaskannya. Saya cuma ingin bercerita tentang pilihan saya, dan keyakinan saya bahwa ada perbedaan besar antara ‘menjadi anggota Muhammadiyah’ dan ‘ber-Muhammadiyah’. Ber-Muhammadiyah itu lebih esensial.

3.

Saya memilih Muhammadiyah karena kekaguman saya pada Mbah Dahlan (KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah). Beliau ulama yang berani mengubah keadaan, dimulai dari tempat tinggalnya di Kauman Jogjakarta. Setidaknya ada tiga kondisi yang dihadapi Mbah Dahlan: (1) keterbelakangan umat Islam dalam pendidikan dan kesejahteraan umum; (2) pemuka agama yang terlena oleh status quo dan jumud dalam pemikiran; dan (3) penjajahan Belanda.

Sepulang dari Makkah, Mbah Dahlan muda melakukan banyak hal yang tidak lazim. Beliau mendirikan langgar (musala) sendiri, dan mendidik anak muda dengan sistem pengajian yang tidak biasa: suasananya egaliter dan lebih banyak berdiskusi; sedangkan teks agama (al-Qur’an, hadits, turats) selalu dikaitkan dengan kenyataan sosial di sekitar mereka.

Lahirlah teologi al-Ma’un yang terkenal itu: bahwa Islam bukan sekedar tentang ibadah dan fashion, namun juga melakukan aksi nyata pada masyarakat yang terpinggirkan (mustadh’afin). Mbah Dahlan membangun madrasah, gratis, mengangkat anak-anak dari keluarga melarat sebagai murid. Mereka dijemput, dimandikan, diberi pakaian bagus dan makanan enak, kemudian diberi fasilitas pendidikan.

Keuntungan bisnis kain Mbah Dahlan menjadi biaya operasional agar murid tidak perlu membayar. Dari situ lahir konsep ‘amal-usaha’. Ketika bisnis kain beliau tidak bisa menopang, Mbah Dahlan menjual perabotan rumahnya. Semua itu agar putera-puteri terbaik bangsa bisa mengenyam pendidikan terbaik, dan bisa bersaing dengan Belanda atau priyai berduit yang tidak peduli nasib bangsa.

4.

Aksi beliau tidak serta-merta diterima. Madrasah Mbah Dahlan dicurigai karena menggunakan meja dan kursi, dan mengajarkan pelajaran-pelajaran umum sekolah Belanda. Beliau dianggap meracuni pemikiran anak muda—murid-muridnya kritis dan berani berbeda sikap dari arus utama. Fatwa-fatwa Mbah Dahlan meresahkan—beliau “Membolehkan umat tidak melaksanakan tahlilan” (bukan melarang), karena beliau tidak ingin tahlilan dianggap sebagai kewajiban yang harus dilaksanakan bahkan dengan cara berhutang.

Puncaknya adalah ketika Mbah Dahlan mengusulkan perbaikan arah kiblat, yang menurut hitungan ilmu falaknya, masjid-masjid di Jogjakarta tidak sempurna menghadap Kakbah. Mbah Dahlan memulainya dari langgarnya sendiri, dan itu dianggap subversif. Setelah beberapa ketegangan, langgar pertama Muhammadiyah itu dirusak oleh warga, dan dirobohkan. Sangat menyedihkan. Keputusan Mbah Dahlan untuk bergabung dengan Budi Utomo demi belajar mendirikan organisasi, dihujat masyarakat (Budi Utomo dikenal sebagai ‘kumpulan orang Islam yang fasik-munafik’ saat itu). Mbah Dahlan dikafir-kafirkan seluruh Jogja, bahkan oleh keluarganya sendiri. Beliau diasingkan.

Hari ini, muncul kritik: Muhammadiyah tidak semenggebrak dulu, bahkan cenderung stagnan. Sebenarnya, Mbah Dahlan sedikit khawatir Muhammadiyah menjadi melempem dalam gerakan sosial karena sibuk mengurus tetek bengek administrasi daripada mengedepankan ruh gerakan sosial. Kekhawatiran itu terjadi. KH. AR. Fachruddin, ulama terkemuka Muhammadiyah, pada medio 80-an mencap Muhammadiyah sebagai ‘gajah bengkak’ yang lamban merespon persoalan.

