Tretetet

WhatsApp Image 2019-09-30 at 18.16.07 (1)

Pengkartunan wajah TGH. Ahmad Tretetet.

Nama beliau sebenarnya adalah Tuan Guru Haji Ahmad. Tapi, beliau lebih familiar dengan nama Tuan Guru Tretetet. Gelar ‘tretetet’ itu konon disematkan padanya karena beliau gemar tertawa, dan suara tawa beliau serupa itu.

Beliau adalah waliyullah. Kekasih Tuhan. Mursyid tanpa murid. Tuan Guru tanpa pesantren.

Kisah beliau banyak berselimut mitos, tapi ada baiknya kita menafsirkan mitos sebagai “hoax” dan bukan sebagai “tidak rasional”. Sebab, ada banyak riwayat tentang beliau yang tidak rasional, tapi fakta. Islam menyebutnya karomah. Filsafat menyebutnya suprarasional.

Tuan Guru Tretetet adalah pejalan kaki, kerap melintasi desa-desa, se-Pulau Lombok. Setiap beliau melewati suatu desa, pekerjaan beliau ada tiga: (a) mendidik masyarakat lewat obrolan santai; (b) menyapa anak-anak kecil dan mendoakan mereka; (c) meminta sedekah pada orang-orang kaya untuk disalurkan pada kaum papa. Akan saya ceritakan bagian unik di tiap-tiapnya.

Cerita pertama. Suatu siang, beberapa pemuda bertanya pada Tuan Guru Tretetet. “Berembe ruen Neneq, Tuan Guru?” (bagaimana rupa Allah, Tuan Guru?). Dijawab oleh beliau: “Melem naoq ruen Neneq? Engat lolon ketujur ino?” (kamu mau tahu rupa Allah? Kamu lihat pohon ketujur itu?). Waktu itu, sebatang ketujur ditunjuk, dan beliau berkata: “no wah ruen Neneq.” (itulah rupa Allah).

Kemudian beliau tertawa. Jawaban Tuan Guru Tretetet adalah tauhid gamblang. Allah itu zahir sekaligus batin, segamblang itu pula tauhid harus diekspresikan. Setelah menggelitik pikiran mereka, Tuan Guru Tretetet kemudian menyingkapkan maksudnya dengan bahasa yang mudah dimengerti.

Cerita kedua. Tersebutlah seorang muallaf perempuan. Sewaktu kecil, ia ingat pernah berjumpa dengan seorang kakek berwajah lucu tapi seram, berbalut jubah lusuh. Kakek itu mencegat dan menyeretnya ke sebuah gang. Di sana, sang kakek berkata riang: “Besok kamu jadi umatku!” Di kemudian hari ia tahu, beliau adalah Tuan Guru Tretetet.

Cerita ketiga―ini agak seram. Tuan Guru Tretetet dikenal dengan reputasinya membuat rumah-rumah orang kaya terbakar. Orang kaya medit, maksudnya, yakni mereka yang menolak menyerahkan sedekah yang dimintai Tuan Guru Tretetet untuk disalurkan pada kaum papa. Tapi bukan beliau yang membakarnya; rumah mereka terbakar sendiri.

WhatsApp Image 2019-09-30 at 18.16.07

Wajah asli beliau.

Beliau tidak pernah butuh uang. Beliau sudah selesai dengan dunia. Tapi, di saku jubahnya seperti selalu ada uang. Bila ada yang datang mengeluhkan utang, beliau akan merogoh saku dan mengeluarkan uang sejumlah persis yang dibutuhkan orang yang berutang. Tapi kita tidak bisa mengarang kesusahan di depan beliau, sebab beliau tahu. “Kutebaraq siq Neneq,” (saya diberitahu Allah) katanya.

Saking dekatnya Tuan Guru Tretetet dengan Allah, ada hadis qudsi yang berlaku untuk beliau: “Barang siapa yang Kupilih sebagai kekasih, maka Aku menjadi mata baginya untuk melihat, dan kaki baginya untuk melangkah, dst.” Banyak saksi yang melihat beliau berada di suatu kabupaten dan dalam tempo yang tidak logis berpindah ke kabupaten lain. Bagi beliau, tidak ada yang jauh di bumi Allah. Jarak dilipatkan Allah untuknya. Beliau sangat yakin Allah maha pemurah, takkan membiarkannya kesusahan. Tentu, itu jenis keyakinan yang bukan cuma di lidah.

Ketika beliau meninggal, banyak beras diantar ke rumah beliau. Warga terhenyak karena di tiap butir beras terdapat ukiran asma Allah. Bahkan butir beras hormat pada beliau. Sebab, jangankan makan, apapun yang beliau lakukan nama Allah turut serta. Berdiri, “Allah.” Berjalan, “Allah.” Tidak ada yang tidak Allah. Semuanya Allah.

Ada kisah paling legendaris tentang Tuan Guru Tretetet. Ini kisah terakhir.

Tersebutlah seorang buruh tani asal Dasan Geres, Lombok Timur. Ia ingin sekali melihat menemui kakbah. Majikannya sendiri (asal Pohgading) akan berangkat haji lagi tahun ini. Dengan penghasilan sebagai buruh, mungkin seratus tahun lagi ia bisa pergi haji. Tapi suatu hari, tanpa sengaja, ia bertemu Tuan Guru Tretetet di jalan. Tiba-tiba Tuan Guru berseru dan menunjuk mukanya: “Haji kamu, haji! Allah!”

