Hilang

1.

Yang hilang tidak sama dengan yang berlalu.

Pada yang berlalu, manusia tidak punya daya untuk mengembalikan. Manusia hanya bisa berserah. Orang mati tak mungkin kembali. Orang tinggi tak mungkin dipendekkan. Manusia tidak bisa pergi ke masa lalu untuk mengubah kesalahan. Mereka hanya bisa berusaha tidak mengulangnya.

Pada yang hilang, manusia bisa mengupayakannya untuk kembali. Kebiasaan membaca buku bisa dibentuk lagi, malas sembahyang bisa diperbaiki. Kita diizinkan Tuhan berusaha karena, kerap, manusialah pelaku yang menghilangkan. Salah satu yang manusia hilangkan adalah peradaban. Peradaban ekologis.

Peradaban ekologis adalah peradaban di mana manusia membangun kebudayaan dengan mengandalkan alam, sekaligus, mematuhi hukum-hukum lingkungan hidup. Manusia masih mengambil sedikit dan membuang sedikit. Manusia masih mengutamakan kualitas alih-alih kuantitas, dan kebutuhan dipenuhi secara bergotong royong. Dengan cara itu alam menjadi tetap lestari, tak terbabat atas nama ‘hasrat’.

Peradaban ekologis itulah yang (sedang) hilang.

Tulisan ini akan panjang, 1000 kata. Tapi isi tulisan ini hanyalah cerita, tentang kota-kota yang saya tinggali, tentang kehidupan yang saya ingat di masa kecil. Saya niatkan sebagai catahu 2019 (saya tidak begitu suka resolusi). Mudah-mudahan teman-teman betah membacanya.

2.

Hilangnya peradaban ekologis nampak dari hal-hal sederhana. Di Tlogomas, Kota Malang, basanya sepulang dari asrama pada pukul enam pagi, saya melewati satu spot yang menghamparkan pemandangan gagahnya Gunung Arjuno. Menjulang, raksasa, kukuh, biru, segar. Melihatnya, saya merasa kecil. Sekarang, sebuah apartemen yang tinggi sengaja dibangun di spot itu untuk memanjakan penghuninya. Pemandangan itu sudah hilang, diganti dengan kawinnya laba (bagi produsen) dan sensasi (bagi konsumen).

Saya harus menyebut sebuah istilah, yaitu privatisasi: manusia bermodal “berhak mengurung” ruang-ruang hidup untuk kenyamanan sekaligus keuntungannya sendiri.

Peradaban yang serba menyulap tanah menjadi gedung bukan cuma akan menutup pemandangan. Sebuah mal dan perumahan elit di Kota Malang dibangun di atas Ruang Terbuka Hijau paling penting, yang sejak era Belanda haram dijadikan objek pembangunan. Mal dan perumahan elit itu dibangun dengan mengabaikan sejumlah demosntrasi besar dari mahasiswa, dosen, seniman dan bahkan PNS. Kini, ditambah dengan jumlah kendaraan yang membludak dan prasarana transportasi tidak diperbaiki, juga maraknya alih fungsi lahan karena kebutuhan hunian dan fasilitas bisnis, Malang telah menjelma Malang yang panas, sumpek, macet.

Sebagai pendatang, saya tidak boleh menggerutu. Sebab saya bagian dari pelaku, meski hanya sebagai pelaku minor (konsumen). Pelaku mayor, yakni para produsen bermodal besar, mengubah Ruang Terbuka Hijau menjadi gedung-gedung pendulang laba. Di Kota Batu, hanya tinggal 37% dari 800-an sumber air yang kualitasnya benar-benar layak. Perubahan dipengaruhi oleh semakin sedikitnya lahan berpohon dan berkurangnya mutu tanah. Meski Kota Batu masih dingin, dinginnya jauh berkurang. Dan Batu bukanlah kota syahdu romantis yang dulu saya kenal. Macet tidak lagi mengenal hari.

3.

Malang adalah kota besar. Mungkin wajar bila hari-hari ini menjadi sedemikian memusingkan. Tapi yang hilang juga merambat ke pulau mungil kami, Lombok.

