Bullying

Pernah, saya dikeroyok puluhan orang. Kejadian itu tiga belas tahun yang lalu.

Dulu, saya getol belajar beladiri, dengan sebuah alasan yang akan saya jelaskan di bawah. Untuk menguji beladiri itu, walhasil, saya jadi suka berkelahi. Saya memakai beladiri untuk melawan otoritas (kakak pengurus) dan membela kawan (sesalah apapun mereka). Iklimnya mendukung: kawan-kawan saya rata-rata ahli beladiri. Kebanyakan menguasai Pencak Sasak, sementara saya belajar kungfu. Kami punya etika tak tertulis, yaitu berkelahi hanya bila diganggu. Tapi sebagai remaja yang tidak selalu kuat menahan emosi atau hasrat show off, kadang kami khilaf juga. Salah satu khilaf itu berujung pengeroyokan.

Mereka, para pengroyok, adalah adik kelas saya, selisih setahun. Semua berawal dari sikap saya yang memang keterlaluan.

Perkaranya sederhana: salah satu dari mereka masuk ke perpustakaan dengan menjebol jendela, hanya untuk tidur-tiduran dan menonton TV. Dia pergi tanpa mematikan TV dan membiarkan buku berserakan. Waktu itu, saya adalah ketua perpustakaan. Ustadz pembina memarahi saya. Karena saya emosi sekali, segera saya cari dan gampang saja menemukan pelakunya. Bakda maghrib saya mencambuk punggungnya dengan sabuk kulit di muka umum.

Waktu itu hukuman dengan kekerasan masih wajar di pondok. Sejak MTs, di punggung dan betis saya beberapa kali mendarat kabel, sabuk atau kayu—ada yang hingga patah kayunya. Di ujung jari saya pernah pecah pantat gayung. Jangan hitung tamparan. Semua itu masih wajar karena kadang pelaku kekerasaan itu adalah para ustad. Tapi tindakan saya tetap terhitung keterlaluan karena melakukannya di muka umum, sementara saya bukan ustad. Dia dan teman-temannya tak terima. Marah, menuntut balas.

Bakda Isya, seorang santri memberi pesan pada saya. Katanya seorang ustad butuh bantuan di parkiran yayasan. Saya polos berlari ke lokasi, hanya untuk menyadari bahwa saya telah dijebak. Puluhan dari mereka sudah berkumpul, membawa balok-balok kayu. Setelah saling tukar kata dalam tegang, mereka mulai menyerang. Kami berkelahi tidak lama, tak sampai 5 menit. Tapi saya tidak sekali pun jatuh. Sebaliknya, saya menjatuhkan banyak orang. Bahkan ada yang sepertinya mengalami dislokasi. Ada yang saya banting-buang ke toilet di bawah parkiran. Ada yang muntah karena tendangan saya membelesaki ulu hatinya.

[Tips bertahan ketika dikeroyok. Pertama, berdirilah di tempat yang membuat kita tidak bisa disergap dari belakang. Di dekat dinding, misalnya. Kedua, jangan meladeni lawan yang sedang menyerang. Bila serangan datang dari sebelah kiri, melesatlah cepat menyerang lawan di sebelah kanan. Biasanya mereka akan kaget karena tak siap.]

Fokus saya menyerang dan melindungi kepala, jadi saya biarkan badan saya dihantam-hantam balok kayu. Teman-teman saya datang tepat saat Najamuddin, salah satu petarung Pencak Sasak paling kuat di angkatan mereka, menantang saya duel satu lawan satu. Najamuddin itu berbahaya, dia sedari awal hanya mengamati sambil mengatur tenaga dalam. Seandainya teman-teman saya tidak datang, saya bisa dibuatnya jadi bubur, tulang-tulang dipatahkan. Tapi saya katakan pada teman-teman saya, kami belum berkelahi. Saya berbohong. Pengeroyokan pun bubar.

***

Sekarang saya sudah gendut. Dulu saya bisa berlari tiga empat langkah di dinding diikuti salto berkali-kali di udara. Sekarang, lari setengah lapangan saja sudah mau mati rasanya. Alih-alih menjadi tukang pukul, saya putuskan melanjutkan tradisi membaca dan menulis saja. Saya sudah lupa cara berkelahi, tapi saya bersyukur kini bisa memahami sesuatu yang jauh lebih penting.

