Lugas

Goenawan Mohamad (GM) menulis di Majalah Tempo pada 9 April 2000. Sebuah surat yang panjang dan, seperti biasa, sangat memukau. Penuh akrobat lincah wawasan sejarah, seni dan sastra, serta logika alternatif yang dibalut dengan bahasa yang meliuk-liuk. Membaca GM senantiasa menghadirkan pada saya sensasi opera yang khas: musik, tari, di dalam gedung berornamen tua. Atau suatu masa yang jauh dengan gambar-gambar tua. Itu sensasi sastrawi yang juga muncul ketika saya membaca esai-esai Albert Camus.

Surat itu ditujukan pada Pramoedya Ananta Toer. GM menyayangkan sikap Bung Pram yang menolak permintaan maaf Gus Dur, terkait dosa masa lalu masyarakat Indonesia pada anggota dan simpatisan PKI, beserta keluarganya, yang telah mengalami represi menyedihkan sejak tahun 1965. Bung Pram, menurut GM, tidak bisa meneladani Nelson Mandela, yang memaafkan ras kulit putih setelah memenangkan perang melawan Apartheid.

Bung Pram membalas surat terbuka dari GM, namun dengan kalimat-kalimat yang tegas, langsung, tajam; tidak berbasa-basi, menembak jitu ke inti masalah. Surat Bung Pram seperti kemarahan terkendali yang menghantam tanpa peduli estetika-retoris, tapi justru di sanalah keindahan muncul. Bung Pram menunjukkan bahwa yang puitis bisa lahir dari rahim kebenaran yang lugas, bukan dari liuk seksi bahasa dan logika. Apalagi: kesantunan palsu.

Bagi saya, surat Bung Pram adalah surat terbuka terbaik yang pernah saya baca. Lepas dari suka-tak-suka saya pada afiliasinya pada suatu jalan politik atau ideologi tertentu, catatan-catatan Bung Pram memang apik, terutama yang terkumpul dalam buku Nyanyi Sunyi Seorang Bisu.

Saya lampirkan surat Bung Pram itu di sini. Adapun surat GM bisa dicari sendiri. Selamat membaca.

Saya Bukan Nelson Mandela
Oleh: Pramoedya Ananta Toer

Saya bukan Nelson Mandela. Dan Goenawan Mohamad keliru, Indonesia bukan Afrika Selatan. Dia berharap saya menerima permintaan maaf yang diungkapkan Presiden Abdurrahman Wahid (Tempo, 9 April 2000), seperti Mandela memaafkan rezim kulit putih yang telah menindas bangsanya, bahkan memenjarakannya. Saya sangat menghormati Mandela. Tapi saya bukan dia, dan tidak ingin menjadi dia.

Di Afrika Selatan penindasan dan diskriminasi dilakukan oleh kulit putih terhadap kulit hitam. Putih melawan hitam, seperti Belanda melawan Indonesia. Mudah. Apa yang terjadi di Indonesia tidak sesederhana itu: kulit cokelat menindas kulit cokelat. Lebih dari itu, saya menganggap permintaan maaf Gus Dur dan idenya tentang rekonsiliasi cuma basa-basi. Dan gampang amat meminta maaf setelah semua yang terjadi itu. Saya tidak memerlukan basa-basi.

Gus Dur pertama-tama harus menjelaskan dia berbicara atas nama siapa. Mengapa harus dia yang mengatakannya? Kalau dia mewakili suatu kelompok, NU misalnya, kenapa dia berbicara sebagai presiden? Dan jika dia bicara sebagai presiden, kenapa lembaga-lembaga negara dilewatinya begitu saja? Sekalipun dalam kapasitasnya sebagai presiden, Gus Dur tidak bisa meminta maaf. Negara ini mempunyai lembaga-lembaga perwakilan, dan biarkan lembaga negara seperti DPR dan MPR mengatakannya. Bukan Gus Dur yang harus mengatakan itu.

Yang saya inginkan adalah tegaknya hukum dan keadilan di Indonesia. Orang seperti saya menderita karena tiadanya hukum dan keadilan. Saya kira masalah ini urusan negara, menyangkut DPR dan MPR, tetapi mereka tidak bicara apa-apa. Itu sebabnya saya menganggapnya sebagai basa-basi.

Saya tidak mudah memaafkan orang karena sudah terlampau pahit menjadi orang Indonesia. Buku-buku saya menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah lanjutan di Amerika, tapi di Indonesia dilarang. Hak saya sebagai pengarang selama 43 tahun dirampas habis. Saya menghabiskan hampir separuh usia saya di Pulau Buru dengan siksaan, penghinaan, dan penganiayaan. Keluarga saya mengalami penderitaan yang luar biasa. Salah satu anak saya pernah melerai perkelahian di sekolah, tapi ketika tahu bapaknya tapol justru dikeroyok. Istri saya berjualan untuk bertahan hidup, tapi selalu direcoki setelah tahu saya tapol. Bahkan sampai ketua RT tidak mau membuatkan KTP. Rumah saya di Rawamangun Utara dirampas dan diduduki militer, sampai sekarang. Buku dan naskah karya-karya saya dibakar.