Si buruh ternganga. Tapi Tuan Guru bahkan memintanya roah (selamatan). Dalam keadaan ragu luar biasa, ia memberitahu istri dan timbullah kepanikan. Bagaimana mau roah, kalau untuk makan besok siang saja tidak ada? Tapi mereka memutuskan untuk tetap mengundang keluarga dan tetangga, sambil menahan malu. Esok paginya, Tuan Guru datang bersama beberapa orang yang membawa sapi, beras, dll. “Gorok sapi ini, gorok! Haji kamu! Allah!”

Kemudian, beliau pergi. Si buruh mengundang lebih banyak orang lagi.

Berbilang waktu setelah majikannya berangkat ke Makkah, si buruh masih di desa. Gunjingan sudah menyebar, menertawainya, menyebutnya mulai sakit jiwa karena terobsesi naik haji tapi tidak sadar diri sebagai orang miskin. Tapi saat putus asa hampir menguasai sepenuhnya, Tuan Guru muncul di muka rumahnya dan memenuhi janji. “Berangkat kamu! Allah!” Si buruh tidak lantas gembira karena oleh Tuan Guru ia malah dibawa ke kebun singkong. Si buruh pasrah, terutama ketika Tuan Guru menyuruhnya tidur di gubuk. Si buruh memejamkan mata, patuh dan tidur. Ketika terjaga, entah bagaimana ia sudah berada di Kota Suci Makkah. Si buruh melongo.

Untuk memastikan dirinya tidak bermimpi, si buruh meminta izin Tuan Guru untuk mencari majikannya. Tuan Guru Tretetet menunjukkan tempat majikannya, tapi ia sendiri enggan diketahui. Si buruh diminta untuk menjaga rahasia keberadaan Tuan Guru. Si Buruh menyanggupi. Ketika disambangi buruhnya yang lapuk, giliran si majikan yang melongo.

Kamu ni!?

Inggih Bapak!”

“Tetu kamu ni!?” (ini betulan kamu?)

“Tetungku Bapak!” (betul, bapak!)

“Sai kancem!?” (kamu sama siapa?)

“Ndeqku kanggo becerite!” (saya ndak boleh cerita!)

Sebanyak tiga kali si buruh menemui majikannya. Ia sempat pula pamit pada si majikan setelah lunas seluruh proses haji. Si buruh pulang dengan proses yang sama, yakni tidur dan tiba-tiba sudah di kebun singkong saja. Tuan Guru Tretetet berseru riang ketika ia terbangun: “Sekarang namamu Muhammad Soleh. Terima hajimu. Mabrur! Allah!”

Lantas, Muhammad Soleh diminta memakai jubah. Seumur-umur, tidak pernah ia berjubah. Ketika pulang ke kampung, tetangga menertawainya. Semakin menjadi-jadilah gunjingan itu. Malu betul dia. Sampai akhirnya, ketika si majikan pulang ke Lombok dan mengadakan tasyakuran, si majikan menuturkan pertemuannya dengan si buruh di Makkah, sebanyak tiga kali.

Hebat, sang walin Neneq kancen lalo,” (hebat, mungkin dia pergi bersama waliyullah). Gegerlah orang-orang kampung itu karena pengakuan si majikan tersebar. Di kemudian hari si buruh bahkan dianggap sebagai waliyullah dan dipertuan-gurukan:  TGH. Muhammad Soleh.

Ada tiga pelajaran penting di dalam kisah-kisah Tuan Guru Tretetet.

  1. Tidak semua yang bersifat supra-rasional itu berbau jin. Kedekatan spiritual bisa mengakses alam yang lebih tinggi dari alam jin (alam yang kawan-kawan indigo pun tidak bisa mengaksesnya), yakni alam malakut dan jabarut, alam di atas alam nasut.
  2. Tidak semua yang bersifat supra-rasional itu tidak berfaedah. Di zaman susah, banyak sufi yang membantu kaum miskin dengan berbagai karomah. Ilmu digunakan untuk mengayomi, menyelamatkan manusia, dan sekaligus memperteguh iman.
  3. Ada sufi yang menjauhi dunia, ada yang terlibat membangun dunia. Saya tertarik pada yang kedua.

Memang benar bahwa semua ini adalah Allah. Yang baik adalah Allah, pun yang jahat. Begitulah tauhidnya. Semua yang bukan Allah adalah tanda-tanda kebesaran Allah (Ali Imron, 189). Dan tidak mungkin kejahatan mendesain dirinya sendiri sebagai tanda (ayat). Hanya Allah yang mampu mendesain tanda (ayat). Maka kesimpulannya: semua ini wujud dari kehendak Allah.

Tapi bukan berarti kita lantas diam terhadap kerusakan. Allah juga memerintahkan kita memperbaiki kerusakan dan melawan para perusak. Tauhid semestinya tidak membuat manusia melarikan diri dari tuntutan zaman. Ada tanggungjawab untuk memperbaiki semampunya. Karena itulah saya mendukung gerakan mahasiswa, dan mengabaikan sufi yang menyindir demonstrasi. Bagi saya, kemungkaran adalah tanda seru: Allah meminta kita membereskannya. []

WhatsApp Image 2019-09-30 at 18.16.07 (2)

Meminjam foto dari redaksi Kicknews. Beliau sosok nyentrik dan bersahaja. Lahul fatihah.

Standar

12 respons untuk ‘Tretetet

  1. Terlepas kontennya seperti apa dan tentang apa, termasuk pelajaran moral dari Tuan Guru Tretet ini, pun posisi penulis terhadap gerakan demonstrasi mahasiswa itu, saya selalu menyukai cara Anda memaparkan suatu kisah. Redaksinya bernas, rasionalitas terjalin apik, dan tatabahasanya nyaris sempurna, nyaman untuk dibaca. Mantul dech pokoknya, Bro Ical.

    Baik, itu ajah komen saya Bro Ical. Teruslah menginspirasi pembaca.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s