Perubahan

Saya menggemari Dewa 19 sejak saya memiliki kaset tape berisi dua puluh empat lagu ter-hits tahun 1999-2001. Di dalamnya ada lagu “Jika” dari Ari Lasso feat. Melly Goeslaw; ada lagu “Sobat” dan “Mahadewi” dari Padi; kemudian, tentu, ada lagu “Risalah Hati” dari Dewa 19.

Waktu saya kecil, Bapak punya mobil Jimni merah. Sering Bapak membawa saya ke pelosok-pelosok Lombok Barat, dalam tugas sebagai guru, atau sekadar menyambangi sahabat-sahabatnya. Saya memutar kaset itu di tape mobil. Tiga lagu itu paling senang saya rewind. Dalam imajinasi saya ketiganya punya aura yang sama: biru mendung. Musiknya berkelas.

Tapi yang paling sering saya rewind adalah lagu Risalah Hati. Saya sering menyeludup ke mobil hanya untuk memutar lagu ini, karena tape di rumah rusak. Akibatnya, Bapak marah-marah lantaran aki mobil cepat habis. Waktu itu, Dewa 19 sedang bangkit kembali setelah mendapatkan vokalis yang baru, Once. Album Bintang Lima terjual jutaan copy.

Dua puluh tahun telah berlalu, saya masih senang mendengarkan Album Bintang Lima. Saya merasa album itu album terseksi dan teaterikal. Dibuka dengan instrumentalia berjudul “mukaddimah” dan lagu “Roman Picisan”, saya mengkhayalkan sebuah puri kuno dengan tuan dan puan berpakaian renda sedang menari gelisah. Lagu-lagu selanjutnya khas dan abadi: “Separuh Napas”, “Risalah Hati”, “Lagu Cinta”, “Sayap-sayap Patah”, “Dua Sedjoli”.

Album-album berikutnya, warna musik Dewa 19 berubah menjadi lebih rock. Dawai gitar dan denting piano yang magis dan jamak ada dalam karya Dewa 19 jadi jarang. Musiknya masih sangat berkelas, tapi Once sudah tidak selepas dulu dan Pak De Botak (begitu baladewa menyebut Ahmad Dhani) sudah neko-neko. Tahun ini Pak De Botak keluar dari penjara dan bikin konser mengenang dua puluh tahun Album Bintang Lima. Agaknya Pak De Botak merindukan masa silam.

***

Tapi saya menyukai Album Bintang Lima bukan semata karena musiknya. Album Bintang Lima terpatri kuat di benak saya karena berlengketan dengan memori masa kecil; memori saya semasa Pulau Lombok masih hijau; semasih Pulau Lombok hutannya lebat, semasih sawahnya banyak, semasih sungainya jernih. Album Bintang Lima menghadirkan kembali di benak saya Jimni Bapak yang menyusuri jalan lengang Lingsar, Tunjang Polak, dan Medas.

Hingga kini, saya masih sering berkendara seorang diri, memakai headset (ini kebiasaan buruk saya, maaf) dan menikmati lagi lagu-lagu dalam kaset tape yang dulu. Daerah-daerah pelosok masih hijau, namun dugaan saya mereka takkan bertahan lama. Sawah-sawah di desa-desa terdekat mereka sudah banyak berubah menjadi rumah.

Lombok sudah banyak berubah. Sudah mulai ramai dan bising. Orang-orang datang ke sini bukan sekadar untuk mencari penghidupan, tapi juga untuk melipatgandakan uang mereka, seserakah mungkin, dengan merusak lingkungan hidup, tanpa memikirkan bagaimana nasib masyarakat dan kebudayaan di pulau ini kelak. Kebisingan dan keserakahan itu dengan cepat menular sebagai karakter baru orang Sasak.

Saya sumpek. Kian hari orang cuma bicara tentang modal modal modal, laba laba laba. Saya bukan tidak mengerti kesusahan. Saya sempat menyaksikan masa-masa susah orang tua. Waktu itu orang dewasa tak sungkan menggelisahkan kesulitan hidup di depan anak-anak macam kami. Tapi tidak pernah, sekali lagi, tidak pernah, tidak seperti sekarang ini, saya mendengar uang dibicarakan dalam spektrum penuh nafsu. Seakan-akan tidak ada kehidupan kalau tidak kalap menggandakan laba selekas-lekasnya. Sebengkak-bengkaknya.

Sebenarnya apa arti perubahan?

