Joker

1.

Saya mengapresiasi betul film Joker. Saya sudah menontonnya bersama istri tercinta. Bagi saya, rilisnya film Joker bersamaan dengan momentum peringatan kesehatan mental adalah berkah. Film ini memang berbicara tentang kesehatan mental. Jadi, yang saya lihat bukanlah ‘Joker’-nya, melainkan ‘Arthur’, tokoh yang tumbuh di lingkungan pekat polusi mental.

Kesehatan mental bukan perkara kecil. Kalimat “orang jahat lahir dari orang baik yang disakiti” sesungguhnya bukan kalimat yang bisa dijadikan bahan gaya-gayaan. Bagi yang pernah merasakan neraka kesepian dan ancaman kekerasan secara konstan sejak kecil, akan mengerti betapa pedihnya kalimat itu. Sakit sekali. Ia bukan kondisi yang bisa dihakimi dengan sejumlah kalimat bijak bahkan dalil agamis, atau dibanding-bandingkan dengan kondisi orang lain yang kelihatan serupa tapi tidak sama.

Sebab ini tentang posisi: kamu takkan paham kalau tak mengalami, dan kamu bohong bila kamu mengaku pernah mengalami. Pengalaman dan kondisi mental tiap orang berbeda-beda.

Tapi, kalimat “orang jahat lahir dari orang baik yang disakiti” viral. Padahal tidak satu kali pun kalimat itu muncul di film Joker. Arthur tidak pernah mengucapkannya. Karena kadung viral, muncullah heroisme moral. Tanpa menghayati konteks, bahkan tanpa menonton filmnya, Joker didakwahi. Saya melihat teman-teman saya yang kulturnya agamis memosting gambar-gambar dalil di Instagram (tapi seperti biasa, gambarnya copas), dan menulis caption: untukmu, Joker.

Saya tertawa tiap kali melihatnya. Sedih. Inilah ekspresi umum tekstualisme arogan: “besar semangat daripada ilmu”. Gairah melakukan penyelamatan suci tinggi sekali, tapi wawasan dan kebijaksanaan perihal yang ingin diselamatkan itu tak ada.

2.

Selain karena ‘dewa’-nya akting Joaquin Phoenix (yang memang cocok untuk film sakit macam Joker), saya kagumi film ini karena kompleksitasnya, menyangkut kekerasan politik dan kekerasan ekonomi. Kita bisa simpulkan dari dua poin berikut.

Pertama, Arthur adalah korban kebijakan politik negara yang tidak memihak kesejahteraan rakyat. Banyak yang tidak sadar dan tidak menjadikannya faktor penting: Arthur menggila sejak pemerintah kota Gotham memutus dana layanan sosial, dan membuat Arthur (seperti banyak rakyat miskin kota Kota Gotham lainnya) putus akses pada berbagai kebutuhan primer—dalam kasus Arthur, kebutuhan akan psikiater dan obat gratis. Arthur sungguhan sakit; ia depresi mengetahui tidak ada lagi orang yang bisa mendengarkan keluh kesahnya dan ia tidak bisa lagi mendapatkan obat subsidi bila psikiaternya menutup semua layanan. Ia sungguhan ingin berobat, tapi negara mematahkannya.

Mungkin karena itulah Batman tidak pernah benar-benar serius memusnahkan Joker. Mungkin Batman sadar, walikota yang memangkas dana layanan sosial itu adalah ayahnya, dan Joker adalah mustad’afin. Bagi orang Indonesia (yang tidak pernah merasakan ‘kehadiran’ negara dalam melayani, yang literasinya mengharukan sehingga tidak begitu mengerti mengapa kita bernegara dan apa sesungguhnya tanggungjawab negara pada rakyatnya), mungkin akan sulit menerima mengapa negara wajib menjamin kebutuhan primer (pendidikan, kesehatan, rumah, lapangan kerja). Tidak mudah bagi orang Indonesia memahami mengapa putusnya dana layanan sosial menjadi sangat krusial bagi Joker.

