Serong

Beberapa waktu lalu Kak Momo menyuruh saya menonton film “The World of The Married”. Dikiriminya saya poster laki-laki yang sedang membuka rok perempuan semlohai berpaha putih. Tapi, Kak Momo menyuruh saya nonton film itu supaya dia punya teman misuh. Lah, sebenarnya film ini tentang apa, sih?

Setelah dapat filmnya, akhirnya saya nonton. Oala, ternyata film tentang lelaki serong. Persis kata Kak Momo, saya memang misuh. Tapi, saya misuh bukan karena serongnya suami si tokoh utama. Saya misuh karena film ini―terutama script-nya―memang mancing emosi.

Cuma, saya misuh secukupnya. Sebab di dalam film itu yang diselingkuhi adalah perempuan. Jujur, itu agak mainstream. Dunia film sejak dulu memang lebih ramai mengangkat kisah lelaki serong. Pasti laku buat gosip. Padahal, perempuan serong juga banyak.

Di Lombok pernah ada kasus besar. Seorang istri serong menghabiskan seluruh kiriman rutin suaminya dari Malaysia. Padahal, kiriman itu include biaya pendidikan anak. Tahu kebenaran, si suami pulang dan membunuh istrinya. Kepala dipenggal, payudara dipotong. Si suami kemudian menyerahkan diri ke polisi. Mungkin dasarnya dia memang pria bertanggungjawab. Ini baru satu kisah terkenal. Banyak kisah yang telah saya saksikan sendiri.

Poin saya sederhana: dunia nyata tidak sedramatis dan seklise film. Bisa jadi lebih tragis dan rumit. Kesalahan dan kejahatan bisa menjadi milik siapa saja. Lelaki yang kelihatan sukses rumah tangganya bisa jadi tukang serong. Pun begitu perempuan yang kelihatannya setia. Ada kisah serong yang bisa dimaklumi meski tidak bisa diterima. Ada yang tidak bisa diterima sama sekali. Ada yang tahu serong itu dosa tapi rasa cinta sangat sulit dilawan. Ada yang tidak mau tahu. Dunia nyata selalu kaya akan kisah. Film yang klise menyempitkannya.

Saya pernah melihat Drama Korea tentang perselingkuhan yang konsepnya lebih apik. Judulnya, “My Ahjussi”. Di film ini, lelakilah korban perselingkuhan. Saya anggap film ini terbaik: best actor, best acting, best script. Terutama karena: (1) film ini menghadirkan seban serong yang sama kuat, baik pada pelaku maupun korban; (2) film ini menunjukkan penyelesaian masalah secara bijaksana tanpa menghilangkan konflik atau fase psikologis wajar saat suami-istri menuju rekonsiliasi; (3) meski ide utama film ini bukan perselingkuhan, tapi ia mampu menghadirkan rumitnya perselingkuhan.

Film My Ahjussi bikin kondisi emosional sekaligus intelektual kita yang menonton ini sehat. Kita tidak menuai kemarahan, tapi perspektif. Lebih dari itu, film ini menyentak dan menggeret saya hingga jauh. Bila saya yang diselingkuhi pasangan saya kelak, seberapa dewasa saya bisa menyikapinya? Seperti apakah rupanya rasa percaya? Seberapa bisa seseorang hidup dengan rasa percaya yang retak atau pernah patah dua?

Semacam itulah.

Tapi, dengan menulis dari sudut pandang terbalik seperti tadi, saya tidak bermaksud menafikan betapa banyak dan begitu jahatnya para lelaki serong. Tadi saya katakan lelaki serong itu mainstream—itu artinya lebih kerap dan buncah. Lelaki serong, di dunia pekat patriarki macam Indonesia begini, bila ketahuan serong tidak akan meminta maaf. Untuk menutup malu, mereka bereaksi lebih keras, lebih kejam, lebih kuasa. Mereka tetap menuntut bakti istri. Mereka mencari-cari pembenaran.

Standar

40 respons untuk ‘Serong

  1. “Padahal, perempuan yang serong juga banyak”, emmmm….

    Menjadi pribadi yang setia itu sulit, apalagi ditengah banyak godaan untuk tidak setia.

    Selamat memasuki bulan Ramadhan, Bang Ical.

  2. Setuju bahwa pada kenyataannya di dunia nyata banyak kisah yang lebih rumit dan tragis. Makanya aku sekarang sudah tak mau lagi baca berita2 kriminal segala macam, takut jadi terbawa pikiran.

    Juga setuju untuk ini “Lelaki serong, di dunia pekat patriarki macam Indonesia begini, bila ketahuan serong tidak akan meminta maaf. Untuk menutup malu, mereka bereaksi lebih keras, lebih kejam, lebih kuasa. Mereka tetap berada menuntut bakti istri. Mereka mencari-cari pembenaran.”

    Makanya banyak terjadi, laki2 selingkuh namun pintu maaf dari istri masih terbuka lebar. Tapi kalau sebaliknya yg terjadi, jangan harap ada maaf. Jangan2 yg terjadi adalah seperti di Lombok itu.