Amal-amal usaha Muhammadiyah hari ini (lembaga pendidikan, kesehatan, dll) agak birokratis, capital-oriented, dan kehilangan esensinya. Amal Usaha diharapkan menopang gerakan agar masyarakat bisa mengakses fasilitas secara terjangkau bahkan gratis, tapi pada 2014, saya masih mendengar ada tokoh Muhammadiyah yang bilang: “Sekolah Muhammadiyah harus mahal supaya berkualitas. Orang miskin ya silakan sekolah di tempat lain.”

Menyakitkan sekali.

Belum lagi mendengar soal pejabat-pejabat korup di amal-amal usaha yang ada. Dari guru saya, Dr. Pradana Boy, mengalir banyak info-info kelas A. Mengerikan kalau kita mengetahui fakta-faktanya. Orang hanya tahu bagus tidaknya suatu institusi dari iklan di brosur atau video, yang jelas-jelas rekayasa, palsu, dan menyembunyikan kenyataan sebenarnya.

5.

Padahal, yang diinginkan Mbah Dahlan adalah, Islam yang penuh vitalitas, gairah hidup umatnya menyala. Islam yang mendorong umatnya terlibat dalam agenda-agenda pemberdayaan masyarakat. Mbah Dahlan ingin Muhammadiyah melahirkan atau diisi oleh orang-orang yang sedikit bicara banyak bekerja; sedikit menimbun dan banyak memberi; punya visi perubahan dan berkemajuan; yang dicita-citakan adalah umat yang berdaya, pergaulan yang egaliter, sistem ekonomi-politik yang tidak menghisap dan menindas.

Inilah yang saya sebut sebagai ‘ber-Muhammadiyah’. Menekuri cita-cita esensial dari Muhammadiyah yang dibayangkan oleh Mbah Dahlan. Sebuah usaha yang terus menerus menjadi pribadi yang di-ideal-kan Mbah Dahlan.

Di tubuh Muhammadiyah ada dua mazhab yang tanpa sadar saling bertentangan. Mazhab pertama meyakini bahwa menjadi Muhammadiyah berarti menjadi Dahlanis. Mazhab kedua meyakini sebaliknya, tidak perlu menjadi Dahlanis, cukuplah ber-Muhammadiyah sebagaimana adanya sekarang.

Saya telah lama memutuskan melangkah di mazhab pertama. Menjadi Dahlanis berarti menjadi dinamis, patuh pada asas tapi bebas mencari bentuk. Geliat bukan fokus pada fikih tapi pada gerakan sosial. Sekalipun orang Muhammadiyah tulen, tapi kalau pemikiran atau sikap hidupnya mengkhianati rasa kemanusiaan, tak segan saya kritik.

IMG-20180413-WA0024~01.jpg

Bersama Kang Hilman Latif, selepas tadarus.

6.

Apakah menjadi Muhammadiyah membuat saya harus sepenuhnya patuh pada organisasi sampai-sampai mengabaikan kehendak bebas dan pilihan-pilihan pribadi? Tentu tidak.

Saya tetap pribadi merdeka. Muhammadiyah memang tidak membolehkan tahlilan, misalnya, tapi bila saya diundang tahlilan, saya akan datang. Alasannya banyak, tidak perlu diperdebatkan. Saya selalu suka menghadiri acara shalawatan atau zikir bersama, tenggelam dalam irama-iramanya. Saya lebih suka menekuni mistikus-tasawwuf, yang kurang lazim di Muhammadiyah, namun digandrungi di kalangan nahdhiyyin.

Semua itu adalah kesukaan saya sebagai pribadi yang bebas, tidak bisa dikekang. Bagaimanapun, Muhammadiyah adalah gerakan, bukan agama. Di Muhammadiyah, dibolehkan untuk berbeda, sepanjang kita memahami keputusan Muhammadiyah dan mampu menjelaskannya pada masyarakat ketika kita memilih berbeda. “Di Muhammadiyah, keputusannya begini dan begini karena begini, tapi saya memilih begitu dan begitu karena begitu.” Seperti itulah.

7.

Sampai hari ini saya tidak memiliki kartu anggota Muhammadiyah.