Kedua, Arthur adalah representasi dari kaum jelata. Di film Joker, konteks “betapa susahnya hidup ini” begitu kental, bahkan bagi orang normal di sekitar Arthur. Karena hidup sulit, orang kecil terpaksa saling menipu dan mengorbankan. Kesusahan terwariskan. Puncak menggilanya Arthur adalah ketika ia tahu satu rahasia kecil: ibu yang sangat ia cintai tidak pernah benar-benar menginginkannya, bahkan pernah berkali-kali berusaha membunuhnya. Ibunya punya riwayat sakit jiwa, trauma karena pelecehan seksual. Kekerasan adalah lingkaran setan bagi kaum miskin.

Tapi miskin bukanlah masalahnya; sampai tahap tertentu, Arthur selalu memendam seluruh dukanya dan tampil ceria di hadapan dunia. Kemiskinan tidak merenggut segalanya. Karena itu, pendapat saya, kata kunci film Joker adalah “kesenjangan”; ada perbedaan (dalam hal akses pada berbagai kemudahan, berbagai fasilitas, berbagai kemewahan, dll) yang terlalu besar antara the haves dan the haves-not di film itu. Karena itu pula kasus badut pembunuh dengan cepat meletus menjadi gerakan anti orang kaya.

3.

Saya sering, dalam berbagai diklat pemuda muslim, berpendapat bahwa Nabi Saw. tidak pernah diutus Tuhan demi mengentaskan kemiskinan. Kemiskinan bukanlah persoalannya. Nabi Saw. sendiri hidup miskin (sehingga, mafhum terbaliknya, berdoa meminta kekayaan juga bukanlah tuntunan Islam sekalipun dibolehkan). Tugas Nabi Saw. adalah mengentaskan kesenjangan, yakni jurang perbedaan yang terlalu lebar antara kaum-punya dan kaum-papa. Lahirlah syariat zakat, sedekah, wakaf, dll, semata agar ada distribusi kesejahteraan. Lahirlah sunnah (etika) hidup sederhana sekalipun punya banyak harta, semata agar tak muncul rasa ketidakadilan di tengah umat.

Tapi tidak banyak yang bersedia berpikir matang-matang sebelum berkomentar. Mungkin karena berpikir itu sulit, makanya mendakwahi/menghakimi Joker, sebuah tokoh fiksi, menjadi lebih gampang dilakukan.

Saya lebih tertarik pada bagaimana agama menjadi sumber energi yang besar untuk mendorong kerja-kerja memahami penyakit mental dan mengupayakan lingkungan bebas polusi mental. Bukan pada dakwah yang sekadar mengutip dalil. Dakwah yang hanya berbekalkan semangat akan rentan menjadi polusi mental.

Di zaman serba internet, copas pun bisa digunakan sebagai cara menunjukkan sikap agamis. Meski Islam itu mudah, tapi budaya copas itu rasanya terlalu mudah. Terlalu menggampangkan ijtihad. []

NB

Bagi yang beragama Islam, sedikit referensi, sejumlah dai internasional telah teredukasi dengan baik perihal bahaya dan kompleksitas mental illness. Bahkan mereka bilang, “Jangan suruh orang yang depresi mencari jawaban di dalam al-Qur’an. Orang yang sakit kanker pun akan kamu suruh ke dokter, bukan kamu suruh membaca al-Qur’an!” Saya sertakan dua video ceramah dakwah dari Syaikh Azhar Nasser dan Dr. Bilal Philips; cukup bagus untuk ditonton.

Standar

62 respons untuk ‘Joker

  1. Waw… Bro Ical. Ikutan komen jg ttg film ini ya, hee…
    Bgus sih analisisnya. Hnya satu slhnya, kurang panjang, Wkwk… jd serasa msh ada hal2 yg blum dibhas.

    Oya, saya suka dg kalimat ini:
    “Dakwah yang hanya berbekalkan semangat akan rentan menjadi polusi mental.”
    Itu bnar2 sy lihat di kehidupan sehari-hari, entah itu di Islam maupun Kristen. 😭.

