29

Saya sedang menjelang dua puluh sembilan. Beberapa hari lagi usia saya bertambah.

Ada banyak perubahan dalam diri saya dibandingkan tahun-tahun belakang. Salah satunya, saya merasa menjadi tua itu menyenangkan. Padahal saya pernah sebal kalau usia dijadikan tema bercanda. Sekarang berbeda: bukan sekadar berhenti sebal, tapi malah gembira. Saya bahkan senang punya uban. Saya enggan cabut uban.

Setahun belakangan saya menikmati film-film tentang dunia orangtua, seperti “Mr. Holmes”, “Ordinary Love”, “Cinema Paradiso”, “Canola”, “The Mule”, “Logan”, “Letters to Juliet”, atau “Going in Style”. Saya tertarik pada bagaimana mental manusia berubah, pada bagaimana manusia melihat hidup yang dulu pernah mereka perkelahikan tapi ternyata yang tersisa dan berharga di masa tua adalah apa yang dulu mereka abaikan.

Ya, makin ke sini saya makin yakin bahwa hidup (yang tak pasti dan mengundang takut, yang menggoda dan bikin gaduh), sesungguhnya biasa-biasa saja. Yang istimewa cuma cinta, dan cinta ditemukan justru di dalam kesederhanaan.

***

Saya juga merasa terpukau pada “Little Forest”. Meski bukan tentang orangtua (pemerannya Kim Tae Ri, yang cantiknya masyaallah), film ini menyentak impian lama saya. Kim Tae Ri tinggal sendirian di sebuah desa yang tenang. Ia menghabiskan waktu dengan ikut berladang dan menekuni hobi memasak. Ya, menonton film ini, saya teringat impian lama saya untuk hidup melajang sampai tua.

Saya memang senang menghadiri akad nikah, tapi semata karena pernikahan itu sakral. Sebab, pernikahan melahirkan kehidupan baru. Bila seks adalah peristiwa purba yang di dalamnya Tuhan mempertontonkan keajaiban penciptaan melalui jalinan mistis energi-energi kehidupan, maka pernikahan adalah perayaan keakbaran Tuhan. Keagungan nikah dan seks mewakili keagungan Tuhan dan kosmos. Sehingga bahagia saya adalah bahagia bisa turut merayakan keagungan. Tidak ada perasaan ingin memiliki pengalaman romantis. Toh sakralnya hidup tidak satu macam.

Saya pernah ingin melajang hingga tua. Saya bayangkan akan tinggal sendirian di sebuah rumah mungil dua kamar. Satu untuk saya, satu untuk siapa saja yang butuh menginap. Ruang tengah adalah perpustakaan, dengan meja kerja di pinggir jendela. Tidak perlu sofa, cukup karpet tebal dan beberapa bantal. Saya akan menghabiskan waktu dengan naskah-naskah: duduk serius di belakang meja, membetulkan posisi kacamata, berkerut dan memicing berusaha memahami satu atau dua kalimat penting.

Itu pekerjaan sebagai akademisi, peneliti dan penulis. Selebihnya saya pakai untuk menerima tamu, menemui kawan, mengunjungi makam, jalan-jalan, kulineran, ngopi, diskusi, berlatih beladiri, nonton film. Mungkin nanti sembari bercocok tanam, belajar memasak, boleh juga belajar menjahit. Oya, saya ingin rutin bersepeda, naik gunung. Atau tiduran, mager, gabut.

Hahaha.

Hanya saja, saya sungguhan bergetar menonton film rekomendasi Ustadz Hilal, “The Man From Earth”, tentang manusia berusia 14.000 tahun. Bagi sang tokoh, hidup lebih tua tidak lantas membuatnya lebih pintar. Usia panjang hanya memberinya lebih banyak waktu untuk belajar. Ilmu membantunya memahami dunia yang banyak berubah. Sang tokoh juga tinggal sendirian. Saya membayangkan kesendiriannya itu: malam hari ia duduk di depan perapian, mencoba merenungkan rahasia umur panjang yang ia sendiri tidak pahami; lain malam ia membaca buku dan menulis; pagi hari ia mengajari mahasiswa-mahasiswa brilian, atau bercengkrama dengan rekan-rekan akademisi.

Aih, betapa menyenangkan.

Tapi saya akan menikah. Tentu, saya akan menikah tanpa berniat membuang semua kesenangan pribadi yang saya ceritakan tadi.

***

Poinnya adalah, saya sedang menikmati masa transisi (masih transisi) menjadi lebih dewasa: belajar mengakui kesalahan, meminta maaf, melepaskan angan, menjadi apa adanya, dan menerima kelemahan (vulnerabilia). Saya suka menjadi tidak tahu, tidak sanggup dan tidak punya. Tantangannya banyak dan tentu saja saya lebih sering khilaf, namun bila saya berhasil melakukannya, maka bahagianya berkali lipat. Saya hanya takut bila gagal dalam hal prinsipil. Kuatkah saya menahan diri? Beranikah saya menyepelekan dunia? Mampukah saya merawat cinta? Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk terutama saat hidup sedang sulit-sulitnya.

