Santai

“La Riru” Membaca Saya

30605061_1324804000997149_4026190853956435968_n

[“La Riru” adalah bahasa Bima yang berarti ‘seperti awan’. Ia adalah judul cerpen yang ditulis oleh Bapak Mas’ud Bakry, seorang sastrawan Bima, di era 70-an.  “La Riru” bercerita tentang seorang bocah joki pacuan kuda dengan kuda andalannya, La Riru, yang pada pertarungan final ‘diminta mengalah’ pada lawannya karena permainan politik di balik pertandingan. Tulisan ini adalah sumbangan diskusi bedah cerpen yang diselenggarakan Komunitas Akar Pohon, Kota Mataram, 22 April lalu]

1.

Komentar positif untuk cerpen, yang biasa saya dengar, adalah apik, seru, keren, luar biasa, bagus, dan beberapa yang lain. “La Riru” mendapatkan komentar sebagai cerpen yang indah. Benar, ketika membacanya, saya merasakan keindahan yang sama ketika dulu membaca cerpen Kuntowijoyo, “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga”. Keduanya membincangkan sisi-dalam manusia dengan cara yang bersahaja.

Diksi dalam cerpen Bapak Mas’ud Bakry ini tidak rumit dan muluk-muluk—memudahkan saya yang tidak terbiasa membaca cerpen sastra. Namun sejak awal, dengan tidak berpanjang kalimat, Bapak Mas’ud Bakry mampu menggambarkan suasana dan saya langsung bisa menangkap watak tokoh.

Seorang bocah yang berpembawaan tenang dan berani, namun penyayang. Ia digambarkan seperti dewasa sebelum waktunya: melangkahi kaki adik-adiknya yang sedang tidur, tidak banyak menanggapi kicauan bapaknya, dan berbicara seperti biasa kepada orang yang lebih tua darinya: Bang Ara. Ia lebih hangat saat menyapa kuda. Jiwanya ada di sana.

Alangkah senangnya bila suatu masyarakat memiliki tunas muda berkualitas seperti bocah joki kuda itu. Di usia 10 tahun ia berani datang mengadu nasib ke kantor desa, menemui Dae Geno (menawarkan diri menjadi joki kuda miliknya). Tidak dijelaskan apa motivasinya, kondisi ekonomi? Saya luput menemukan petunjuk terangnya dalam cerpen. Tapi terlepas dari itu, kita bisa melihat makin hari kualitas generasi makin berbeda. Mentalitas, hari ini, dikembangkan dalam teknologi informasi, bukan dalam diri manusia sepenuhnya, seutuhnya. Baik tidaknya fenomena itu, ilmu sosial dan psikologi yang bisa mengudarnya.

2.

Saya merasa ada sedikit curcol Bapak Mas’ud Bakry dalam cerpen ini. Sedikit saya intip riwayat hidup beliau, ada fase ketika beliau sempat sekolah di Jawa namun harus berhenti karena kemauan orang tua. Entah beliau kecewa atau tidak, tapi, dengan menggambarkan bocah joki yang tidak sudi mengalah walaupun Dae Geno sudah memintanya kalah (yang pada akhirnya ia tetap tidak menang), saya merasa Bapak Mas’ud Bakry sedang meluapkan kekalahan masa lalunya. Kalah karena tidak berani menentang kemauan yang bukan kemauan dirinya. Kalah karena tidak bisa berdaulat atas hidup yang ia sendiri yang akan menjalaninya.

Dengan menulis tradisi pacuan kuda, yang sebagian besar masyarakatnya masih menaruh hormat pada sportivitas, Bapak Mas’ud Bakry seperti hendak menegaskan simpati kedaerahan dan lokalitasnya. Ia pernah melihat Jawa, lambang modernitas, yang dilematisnya, modernitas itu hanya berlangsung di permukaan, tidak merasuk hingga menjadi etika hidup. Yang masih berjaya tetaplah mental tradisional.

Itulah yang terjadi pada Dae Geno, yang secara lahiriah nampak maju dan beradab, namun masih menggantungkan nasib pada taruhan beresiko dan tidak terhormat, hanya demi mendapatkan perempuan. Ia sempat memposisikan perempuannya sebagai barang antik pelengkap/penegas keberhasilan ekonomi dan sosial (lelanang ing jagad), sehingga bersikap tak sabar dan tak rasional.

Meski kemudian ia sangat menyesal. Sisi manusia yang berfitrah kasih sayang dalam dirinya memecut penyesalan melihat si bocah joki yang cidera, kalah, sangat terluka dan kecewa. Saya pikir, apa yang terjadi pada Dae Geno adalah kelumrahan. Manusia kerap tersesat namun selalu akan menemukan jalan pulang. Jalan pulang itu dapat ditemukan (meski hampir selalu terlambat), hanya ketika manusia tidak menutup mata dari melihat cahaya.

Saya merasa, bukan saya yang membaca “La Riru”, tapi “La Riru” yang membaca hati saya. Hati yang masih sering kedapatan menjadi pengecut; yang sering kalah oleh dorongan tidak terhormat; dan yang sering terlalu gengsi mengikuti tanda cahaya. []

Iklan
Standar

11 respons untuk ‘“La Riru” Membaca Saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s