Di Janapria, Lombok Tengah, saya menerima cerita tentang berubahnya budaya bertani sejak masuknya tanaman tembakau. Sebelumnya, bertani adalah ‘kegiatan bersama’. Para petani berpikir dalam spektrum ‘kita’. Hanya sedikit bantuan sosial yang bernilai transaksi; bahkan untuk memanen, petani tidak perlu saling mengupah. Gotong royong masih sangat kuat. Sendi-sendi sosial adalah penopang. Namun datangnya tembakau membawa kelas menengah baru yang mempertontonkan jenis kesejahteraan baru, dan sejak itu warga Janapria terikat pada giurnya uang. Hampir semua pekerjaan dilihat dari besaran upah.

Saya menyebut “kesejahteraan baru”, ya. Maksudnya kesejahteraan yang bertumpu pada membeli, pada konsumsi, pada uang. Kesejahteraan yang setia mengejar tren, sehingga sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kesejahteraan yang menuntut having alih-alih being.

Kota Mataram tidak sepi lagi. Tanah-tanah lapang semakin jarang. Persawahan terjual. Kota ini sedang dalam perjalanannya menyaru Jakarta. Ancaman ‘menyempitnya lahan’ digaungkan koran-koran, sebab mimpi pembangunan masih jauh dari selesai tapi lahan untuk membangun sudah tidak ada. Saya sendiri selalu curiga bila melihat ada jalan raya baru yang membelah areal kosong, sebab jalan raya selalu mengundang bangunan baru di kanan kirinya, kemudian disusul dengan bangunan lain di belakangnya. Manusia modern tidak pernah kuat melihat lahan kosong. Semua ingin disulap jadi gedung.

4.

Saya terkenang semasa kecil di kampung nenek, di Anjani, di mana hampir semua orang berjalan dengan bertelanjang kaki. Lazim saya temukan gadis-gadis duduk di teras sedang menenun kain dan menyesek tikar mereka sendiri. Seorang gadis dianggap layak dinikahi bila sudah bisa menenun sendiri. Pun, anak-anak dan remaja jamak mencari kayu terbaik dan mengukir gasingnya sendiri. Mereka menarik belakong dari batang pisang dan memelintirnya di paha, sampai paha memerah, demi membuat tali gasing.

Waktu itu, saya sungguh-sungguh tidak paham perbedaan besar antara “masyarakat yang mampu memproduksi kebutuhan mereka sendiri” dan “masyarakat yang hanya tahu memenuhi kebutuhan dengan membeli”. Saya tidak mengerti betapa kemandirian semakna dengan kemerdekaan dan kebahagiaan. Saya baru memahaminya setelah membaca Mahatma Gandhi, yang mengajak rakyat melawan penjajahan dengan membakar pakaian yang diproduksi penjajah dan mulai menenun kain sendiri, dan bangga dengan tenunan itu, sekasar apapun kainnya.

Mampu berproduksi berarti berdaulat dan merdeka. Semua itu ditopang dengan semangat kasih sayang dan gotong royong. Waktu kecil, saya diajari nenek untuk meminum air langsung dari sumur, setelah susah payah menimbanya. Air itu jernih-bersih. Sumur pribadi nenek gratis bagi seluruh warga desa. Banyak tetangga mengambil air dari sumur nenek. Di India dikenal Jal Maindirs, semacam kuil air, yang airnya disediakan cuma-cuma untuk para pengelana. Sumur nenek miriplah dengan Jal Maindirs.

Sekarang sumur itu sudah ditutup. Di atasnya berdiri sebuah rumah. Sudah jamak saya temukan sampah botol air mineral. Orang-orang sudah terbiasa membeli air.

5.

Peradaban ekologis sudah, sedang dan terus menjadi yang hilang. Manusia terus mengeksploitasi alam untuk kepentingan pembangunan, yang hasilnya adalah masyarakat urban serba nafsi-nafsi, yang hidupnya hanya tentang membeli, dan di benaknya lebih hidup transaksi alih-alih cinta yang sederhana.

Nabi Saw. pernah bersabda, manusia takkan puas pada dunia sampai tanah menyumpal mulutnya. Tafsir memaknainya sebagai keserakahan, tapi dengan batin tertekan saya melihatnya sebagai: nafsu menukar bumi dengan pembangunan sampai pohon terakhir telah ditebang dan hewan terakhir telah diburu. Air bersih telah punah dan udara telah berwarna. Yang tersisa bagi manusia hanya beton dan semen.

Agama tetap ada, tapi penghambaan manusia telah berpindah pada privatisasi, industrialisasi dan kapitalisasi. Semua demi Tuhan yang sama: pertumbuhan ekonomi.

