Barang

Ada yang lebih dari sekadar materi, dari barang-barang kita. Sandal bukan sandal. Baju bukan baju. Emas bukan emas. Barang-barang kita punya daya misterius yang bagi saya cukup mengundang nganga―dan berbahaya. Melihat dan menyadari daya misterius itu membuat hati saya ngilu. Saya ingin membuang banyak barang saya.

Daya misterius yang saya maksud berbeda dari yang dicontohkan Zizek. Bagi Zizek, ketika kita membeli sebuah produk, yang sesungguhnya kita beli bukanlah produk tersebut, melainkan what we are buying into, yakni perasaan yang ditimbulkan suatu produk. Perasaan itu bisa beragam, salah satunya, perasaan terhubung ke dalam sebuah jejaring konsumsi global. Tentu berbeda rasanya membeli kopi dan nongkrong di Starbucks, dengan membeli kopi dan nongkrong di warung dekat terminal. Ada perasaan keren yang khas, yang membuat kita merasa menjadi bagian dari komunitas besar. Artinya, selain fisik (kopi, dekorasi), yang berbeda adalah kebudayaannya. Starbucks adalah kebudayaan kopi dengan citra elit, yang dikonsumsi kelas menengah ke atas. Membeli kopi di Starbucks berarti membeli citranya.

Tapi, bukan itu daya misterius barang-barang yang saya maksud, yang membuat hati saya ngilu. Yang saya lihat sendiri adalah, barang-barang mampu mengikat hati manusia.

Manusia mengira merekalah tuan dari barang-barang, tapi sesungguhnya barang-baranglah yang membentuk perilaku bahkan watak manusia. Ketika barang berupa indomaret hadir, perilaku jual beli manusia berubah menjadi lebih dingin dan palsu, meski mungkin makin efektif. Indomaret menghilangkan gosip antara penjual dan pembeli yang merupakan tanda kehangatan sosial, dan menawarkan sapaan selamat datang yang diucapkan oleh buruh yang seperti robot telah diprogram untuk merespon stimulus tertentu. Barang mengontrol manusia. Barang adalah tuan.

Pengaruh barang-barang bukan hanya secara psikologis, tapi juga secara spiritual. Agak susah dipercaya, memang, tapi saya tetap ingin membeberkannya. Jadi, kalau mata batin manusia terbuka, niscaya akan tampak oleh mereka semacam tali hitam, yang menyembul dari barang-barang dan mengikat hati manusia. Manusia yang punya banyak barang tampak tebal hatinya oleh simpul-simpul tali hitam. Semakin banyak barang, semakin terjerat.

Jadi, bila mata batin kita terbuka, akan terpampang oleh kita pemandangan ajaib ini: orang-orang lalu lalang tapi dipenuhi tali-tali. Ada tali yang menjulur ke sakunya, ada tali yang membentang ke entah-mana, mungkin ke rumahnya, atau kantornya.

Ini bukan khayalan saya. Ini sungguhan terjadi dan bisa dilihat dari dimensi lain. Sesungguhnya sedikit saja jumlah manusia yang merdeka. Kebanyakan diikat oleh rasa sayang pada barang. Mungkin, inilah kondisi dan penjelasan hakiki dari Hubb-u l-Dunya.

Konsekuensi jeratan tali hitam itu cukup sederhana, yakni tertutupnya hati. Tapi konsekuensi tertutupnya hati jauh lebih memprihatinkan. Hati manusia, bila kita dapat melihatnya, pada dasarnya berwarna putih. Manusia yang punya keberanian untuk berbuat adil biasanya punya hati yang berwarna putih terang, dan terangnya terlihat karena tidak ditutupi tali hitam. Tali hitam barang-barang itu punya andil menjebak manusia dalam perasaan nyaman yang membuatnya takut pada kepastian-kepastian Tuhan (kematian, kehilangan) dan membuatnya ragu menegakkan nilai-nilai yang dijempoli Tuhan (pengorbanan, keadilan, kejujuran). Barang mencekik lemas niat kemanusiaan, menjegal gerak nurani manusia ke dalam ragu, dan mengerubunginya dengan kepalsuan yang sulit mereka sadari.

Saya agak ngeri dengan semua itu. Mungkin karena itulah Nabi Muhammad selalu (selalu, selalu) menyerukan distribusi kekayaan, sehingga para saudagar sahabat Nabi pun senantiasa menyumbang 3/4 keuntungannya di jalan Allah. Nabi sendiri mencontohkan hidup yang sangat (sangat, sangat) sederhana. Beliau tidak terikat dengan banyak barang, kecuali barang itu benar-benar dibutuhkan secara praktis. Beliau tidak pernah menimbun uang, dan sahabat-sahabat beliau hanya menimbun untuk menabung, demi keperluan yang tulen berfaedah. Menuntut ilmu, misalnya.

