Usai?

1b2a72e16569a78e6ca43706bf21c326

Pemilu telah usai. Keributan mungkin belum akan usai (politik selalu bising, bukankah?), tapi setidaknya kita sudah bisa bernapas lebih lega. Masing-masing telah mengambil hikmah, begitupun saya. Ada hal-hal yang bersemi setelah pemilu kali ini; berupa pelajaran berharga tentang manusia dan cara berpikirnya.

Saya merasakan kebenaran tulisan almarhum Kuntowijoyo: kesadaran politik masyarakat Indonesia masih kuna. Konsep Ratu Adil masih kuat; masyarakat menggantungkan harapan pada satu sosok karismatik, dan sosok itu dianggap mampu mengubah keadaan. Kesadaran Ratu Adil muncul dalam kalimat-kalimat seperti: “Pilih yang paling sedikit dosanya!” atau “memilih untuk mencegah yang terburuk berkuasa!”

Kalimat-kalimat seperti itu tidak salah, hanya saja, realitas politik modern tidaklah sederhana. Kita tidak bisa bicara tentang orang baik dan orang berdosa: kita hanya bisa bicara tentang orang yang mengerti sistem, bisa teguh memegang komitmen dan berani melawan kemungkaran. Tapi di alam politik praktis, yang semacam itu utopis, tak mungkin ada. Prinsipnya balancing powers, dan untuk itu butuh ‘kesepakatan-kesepakatan balik layar’.

Antara siapa kesepakatan balik layar itu? Selain antar kekuatan politik, ada juga antar ‘negara’ dan ‘pasar’. Hasilnya harus win-win solution, menguntungkan (para elit dari) kedua belah pihak.

Maka di alam negara modern, sesungguhnya Presiden tidak berkuasa sendirian. Tidak ada pemimpin dalam arti klasik (yang berkuasa secara tunggal). Setiap presiden tidak berkuasa sepenuhnya. Setiap presiden berdiri di atas ide menyeimbangkan berbagai kekuatan dan kepentingan. Memilih yang paling kurang buruknya, atau paling sedikit dosanya—maksudnya apa? Moralitas individu berbeda dengan moralitas publik. Kita bicara buruk dan dosa yang bagaimana? Kita bicara baik dan pahala yang seperti apa?

Maka pintu masuk utama untuk memahami alam politik praktis adalah memahami strukturnya yang ril: di dalam alamn politik praktis ada pemain-pemain politik dan ekonomi, ada relasi-relasi kesaling-butuhan antara keduanya, kemudian dari situ ada lobi-lobi di belakang layar. Dalam berbagai lobi itu terdapat ancaman-ancaman, terdapat pula tawaran-tawaran. Presiden tidak bisa serta merta mengabaikannya.

Dan itu semua nyata, bukan sekadar bumbu film atau imajinasi konspirasi. Presiden Soekarno, Presiden Soeharto, Presiden Habibie, Presiden Gusdur, adalah orang-orang yang dimakzulkan secara keji karena pada suatu titik mereka mengabaikan kekuatan-kekuatan lain yang mencoba menawarkan lobi.

Guru saya, Pradana Boy ZTF, yang menjadi staf khusus kepresidenan selama beberapa waktu, telah melihat, bagaimana pertarungan politik di level elit sama sekali berbeda dengan apa yang ‘didongengkan’ di koran-koran (apalagi media sosial). Siapapun presidennya, realitas kompleks itu mendesak kebungkaman. Sekali lagi: siapapun presidennya. Guru saya membagikan cerita, salah satunya, bisik-bisik istana mengapa dan bagaimana Mahfud MD terbuang dari sisi Jokowi. Konfirmasi Mahfud MD di ILC masih terlalu sopan.

Karena sering mendengar informasi dari kantong-kantong rahasia, saya jadi sadar, sebagai orang awam, saya hanya mengkonsumsi sekitar 30% saja realitas politik negeri ini. Itu pun yang terangkat di media—belum termasuk kejadian-kejadian yang tidak (diizinkan) diangkat media. Saya jadi semakin tidak tahu apa-apa tentang negara ini—yang kelihatan baik-baik saja di media massa dan berbagai brosur pariwisatanya.

Itulah sebabnya saya kerap merasa lucu melihat keluguan dan kenaifan banyak orang tentang politik. Kalau komentar ngaco datang dari pendukung fanatik, it’s okay, goblok merupakan ciri lazim fanatisme. Tapi komentar datang dari ‘orang-orang pandai yang baik hati namun lugu’, yang senantiasa berpikir positif bahkan tentang politik. Kampanye anti-golput itu bagus, tapi menurut saya kampanye itu salah tanggap.

Menjelang pemilu, ungkapan yang paling sering muncul adalah: “Meskipun kedua calon bermasalah, golput bukan solusi.” Anggaplah begitu, tapi kita bisa membalik pertanyaannya: apakah itu berarti solusi satu-satunya hanya mencoblos?

Setelah mencoblos, apa? Setelah mencoblos, maksudmu kamu pengin kembali ke kehidupan nyaman imut-imut ngegemesin serba bahagia khas kelas menengah?

Molah bae.