Semakin ke sini, manusia semakin kesulitan menyeleksi mana tsawabit (yang harus tetap) dan mana mutagayyirat (yang boleh berubah). Ciri khas peradaban tanpa pendirian. []

Standar

23 respons untuk ‘Perubahan

  1. praditalia berkata:

    Apapun yg rasa nostalgianya pasti terpatrinya lama ya

    Mungkinkah orangtua kita jg memiliki pemikiran yg sama ketika seumuran kita? Kalau mmg iya, brrt memang sudah alamiah pemikiran ttg duniawi ini. Pertanyaan slanjutnya, akankah generasi stelah kita juga akn punya pemikiran utk mningkatkan laba tanpa memikirkan lingkungan? Kapan ya pemikiran akan duniawi ini mncapai puncaknya, wkwkwk

    • Generasi sekarang sudah lebih tersadarkan, tapi sayangnya, setelah krisis mulai mengancam. Generasi dahulu gaya hidupnya lebih pro-lingkungan, tapi mereka tidak punya kuasa untuk melawan gerak-modal-raksasa 🙂

  2. Karena manusia tidak pernah merasa puas.
    Btw, aku juga suka lagu-lagu Dewa. Bagiku lagu mereka keren, terlepas dari yang neko² itu (setelah dia neko² aku memang hilang simpati. Untung ada Once yang membuat luluh)

  3. Renungan yang sangat mendalam, Bang. Melihat perubahan-perubahan sekitar kita, selalu muncul perasaan-perasaan khawatir akan masa depan.

    Saya kadang berpikir, manusia memang dikutuk bernasib sama seperti Sisiphus: menyorong batu harapan ke puncak gunung, lalu mendorongnya jatuh lagi ke dasar gunung untuk disorong lagi ke puncak. Begitu terus tiada henti.

    Orang-orang tua kita mengkhawatirkan nasib anak-cucu mereka, yaitu kita-kita ini, lalu mereka mengikhtiarkan perubahan agar anak-cucu mereka bernasib lebih baik. Namun, pada saat yang sama, mereka sebenarnya membebankan tanggung jawab kepada anak-cucu mereka agar meminimalisir efek samping dari perbuatan mereka. Hal itu berulang kepada anak-cucu mereka, yaitu kita-kita ini, yang juga mengkhawatirkan nasib anak-cucu, namun siapa bisa menyangkal bahwa efek buruk dari perbuatan kita kelak akan menjadi tanggung jawab anak-cucu kita.

    Jalan pikiran ini memang muram, tapi saya harap pikiran saya itu tidak benar.

    • Saya berharap kemuraman ini cuma punya Ustadz. Tapi sial. Saya ndak bisa bohong kalau hal itu menjadi kegelisahan saya juga 😔

      Apakah sudah guratan takdir, orang-orang yang diberikan kejernihan berpikir itu jumlahnya atu berbanding seribu? Mudah untuk berkata bahwa dengan kejernihan pikiran dan kesadaran baru seseorang bisa saja melepas diri dari lingkaran membosankan itu. Tapi tidak ada jaminan untuk itu. Tidak mudah.

  4. Bang ical tulisannya bagus, mengenai jalan ke arah mana hidup ini. Teringat istilah 3 TA yakni harTA, TAhta dan waniTA. Mgkn Bang Ical Bisa diskusi mengenai 2 hal lain juga, gmana arah perubahannya. Selain itu Mengenai Musik Analog (Tape) dan musik digital. Lebih indah yang mana?. Mengingat saya pernah tahu literatur Musik analog lebih indah di dengar dan bermanfaat dari pada musik digital. TERIMAH KASIH BANG ICAL

    • Sejak mempelajari etika lingkungan dan mengetahui perdebatan-perdebatan di seputarnya, saya mulai merasa ada paradigma yang sangat, sangat, sangat bergeser dari umat Islam dalam melihat harta. Ini bukan lagi tentang ilmu hitung uang, tapi falsafah ekonomi, hakikat kesejahteraan. Saya ingin melakukan studi tentang itu, tapi entah harus dimulai dari yang mana.

      Tapi itu soal harta. Tahta dan wanita, saya ndak paham 😂

      Oya, Mas Nur Hamid bisa beri saya pandangan tentang perbedaan musik analog dan musik digital?

  5. Wahono berkata:

    Saya pengin menulis seperti ini, sepertinya sudah terwakili oleh nya. Karena ketidakmauan dan kemampuan yg pas pas an..baiklah saya lebih memilih menikmati tulisan tulisan nya.
    Ical ini kalo nulis udah kayak ibu ibu,mak mak lagi di pasar..santai dn menyenangkan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s