Saya dibesarkan di IMM, diasah di JIMM, dididik di Pendidikan Majelis Tarjih (lembaga ijtihad hukum dan pemikiran Muhammadiyah). Saya mempelajari fatwa-fatwa Muhammadiyah tentang aqidah, ibadah, dan mu’amalah. Saya murid Dr. Pradana Boy, salah satu pemikir muda Muhammadiyah. Bersama beliau saya terlibat mengkaji, memikirkan, dan merawat Muhammadiyah, terutama generasi mudanya, para mahasiswa.

Apakah dengan itu semua, memiliki kartu anggota Muhammadiyah menjadi penting?

Di tahun 2012, saya baru mengerti bahwa tradisi keluarga Mamak saya sangat Muhammadiyah. Kakek saya, Haji Kallu, adalah pendiri Muhammadiyah di Lombok Timur. Bapak saya, setelah menikah dengan Mamak, sempat mengabdi di Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Mataram, selama dua periode, menjabat anggota Majelis Pendidikan.

Tapi, Bapak saya (yang keluarganya sangat NW), sedari mula memang tidak suka keterikatan yang mengekang. Bapak saya menggemari sisi spiritual Islam. Beliau mistikus, seorang salik tasawwuf. Nampaknya, kecenderungan untuk tidak ingin terkekang itu saya warisi juga. []

Iklan
Standar

14 respons untuk ‘Mengapa Saya Ber-Muhammadiyah

  1. Overall tidak ada yg perlu dikomentari, penulis master lulusan muhammadiyah asli. Intinya sih, Ya mau ijtihad di golongan manapun, yang penting tidak saling menyalahkan dan empan papan dalam menempatkan mana yang wajib, sunnah, mubah, haram, makruh dalam agama.

    • Benar, Kangmas. Ada yang lebih dalam dari sekedar persoalan hukum Islam, ketika kita berhadapan dengan “pendapat yang berbeda” dalam agama. Kesabaran, kebijaksanaan, keluasan ilmu, diuji di situ. Pada akhirnya semuanya bukan tentang “kamu salah dan aku benar.” 😃

  2. Waw, bro Ical sllu tampak logis dan bgtu kuat argumentasinya dlm mengurai suatu isu yg disoroti. Dari dulu sih sy myakini klau bro Ical itu seorang Dahlanis.

    Pmikiran2 Anda terlihat lbh detil, dan ya itu td, tdk gampang dikekang. Luwes, dinamis, unik, selalu dinamis. Beda dr kebanyakan tmn atau tokoh Muhammadiyah yg sy tahu.

    Jujur, sy tdk bnyak tahu ttg detil kedua pemikiran bsar di Indonesia ini baik ttg NU maupun Muhammadiyah. Mmang sih NU lbh terkesan mudah utk diterima, menurut org awam sprti sy, non muslim pula.

    Dari 2 bloger sy follow, satu yg berhaluan NU (Mas Nuhid), satunya lg ber-Muhammadiyah (Bro Ical), sy melihat ciri khas masing2 mski sulit sy urai dg kata2..tp keduanya (sjauh yg sy tahu) sama2 cerdas.

    • Terima kasih Abangda Desfortin. Tulisan ini hanyalah curhat belaka. Saya ingin merdeka dalam memilih, dan saya ingin memilih yang selaras dengan kemanusiaan. Agar damai hidup kita yang beda-beda ini, agar setara hidup kita yang tinggi rendah ini 😃

      • Sama-sama, bro Ical.

        Curhat tp berisi…keren skli lg.

        Ok, bro Ical. Sukses sllu ya.
        Oya, andai kita tinggal berdekatan, sy mau loh kopdaran dg Anda sesekali. Penasaran aj dg Ical in real life, jd bukan hnya ngebaca tulisan2 kerennya, hee ….

  3. Entahlah saya harus berkomentar apa. Tapi secara garis besar saya sepemikiran dgn ana bang ical.

    Klo secara organisasi wlo tdk terikat saya memang NU, tp secara garis besar keyakinan saya lebih sejalur dgn muhamadiyah.

    Ikut curhat. Salam kenal dr saya bloger newbie 😂😂😂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s