    Ah, itu aj komen sya Bro Ical.

    • Vallendri Arnout berkata:

      Nah saya juga ngerasa sama Pak Guru. Ada yang ingin saya baca lagi😅😅😅

      Saya sedang tertarik2nya padahal dengan masalah kesehatan mental. Khususnya sekarang saya seorang ibu dan faktor kesehatanmental penting sekali untuk modal membentuk karakter anak. Terus sekarang juga influencer (ehem) banyak yang mulai speak up bahkan untuk depresi ringan pun. Terus kasus kasus bunuh diri Korea khususnya Sulli yang baru 3 hari lalu. Intinya lapar sekali dengan apaoun bacaan yang berhubungan sama sakit mental.

      • Haloo, kakak Influencer favorit (ekhem) 🤣

        Maafken daku Kak, aku ndak bisa mengulas terlalu dalam. Aku cuma paham bahwa kesehatan mental itu penting, dan karena ia berkait erat dengan persoalan politik-ekonomi-budaya suatu negara. Kalau kesehatan mental itu sendiri, aku nggak mendalami. Lha aku sendiri sakit jiwa eh, gimana mau menjelaskan deritaku 🤣

  2. Aku dah nonton Joker, ampe berhari² sedihnya Arthur kena banget di aku. Apalagi pas bagian Arthur di talkshow bilang, “jaman sekarang orang udah ga peduli sama orang lain, mereka ga mikir gimana rasanya ada di posisi orang lain.”

    “KNOCK.. KNOCK.. KNOCK..”
    “DORRRR!!” -Arthur Fleck-

  3. Sejak viralnya quotes itu, inginku cuma satu Bang Ical yaitu nonton filmnya langsung. Setahuku, film yang lulus sensor pastilah mengandung pesan moral :’)

    Setelah baca quotes itu, aku langsung curiga gitu sama penonton Indonesia. Kayaknya, penontonnya yang gagal fokus. Setelah gagal fokus, langsung bikin quotes seenaknya deh :”’

    • Jadi Shinta belum nonton filmnya? 🤣

      Jangan, Shinta jangan nonton kalau ndak kuat. Filmnya sedih pakai banget. Film sakit. Kita sudah nggak ngeliat Jokernya lagi 😁

      • Belum 😂😂😂

        Kayaknya harus tetap nonton Bang Ical. Aku tertarik sama kesehatan mental dan semakin ingin tahu setelah baca tulisan bang ical ini wkwk

      • Kalau gitu, saran: nontonnya bareng temen, yang bisa diajak nangis bareng, yang bisa sama-sama mikirken pentingnya mengasihani dan menemani orang-orang seperti Arthur. Saran lain: jangan beli popcorn, mahal. Jangan bawa jajan sendiri, kecuali kue basah yang ndak bunyi kalau dikunyah. Kalau ketahuan, repot. Oya, jangan rekam-rekam, jangan teriak-teriak kalau Arthur kumat bunuh orang. Jangan nyelipin jempol ke kursi depan, bau.

        Sebenarnya ada banyak sekali saran, Shinta. Jangan jadi sedentari, rutinlah berjalan kaki minimal 30 menit sehari. Ndak usah takut makan. Bahagia itu kudu dirawat. Oya, sepatunya jangan ketuker sebelah. Sama adik yang akur, jangan dipalakin.

        Apa lagi ya ..

        😎
        🤣

      • Berat banget sarannya, Bang Ical 🤣🤣 tapi, terima kasih banyak sarannya. Khusus jangan nyelipin jempol ke kursi depan, aku bingung itu gimana caranya wkwk *belum pernah*

      • Oh, kalau belum pernah, ndak papa deh, khusus edisi perdana, Shinta boleh coba 🤣 Julurin aja jempolnya terus masukin ke sela-sela kursi depan 🤣

  4. N berkata:

    Tulisan yang selalu renyah dengan rasa unik.
    Lainnya bahas Kalimat “orang jahat lahir dari orang baik yang disakiti”. Dan kamu memilih tentang Kesehatan Mental.

