Bahasa

Setelah seharian kemarin berlibur di Malang, Ikhwan pun mudik ke Lombok hari ini. Semalam, sebelum tidur, Ikhwan mengingatkan kalau besok pagi kami harus mencari oleh-oleh. Mamak meminta dibelikan bolen pisang kesukaannya. Ipong, adik saya, memberi informasi toko yang menjual bolen di dekat kontrakannya.

Pagi tadi, kami bangun dengan damai.

Setelah bersiap, kami berangkat ke toko bolen rekomendasi Ipong. Namanya, “Bolu Malang Singosari”. Kami sampai, kami parkir, kami masuk toko, dan kami disambut oleh Simbak yang ramah. Saya menelepon Mamak dan bertanya, bolen rasa apa yang beliau inginkan? Tapi Mamak malah gusar. Mamak, dengan suara melengking-lengking, meyakinkan saya bahwa saya salah masuk toko. Bolen kesukaan Mamak tak punya varian.

Saya membeku. Saya lihat gambar-gambar menu yang bertebaran di dinding toko, tidak ada yang mirip bolen yang saya tahu. Lamat-lamat saya perhatikan logo dan tulisan di dinding belakang kasir: bolu. B-O-L-U. Saya terperanjat. Astaga, ini toko bolu!

Saya menatap Ikhwan. Bunyi tatapan saya kira-kira: ini toko bolu, bukan toko bolen, kita salah toko! Saya berharap persahabatan 17 tahun memungkinkan kami berkomunikasi dengan tatapan mata, tapi buntung, pikiran saya tidak sampai padanya. Menyedihkan, ternyata telepati itu mitos bagi persahabatan panjang kami. Ikhwan malah mulai memilih beberapa kotak bolu―yang dia kira itu bolen. Artinya, dia sama tidak mengertinya dengan saya.

Karena tidak tega merusak hari cerah Simbak penjaga toko, yang sepagi itu senang telah mendapatkan pelanggan, akhirnya saya berinisiatif mengambil sekotak bolu untuk Ipong di kontrakan. Saya berikan pada Mbaknya dengan tangan kanan, sementara tangan kiri saya memberi isyarat pada Ikhwan untuk berhenti memilih-milih bolu.

Nahas: Ikhwan tidak mengerti isyarat tangan saya.

Laisa huna, Wan.” Setengah geregetan saya berbisik padanya. Itu bahasa Arab-araban ala pondok kami, artinya bukan di sini! Ikhwan menyodorkan telinganya, karena rupanya ia tidak mendengar. Saya menghela napas panjang dan hendak berbisik lagi, tapi Simbak sudah selesai dan menatap kami berdua. Saya menyerahkan selembar uang besar, sengaja membuat Simbak sibuk mengambil kembalian.

Ba’du nastar fi makan akhor, Wan.” Kembali saya berbisik. Artinya, kira-kira, nanti kita beli di tempat lain! Tapi Ikhwan malah mengernyitkan dahi dan menyentakkan kepala, meminta penjelasan. Sumpah, saya ingin mengorek kupingnya.

Saya berbisik lagi, kali ini agak keras: “Khoto’ makanuna! Laisa bolen hadza!” Artinya, kurang lebih, kita salah lokasi, dan ini bukan bolen!

Dengan kalimat terakhir barulah Ikhwan mengerti. Syukurlah. Tapi, tiba-tiba, tahu-tahu, Simbak itu muncul dan memberi saya kembalian, dan dengan kecepatan cahaya Simbak bergeser ke hadapan Ikhwan dan bertanya manis: “Mau pesen yang mana, Mas?” Ikhwan gagap. Tahulah saya bahwa semua kode-kodean itu sia-sia. Akhirnya Ikhwan membeli dua kotak kecil bolu pisang untuk dirinya sendiri.

Saya keluar dengan menggerutu. Ikhwan garuk-garuk kepala.

***

Sekalipun gagal, kami bersyukur kami punya bahasa lain yang jarang dimengerti kebanyakan orang. Jadi, di situasi dan topik sensitif, kami menggunakan bahasa itu. Di rumah, bila saya dan Yayat atau bila Yayat dan Ipong bertengkar, kami menggunakan bahasa Arab agar Mamak dan Bapak tidak mengerti apa yang kami pertengkarkan. Mungkin Mamak mengira kami membaca salawat, meski beliau mungkin juga keheranan bagaimana bisa salawat didendangkan sambil marah-marah.

Tapi kadang kemampuan berbahasa asing itu menjadi senjata makan tuan.

Kawan saya, Pales, membeli cilok pada seorang Mas Tukang Cilok di halaman masjid pondok kami. Pales baru pertama kali melihat Mas Tukang Cilok ini, dan ia ingin menjajal ciloknya. Eh, ternyata, cilok itu jauh dari kata enak. Pales makan di tempat sambil mengomel. Ghairu laziz! Tidak enak! Meski begitu, 5 pentol tandas juga di mulutnya. Tiba waktu membayar, Pales bertanya harga.

Khamsu alf,” jawab Mas Tukang Cilok itu, dengan suara datar dan wajah dingin. Beliau berbahasa Arab!!!

Setelah meminta maaf, berbungkuk berkali-kali, dan mencium tangan si tukang cilok, Pales pulang dengan wajah merah padam. []

Standar

44 respons untuk ‘Bahasa

  1. Hahaha miriiiip sekaliiiiii dengan saya 😂 Pernah begitu juga, ngobrol sambil ketawa-tawa dengan teman pakai bahasa arab di halte transjogja (dengan pedenya), pinginnya supaya obrolan kami aman karena topik ya private. Ehh ada mas-mas nimbrung begini, “astaghfirullah akhwaat”. Ternyata dia paham, dan setelah saya tanya, dia ngaku dari Gontor 😂 Malu banget jadinya.

  2. Sebelum aku bisa Bahasa Arab, jangan coba-coba ngomong Bahasa Arab di depanku, Bang Ical ~

    *Serius nanya: Tulisan heboh ini suda mengeluarkan tenaga maksimal kah? 🤣

    • Terharu akutu ada yang notice jadwal nulisku 😂

      Kita keliling-keliling, ternyata bolen pisang itu nyarinya masih kepagian. Akhirnya nemu di pinggiran kota, yang masih segar. Jauh dari terminal 😂

  3. Hahaha! Kayaknya, supaya aman, nyanyian kodenya dalam bahasa Klingon aja, deh. Paling cuma penggemar Star Trek garis keras aja yang paham. 😀 Tapi, kalau ternyata ndilalah dia penggemar Star Trek…. 😀

      • Di kolom opini dua hari berikutnya, Sapardi Djoko Damono menjelaskan apa itu Bahasa Klingon dengan judul “Klingon di Bulan Juni“. 😂

      • Diskusinya bakal seru itu. Minggu berikutnya ada yang balas, “Merespons ‘Klingon di Bulan Juni’ Sapardi Djoko Damono: Antriposentrisme dan Potensi Konflik Berkomunikasi dalam Bahasa Klingon.” 😀

  4. Kalau aku sama temen pakai bahasa sandi yang hanya kita tahu, sandi atau apa ya. soalnya dulu diajari temen pramuka. Tapi, kalau kita bicaranya pelan emang mudah dimengerti sih wkwkw. jadi ngomongnya harus cepet biar kek kumur hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s