Saya ingat, saya belajar beladiri karena sangat lelah menghadapi bullying. Saya korban bullying sejak TK. Semua orang seperti tidak menyukai saya. Waktu TK, saya pernah didorong dari atas bukit, hingga urat nadi tangan kanan saya sobek. Saya pernah didorong ke mangkuk putar yang sedang berputar kencang; dada saya terhantam dan saya terpental menabrak pohon asam. Pernah, tanpa alasan, tulang kering saya ditendang pakai ujung sepatu. Sakit sekali, saya mati-matian menahan tangis. Kaki saya bengkak berhari-hari. Waktu SD, saya sekelas dengan anak seorang guru yang sangat menikmati privilisnya sebagai anak penguasa. Saya sering dikucilkan olehnya.

Makanan sehari-hari saya semasa sekolah adalah dicemooh dan dipukuli.

Bullying masih berlangsung hingga hari ini. Sekolah-sekolah kita tidak pernah bebas-bullying. Geng-geng siswa terus bermunculan di luar pengetahuan guru. Selalu ada kelompok serigala yang menyerang kelompok domba. Selalu ada kekerasan fisik dan mental. Terhadap beberapa video bullying belakangan ini, banyak yang kaget dan marah. Saya tidak kaget. Saya tahu kekerasan masih terus berlangsung, ditambah lagi saya sering mengalaminya.

Sementara banyak orangtua sangat percaya bahwa sekolah adalah ‘taman’ menyenangkan bagi anak-anak mereka. Mereka tidak benar-benar peduli pada lingkungan tempat mereka menyerahkan anak-anak. Mereka cukup percaya pada brosur.

Saya tidak tahu bagaimana watak premanisme itu bisa dimiliki anak kecil. Namun yang pasti sial adalah para korban: jarang ada korban yang tumbuh dengan baik. Seringkali kalau bukan jadi penindas, ya jadi penakut. Beladiri, premanisme dan kekerasan adalah pelarian saya. Banyak yang tetap linglung sampai dewasa dan kekurangan rasa percaya diri. Banyak yang menjadi pengecut egois yang suka menusuk dari belakang. Banyak yang pemurung dan suka putus asa.

Sialnya, banyak yang tidak bisa keluar dari trauma. Biasanya luka tetap rentan terbuka, menancap menjadi sejumlah watak buruk yang sulit diterima lingkungan. Padahal korban sendiri tidak berkuasa penuh atas watak itu. Serba salah. []

Standar

79 respons untuk ‘Bullying

  1. Wah ternyata bang ical dulunya jagoan, keren…
    Sepertinya memang dengan cara seperti itu yah ngadepin bullying. Kalau gak nekat, selain trauma juga makin diinjak-injak.
    Atau ada cara lain yah🤔🤔
    Seperti membentuk kelompok sendiri, kemudian counter attack pelaku bullying itu.
    Ah jadi rantai kebenciannya gak putus2 yak, 🤣🤣

  2. Eu, gendut bukan berarti tak sanggup lagi lho hanya karena tak pernah latihan lagi . Kalo aku perhatikan atlet karate dan kungfu emang rata2 bodynya melebar gitu deh.
    Korban Bullying seyogianya 2 gendangnya, menjadi semakin terpuruk atau semakin kuat. Bahkan ada yang menjadi sangat kuat. Tapi sayangnya lebih banyak yang terpuruk dan tenggelam. Dan ini yang dikhawatirkan.

  3. Suka dengan fotonya. Mantab jiwa.
    Sekarang korban perbulian juga merambah di media sosial bahkan ada penulis di media yang ramai mojok.co di bully habis habisan sampai orang tuanya disebut sebut. Abisnya penulis salah dalam mengutip dan menjelaskan pengertian.

    Kalau di pesantren biasanya ada saja anak yang menjadi bahan bullian.

    Selain itu senioritas sangat berasa apalagi kalau sudah menyandang predikat pengurus. Adakalanya menjadi stempel keabsahan pemberlakuann hukuman fisik.

    Sampai ada alumni pesantren yang mengatakan hidup di pesantren itu seperti berada di rimba raya.

    Siapa yang kuat dia yang menang.

    • Itu juga yang saya rasakan. Ada model pendidikan yang perlu diubah. Pendekatannya harus melalui kesadaran, bukan pemaksaan. Kalau sejak dini, sejak Mts dididik begitu, Insyaallah ada perubahan.