    Lagi – lagi aku jatuh cinta dengan karyamu bang :).

  5. Selesai nonton Joker langsung lemes. Langsung males ngapa-ngapain (kecuali makan sih : p). Baru nggak kebayang-bayang lagi setelah dibawa tidur.

    Selemah itu aku 😿

    Tapiiii tetap nggak nyesel karena sudah melihat kerennya akting Joaquin Phoenix.
    Sakiiiit! Kalau nggak menang Oscar pastinya ada kesalahan dari para juri 😂
    Reviewnya mantap Bang! Lanjutkan.

    • Yeee, giliran makan aja 🤣🤣🤣

      Betul Kak, setelah beberapa adegan berdarah yang bikin syok, akting Joaquin yang terlalu total itu bikin puaaas banget 😆

      Thank you, Kakak! 😄

  6. Bang, saya tidak mau baca tulisan ini dulu. Belum nonton filmnya, soalnya. Saya khawatir ada bocoran. Sementara saya kirim komentar dulu.
    Nanti sehabis menonton, akan saya komentari lagi.

  7. Ervan Radian berkata:

    saya membaca dari awal hingga akhir,

    maag baru baca, ini juga ga sengaja sebetulnya, hehe
    pas lagi sercing buat cari tau cara menggunakan wordpress, tiba-tiba mata saya terhenti di artikel ini, wkwkwk

    dan saya menemukan sudut pandang yang lebih luas lagi di film joker ini setelah membaca sudut pandang anda. haha makasih min udah berbagi 🙂

    semoga tulisan-tulisanya bisa menjadi membawa perubahan bagi bangsa ini . salut

    cuman 1 min mungkin kesulitan saya, 2 video yang di cantumkan ga ngerti bahasanya, ga ada translet pulaa wkwkwk buat laah transletnya biar ngebantu kita kita yang ga paham bahasa arab. hehe

  8. Ping-balik: Award – A.S. Rosyid

  9. anu, nyasar di sini setelah award-awardan yang terbit kemarin itu. (aaaahh sial aku berjenis kelamin lelaki….)

    Gini bang, ini film Joker sukses jadi film yang gak bakal aku tonton untuk kedua kalinya. Ga akan aku download di Torrent atau kalo misal mencungul di TV juga ga bakalan aku tonton lagi.

    Selepas nonton ini film, begitu beranjak dari kursi beskop rasanya ga enak. Kayak kosong, kempes, menguras energi sekali. Ini apa aku salah nongton film yak. Besoknya pembahasannya trending lah di semua medos, kecuali Friendster.

    Hmmm ya ya dari tulisan ini jadi paham kenapa Batman ketika menghadapi Joker tidak seperti Liu Kang ketika mem-fatality Gooro. Karena nanggepi orang edan itu yaa sama aja. Sama-sama edannya. Dan Batman berempathy dengan kesakitjiwaannya Joker.

    • Santai, besok-besok aku bikin award khusus lelaki 😁😆

      Aku mengalami perasaan yang sama kayak samean ini waktu nonton film “Parasite”. Sialan, film ini gelap banget. Sesak napas akutu nonton film itu. Kudaulat sebagai salah satu film terapik, tapi aku takkan menontonnya lagi 😂

  10. Hmm Parasite ini aku masih kuat nonton 2 kali. Di awal-awal banyak sindiran-sindiran yang nusuk tapi lucu. pas endingnya hmm nyesek.

    • Sejak si ibuk ditendang jatuh ke tangga dan kepalanya membentur tembok: suara benturannya itu masyaallah, nyesek. Sejak di scene itu napasku sesak.

  11. Menjejakkan kaki dipostingan 2019, masih berlaku ya bang hehe

    Bener-bener kayaknya udah always tulisannya renyah dan mudah dicerna. Dari tadi scrolling mulu, memperluas sudut pandang dari seorang bang Ical (yang sudah beristri tapi tidak)

    👍🏻👍🏻

  12. Ping-balik: Joaquin – AS Rosyid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s