Basa-basi baik saja, tapi hanya basa-basi. Selanjutnya mau apa? Maukah negara mengganti kerugian orang-orang seperti saya? Negara mungkin harus berutang lagi untuk menebus mengganti semua yang saya miliki.

Minta maaf saja tidak cukup. Dirikan dan tegakkan hukum. Semuanya mesti lewat hukum. Jadikan itu keputusan DPR dan MPR. Tidak bisa begitu saja basa-basi minta maaf. Tidak pernah ada pengadilan terhadap saya sebelum dijebloskan ke Buru. Semua menganggap saya sebagai barang mainan. Betapa sakitnya ketika pada 1965 saya dikeroyok habis-habisan, sementara pemerintah yang berkewajiban melindungi justru menangkap saya.

Ketika dibebaskan 14 tahun lalu, saya menerima surat keterangan bahwa saya tidak terlibat G30S-PKI. Namun, setelah itu tidak ada tindakan apa-apa. Dalam buku saya Nyanyi Sunyi Seorang Bisu yang terbit pada 1990 juga terdapat daftar 40 tapol yang dibunuh Angkatan Darat. Tapi tidak pernah pula ada tindakan.

Saya sudah kehilangan kepercayaan. Saya tidak percaya Gus Dur. Dia, seperti juga Goenawan Mohamad, adalah bagian dari Orde Baru. Ikut mendirikan rezim. Saya tidak percaya dengan semua elite politik Indonesia. Tak terkecuali para intelektualnya; mereka selama ini memilih diam dan menerima fasisme. Mereka semua ikut bertanggung jawab atas penderitaan yang saya alami. Mereka ikut bertanggung jawab atas pembunuhan-pembunuhan Orde Baru.

Goenawan mungkin mengira saya pendendam dan mengalami sakit hati yang mendalam. Tidak. Saya justru sangat kasihan dengan penguasa yang sangat rendah budayanya, termasuk merampas semua yang dimiliki bangsanya sendiri.

Saya sudah memberikan semuanya kepada Indonesia. Umur, kesehatan, masa muda sampai setua ini. Sekarang saya tidak bisa menulis-baca lagi. Dalam hitungan hari, minggu, atau bulan mungkin saya akan mati, karena penyempitan pembuluh darah jantung. Basa-basi tak lagi bisa menghibur saya. []

***

Bung Pram adalah salah seorang pengarang yang sangat-sangat disiplin dalam arsip. Ia punya ingatan kuat sekaligus ketekunan dalam dokumentasi. Ia jarang lupa pada nama, tanggal, detail deret peristiwa. Bahkan nomor sebuah surat penghargaan yang diberikan negara kepadanya pada masa lampau karena terlibat perang melawan PRRI-Permesta saja dia bisa kutip. Kekuatan itu berpadu dengan kemampuannya menghadirkan cerita dalam diksi-diksi bersahaja. Maka itu tulisannya hidup. Surat Bung Pram yang lain bisa dilihat di sini.

Standar

24 respons untuk ‘Lugas

  1. Maksud dan tujuan surat Pram ini sedah tercantum sejak paragraf pertama. Dia memang lugas sekali.

    Apakah GM membuat surat balasan lanjutan untuk Pram ya, Bang? Setahu saya tanggapan ini mengakhiri surat-menyurat dua penulis besar itu.

    • Saya ndak dapat petunjuk tentang surat balasan dari GM, Ustadz. Sudah saya cari, tapi ndak nemu. Surat Pram ini seperti penyumpal sembari tetap memberi ruang pada pembaca untuk mengagumi tawaran wacana dari GM:-)

    • Negara punya cara yang lebih berat untuk meminta maaf: menegakkan hukum, memperkuat sistem. Bila minta maafnya negara sama seperti minta maafnya warga, bukan negara namanya. Seperti kata Pram, Kak, “Basa-basi boleh saja, tapi sekadar basa-basi.”

  2. Merinding rasanya membaca surat ini. Bung Pram, dan orang2 yg saat itu dicap pemerintah sbg yg terlibat dlm huru-hara thn 1965, seperti kehilangan hak hidupnya. Bahkan kesulitan itu jg menimpa keluarganya, anak keturunannya. Begitu tau kl seseorg ada hubungan darah dgn tapol, misalnya, mau buat KTP tdk bisa, mau jd tentara tdk bisa, mau jd PNS tdk bisa dll. Semua dipersulit. Melabeli seseorang sbg antek, turunan atau apapun yg berbau2 PKI memang cara murahan yg prnh dilakukan oleh pemerintah utk menghancurkan hidup seseorang. Menarik! 👍

    • Ujungnya begitu, Kak: pelabelan sebagai cara untuk menjegal lawan. Itu, kan, sadis, ya. Stigma itu ndak berhenti di kata-kata, soalnya. Konsekuensinya jauh lebih keji 🙂

  3. Dan Bro Ical membuat surat Bung Pram itu kian lugas, (mungkin) juga meninggalkan letup dan dentuman2 dahsyat di nurani pembaca.

    Mantap.

    O ya, saya juga suka dengan gaya Bung Pram. Juga, Bro Ical. Pemikir maju dan bebas. Maaf untuk kata yang terakhir. Klau slh, anggap saja sya memang lagi asbun 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s