Dan kesulitan memang selalu menunggu di depan sana. Sebagai seorang muslim saya harus yakin, kesulitan adalah kesempatan untuk menakar kualitas. Inginnya, sih, saya cukup menjadi orang yang biasa-biasa saja. Tidak berminat terbang, tapi tak juga bisa diinjak-injak orang.

Dan saya berdoa, terutama ketika usia saya akan bertambah seperti hari ini, agar Tuhan memberi saya kekuatan untuk menjadi biasa-biasa saja. []

Standar

27 respons untuk ‘29

  1. Cowok umur 29 mah msh muda kok, ga perlu cepet² nikah, bawa santai aja. Punya pasangan atau enggak, yg penting hepi dengan pilihan & cara masing².

    Tp aku doain sih semoga segera ketemu sm jodohnya yg ga disangka² 😎

  2. sakit to??? dirawat??? saya juga dan baru pulang *kalo yaa kita harus tos cal 🤣🤣🤣

    ehhh ultahnya kapan si? aquarius kah???? selamat 29… terakhir kepala 2. TERAKHIR!!!!!

  3. Wah, ada yang mau ulang tahun ternyata.
    Tapi menurutku 29 untuk ukuran cowok masih muda itu he he he
    Btw, duluuuu … aku juga pernah punya niat serupa utk melajang selamanya he he he, tapi bedanya aku ingin mengangkat anak entah dari mana sebagai pendamping hari tua.
    Tapi, seiring waktu semua berubah😀😀

  4. Wah, mau ultah? Kpn ya persisnya…? Ntar lp, sy ucapin dluan aj ya. Slmat menjelang ulang tahun/Slmat ulang tahun. Doa terbaik utk Anda. Sukses dech pokoknya.

    Btw, saat hdup sedang sulit2nya itu menurut seorang Bro Ical itu gmn ya? Apakah maksudnya trllu bnyak mslh atau lg susah keuangan atau sprti apa? Klau mmang begitu, saya salut loh, di saat sprti itu org msh produktif menulis atau menuturkan dg baik apa yang dialaminya lwat bahasa tulis.

    • Wah, terima kasih ucapan selamat dan doanya, Pak Guru Desfortin 😇 Mudah-mudahan berkelimpahan pada kita semua berkah-berkah, amin 😇

      Ya, apapun kondisi di mana manusia terdesak dan merasa susah, tentu dengan ragam levelnya. Itu masa-masa sulit 🙂

  5. “bagaimana manusia melihat hidup yang dulu pernah mereka perkelahikan tapi ternyata yang tersisa dan berharga di masa tua adalah apa yang dulu mereka abaikan.”

    Ya ampun. Ternyata benar, banyak film ttg usia tua yang menekankan pesan seperti itu ya.

    Saya boleh share tulisan ini di facebook, Bang? Tentu nanti linknya saya sertakan. Tulisan ini, seperti tulisan² Bang Ical yang lain, berisi renungan sangat mendalam. Cuma sekarang topiknya keren banget: usia tua. Saya baru sadar ttg banyak hal setelah membaca tulisan ini

  6. Ping-balik: Ngeblog Lagi – A.S. Rosyid

  7. Halo Bang Ical. Happy belated birthday ya 🙂

    aku kutip tulisan kamu bang, “saya tertarik pada bagaimana mental manusia berubah, pada bagaimana manusia melihat hidup yang dulu pernah mereka perkelahikan, tapi ternyata yang tersisa dan berharga di masa tua adalah apa yang dulu mereka abaikan.” <— exactly! 🙂 aku disadarkan Tuhan tentang hal ini dalam dua tahun belakangan ini 🙂

    Mungkin itulah proses kehidupan ya? 😀

    nah, kalo tentang uban, aku juga senang sama uban. tapi uban bikin kulit kepala gatal, jadinya sering aku cabutin 😀

  8. Ping-balik: Award – A.S. Rosyid

  9. Setiap pergi ke Kampus tepatnya di ruang Asisten laboratorium saya berjumpa dengan abang sekaligus sobat uring uringan saya, bang Romza dan Riha double R namanya, sama sama berumur 29 tahun sedang saya juniornya jauh terpaut tujuh tahun, seringkali saya njangkar atau bertingkah tidak sopan kepada abang abang itu, tapi selebihnya saya salut kepada mereka yang tidak malu untuk menanyakan sebuah pendapat kepada saya, ya sekali kali saya suka sekali njangkar bercanda perihal umur dan karier yang (nampaknya) begitu begitu saja ^^. “Bagian impian melajang sampai tua tentu tidak bisa saya jadikan teladan, tetapi ketika impian itu tentang buku, ruang-ruang santai lagi serius, bercocok tanam, berkebun, mendaki gunung, berkemah, rasanya inii ni inii!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s