Haji

Saya punya teman, namanya Reza Nufa. Saya menyapanya Bang Eja. Ia tangan kanan Pak Edi Iyubenu untuk Penerbit Basabasi. Di pergaulan sastra Indonesia, sepertinya tidak ada yang tidak kenal Bang Eja. Tapi lepas dari itu, saya hormat padanya karena ia seorang pembaca, penulis, dan perenung yang ulung.

[saat saya mengagumi seseorang, ada ciri yang tidak bisa saya bendung. bila bertemu orang itu, saya lebih banyak diam. karena kalau saya bicara, pasti belepotan]

Saya takkan lupa bagaimana saya mengenal Bang Eja. Dia muncul di depan rumah saya pukul dua pagi, dengan pakaian compang-camping, kurus, dekil, dan bau keringat yang masyaallah. Nyawa saya belum pulih saat saya membukakannya gerbang. Bang Eja berdiri memanggul kerilnya, nyengir. Saya ikut nyengir, menyuruhnya masuk.

Perlu saya sampaikan: orang ini sudah hampir tiga bulan berjalan kaki dari Jakarta ke Lombok. Baru tiba malam itu.

***

“Perjalanan ini ‘haji’ buatku,” katanya, suatu siang.

Saya tidak tahu apa yang mendorong Bang Eja berjalan kaki dari Jakarta ke Lombok. Ia hanya menyiapkan tabungan untuk makan, obat, transportasi laut, tiket kembali ke Jakarta, dan sejumlah hal penting. Mungkin tidak termasuk uang penginapan karena ia membawa tenda dan matras. Ia hanya membawa sepatu, sandal, dua pasang pakaian: satu untuk berjalan (yang dikenakan hingga compang-camping), satu untuk istirahat.

Ada yang unik dalam perjalanan itu.

Bang Eja punya aturan-aturan yang mutlak dipatuhi di sepanjang perjalanan. Pertama, ia tidak boleh minta tumpangan. Kedua, kalau ada yang memberi tumpangan, ia tidak boleh menolak, juga tidak boleh menyebut tujuan. Terserah mau diantar sampai di mana. Ketiga, ia harus menerima diantar ke mana saja, bahkan bila rute kendaraannya menjauh dari tujuan.

Rupanya itu yang disebut sebagai “haji”. Sebuah perjalanan untuk menempa diri. Menempa keberserahan. Bang Eja mengaku ia adalah sosok keras kepala yang siap mendebat siapa saja. Bang Eja ingin menundukkan egonya, melatih dirinya ‘mengalir’. Maka ia melakukan perjalanan. Perjalanan adalah pelajaran. Keberserahan adalah kunci pelajaran itu.

Sebagai penulis, Bang Eja mendapatkan terlalu banyak pengalaman dan renungan. Bayangkan, ia berjalan kaki sendirian. Mungkin pikirannya lebih sibuk berkelana daripada kakinya. Dalam sehari, ia bisa melihat dan mendengar banyak hal. Sebelum tidur, semua itu dicatatnya. Sebagai penulis, betapa kayanya ia. Tapi sebagai manusia, kekayaan itu tak ternilai. Entah berapa kali ia menangis. Takut. Putus asa. Tapi entah berapa kali pula ia bersyukur. Merasa penuh, utuh. Merasa suwung.

Perjalanan selalu membekas. Perjalanan yang serius meninggalkan bekas yang dalam. Persis seperti haji yang mabrur.

Akhir dari perjalanan itu adalah Rinjani. Bang Eja ingin mendaki Rinjani. Sudah lama ia merasa terpanggil, secara spiritual, untuk mendaki gunung yang disucikan orang Sasak itu. Sayang sekali, setiba ia di rumah saya, Rinjani sedang ditutup selama dua minggu. Jadilah selama itu Bang Eja tinggal di rumah.

Setelah itu, hampir tiap tahun Bang Eja mendaki Rinjani. Tentu tanpa berjalan kaki dari Jakarta. Tapi Rinjani sudah terlanjur menjadi Kakbah baginya.

***

Pak Guru berulang kali berwejang. Haji itu di sini, di tempat kita berdiri, sehari-hari. Haji ke Makkah hanyalah sebuah ziarah. Pak Guru menunjukkan pada kami hakikat wukuf, menampakkan hakikat sai dan tawaf, serta membimbing kami melontar jumrah. “Hajilah kamu sebelum berhaji. Mabrur sebelum ke tanah suci,” selalu begitu katanya.

