Gosip

Saya percaya, orang yang mengabdikan dirinya sebagai tukang gosip tidak pernah beranjak ke mana-mana. Hidupnya akan begitu-begitu saja, bahkan cenderung menyedihkan. Sederhana sebabnya: ia mendedikasikan waktu untuk mengurus orang lain, bukan mengurus urusan dirinya sendiri.

Tentu ada beda antara bergosip dan curhat; nanti akan saya jelaskan pandangan saya.

***

Saya punya kawan yang gesit (sumpah, gesit) menyahut “Aku tahu itu!” tiap dia mendengar tuturan tentang seseorang―sekalipun bukan dia yang diajak bicara, dia akan menyahut. Gestur khas itu konsisten; dia selalu tahu tentang urusan siapa saja, dan menikmati pengetahuan itu dengan sangat. Itu kelihatan dari mimik, suara, gesturnya. Tidak sampai di situ: kawan saya itu juga hebat reputasinya dalam hal berwajah dua. Dia bisa bercandaria dengan dua orang dengan sangat akrab, dan bila salah seorangnya pergi, belum dua menit, ia menggunjing pedas dan membeberkan aib yang pergi itu kepada yang satunya.

Ternyata kelakuan macam itu ternyata bukan cuma ada di sinetron.

Dan dia, ya, begitu-begitu saja hidupnya.

***

Saya punya aturan, yang cukup sederhana, yang harus saya lakukan bila ada kawan bergosip. Pertama, saya hanya akan mendengarkan (kadang saya butuh stok cerita, itu berguna bagi penulis macam saya). Kedua, kalau harus menanggapi gosip itu, saya tanggapi dengan peng-iya-an atau komentar pendek lain (kadang kalau saya sedang kesal, saya kompori supaya dia bercerita lebih banyak). Ketiga, saya tidak boleh ikut membeberkan aib orang.

Tapi saya punya situasi khusus: bila membeberkan aib bisa mengatasi suatu masalah bersama, saya akan lakukan. Situasi ini harus kongkret, soalnya kalau tidak, saya bisa sembarangan menafsirkan nafsu saya sebagai “demi kebaikan bersama”.

Contoh: selama ini, di Madrasah, bila ada gosip tertentu mampir di telinga saya, saya bisa menganggapnya angin lalu. Tapi bila Direktur curhat tentang suatu masalah yang pemecahannya butuh informasi tertentu (gosip, aib orang), saya akan bercerita secukupnya. Situasi serupa sesekali muncul dalam organisasi. Korupsi, upaya penggembosan, saya harus membeberkannya pada rekan terdekat, mendiskusikannya.

Oya, ada situasi lain: saya senang menggosipkan pejabat publik. Bukan kehidupan personalnya, tapi tanggungjawab kenegaraannya. Atau tokoh publik, terkait polah-polah yang menyinggung perasaan rakyat. Atau dosen korup yang tidak pernah menulis satu esai pun.

***

Bagaimana bila saya yang digosipkan? Biar saja. Dalam hal ini, saya merasa cukup kebal. Saya biarkan saja. Kadang gosip tentang saya benar adanya, tapi lebih banyak bumbunya, dan si penyebar gosip biasanya hanya mendengar sepihak tapi merasa paling tahu sejagad. Begitulah gosip dan penggosip bekerja, jadi saya tidak terlalu peduli. Kalau gosipnya sudah bikin pergolakan, barulah saya akan konfrontasi. Selama bisa diabaikan, saya abaikan. Buat apa diladeni. Mending bikin mie.

Lagipula, saya heran. Para penggosip itu, saya tidak paham dengan kondisi jiwa mereka. Sepertinya mereka sakit. Kok bisa mereka puas dan merasa nikmat bergunjing. Kok bisa mereka betah hidup di dunia rendah. Seakan itulah natura mereka. Kalau Tuhan mengibaratkan mereka seperti pemakan bangkai, pantaslah: mereka kelihatan rakus. Juga, kelihatan menyedihkan: hidup mereka tak ke mana-mana. Di situ saja.

Saat yang digosipkan sudah berkembang menjadi pribadi baru, dengan produktivitas baru, mereka masih di situ, masih rajin berteriak “Aku tahu itu!”

***

Curhat berbeda dengan gosip: curhat adalah kebutuhan menyalurkan emosi yang menumpuk, dan setelahnya kembali ke dunia produktif. Curhat itu wajar. Tapi batas antara curhat dan gosip juga tipis, sebab ada orang yang sangat terobsesi curhat seakan satu-satunya kepuasan adalah kala bisa mengumbar aib orang lain.

Penggosip secara alamiah tertarik pada atraksi-atraksi mengumbar kejelekan orang; sekalipun mereka bukan pengepul aib, tapi mereka menikmati momen bergunjing dan turut aktif mengomentari gunjingan. Mereka konsisten membacoti urusan orang.

