Jember

WhatsApp Image 2019-09-23 at 20.04.31

Bersama peserta workshop. Harapan masa depan.

Beberapa bulan yang lalu, saya dihubungi oleh Ketua Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Jember. Namanya Andi. Katanya, dia telah membaca esai yang saya submit untuk workshop penguatan HAM berbasis hukum Islam. Dalam esai itu, saya menekankan ecoside (penghancuran lingkungan) sebagai akar masalah kekerasan dan konflik SARA. Entah bagaimana esai itu bisa sampai ke Jember.

Andi mengaku sepakat dengan isi esai saya, dan menyatakan niat mengundang saya sebagai pembicara di sebuah perkaderan tingkat nasional yang akan ia selenggarakan, dengan tema serupa. “Tiket kereta, penginapan dan lain-lain akan kami sediakan, Bang.” Katanya. Jujur saja, daripada membayangkan sebagai pembicara, saya lebih terlena membayangkan akan duduk di kereta lagi. Berkereta adalah salah satu kesukaan saya.

Pada tanggal 14 September, saya berangkat ke Jember. Kereta Tawangalun, berangkat jam empat sore. Saya mengenakan sandal karet butut, celana trening butut, kaos pemberian kawan, jaket butut yang dibeli di Pasar Maling seharga Rp. 70.000, dan tas selempang berisi kaos yang masih harum, sarung dan beberapa buku. Ya, itulah seragam dan perlengkapan saya mengisi acara tingkat nasional.

Sampai di Jember jam sembilan malam, saya dijemput Adilan, Presiden Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember. Dari stasiun, saya dibawa ke sebuah penginapan yang saya lupa namanya, di dekat kampus Muhammadiyah. Sepanjang jalan, saya melihat Kota Jember di malam hari. Ternyata, lumayan ramai. Warung kopinya apik-apik, cocok untuk bersantai. Saya melewati Semanggi―kesannya mirip Bandung bagian UPI dan sekitarnya.

WhatsApp Image 2019-09-23 at 19.49.08 (1)

Ngopi itu artinya “ngobrol pintar”, lho.

Adilan mengajak saya makan di Lalapan Ayam Calabay. Saya langsung teringat lima jenis gender orang Bugis, yakni: Bissu (tidak bergender, spiritualis), Oroane (lelaki), Makkunrai (perempuan), Calalai (perempuan kelelakian) dan Calabai (lelaki keperempuanan). Apakah pemilik warung ini seorang Calabai? Tak tahu. Tapi ayamnya empuk, sambal hijaunya enak. Jangan-jangan, ayamnya yang Calabai?

Setelahnya, saya diajak berkeliling mengitari Jl. Jawa yang banyak warungnya dan Jl. Kalimantan di kawasan depan kampus Universitas Jember. Tembok-tembok tua Unej mirip tembok keraton Jogja. Setelah berkeliling, kami mendarat di Stasiun Kopi (warung kopi dua lantai di pinggir rel kereta api). Adilan mengutarakan keinginannya menjadi “kader bangsa”―istilah untuk kader Muhammadiyah yang berkiprah di ranah kebangsaan dan kenegaraan―ia meminta saran. Saya sarankan agar ia punya fokus sumbangsih dan kepakaran. Jangan murni berpolitik.

***

Saya mengisi acara hingga siang hari, jam dua belas. Padahal sebetulnya jadwal saya sampai jam sepuluh saja. Pesertanya banyak tanya. Tanpa sengaja saya bertemu Mas Wawa, advokat konflik agrarian dan aktivis hak-hak disabilitas. Beliau orang Muhammadiyah. Kami ngobrol sekitar satu jam, saling menyampaikan keprihatinan akan komitmen Muhammadiyah dalam membela kedaulatan agraria. Kami merencanakan “muktamar tandingan eco-oriented” untuk Muktamar Muhammadiyah tahun depan. Itu sinting, tapi kami serius.

WhatsApp Image 2019-09-23 at 19.49.08 (2)

Bertemu Mas Wawa!

Setelah itu, saya disamperi Alfu, bloger Jember kawan saya. Ya, ini kopdar dadakan! Kami janjian sejak pagi, setelah Alfu melihat snapgram saya di Stasiun Kopi. Dengan meminjam motor salah satu panitia, saya mau saja ikut ke Bakso Kabut di Kemuning Lor. Sebagai lelaki, saya yang mentraktir (eaaaa). Baksonya besar dan berlapis-lapis. Di inti baksonya ada telur puyuh, lalu dilapisi bakso, kemudian dilapisi telur lagi, dan terakhir dilapisi bakso lagi.