Saya optimis masyarakat semakin sadar akan kebersihan lingkungan, tapi saya pesimis manusia bisa berhenti menghabisi ruang hidup demi kepuasan mereka sendiri. []

Standar

28 respons untuk ‘Hilang

    • Sesungguhnya kita tidak lebay, Mbak, bila kita berperasaan seperti itu. Bagaimana pun, kemajuan yang kita alami saat ini sudah terlalu pekat dengan kritik. Perasaan kita ada sandaran ilmiahnya, dan kita tidak sendirian. Di India, yang masih hidup, ada Vandana Shiva. Pikiran-pikirannya sangat bagus 🙂

  1. Pendek berkata:

    Menarik..
    Sebagai warga Malang, aku merasakan banyak kehilangan: pohon, sungai dgn airnya yg jernih, rumah tetangga yg tergantikan dengan ruko, sawah yg berganti rupa perumahan.

    • Kupikir Mas Pendek mengelola blog 😅

      Sebagai pendatang, aku merasa bersalah. Tapi sedapat mungkin, karena aku mencintai kota ini, aku ikut bersuara melawan kerusakan yang lebih besar 🙂

  2. Paragraf terakhir itu apakah sebentuk pesimisme akan kembalinya peradaban ekologis, Bang?
    Apa tidak ada cara agar peradaban ekologis itu kembali tanpa mengorbankan capaian-capaian modernitas?

    • Optimisme itu ada dalam kubu antroposentrisme, Ustadz. Mereka optimis modernitas bisa berdamai dengan alam. Tapi bagi kubu ekosentrisme, harapan itu hanyalah utopia; sebab paradigma dasar dalam modernitas membentuk hirarki yang memberi hak pada manusia untuk mencaplok lingkungan hidup, dan paradigma itu menjadi penyangga bagi anak-anak modernitas: industrialism, developmentalism, consumerism.

  3. ‘manusia sudah semakin memisahkan kehidupannya dari alam. sedemikian rupa kita menggoroknya..’
    Saya merasakan kehilangan-kehilangan ekologis itu. kabupaten saya sendiri mempunyai cita-cita ‘ijo royo-royo’, tapi pembangunan yg masif terpaksa meniadakan sederet panjang pepohonan. kami punya bank sampah yang disebut-sebut sebagai bank sampah pertama di negeri, tapi sosialisasi pemanfaatan dan pengelolaan sampah masih hanya sebatas proyek. masalah-masalah sampah tetap ada. beruntung jarang banjir di sini, tapi saya kira kita—semua tempat, hanya menunggu waktu saja untuk mendapat banjir pada akhirnya.

    • Mengerikan sekali membayangkan kalimat terakhirmu, Frida, bahwa semua tempat hanya menunggu waktu saja untuk banjir. Mengerikan. Kita mengatur kota agar bersih dari sampah, tapi seluruh mode produksi dan mode konsumsi manusia menimbulkan pemanasan global yang dapat mencairkan kutub-kutub es, yang pada akhirnya, meninggikan air laut dan menghasilkan banjir. Kita kebingungan menentukan lawan utama dan tidak bisa bekerjasama, minimal saling dukung sepemahaman, antar satu gerakan dengan gerakan lain.

  4. Ping-balik: Award – A.S. Rosyid

  5. Dalam sebuah buku karya Jared Diamond judulnya Guns Germs and Steel, satu bab sendiri menjelaskan bagaimana kaum berpunya dan bagaimana kaum tidak berpunya, kaum bertani dan kaum tidak bertani, dalam hal ini sama dengan maksud yang disampaikan mahatma gandi, berdikari begitu kemudian Soekarno menyebutnya, kemudian itu menular ke filosofi permaninan eggrang, intinya bangical kaum berpunya akan selalu menang dari kaum tidak berpunya, kaum yang bisa memproduksi pertaniannya sendiri akan menang dengan yang tidak.

      • Bukan bang mereka orang orang yang berpunya dan bertani dalam satu kali tarian, mereka berpunya atas kebersamaan, gotong royong, mereka bertani dengan menanam bibit bibit kebaikan dan disebarkan kepada khalayak, di tanah bibit bibit itu dan baru saja kita bicara tentang menanam kebaikan, cocok sesuai yang bang ical sampaikan bahwa dahulu sebelum tembakau gotong royong kental dan bukan sekadar urusan transaksional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s