Saya heran, kok mereka betah hidup di dunia rendah.

Saya bisa membayangkan betapa mengerikannya hidup di lingkaran penuh pemakan bangkai. Kita dipaksa memakan, dan kita pasti akan dimakan. Dari jauh mereka terlihat tersenyum bergandengan, dari dekat ternyata saling makan.

Mengerikan. []

Catatan:

Darin, sahabat saya, memberi komentar atas tulisan ini. Dia juga baru mendapat new insight. Gosip punya kegunaan praktis, untuk mengakrabkan dua orang yang baru bertemu, misalnya. Kadang saya lihat juga gosip memupuk solidaritas, tapi semu: di belakang, mereka akan saling menggunjingkan satu sama lain. Terus begitu, sampai kiamat.

Sampai tahap tertentu, saya percaya bergosip dan bercerita adalah dua hal berbeda. Bercerita itu sah, temanya bisa apa saja, termasuk nasib orang lain. Orang-orang tua kampung suka saling bertukar cerita dalam obrolan mereka, kadang diikuti nada keprihatinan, lalu ditutup dengan nasehat-nasehat. Itu budaya masyarakat lisan, sah-sah saja. Tapi bergosip berbeda. Sebagaimana telah ditekankan berkali-kali dalam artikel ini, bergosip adalah berpesta di atas aib. Terutama yang menyangkut kehidupan pribadi seseorang.

Darin saya kenal aktif mengkampanyekan ide-ide anti-buli dan semacamnya. Menurut saya, buli adalah bentuk puncak dari budaya lisan yang tidak tahu batas. Agak aneh bila “perangkat dasar” budaya buli itu justru diiyakan. Kampanye Darin jadi sia-sia. Tapi syukurlah Darin tidak membenarkan gosip; ia sependapat dengan saya.

Standar

20 respons untuk ‘Gosip

  1. Perihal gosip, dari yang aku perhatikan, sepertinya mereka memang kurang tertarik memikirkan dirinya sendiri, Bang Ical. Mereka juga kurang minat membicarakan kekurangan ataupun kelebihan dirinya untuk perbaikan diri.

    Aku percaya, orang-orang yang fokusnya ke diri sendiri dan perbaikan diri, pasti nggak akan ada waktu untuk memikirkan aib orang lain.

    • Abang sepakat, Shinta. Pensil yang berharga adalah yang semakin memendek karena tergunakan, bukan yang masih bagus karena tidak pernah terpakai—saking sibuknya berbunyi “Aku pensil dan mereka bukan.”

  2. Aku masih suka gosip sih, tp kebanyakan gosipin berita terbaru dari artis² misal, “Eh, si Atta Halilintar bener ga sih sama Beby Fey? Eh katanya si Beby Fey pernah begituan sm genderuwo?” Agak ga bermutu ya gosipnya wkwkwkw..

  3. Waaahh… Ini bagus sekali. Perihal menghindari ngegosip ini, ada banyak ungkapan yang membantu saya menyetop buaian ingin bergosip. Misalnya ini:

    Strong minds discuss ideas, average minds discuss events, weak minds discuss people.

    – Socrates

  4. nah iya bang beneer :”) kadang lewat gosip kita bisa jadi langsung akrab. Percakapannya langsung cair, apalagi kalau gosip trs kta berada di pihak yg sama huhu

    padahal, menggosip sama dengan memakan bangkai saudaranya :”) apa pepatah ini sudah tidak laku untuk menakut nakuti ya :”

    • Abang percaya ada perbedaan antara gosip dengan: bercerita, curhat, dan ngerumpi. Satu-satunya pembeda, dan yang menjadi ciri utama gosip adalah “pengumbaran aib”. Gosip itu bergunjing, yang digunjingkan adalah kejelekan orang lain, dan pergunjingan itu benar-benar dinikmati. Hasilnya adalah penghancuran karakter, pembunuhan mental seseorang yang sama sekali bukan urusannya 🙂

  5. Wahahaha sianjir, sepertinya saya sakit jiwa karena tiap nongkay selalu ngegosipin orang wgwgw.

    Soalnya kalau nga gitu, nga ada obrolan 😦

    Masa tiap hari ngebahas materi perkuliahan dan kerjaan.

  6. Sebagai anak yang suka gossip aku tertohok membaca postingan ini. Tapi saya sekarang berusaha cuma jadi pendengar dan menambahkan bbrp info utk meluruskan biar ga makin ngaco aja beritanya.

    Udah trauma sama yang namanya nggosipin temen, apalagi temen sendiri because i’ve lost a good friend cuma gara-gara kemakan gosip dan jadi ikut dikomporin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s