Adik

Kemarin, di Bulan April, adikku Kunudhani berulang tahun.

Aku berdoa untuknya di waktu magrib. Aku berdoa agar kebaikan melimpah di sekujur hidupnya. Agar berkah langkah-langkahnya. Agar mudah impiannya. Agar resah dihapus dari hatinya. Agar orang-orang baik selalu di sekitarnya.

Biasanya aku berdoa hanya sekali untuk satu permintaan. Malu aku sama Tuhan, untuk suatu alasan. Tapi doa untuk Kunu kuulang hingga tiga kali. Aku tak malu, sebab doa itu untuk adikku sendiri.

Kemudian, kuucapkan selamat ulang tahun padanya. Kutanyakan, ia ingin kado apa. Aku bisa mengirimkannya sesuatu dari Lombok. Kunu bilang tidak perlu kado-kadoan; doa sudah menjadi kado terbaik, selain persaudaraan kita yang mudah-mudahan selamanya.

Andai kami tidak dipisah jarak terlalu jauh, kami ingin hang out di hari ulang tahunnya. Kami akan berboncengan naik motor di malam hari, saat Kota masih ramai, saat pilihan kuliner masih banyak―seperti kebiasaan ketika kami masih di Malang. Kemudian kami akan makan dan ngobrol sampai ngantuk.

Andai aku saudara kandungnya, aku juga akan ikut membelanya di hadapan Mami agar ia bisa makan indomie goreng dengan bumbu lengkap, pakai telor setengah matang, tanpa perlu mengganti air panas ketika bikin mie-nya.

Selama seminggu.

***

Sejak kapan tepatnya kami saling bertukar cawan menjadi saudara (dan kami intens saling berbagi jembar hati, penat pikir, cerita cinta masing-masing, keluarga, sahabat, kuliah, masa depan, masa lalu, luka, obat, dahaga, mata air, dan segala hal tentang yang kita sembunyikan dari telinga dan mata dunia), aku tidak tahu.

Tapi persaudaraan itu kurasakan tulus. Dia betul-betul adik bagiku, dan aku betul-betul kakak baginya. Dan semua mengalir dengan begitu saja, dalam waktu yang berjalan pelan. Mungkin karena itulah aku jadi tidak sadar.

Tapi, kalau dipikir-pikir, ‘rasa saudara’ itu muncul sejak dia jujur padaku, bahwa ia lesu untuk kembali ngeblog, lantaran aku memutuskan hiatus. Tiada lagi tulisan yang bisa ia nikmati dan pelajari, katanya. “Abang itu sumber tenagaku ngeblog.”

Pernah kudengar orang-orang bercerita tentang betapa senangnya mereka membaca tulisanku. Tapi sumber tenaga untuk menulis? Baru kali itu aku dilihat begitu. Dan itu berharga, teramat berharga. Kali kedua aku temukan kalimat semacam itu di blog kakakku, Kak Maria Frani. Mau nangis rasanya.

Kunu adalah orang yang aku ingin aku terlahir kembali sebagai saudara kandungnya. Karena itulah, kalau aku menikah, rasanya aku ingin mewajibkannya datang ke pernikahanku. Akan kubelikan tiket kapal laut Legundi, langsung dari Surabaya ke Lombok. Dan kalau Kunu menikah, rasanya aku wajib datang ke pernikahannya. Tentu dia harus membelikanku tiket bolak-balik pesawat Garuda. []

Standar

30 respons untuk ‘Adik

  1. Setelah baca tulisan ini aku baru sadar kalau ternyata bang Ical adalah kakak yang baik. Rela mengalah untuk dikado tiket Garuda, padahal utk adeknya bang ical rela beliin tiket KM Legundi biar adeknya terombang ambing dilautan selama 20 jam an. Panutan.

  2. Karena pengalaman adalah hal yang sangat berharga, tiket kapal laut lebih berharga ketimbang tiket Garuda, sih, ya, Bang Ical? Hehehe.

    Di beberapa postingan blog kawan-kawan narablog lain, saya juga lihat nama Bang Ical muncul, seperti “muse” buat mereka. Kayaknya memang banyak yang bakal kangen dan kekurangan inspirasi kalau Bang Ical sampai hiatus. 😀

    • Aih, makasih banyak Bang, sudah memberi saya stok jawaban kalau-kalau diprotes 🤣

      Aku ingin membungkuk dalam-dalam seperti orang Jepang dan berterima kasih penuh hormat pada mereka yang merasa senang melihatku tetap menulis. Aku baaaanyak kecipratan energi dari mereka 😣

      Sama banyaknya dengan kecipratan energi dari blog-blog ketje baday macam blognya Abang. Mungkin di situ pesonanya blog. Pengaruh itu mengalir, bersifat saling. Abang merasa begitu juga kah?

      • Saya juga merasa demikian, Bang Ical. Energi blog memang kentara banget: hangat. (Ya, misalnya energi dalam postingan Adik yang Bang Ical tulis ini.) Mungkin karena ke-salingan-nya itu, ya, Bang? Nggak ada patron nggak ada klien, nggak ada yang dipuja dan nggak ada yang memuja, semua setara dan berkontribusi dengan gagasannya masing-masing. Beda banget, ya, sama media sosial, Bang? Hehehe…

      • Sebetulnya tadi aku mau bilang “beda banget sama medsos”, tapi aku kuatir itu cuma perasaanku sendiri 🤣

        Betul. Blog hadir dengan pesonanya sendiri-sendiri. Karena ke-saling-an itu, jadinya ndak ada hirarki objektif tentang blog siapa yang terkeren 🙂

      • Ahaha. Pesona-pesonanya itu bikin blog jadi bergizi, ya, Bang? Tak pikir-pikir, dalam sehari paling cuma main ke beberapa blog, tapi saya bisa bawa pulang banyak pengetahuan baru tanpa digendoli perasaan bahwa rumput tetangga lebih hijau. 🙂

  3. Bang… kata mami “seumpama abang saudara kandungmu, mami potong uang jajannya satu bulan, soalnya dukung adiknya makan mie satu minggu” sedih aku dengernya, uang jajanmu bakal dipotong 😭

  4. Kalau aku jadi Kunu, rasanya posting ini jadi hadiah ulang tahun terbaik.

    Dan setuju banget. Sejak bikin blog disini, tulisan bang Ical itu favorit, dan seperti menggelitik menggoda supaya tetap menulis :”)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s