Simanis

Rambut Diiket

Tepat awal puasa kemarin saya membantu penelitian Ma’arif Institute, yang ingin tahu masih seberpengaruh apa wajah moderat NU dan Muhammadiyah di tengah masyarakat. Jadilah saya mewawancara sejumlah orang, berhari-hari. Saya lantas harus mentranskrip hasil rekaman wawancaranya untuk diserahkan pada Ma’arif Institute.

Dua hasil wawancara terakhir saya putuskan untuk mentranskripnya di Kedai Pak De, di dekat Siguragura. Konon, kedai itu tempat nongkrongnya teman-teman Psikologi UIN; pertama kalinya saya mampir ke situ. Saya duduk di meja sebelah luar setelah memesan minuman susu berwarna ungu bercampur oreo (saya lupa nama minumannya), lalu mulai mentranskrip. Saat sedang asyik mentranskrip itulah, si manis datang.

Seorang perempuan melangkah … memasuki pintu pagar. Ia berjilbab biru, berjaket hitam. Pakaiannya sederhana, layaknya gadis rumahan. Wajahnya tertutup masker, tapi tatapan matanya itu … aduhai … Saya tidak perlu melihat wajahnya; saya tahu gadis ini manisnya bukan buatan.

Si Manis melewati meja saya dengan santai dan kalem, namun langkah-langkahnya mantap. Ia masuk ke dalam kedai. Apakah ia pelanggan tetap kedai ini, batin saya, sehingga nyaman baginya ngopi sendirian? Ataukah di dalam ada teman-temannya? Kebanyakan membatin, tanpa sadar saya sudah melewatkan sekian banyak kalimat narasumber dalam rekaman.

Saya kaget karena Si Manis bercanda dengan para pelayan dan langsung bergabung di bagian dapur. Ternyata, Si Manis adalah pelayan kedai kopi ini! Saya terpukau. Karena meja saya tepat di sebelah jendela kasir yang sekaligus dapur kedai, giranglah hati saya. Dari balik jendela, saya leluasa mengaguminya diam-diam.

Ia semampai, sedikit lebih tinggi dari saya. Kening dan punggung tangannya langsat. Bila berdiri, posturnya tegak namun keanggunannya tetap ajeg. Sesekali Si Manis membuat minuman yang dipesan pelanggan. Saya terpaut pada alisnya yang sedikit berkerut dan matanya yang menyapu toples-toples di depannya—mungkin ada posisi toples tertentu yang letaknya berubah. Betapa telitinya gadis manis ini, duhai. Saya memerhatikannya membuat mie, dan saya ditenung oleh gemulai pergelangan tangannya yang membaur bumbu. Sumpah, itu goyang pergelangan paling elegan sedunia!

Saya merasa jatuh cinta. Apalah peristiwa yang paling gegar di dunia ini, selain jatuh cinta pada cara seorang gadis manis mengarih bumbu mie?

Sekitar jam 1, saya sempat sakit perut. Saya bergegas ke toilet di dalam kedai. Ternyata Si Manis sedang duduk di dekat meja kasir. Mungkin sedang beristirahat. Saya gugup, merasa dilihati saat melepas sepatu (sepatu adidas KW seharga 80 ribu), merasa diperhatikan saat masuk ke kamar mandi (saya sampai hampir lupa melepas kaos kaki). Sambil buang air, saya melamun. Aih, Si Manis, siapakah namamu?

Pukul dua malam, saya selesai mengerjakan seluruh transkrip. Saya menjadi pelanggan terakhir di situ dan kelihatannya hanya saya yang ditunggu kelarnya. Saya merasa tidak enak, lalu memutuskan untuk pulang saja. Karena minuman sudah saya bayar di awal, saya inggas beranjak ke parkiran.

Di luar dugaan, Si Manis muncul di pintu kedai. Ia tidak memakai masker—dan tersenyum pada saya! Duhai! Bak burung kena tembak, saya benar-benar merasa mati sesaat. Dua detik saya tidak mampu bergerak dan waktu serasa berhenti. Manis, manis sekali. Persis madu. Persis kurma kelas satu.

“Makasih ya, Mas.” Suaranya merdu.