  4. Saat SD, aku kayaknya pernah bullying sosial deh, Bang. Dulu, aku dan teman-teman sengaja membentuk geng, lalu, menggunakan atribut yang sama gitu. Nggak ada tujuan khusus sebenarnya, cuma ingin ikut-ikutan kayak di tv aja. Saat itu, disinetron banyak banget geng2an 😥

    Tapi, aku dan gengku nggak pernah menindas orang lain. Cuma, jadinya pilih-pilih teman, gitu. Ckck. Dan jadi berlaku hukum kayak gini > kalo marahan sama si A, berarti segeng nggak boleh main sama si A.

    Dari pengalamanku itu, menurutku, didikan ortu dan guru berperan penting di sini sih. Ortu dan guru harus bisa menanamkan rasa empati dan simpati ke si anak. Supaya si anak bisa merasakan perasaan dan menghargai teman. Dgn begitu, si anak pun akan secara otomatis memperlakukan temannya dengan baik.

  5. Aku jd seram kalau buka sosmed. I mean, how could they post it. Ya walaupun dari video itu kita tahu tp ini kejam si, terlihatnya seperti mereka bangga sama yg mereka lakuin

  6. Wih mantap bisa ilmu bela diri. Btw saya dulu pernah di bully sama guru sendiri tp saya orgnya bodoh amat walau ternyata waktu gede tetep gak bisa memaafkan. Dulu waktu kecil saya cuek abis sampai yg bully saya gak mau bully lagi, mungkin telinga saya tebel kali ya. Dulu tuh kalau cewe2 suka bully nya tentang fisik, misal potong rambut pendek di bilang jelek, potonf panjang di bilang bagusan pendek (yaelah bilang aja emang jelek mau diapa2in) tapi saya ketawa2 aja. Sampai akhirnya waktu mau lulus sd saya tanya ke si pembully “emangnya saya salah apa ke kamu?”, ternyata dia temen tk saya yg pernah minta saya kerumahnya, dan karena waktu itu saya terlampau kecil saya lupa dengan janji saya lalu saya lupa kalau dia teman saya waktu tk. Jadi dia merasa saya sombong bngt wkwkkwkw. Selebihnya waktu smp dan smk saya bebas dari pembullyan karena banyak yg gossip in saya kalau saya tuh galak banget hahahha. Saya pernah mukul pakai sapu cowok di kelas karena gak mau piket. Pernah juga ngobok2 muka ketua osis di smk karena melakukan sexual harassment, lalu di depan anak2 satu sekolahan saya permalukan dengan ucapan “enak nggak di pegang2 kayak gini? Kalau nggak jangan pegang2 cewe tanpa ijin dong.” hahaha sepertinya saya yg banyak nyakitin hati teman2 saya hahaha.

  7. Lianatasya berkata:

    Iya, dibully itu sakit, aku pernah sih pengen ikut bela diri, tapi nggak jadi. Malu… Takut diketawain orang”. Aduh, hidup jadi orang nggak pede tuh nyesek yahhh

  8. Itu yg difoto head stand masih kurus apa udah gemuk bang? Tp hebat loh, kuat banget nerima bully-an nya mana secara fisik pula. Aku jg prnh dibully, tp krn aku cewek dibully paling sm kata-kata aja. Trus aku anaknya bodo amatan, jd ya jrg aku tanggepin & masukin ke hati.

    • Itu sudah gemuk, Kak 😎 Tapi belum segemuk sekarang 😂

      Kakak punya modal besar: bodo amatan. Aku dulu ndak bisa begitu, soalnya kalau dipukul itu ndak bisa bodo amat, sakit 😥

  9. Kasus bully itu sebenarnya dari jaman dulu banyak. Jadi ingat jaman SD ada temen laki dan temen perempuan yang selalu jadi bulan2 an. Tapi aku aman. Wajar, dulu aku preman kelas. Laki-laki aja ku ajak berantem. Ku tusuk pake pensil dan nembus. Trus jaman Smp temen dini dan dini pernah jadi korban juga tp gak sadar itu sebenarnya bukan sekedar bercanda. Jaman sma alhamdulillah aman. Anaknya baik2. Kasus jaman dulu sebenarnya memang banyak tapi istilah ‘bullying’ belum di pake dan hp pun belum memungkinkan untuk merekam dan mengekspos. Dulu hanya berpikir para ‘pelaku’ hanya bercanda yang berlebihan 🤣

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s