Mata

Saya punya mata yang sehat, dan saya sangat percaya diri dengan penglihatan saya. Tulisan sebesar kepalan tangan, dari jarak 20 meter, bisa saya baca. Tulisan sebesar buku jari tangan, dari jarak 7 meter, bisa juga saya baca. Untuk menemukan seseorang di keramaian, teman-teman mengandalkan penglihatan saya.

Bahkan saya berpikir, mungkin saya ini keturunan Klan Uchiha. Suatu saat sharingan saya akan bangkit. Oke, ini khayalan. Saya cuma senang punya mata sehat. Sejak kecil saya membaca buku dan menonton TV. Di paruh kedua usia 20-an mata saya masih sehat. Kerap saya bayangkan akan menua dan tetap membaca buku tanpa kacamata.

Sayang sekali, dua tahun belakangan, penglihatan saya terganggu.

Suatu sore, menjelang akhir tahun 2018, di asrama, saya terbangun dan merasakan keanehan. Benda-benda di kejauhan, seperti pintu toilet dan kulkas, menjadi berbayang. Tidak blur, tapi berbayang. Saya berusaha tenang. Saya cuci muka dan keluar dari rumah. Benda-benda di kejauhan tetap berbayang: tiang listrik, motor tetangga, pos satpam. Saya panik.

Saya kendarai motor dan melaju ke daerah Dau―kawasan dingin, subur dan hijau. Pemandangan lebih segar karena siang tadi hujan turun dengan lebat. Saya masih bisa menikmati pepohonan, tapi tulisan-tulisan di berbagai plang menjadi berbayang. Debar melanda dada saya. Apakah mata saya sudah mulai rabun?

Waktu itu saya sungguhan panik.

Sebagai catatan: saya pernah lumpuh, dua hari. Kaki saya bisa dijadikan tumpuan, tapi begitu saya gerakkan, kekuatan kaki saya menguap dan saya jatuh. Saya sembuh setelah diurut-jampi oleh kawan asal Madura. Tapi sungguh, waktu itu saya tidak panik sedikit pun. Saya bahkan langsung survei harga kursi roda. Kehilangan kaki bukan masalah, sepanjang saya punya mata dan jemari untuk membaca dan menulis. Tahu-tahu kini penglihatan hendak saya hendak diambil? No, no.

Waktu itu saya tidak terima. Saya takut. Saya berkonsultasi dengan beberapa kawan dan tibalah kami pada kesimpulan bahwa mata saya lelah karena terlalu banyak menatap layar gadget. Memang selama berminggu-minggu saya menonton belasan film Korea. Setelah itu, secara ketat dan berminggu-minggu lamanya, saya berhenti melihat gadget kecuali bila sangat perlu. Perlahan penglihatan saya kembali normal―maksudnya, tidak lagi berbayang. Ia kambuh (berbayang lagi) bila saya kembali keranjingan gadget.

Tapi mata saya tidak lagi sama.

Mata saya buram sebelah. Yang kanan lebih buram dari yang kiri. Tulisan sebesar buku jari tangan tidak bisa saya baca lagi dari jarak 4 meter. Dulu saya suka mendekam di puncak Gunung Banyak, sendirian, memandangi kekunangan nyala lampu rumah-rumah warga Kota Batu di bawah sana. Sekarang saya tidak bisa menikmatinya, karena semua ngeblur.

Bahkan, sewaktu menjemput Ikhwan di terminal beberapa waktu lalu, saya bisa mengenali Ikhwan setelah mengucek-ucek mata saya dari jarak 3 meter. Meski setelah kucek-kucek penglihatan jarak jauh saya kembali normal, itu tetap mengerikan. Saya teringat Mas Nur Irawan yang pernah buta selama tiga bulan karena kecanduan gadget.

Saya ingin memeriksakan mata saya dan mulai berpikir menggunakan kacamata. Kelihatannya keren bila saya berkacamata. Kacamata membuat saya terlihat pintar. Tapi saya masih ragu. Saya masih ingin membatasi interaksi dengan gadget dan lebih banyak bergaul dengan pepohonan. Saya harus pacaran sama vitamin A. Konon wortel bagus untuk mata, tapi karena tak suka, saya ganti dengan Roti Boy jeruk dan nanas saja.

Saya membayangkan mereka yang matanya minus banyak. Mungkin mengerikan: mereka terbangun di pagi hari lalu menemukan dunia yang blur. Dunia yang imejnya serba kabur. Serba tak pasti. Memulai hari dengan buram mungkin berpengaruh pada semangat dan emosi seseorang. []

Standar

51 respons untuk ‘Mata

    • Kadang, kita berhadapan dengan masa di mana kita tidak bisa mengelak dari rasa ingin lagi dan ingin terus, Mul. Jadi larut saja bawaannya. Hasilnya adalah aduh berkepanjangan 🙂

  1. eL berkata:

    abang semoga kesehatan matanya suatu hari nanti bisa kembali seperti semula, supaya tidak dicoret namanya dari akte klan uciha, hehe…

    wah, harus hapus koleksi drakor secara teratur nih. Ih ngeselin emang drakor, kalau udah nonton satu episode suka nagih, yang gak biasa begadang aja jadi tiba2 kuat gk tidur semaleman. >_<

  2. Tadi mau nyeletuk makanya jgn suka nonton yang aneh2, pas drakor lsg sadar diri terus refleksi wkwk

    di pertengahan pos ini pun auto bangun ambil kacamata dulu, takut wkwk

  3. Bang Ical, masih bisakah mata abang membaca huruf-huruf dilayar proyektor bila duduk di paling belakang? *Aku sudah nggak bisa. Mau nggak mau harus memakai kaca mata haft.

    Btw, aku salfok sama roti boy eh 🙄

  4. Kadang mata saya berkunang-kunang kalau terlalu lama di depan laptop. Untungnya, beberapa waktu belakangan saya sering jalan kaki sekitar 4-5 km beberapa hari sekali. Melihat langit dan kena cahaya matahari bikin mata saya kembali segar.

      • 50:50. Kalo buat daily, udah b aja sih mas. Kalo ada acara penting yg mengharuskan full make-up, sedih. Because I hate wearing contact lens. *cries*

      • Ga ada.

        Tapi kalo lu pada tau rasanya pake eyeliner, eyeshadow, eyebrow, mascara, even fake lashes, they won’t make you look stunning until you put the glasses off. Se-invisible2 nya model kacamata sekarang, tetep bakal ngehalangin look make-up keseluruhan, sih.

      • Lagian kenapa sih perempuan ngebet punya alis legam benderang sampe kudu digambar-gambar?

        Sumpah, ada temen pernah cukur alis terus digambar lagi. Ngapain???????

      • Itu mah gundiknya garuda kali.

        For daily basis, I love my brows sooo much! Cuma kalo acara kondangan dll gitu kurang on point kalo riasan mata jomplang sama wajah.

        Hhhh you guys will (probably) never understand that.

  5. Saya waktu kecil sengaja merusak mata dengan lampu senter dan sayangnya berhasil. Karena org2 bilang kakak2 saya pakai kaca mata karena dia suka membaca makanya pintar. Makanya saya pingin dianggap pintar juga. Yg ada mata saya malah nambah terus minusnya sampai sekarang udah 3.5.

  6. Saya udah pakai kacamata sejak SMP pak. Pas kuliah, tangkainya patah. Sebulan enggak pake. Semuanya blur. Dan itu bikin naik darah. Emosi kenapa gak bisa lihat alam dg jelas. 😁

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s