“Iya, Mbak. Hehehe.” Jawaban saya sebenarnya mencang-mencong. Dari sekian banyak pelanggan yang pulang, hanya saya yang dimakasihkan.

Sungguh, saya tidak rela percakapan berakhir. Saya ingin agar Si Manis yang sudah mulai bebersih ini menoleh lagi pada saya.

“Sebenarnya, kedai ini tutup jam berapa, Mbak?”

Si Manis menoleh lagi. Aih, cara menolehnya benar-benar berkelas.

“Jam empat, Mas.”

“Duh,” tanpa sadar keluhan saya bervolume besar. Gusti, saya pulang terlalu cepat. “Tapi saya sudah terlanjur kemas-kemas. Lain kali aja deh, saya ke sini lagi.”

Si Manis mengangguk tersenyum semakin lebar. Astaga, kamu kok manis sekali. Mirip artis Tiongkok yang terkenal, Tang Wei. 

“Iyaaa,” jawabnya riang.

Motor saya turut berbunga-bunga karena keriangannya. Dari hidung kembang kempis saya terciptalah musim semi. Percakapan kami singkat, tapi yang singkat itu telah mengunci kenangan di sangkarnya. Si Manis adalah merak di dalam sangkar itu. Saya jadi ingin berterima kasih pada ibunya, karena telah membesarkan seorang peri pelayan kedai. Saya pulang dengan dada yang dijembari cinta, dengan senyum yang lebih lebar dari lapangan sepak bola. []

Catatan:

Adegan-adegan antara saya dan mbak pelayan Kedai Pak De adalah nyata. Bahwa mbaknya manis, itu juga nyata. Saya lagi senang-senangnya berlatih cara berkisah. Saya doyan mencoba ekspresi-ekspresi bahasa yang baru.

Akhirnya, saya sudah menerbitkan lima tulisan setelah beberapa bulan yang lalu saya memutuskan untuk hiatus panjang untuk mengurus Djendela.co. Meski sudah nyaris satu bulan Djendela.co kami tutup, saya tidak lantas mulai ngeblog lagi. Perasaan saya bilang belum saatnya. Ada rindu yang kuat untuk ngeblog, tapi saya bisa menahannya. Sampai seorang sobat yang berharap saya ngeblog lagi menantang saya main catur dengan konsekuensi bahwa bila saya kalah, saya harus menerbitkan minimal lima tulisan di blog. Saya kalah, terang saja. Ternyata sobat saya itu juara catur tingkat kecamatan.

Kini, sudah tunai amanah taruhan. Sobat itu yakin bila saya menulis lima tulisan di blog, saya akan tidak sanggup lagi menahan rindu dan akhirnya akan ngeblog terus. Tapi dia keliru. Saya masih ingin hiatus. Semua tulisan saya sejak enam tahun lalu sudah saya hapus.

Mungkin nanti, bila tesis sudah selesai, saya akan ngeblog lagi. Mungkin, sih. Tapi bila saya bertemu pengalaman yang memicu saya ngeblog lagi, maka saya akan ngeblog lagi.

Terima kasih telah menemani lima tulisan di Bangicalmu. Semoga kalian tetap rajin menulis di blog dan sehat selalu. Salam damai, Ical.

Standar

56 respons untuk ‘Simanis

  1. Saya juga kayaknya harus banyak belajar caranya berkisah. Biar nggak amburadul.

    Sayang beeettt fiksi. Padahal udahhhh waaahhh wahhhh gitu pas baca.

    Baiklah. Sekian.
    Si Manis, Jembatan Ancol.

      • Kasian si manis itu kalau hanya di kagumi via tulisan saja…
        Belum tentu dia suka baca.
        Jadinya dia bakal kena usik kunjungan dan perhatian dari ‘pembeli kopi sampai limit buka kedai akhir’ terus nanti….
        Hanya diusik, gak diperjelas, bikin perasaan serba salah…

        Eeemmm…
        Paham gak kira-kira?!
        😕

  2. selvmusama berkata:

    Aciyee abang, jadi gatel pingin komentar. Harusnya abang tanya si manis begini dong : bapak kamu dari Jepara ya? (Kok tahu?) Karena kamu tlah mengukir cinta di hatiku 😜. Trus abang pingsan. 😁

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s