Kami makan dan ngobrol selama kurang lebih satu jam, dan sayang sekali, kami lupa foto bareng. Seingat saya, sayalah yang banyak bicara dalam kopdar ini, karena sepertinya Alfu itu tipe yang lebih suka tertawa daripada bicara. Saya ingat, di jalan, berkali-kali saya dapati Alfu tersenyum lebar. Saya sampai tolah-toleh mencari sebabnya. Tapi waktu ditanya, Alfu merasa tidak pernah senyam-senyum. Sejurus kemudian ia mengaku, ternyata bukan hanya saya yang pernah melihatnya senyam-senyum di luar kendalinya. Ngakak saya mendengar ceritanya.

Sebelum berpisah, saya diberi oleh-oleh Brownies Amanda―suatu kemurahan Tuhan untuk lelaki kurang soleh macam saya ini.

***

Tiba waktu asar, saya dijemput oleh Mas Fikih―mentor teori dan gerakan sosial yang sudah saya anggap kakak sendiri. Kami semakin dekat setelah Mas Fikih menjadi seorang Salik. Dengan motor bututnya, saya diajak ke Desa Kemuningsari. Mas Fikih punya rumah, kebun, dan sawah di sana. Sore hari saya habiskan untuk melihat isi kebunnya (di tengah kebunnya ada musala yang sangat syahdu suasananya), kemudian menapaki pematang sawah. Sore itu langit kelabu, jadi warna hijau di sawah menjadi sangat hidup. Kami berbincang tentang tazkiyyatu nafs. Saya lebih banyak menjadi pendengar, menjadi “peraup”.

WhatsApp Image 2019-09-23 at 19.49.08 (3)

Mas Fikih dan kebunnya.

Magrib, saya diajak sembahyang ke pesantrennya alm. Mbah Yai Nur (K.H. Moh. Nur), tak jauh dari rumah Mas Fikih. Bapak (ayahnya Mas Fikih) adalah murid dari Mbah Yai Nur. Beliau adalah seorang ulama sufi yang kewaliannya diakui oleh KH. Kholil Bangkalan. Tajam bashiroh-nya. Halus isyaroh-nya. Lembut tutur katanya. Melegenda karomahnya. Beliau wafat di usia lebih dari seratus tahun. Saya merasa terhormat bisa sembahyang di pesantrennya yang sederhana.

Baru setelahnya, kami beranjak ke rumah Mas Fikih di Rambipuji. Saya pernah ke rumah ini dua kali, dan disambut Ibuk (ibunya Mas Fikih) yang ramah. Setelah makan malam, Mbak Litha, istrinya Mas Fikih, muncul menggendong Janur Panyuluh, anak pertama mereka. Janur punya mata Mas Fikih, tapi parasnya secantik ibunya. Setelah isya kerja saya dan Mas Fikih hanya menggoda Janur. Setelah Janur tidur, kami menonton ILC, seputar revisi UU KPK.

Jam sepuluh malam, Mas Wawa datang ke rumah Mas Fikih, diantar Syifa, pendiri gerakan Kader Hijau Muhammadiyah. Ngobrol lagi, kami, sampai tengah malam. Setelah Mas Wawa pulang, saya dan Mas Fikih lanjut ngobrol lagi, tidak jauh-jauh temanya dari tasawwuf. Jam dua malam, Mbak Litha muncul dengan wajah sewot dan memarahi kami karena begadang. Seperti kerbau dipecut petani, kami membubarkan pengajian.

***

Tiket saya kembali ke Malang jam delapan pagi. Jam setengah tujuh, saya sudah rapi, ikut menikmati suasana riang di dapur Mas Fikih. Sesekali saya ikut menggoda Janur, sesekali saya ngobrol dengan Bapak. Seperti dengan Mas Fikih: temanya tidak jauh dari tasawwuf. Saya menikmati wejangan beliau tentang jiwa dan Tuhan.

Setelah sarapan, jam tujuh lebih empat puluh saya berpamitan. Saya diantar Mas Fikih ke stasiun Rambipuji. []

 

NB: Di kereta menuju Jember, kabin saya dipenuhi bapak-bapak. Lewat chatting, saya katakan pada Kak Momo, seandainya isi kabin saya perempuan semua, pasti menyenangkan. Meskipun, saya mungkin tidak akan berani menyapa. Benar saja, di kereta menuju Malang, isi kabin saya perempuan. Saya tidak berani menyapa. Sepanjang jalan, saya hanya membaca buku dan menonton Youtube. Tidur pun tidak berani: saya takut ngorok.

 

Bonus:

Standar

7 respons untuk ‘Jember

  1. Vallendri Arnout berkata:

    Semoga Tuhan senantiasa memberikan waktu yang lebih dan lebih lagi untuk kamu bang. Setiap detiknya diisi kepadatan yang berfaedah, nggak ada terbuang sia-sia. Sebagai buibuk tanpa kegiatan, saya iri🤩

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s