Shaming?

04_Confidence_Quotes_Quotes_A_man_cannot-1068x561

Saya tidak tahu ada berapa banyak orang yang masih membaca blog sampai tahun 2019 ini. Meski beberapa bulan lalu saya memutuskan untuk menutup blog pribadi, saya masih membaca sejumlah blog yang saya suka. Hanya saja, saya tidak meninggalkan komentar seperti biasa.

Beberapa narablog yang saya kenal telah kehabisan energi untuk menulis. Hampir seratus blog yang saya ikuti tidak beraktifitas selama setidaknya 7 bulan terakhir. Ternyata ada yang sudah tidak aktif selama 4 tahun; saya mengikuti blog itu 5 tahun yang lalu. Satu per satu saya cek isi blog-blog itu dan bila tidak terlalu penting untuk saya ikuti, saya berhenti mengikutinya.

Saya masih menulis, terus menulis. Saya menerbitkan esai-esai pendek di beberapa media online dan sesekali menulis jurnal. Saya belajar merapikan kalimat dan patuh pada kaidah-kaidah dasar menulis. Tapi saya tetap kecolongan, ada saja salah tik di tulisan saya. Ada saja kalimat saya yang nirsubjek.

Saya berlatih lagi. Mungkin tidak ada ujung bagi seorang penulis untuk berlatih. Bagi seorang penulis, berlatih identik dengan berkarya.

Mas Hasnan Bachtiar, mentor menulis saya, kembali dari studinya di CAIS ANU akhir 2018 lalu. Tulisannya semakin matang dan ia ‘menyindir’ saya habis-habisan karena tulisan saya yang, menurutnya, tidak berkembang. Ia dengan serius menganjurkan saya untuk ‘berhenti’ menulis esai-esai popular dan mulai menulis jurnal. “Kualitas tulisanmu masih buruk,” katanya. “Jurnal SINTA 2 pun tidak mau menerimanya.”

Itulah gaya Mas Hasnan dalam mendidik saya. Sedikit sombong, tapi sebenarnya perhatian. Kemarin saya kembali dilatih dasar-dasar academic writing oleh Mas Hasnan. Saya disajikan struktur dasar tulisan akademik yang ideal dan itu cukup membuat saya mengembuskan napas berkali-kali. Saya teringat semua tulisan saya di laptop dan merasa itu semua sampah.

Tapi saya tidak baper. Saya tidak surut. Saya mengakui tulisan saya buruk tapi tanpa harus merasa terpuruk. Saya tidak harus merengek protes pada Mas Hasnan, atas nama kebahagiaan saya sendiri, agar ia tidak berlidah runcing dalam memberi penilaian. Bukan karena saya tegar, tapi saya telah belajar untuk menghargai watak Mas Hasnan apa adanya. Saya tidak perlu malu karena toh yang dia sampaikan benar. Toh, saya belajar darinya.

***

Konteksnya sama seperti tindakan body shaming (BS) yang tidak jarang tertuju pada saya. Kalau saya tidak merasa malu dikatai gendut, tidak ada masalah, kan? Badan saya memang gendut. Alih-alih merasa tersinggung, saya belajar menerima diri dan bahagia apa adanya.

Konteks dari BS adalah ejekan dan ‘ejekan’ tidak sama dengan ‘ledekan’. Ejekan berbicara tentang kegiatan yang memang bermaksud menyakiti. Ledekan adalah ekspresi kebersahabatan. Saya mengerti bahaya laten BS; ada lidah di luar sana yang begitu kejam dan kampanye anti-BS berupaya membela korban. Idenya adalah dengan mendidik mulut pengejek.

Tapi, kampanye itu jadi terasa berlebihan karena ruang untuk bercanda menjadi semakin hilang. Tubuh yang dijadikan percandaan disamakan dengan ‘eksploitasi’ dan semua orang menjadi lebih sensitif terhadap tubuh. Seharusnya kampanye bergerak dua arah; adalah lebih penting untuk belajar menerima diri apa adanya dan merasa bahagia karenanya. Di tengah masyarakat kita ada ekspresi-ekspresi kultural yang bersifat jujur dan menuntut kejujuran; itu semua punya maksud positif dalam masyarakat berwatak komunalistik, yang mungkin sulit diterima oleh nalar masyarakat individualistik. Ekspresi kultural itu mendorong seseorang agar mampu menertawakan dirinya sendiri. Bila saya mampu melakukan itu, maka ruang bagi orang lain untuk menghina jadi tidak ada.

Kondisi gendut, tanpa leher dan kulit legam adalah untuk saya terima dan mesrai. Baru dengan demikian saya bisa menangkap nuansa kemesraan yang orang lain berikan pada saya. Diledek adalah bentuk silaturrahim dan itu baik.

Lagu “Gajah” dari Tulus mungkin contoh lagu yang melampaui kesadaran anti-BSLagu itu menekankan bahwa pembulian atas tubuh bisa dilawan dengan cara lain, yaitu mengapresiasi diri dengan sudut pandang yang lebih baik. Bila saya tidak bahagia dengan tubuh saya, bukankah itu artinya saya sedang mengeksploitasi diri sendiri? Eksploitasi itu harus dicegah luar dalam. Kampanye anti-BS baru bekerja di sisi luar saja. Tentu pendapat ini sependek penglihatan saya. []

Standar

4 respons untuk ‘Shaming?

  1. Aku sangat setuju untuk menerapkan memberi pelajaran untuk mencintai diri sendiri, orang ngomng memang terkadang menyakitkan, tapi bila kitanya udah mengerti dan mencintai diri kita dengan baik omngan yg ditrima jd msukan aja.

    • Tulisan ini menyarankan kita untuk melampaui kesadaran. Ada baiknya kita mengembangkan sejenis kejujuran, di mana pengakuan, penerimaan, dan penghargaan apa adanya pada diri sendiri adalah syaratnya. Dengan itu, rasa percaya diri bisa dimungkinkan. Dengan itu juga, body-shaming secara langsung akan ditempatkan di batas-batas yang sempit, hanya dalam konteks-konteks serius. Ruang untuk bercanda dan bermesraan secara manusiawi jadi lebih luas—sesuatu yang sebenarnya dipraktekkan oleh khazanah budaya Nusantara sejak lama.

      Berbahaya bila kampanye anti body-shaming justru membangkitkan sikap sentimentil yang tidak asyik—justru nampak kasihan.

    • Aku sepakat, Kakak. Sebagai anak kecil, aku dulu lebih merasa sedih bukan karena diejek hitam, tapi ketika ejekan itu diikuti dengan ‘menjaga jarak’ 😅

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s