Haji ada di sini. Haji bisa di mana saja, sebagaimana halnya puasa yang seharusnya kapan saja, dan idul fitri yang semestinya bukan cuma setahun sekali. Bang Eja bisa mengemas hajinya sendiri, sesuai kebutuhannya sendiri, dengan cara yang ia suka. Dan ia berhasil. Saya ingin juga memiliki haji seperti Bang Eja, tapi kapan-kapan saja, dengan cara yang lain. Biar Tuhan yang tunjukkan jalannya. Saya ndak perlu bikin-bikin. []

Standar

17 respons untuk ‘Haji

  1. Waw!!! Jalan kaki selama 3 bulan.
    Selalu salut dengan orang2 unik begitu. Kagum dan terpukau. Menurutku mereka hebat dengan kemauan dan keberanian untuk sebuah tujuan yang menurut orang tidak masuk akal.

    • Cheryl Strayed. Wild.
      Meksiko – Kanada.
      Belajar melepaskan.

      Mungkin benar, perjalanan punya semacam kekuatan misterius untuk menyembuhkan manusia.

  2. Wah, inikah sosok mengagumkan yang Bang Ical ceritakan tempo hari?

    Jalan kaki Jakarta-Lombok hampir tiga bulan?! Nggak kebayang banyaknya yang ia lihat dan renungkan sepanjang jalan. Sudah dibukukankah, Bang? Kalau sudah, pasti mengagumkan sekali.

    Ini benar-benar pilgrimage. Ada tujuan seperti para peziarah El Camino de Santiago, tapi pasrah pada semesta seperti Chris McCandless. Saya rasa Bang Eja benar-benar sudah haji.

    • Iya Bang, inilah yang tempo hari kumaksud. Dia sudah merampungkan naskah perjalanannya, kalau tidak salah, tapi entah kapan akan diterbitkan. Kalau terbit, pasti kubeli 😆

      El Camino de Santiago
      Chris McCandless.
      Aku harus baca lebih banyak ni ✍

      • Harap berkabar kalau bukunya sudah terbit, Bang. 🙂

        Orang edan di luar sana banyak banget ternyata, Bang Ical. Kalau di Asia Pasifik, orang Australia yang paling sering melancong dengan cara-cara nggak wajar. Ada yang naik kuda dari Mongolia sampai Hungaria, ada jalan sama unta dari pantai timur ke pantai barat Australia, naik kano dari Sydney ke Selandia Baru. Bikin iri semua cerita-cerita mereka. 😀

      • Siap, Abang:-)

        Iya, eh. Kalau dengar para traveler itu punya kisah, saya selalu merinding. Ada, ya, orang-orang seberani itu. Butuh mental besar bagi seseorang untuk bisa melangkah maju walau menghadapi ketidakpastian.

      • Iya, Bang Ical. Mereka benar-benar kayak melepas kehidupan regulernya selama bertahun-tahun, mengundurkan diri dari kantor, atau menutup tempat kerja, melepas sewa kamar/rumah, terus melangkah ke dalam ketidakpastian.

        Kalau Bang Ical tertarik nonton soal orang Australia yang naik kuda dari Mongolia sampa Hungaria, Bang Ical bisa cari Tim Cope di YouTube. Habis baca bukunya, On the Trail of Genghis Khan, saya cari namanya di YouTube dan muncul kompilasi serial perjalanannya. 🙂

  3. Ya ampun bang, tulisanmu tu selalu bagus!

    Belum pernah mendengar konsep Haji yang seperti ini, di dunia ini segalanya tersirat sedemikian rupa ya, kalau memang ingin bisa lebih memahami hidup ya harus berjalan mencari tahu sendiri. Kalian beruntung saling bertemu dan mengenal, saling belajar dan mempelajari 🙂

    • Wah, dipuji oleh Ing. Terharu 🙂

      Konsep semacam ini memang sangat tidak popular, Ing. Di beberapa kelompok, konsep semacam ini berpotensi membuat pengusungnya diserang. Tapi yang hakiki selalu mendidik secara sinambung, dan yang tidak hakiki selalu hanya mengutamakan bentuk luar. Kitalah penentunya, mau memilih yang mana 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s