  3. jadi. akutu sudah pernah juga nonton My Ahjussi, dimana akting IU bagus baget, bagaimana dia bertahan hidup, dorong-dorong nenek sama troli belanjaan. itu apik.

    kalo ahjussi yang main film Parasite itu kayaknya suka jadi korban perselingkuhan, main di Listen to Love juga bareng Song Ji Hyo (btw, saya juga demen sama drama ini) sebab kuat ceritanya, bagaimana seorang lelaki menyikapi bininya yang selingkuh. eh ini remake jdrama dengan judulnya my wife’s having an affair this week.

    kurang??? ada Misty juga. yang selingkuh perempuannya, kisah pembunuhan juga ada.

    jadi, kalau suatu hari nanti. pasanganmu mencintai pria lain bagaimana sikapmu? atau mungkin kamu menyukai WIL.

  4. “Lelaki serong, di dunia pekat patriarki macam Indonesia begini, bila ketahuan serong tidak akan meminta maaf. Untuk menutup malu, mereka bereaksi lebih keras, lebih kejam, lebih kuasa. Mereka tetap menuntut bakti istri. Mereka mencari-cari pembenaran.”

    Seperti common kisah di sinetron. hehe.
    suka bertanya-tanya, di dunia nyata apa memang mendekati itu? atau dramatisasi untuk kebutuhan hiburan?

  5. cerita nina berkata:

    Jd inget film bagus The Age of Innocence, yg main winona ryder. Si suami setia dgn pernikahannya selama bertahun2, tp hatinya enggak.

  6. Ketika aku diberitahu oleh teman serial drama ini, aku gak mau nonton. Mau dibilang bagus sekalipun atau apapun, pokoknya gak mau nonton. Soalnya cerita perselingkuhan ini bikin hatiku sakit. Hahaha.

  7. Jangan-jangan ini film yang sedang banyak dibahas di portal online itu, Bang?

    Yang menarik banget buat saya justru respon audiens-nya. Kabarnya banyak penonton (Indonesia) yang sampai menyerang aktrisnya di akun socmednya. Ini bikin saya bertanya-tanya: apakah kita segitunya sampai-sampai nggak bisa bedain antara fiksi dan realitas (terlepas dari apakah cerita yang fiktif itu diangkat dari cerita dunia nyata)? Mestinya, menurut opini saya, yang “diserang” penonton itu isunya, bukan pemain filmnya. 🙂

    • Betul, ini yang sedang viral dan dikutuk-kutuk itu 🙂

      Seharusnya sih begitu, Bang. Mungkin karena filmnya yang sangat pop, sehingga wajar bila yang disajikan adalah sensasi, dengan sedikit refleksi kompleks atas isu tertentu 🙂

      • Mungkin aktris Korea ini senasib sama alm. H.I.M. Damsyik yang memerankan Datuak Maringgih dalam serial Siti Nurbaya, ya, Bang? Sampai sekarang pun setiap kali melihat film-film lama H.I.M. Damsyik selalu menganggapnya sebagai tokoh antagonis, meskipun ia memerankan tokoh baik di film itu. Dan orang-orang yang pernah saya ajak ngobrol soal ini masih saja melihat H.I.M. Damsyik sebagai Datuak Maringgih. Mungkin kalau dulu sudah ada internet dan socmed, responnya bakal begini juga. Hehehe…

      • Cerita abang tentang H.I.M Damsyik dan Datuak Maringgih mengingatkanku pada Zainal Abidin ‘Boneng’. Memori kolektif orang berganda-ganda terhadapnya. Yang lebih tua manggilnya ‘Boneng’ padahal itu peran di film pertamanya. Yang lebih muda mengingatnya sebagai copet atau pelatih satpam di film Warkop DKI. Antara antagonis dan protagonis silih berganti. Kita bisa menganggapnya apresiasi karena sedemikian all-out ia memainkan lakon, kan, Bang? 🙂

  8. Drama A world of married couple ini memang lagi banyak dibicarakan, kalo nonton bawaannya pengen misuh-misuh terus. Itu si Sun Woo kayak lagi ikut survival show aja wkk tapi itu sih yang bikin seru, vibenya kayak lagi nonton Vagabond karena nggak tau mana yang bisa dipercaya.

  9. Menarik banget ulasan sama komen-komennya. Asli nonton World of Married memang secara emosi gak bagus, gak sehat, tapi bikin saya dan teman saya diskusi, kalau dalam posisi dokter Ji, kita akan sumbu pendek gitu gak ya? Gimana ya cara ngadepinnya yg tenang, gak nguras tenaga, tapi tetep solutif dan pikir panjang. Kayaknya nonton My Ahjussi dulu kali ya~

    • Terima kasih telah mampir, Kak. Setelah nonton The World of the Married, habis itu nonton My Ahjussi, mungkin kepala mendingin dan ngerasa lebih dewasa 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s