Kampanye anti-golput menyindir golput sebagai bentuk ketidakpedulian. Saya langsung teringat sejumlah kawan aktivis yang telah berdarah-darah mengadvokasi rakyat, bertahun-tahun. Mereka berhadapan dengan realitas yang tidak diberitakan; realitas yang memakan korban; realitas yang tidak diketahui dan tidak dimengerti oleh kaum kelas menengah yang hidupnya serba tenteram; realitas yang memberi trauma akan politik praktis; realitas yang mengecewakan mereka berkali-kali. Memang mereka memutuskan untuk golput, tapi mereka siap berdiri lagi di barisan rakyat meski berkali-kali telah terluka dipopori senjata aparat dan preman sewaan. Alangkah tega tuduhan golput sebagai ketidakpedulian.

Tapi saya tidak mengkritik kaum anti-golput. Mereka tidak membaca dan menyimak kisah-kisah yang saya simak—yang kebanyakan tragedi. Mungkin karena itu saya sulit berpikir positif, sedangkan mereka mudah.

Anggaplah golput itu salah, tapi saya mengharapkan kedisiplinan berpikir. Jangan langsung lompat ke kesimpulan golput-tak-golput. Jawab dulu pertanyaan besarnya secara serius: memangnya, masa depan apa yang ditawarkan oleh dua calon yang sama-sama akan melanggengkan struktur kuasa modal di negeri ini? Masa depan apa yang kamu kira bisa ditawarkan para calon, sehingga warga hari ini harus memilih?

Ingat, dijawab secara serius, jangan retweet omongan orang. Jangan malas.

Memang kebanyakan kita kurang mengerti anatomi kritik. Kritik adalah, meminjam istilah Eyang Sapardi, “Bilang begini maksudnya begitu”. Terhadap kritik, kita lebih emosional menyikapi begini-nya daripada begitu-nya. Misalnya, setelah menonton film Sexy Killers, misalnya, bukan soal golput atau bahaya pencemaran lingkungan yang seharusnya kita cemaskan, melainkan “relasi kuasa modal”—dan hampir tidak ada kawan baik hati yang (bisa) serius membicarakan itu. Mereka terlalu naif dan lugu.

Tapi, sebentar lagi Ramadan akan tiba. Saya ingin kembali pada perjuangan-perjuangan yang gembira. Perlawanan-perlawanan sederhana. Tragedi tidak selalu melahirkan bitterness. Baik di Malang atau di Lombok, saya punya rumah dan teman untuk melakukannya. Inilah bentuk optimisme yang kami percaya. Selamat bagi yang golput, dan bagi yang optimis jangan mudah kecewa dengan perkembangan berikutnya. []

Standar

17 respons untuk ‘Usai?

  1. Waw, sangat bernas dan dlm skli. Ingin sy bantah tp gak cukup modal wlau hnya sekedar retorika. Tp ini sebuah tulisan yg tdk yes man, tdk sepihak, tp kritis analitis. Saya suka.

    Sy kdang berpikir, gmn ya klau seorang Ical sendiri yg duduk d istana… 🙂

  2. Hei, lama tidak terlihat di dunia blog, Bang. Apa kabar?

    Sekali muncul, topik yang diangkat menarik pula. Abang menyebut film Sexy Killers, ngeri sekali kongkalikong oligark dalam negeri ya, Bang.

    Tapi saya kemarin tidak golput, bang. Saya menggunakan hak pilih saya dengan pertimbangan yang cukup lama. Lama saya menimbang-nimbang, mau golput ataukah memilih salah satu paslon. Akhirnya saya memutuskan memilih, bahkan setelah saya menonton film itu… 🙂

    • Hai, abang Kurusertra a.k.a Mas Hilal 🙂

      Saya mampir sebentar di blog untuk ‘menyapa bulan puasa’ yang sebentar lagi tiba (meskipun tidak ada hubungannya, tapi saya merasa agak sakral).

      Alhamdulillah, Mas Hilal memilih. Saya sudah mengurus DPT, tapi tidak bisa (posisi saya di Malang). Saya terhalang beberapa administrasi. Adalah benar golput bukan solusi, tapi golput merupakan tindakan akhir, yang sebelum itu, menurut saya, seorang pemilih harus matang political views-nya.

      Demokrasi didesain untuk pemilih yang sadar, cerdas dan mampu mengawasi, Mas. Itu yang saya yakini. Demokrasi bukan sekadar hak pilih, tapi kewajiban mengawasi. Tapi tidak mungkin mengawasi kalau political views-nya tidak ada.

      Maka perdebatan tentang golput tak golput kemarin sesungguhnya bukan titik utama argumen, tapi batu loncatan saja (buat saya). Hanya saja, beberapa kawan hanya berkutat di urusan golput tak golputnya.

  3. Siapapun presidennya sama aja Cal,rakyat miskin susah cari kerja dan susah cari duit.
    Hidup harus terus berjibaku tapi semangat ga akan pernah hilang.
    Tulisan yang bagus Cal.

  4. Riyadi Ariyanto berkata:

    Terima kasih atas karya tulisnya ini Bang Ical. Menginspirasi dan menyemangati. Salam dari kami di Jember.

    • Hai, Mas Riyadi Ariyanto. Salam kenal. Senang membaca blognya Mas. Tulisannya simpel dan rapi. Saya suka. Tapi saya tidak bisa meninggalkan komentar. Saya tidak menemukan kolomnya 😅

      Saya asal Lombok. Mas Riyadi di Jember mana? Bibi dan kakak saya juga di Jember. Di Rambipuji 😃

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s