Pilihan

Tinggal di Jawa memang menggoda.

Banyak kawan bertanya, apakah selepas magister saya akan pulang ke Lombok atau meneruskan karir di Jawa. Lingkaran studi ingin saya tetap di Jawa, di Malang. Mas Hasnan yang akan segera Ph.D di Eropa mengangkat saya sebagai direktur eksekutif RGST dan berharap saya mendaftar sebagai dosen di UMM. Beliau tidak bosan mendorong saya sekolah.

“Mengulanglah S2, di luar,” ia memberi saran yang tidak praktis. “Merendah sedikit untuk belajar lagi tak ada ruginya. Ilmu yang matang, berkah.”

Sekolah di luar negeri sudah menjadi cita-cita saya. Saya ingin ‘dihajar’ tradisi intelektual yang gahar dan mendapatkan kunci gerbang pertama dunia ilmu, yaitu gelar Ph.D. Saya ingin menulis disertasi yang membela para penganut agama leluhur Nusantara dari sudut pandang Islam dan ekologi. Tema itu adalah lanjutan dari tema tesis saya, Islam dan ekosentrisme.

Masalahnya adalah, apakah saya harus mengusahakan beasiswa sembari berkarir di Jawa atau di Lombok? Tinggal di Jawa memang menggoda. Jejaring kerja saya hampir semuanya di sini. Ilmu membuncah lebih sering dan cepat. Fasilitas publik lebih lengkap. Berekspresi lebih leluasa. Bahkan rasanya Bapak dan Mamak mendorong saya agar tinggal di Jawa saja.

Namun hati ingin yang lain. Saya berencana kembali ke Lombok. Selain karena saya ingin menemani masa tua Bapak dan Mamak, mungkin juga karena setahun belakang saya merasakan banyak perubahan.

Tahun 2015, saya pulang ke Lombok dengan semangat ingin berbuat, bergerak, berorganisasi, semacam itu. Saya berusaha menginisiasi perubahan. Hasilnya: perpustakaan yang saya dirikan lumayan punya kiprah. Sekarang semua itu berubah. Saya ingin berbuat, tapi tidak berorganisasi. Saya ingin bergerak, tapi tidak menggalang orang. Saya lebih ingin belajar dan berkarya sendiri. Berjejaring tanpa berkomunitas.

Saya ingin pulang ke Lombok untuk mempelajari siapa saya. Saya ingin belajar menjadi orang Sasak. Bangsa Sasak punya epistemologi tentang usul-asal, jati diri, Tuhan, alam fisik, alam metafisik, misteri perempuan, bahkan sejarah persaudaraan antara kedatuan Selaparang dengan kerajaan Majapahit. Saya terbakar rasa ingin tahu, ketika saya bertanya pada kaum tua di Bayan mengenai sejarah Islam di Lombok, saya malah dijawab sambil terkekeh: “Lombok sudah Islam jauh sebelum Nabi Muhammad lahir.”

Saya ingin belajar dan mencatat pinajaran-pinajaran Sasak itu. Sebagai orang Sasak, saya ingin melawan ganas modernitas yang telah mencerabut identitas budaya sekaligus menggeragoti sumber daya alam orang Sasak. Ini bukan pelajaran memakai pakaian adat; ini pergulatan intelektual. Satu-satunya cara untuk melakukan itu adalah dengan kembali dan tinggal di Lombok.

Tapi, oh tapi,

keinginan saya ditampik.

Saya pernah sowan dan curhat pada tiga orang sufi. Dua di Lombok Timur, satu di Lombok Barat. Ketiganya punya sabda yang sama: “Bukan di sini, Tatiq, tempatmu tinggal nanti.” Tatiq adalah Bahasa halus untuk mengatakan ‘anakku’.

Saya patah hati. “Di Jawa?” Tanya saya tanpa tenaga.

“Di sana,” tangan mereka ada yang mengibas, ada yang menunjuk ke Barat. Dan jawaban mereka serupa: pokoknya ndak di sini atau terserah Tuhanmu nanti. Saking patah hatinya, saya sempat berharap tinggal di Kanada, atau di Bhutan, atau di Mongol saja, menghabiskan sisa usia dengan menggembala kambing.

Ketika saya curhat perihal ini pada guru saya, saya mendapatkan jawaban yang menenangkan hati. “Tuhanmu maha pemurah. Kalau niatmu bagus, Tuhanmu akan memberikannya. Jangan goyah karena kata orang. Itu cuma pendapat. Tuhanmu yang maha tahu, maha berencana.”

Saya amati guru saya yang bersahaja itu. Terbit rasa hangat di dada saya.

Tahu-tahu guru saya menyeletuk: “Tapi bisa jadi mereka benar.”

Ah, saya patah hati lagi. []

Standar

59 respons untuk ‘Pilihan

  1. Aku selalu salut kepada orang yang telah meraih gelar tinggi namun kembali ke daerah dengan satu tujuan mulia.
    Orang awam boleh memandang rendah karena dianggap tidak sesuai dengan yang diharapkan. Tapi menurutku itu hal yang paling mulia.

  2. semoga semesta menuntun jawaban-jawaban itu dengan lekas. terharu, ada manusia yang bergerak dan menggerakkan. semoga beberapa tahun ke depan bang ical menemukan tajrid islam di Lombok yang bang ical cari itu.

  3. Kembali ke Lombok aja, Bang Ical. Supaya tahun ini bisa jadi tour guide bila nanti aku ke Lombok 😊👍 *komen yang sungguh “belok” sekali wkwkwk*

  4. praditalia berkata:

    Eh ngakak tanpa dikasih aba2. Wkwkwk. Dilema anak rantau. Saya pun demikian, sebentar lagi, cepaf atau lambat. Tapi bedanya, saya sdh menentukan pilihan yang sepertinya berbeda dgn keinginan orang tua. Bliau ingin saya pulang, tapi saya ingin tetap tinggal. Hidup mmg semembingungkan itu. Tapi, ketika dijalani ya biasa aja wkwkwk

  5. Dulu pernah sempat punya cita2 yang sama mas. Selepas menyelesaikan studi master saya ingin pulang kekampung halaman, untuk membangun sembari berbakti kepada orang tua. Ketika kesempatan itu datang, Alhamdulillah orang tua saya sendiri yang menentang dan menyuruh untuk tetap di Jawa. Mungkin sudah jalannya dari yang punya takdir 😀

  6. Senang membaca sgla hrpan dan cita seorang Bro Ical. Selalu menginspirasi. Menurut saya, ikutilah kata hatimu. Engkau sdh banyak melalui banyak kisah. Tpi gmn pun karya nyata sllu ditunggu.
    Slmat berjuang dan menentukan pilihan. Choose your choice n love your choice.

    Oya, saya justru menawari Anda utk sesekali menulis Cerpen di blog sya 🙂 Tentu bkn tanpa apresiasi. Tapi sebenarnya saya sungkan. Tp eh, sdh sy utarakan 🙂

    • “Loving the choise.” Sulit sekali, Pak Guru. Ilmu setia itu ilmu tertinggi :’) Terima kasih dukungannya. Pelan-pelan, ragu itu akan sirna, dan aku akan bisa memutuskan apakah harus kembali atau pergi 🙂

      Ahahaha, serius, Pak Guru? Berapa kata? 😅

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s