Suara

Suara bapak saya keren. Bila ia bicara, jantan sekali. Keluarga, kolega, semua mengakui. Dia sering diundang sebagai pembicara nasional, hingga bahkan petinggi pemerintahan di Jambi, Kalimantan dan Sulawesi mengaguminya. Mereka senang mendengar bapak bicara. Sering secara sengaja ia dijadwalkan di siang hari, di jam ngantuk, karena siapa saja yang mendengarnya bercerita, pasti tidak jadi mengantuk.

Kalau dijelaskan, bisa dibilang suara bapak berat tapi ringan; seperti ada sedikit deram namun dengan tone yang lembut. Bila suara bisa divisualkan, mungkin suaranya seperti batang bambu hijau yang selongsongnya diisi air. Keras-keras sejuk. Di instansi tempatnya bekerja, ia berjuluk “penyiar radio favorit”.

Sayang, suara bapak tidak terwariskan.

Saya tidak pernah sedih punya perut seperti karung kurma, tapi saya cukup sedih mendengar suara saya sendiri. Mungkin tidak tersedia bahasa di dunia ini yang bisa jitu mendefinisikan suara saya. Atau, mungkin hanya bisa divisualkan sedikit: bila cempreng diibaratkan seperti tempeyek yang diremukkan, mungkin suara saya ibarat bekas permen karet merah muda yang sudah pudar warnanya dan benyek. Sangat tak cocok dengan badan besar dan wajah sangar saya.

Pernah, tahun 2014, saya menjadi instruktur sebuah lembaga pelatihan mahasiswa di kampus (bagi mahasiswa UMM pasti mengenal P2KK). Kelas yang saya masuki mendadak hening, tapi begitu saya bersuara di depan, banyak yang tampak sulit menahan tawa. Mulanya mereka tegang karena yang masuk itu semacam preman, tapi ketika preman ini bersuara, yang mereka lihat adalah sponge bob.

Semua ketidakcocokan itu semakin terasa ketika suara saya direkam. Rekaman apa pun akan gagal membuat suara saya menjadi ‘layak dengar’. Di telepon, suara saya terdengar menyedihkan; tidak bisa dimacho-machokan, mustahil disyahdu-syahdukan. Lantaran itu pula saya tidak percaya diri dan selalu undur rencana bikin podcast. Suara orang lain, di telinga saya, kalau bukan indah, ya selalu pas. Suara saya, euwh.

Pernah saya berpikir untuk banyak-banyak minum tuak agar suara ini macho. Tapi itu ide bodoh: tidak ada jaminan tuak bisa bikin suara macho. Lagipula tuak dilarang syari’at. Pernah terpikir untuk merokok, tapi sepertinya kami tidak akan pernah berjodoh. Lagipula Mamak melarang. Waktu saya mencoba merokok, tiga hisap saja, seketika saya radang tenggorokan selama tiga minggu. Suara saya yang hilang ketika kopdar dengan Pak Guru Desfortin tidak lain merupakan tulah larangan Mamak.

Seorang kawan pernah bilang suara saya hanya enak didengar ketika mengkritik, misalnya ketika sabung argumen dengan mahasiswa lain. Suara saya menggelegar; saya tidak perlu mik dan tidak perlu berteriak agar peserta yang duduk paling jauh bisa mendengar. Kawan saya bilang, pesona saya memang bukan di suara. Pesona saya ada di logika dan wawasan, serta kemampuan untuk berbual dengan semua itu. []

NB: Pada dasarnya, saya memang tidak berbakat di komunikasi verbal. Apalagi kalau tanpa persiapan, atau kalau sedang di pucuk-pucuk emosi, pasti belepotan. Suara buruk, retorika payah, cem mane awak ni nak jadi akademisi internasional. Tapi itu memotivasi saya belajar. Saya sudah bikin podcast dan memosting dua rekaman yang suara dan retorikanya ancur. Biar besok-besok saya merekam dengan persiapan matang. See my podcast here!

Standar

61 respons untuk ‘Suara

  1. Kalo aku entah kenapa kebalikannya, mas. Aslinya alto, tapi kalo udah marah bisa sopran cenderung nyaring cempreng pake banget. Tapi pas lewat perantara, (speaker sekolah, phone calls, dubbing, etc) jadi bagus banget kaya keibuan gitu 😂

    Sama rekan kerja pernah diminta buat ikut ngisi siaran radio sekolah, tapi ku tolak halus. Cukup sekali aja bantu ‘siaran’ pas jaman kuliah 😅

    Btw, nice podcast! Seru nih kayaknya kalo nimbrung hahaha

  2. Waw… judulnya satu kata, tapi keren ya saat diurai dlm untaian bahasa lisan. Ical gitu loh.. :)) kopdar kita itu pun ditandai, hee… sdh seminggu sy gak buka blog, eh baru baca ni tulisan.

    Memang sih, mendengar suara sendiri itu sayapun kerap merasa tak pede, insecure gmn gitu. Aplgi saat nyanyi, nada tahu tp suara sy terdengar kurang bgus, ngebas bnget. Itu sebab, sy jg gak pede utk nyanyi atau nge-yutube.

    Jujur, sy mmang penasaran utk dngar suara verbal Ical saat orasi atau jd pembicara publik. Sy msh familiar hnya dg gaya Anda bertutur dlm tulisan mungkin sampai kapanpun. Sy menyukai gaya tulisan dan retorika seorang Ical. Bahkan suara Anda pun sy lupa2 ingat sdh, haha… maaf sy cpat melupakan ternyata 🙈😂.

    Tp sy mau sgra dngar podcast-nya dlu ah 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s