Karena cara hidup yang tidak terikat barang itu Nabi benar-benar tegar berdakwah. Karena itu beliau dikenal sebagai pemberani yang tidak pernah berkhianat. Karena itu beliau mudah memaafkan, lantaran tidak terbiasa menabung dendam. Karena itulah Nabi diakui sebagai lelaki setia kawan yang tidak pernah ragu berkorban. Mungkin Gandhi juga begitu. Mungkin KH. Ahmad Dahlan juga begitu. Mungkin Mandela juga begitu. []

Standar

83 respons untuk ‘Barang

  1. Dan, aku penasaran tali-tali warna apakah yang mengelilingiku.

    Btw, terkait membeli barang hanya bila dibutuhkan. Eh, percaya nggak kalo dalam satu tahun kemarin aku hanya 2 kali membeli baju dan itupun total harga keduanya dibawah 300 ribu? Terkadang aku tak habis pikir, aku cewek tapi koq gitu ya?
    Tapi entah kenapa aku merasa tak membutuhkan itu. Jadi aku berbanding terbalii dgn ibu² lain, bajuku bisa dihitung, malahan bajuku waktu gadis masih mau kupakai.
    Eh, koq malah curhat ya?😃😃😃

  2. Andai saja bisa like 1000 kali haha.

    Membacanya membuat saya teringat buku Thoreu— Walden. Manusia terbebani oleh barang-barang yang dimilikinya dan yang akan dimilikinya.

  3. Ngeri banget, ya, Bang Ical. Umat manusia (selama ini) benar-benar digiring untuk mengonsumsi melebihi kebutuhannya. Apalagi sekarang ketika iklan digital saja benar-benar ditarget. Kalau sudah begini, cuma rasio yang bisa jadi penyelamat.

    • Betul :’) Dan malam ini, saya sedang menyempurnakan draft tesis untuk diajukan ke penerbit, Bang. Di Bab 1 baru saja saya tulis begini:

      “Konsumsi adalah kelindan rumit antara tujuan-instrumental dan tujuan-sensasional. Iklan suatu produk atau jasa menawarkan tidak hanya kegunaan melainkan kepuasan, yakni sisi sensasional yang sesungguhnya merupakan pelengkap tapi menggiring pengguna agar merasa terhubung dengan suatu tren/kebudayaan. Pertanyaan penting: dari mana manusia mengenal tujuan-sensasional? Dari kebudayaan massa, yang digerakkan melalui agensi-agensi sosial (musik pop, film, radio, game) dan secara konsisten memodifikasi memori kolektif manusia. Budaya massa, dalam mazhab Frankfurt disebut sebagai instrumen utama dominasi mental para elit ekonomi atas masyarakat.”

  4. Si Mulya berkata:

    Dan menciptakan tesis/ tulisan dan membangun kesadaran yang baik, mending menciptakan krisis aja, Bang. Kadang itu menumbuhkan keprihatinan juga. Sesekali antihero lah 😜😜😜

  5. dari obrolan di kolom komentar, aku bisa tertawa, kenapa bang coba. Bang Ical susah beli pakaian karena ukurannya tak dapat yang sesuai, aku tertawa sekaligus merasa terwakili

  6. Dalam hal ini tali hitamku terhubung dengan barang-barang elektonik. Yang merasa bukan siapa2 tanpa mereka, karena gak bisa kerja tanpa bantuan mereka bang. Gimana nih… ~ah sudah lah.

    • Kadang, pikiran akan menggoda kita untuk mencampuradukkan mana kebutuhan dan mana kepuasan—di mana tali hitam itu lebih pekat dan tebal. Tapi, sampai kapanpun, sehat dan syahwat itu terang bedanya. Hati yang bisa dengan jujur merasakan mana yang hakiki dan mana yang semu, meski nalar mencoba membuat pembenaran 🙂

  7. wah asik bang. saya jdi inget film fight club yg prnh saya tonton dulu, menceritkn tntg konsumerisme jg. alih-alih pgn terlihat sempurna dg menyalurkan sgala harapannya dengan ‘membeli’, jiwa malah semakin teralienasi. 😂

  8. Memang kita punya tanggung jawab yang besar atas harta yang kita miliki ya mas. Distribusi kekayaan entah berupa sedekah,zakat atau nama lainnya sangat dibtuuhkan apalagi untuk masa pandemi corona ini.

    • Sepakat, Mas Abdi. Distribusi kekayaan itu sebaiknya juga dijalankan dengan konsep gotong royong. Secara komunal. Kalau cuma mengandalkan inisiatif individu, agak lama 🙂

  9. Bang Ical. Tadi pagi saya dikasih award-award-an sama kawan narablog. Sudah lama banget ini sejak terakhir kali saya nanggap beginian. Pertama ragu, males juga, tapi akhirnya tertarik juga sih buat ikut. Hitung-hitung jadi penanda masa-masa ngeblog pas wabah. Terus, pas diminta untuk ngumpan lambung ke narablog lain, nama Bang Ical langsung muncul dalam kepala saya. Hahaha. Tapi nggak perlu ditanggapin serius juga, Bang Ical. Nggak diterusin juga nggak apa-apa. Santai mah. Buat seru-seruan aja. Nostalgia juga pas zaman award-award-an dulu. Ini linknya: https://morishige.wordpress.com/2020/04/21/liebster-award/ 😀

  10. Raditya Dika pernah ngomong bahwa dia nggak suka menghabiskan uang untuk beli barang, tapi beli pengalaman: makan sama keluarga dan kawan, berbagi dan liburan. Itu ngena banget buat saya.

    Saya nggak pernah tau keterikatan antara membeli barang dan spiritualitas manusia, ya selain boros dan ketergantungan. Nice post 😀

    • Minimalism! Radit memviralkan itu. Tapi sebetulnya minimalisme itu sudah lama dikampanyekan di Indonesia. Cuman, kayaknya, cara hidup Radit itu bukan minimalisme, deh. Dia lebih ke “Degrowth” 🙂

      Thanks Ing 😇

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s